
Sampainya di pusat perbelanjaan, om Kenzo langsung mengajakku ke restoran. Sepertinya dia sangat lapar, terbukti dari cara makannya yang begitu lahap. Bahkan sejak tadi hanya fokus pada makannya
Aku yang sudah makan siang, hanya memesan jus alpukat saja. Sesekali menyeruputnya sembari memperhatikan om Kenzo.
Laki - laki yang dulunya bersikap datar dan dingin, sekarang lebih ekspresif dalam menyampaikan apa yang dia rasakan. Dia juga jadi lebih banyak bicara.
Setelah menghabiskan suapan terakhir, om Kenzo mengambil tisu dan menyeka bibirnya. Aku memang tidak menutup mata akan ketampanannya, bahkan caranya menyeka mulut saja terlihat sangat aesthetic. Ditambah sikap santainya yang menunjukan kewibawaan dengan setelan jas yang mendukung. Aku sudah pernah mengakuinya, bahwa sedikit tidak ada celah untuk melihat kekurangannya. Namun itu sebelum dia membohongiku. Aku sadar ada alasan kuat dibalik semua kebohongan yang dia lakukan. Mungkin aku harus memulai untuk melupakan luka ini agar bisa membuka hati sepenuhnya.
"Kamu bebas menatapku setelah kita menikah nanti." Tegurnya tanpa melihat ke arahku, dia mengambil gelas minum milikknya kemudian meneguk perlahan.
"Om kepedean.!" Elakku.
"Kamu pikir aku nggak liat dari tadi kamu terus menatapku." Om Kenzo meletakan gelas yang isinya sudah habis setengahnya, sembari menatapku dengan intens. Hal itu membuatku malu.
"Iisshh,, terserah om saja." Aku enggan membahasnya lagi, bisa - bisa aku semakin malu dibuatnya.
"Ayo cari cincinnya, aku udah pengen pulang om,,"
Pintaku sedikit merengek.
Om Kenzo menghela nafas berat, sebelum akhirnya beranjak dari duduknya tanpa bicara apapun.
Aku pun iku beranjak, berjalan mensejajarkan diri di samping om Kenzo. Dia berjalan tegap, dengan satu tangan dimasukan kedalam saku celananya.
Tidak ada obrolan yang terjadi di antara kami. Sesekali aku melirik om Kenzo yang memasang wajah datarnya. Apa mungkin om Kenzo marah padaku karna aku ingin buru - buru pulang.?
Tapi om Kenzo tidak pernah marah padaku, apa lagi hanya dengan masalah sepele seperti itu.
Kedai ice cream roll yang ada didepan kami, menarik perhatianku. Terlihat beberapa pembeli yang sedang mengantri sembari menyaksikan cara pembuatannya yang unik.
"Om,,," Panggilku sembari menarik tangannya.
Om Kenzo melirikku, masih dengan wajah datarnya. Tapi terlihat lucu.
"Kenapa.?"
"Aku mau beli itu dulu om,,," Aku menunjuk kedai es krim yang tidak jauh dari hadapan kami.
"Om mau tunggu disini atau mau ikut.?" Tawarku.
"Biar aku saja yang beli, kamu tunggu disitu,," Om Kenzo menunjuk kursi panjang.
"Mau rasa apa.?"
"Nggak usah om, aku aja yang beli. Lagian ngantri, takut om bete,,"
"Mau rasa apa.?"
"Jangan membantah.!"
Aku memilih untuk menuruti perkataan om Kenzo. Setelah menyebutkan rasa strawberry, aku segera duduk di tempat yang tadi om Kenzo tunjuk.
Aku memperhatikan om Kenzo yang sedang mengantri. Melihat banyak ibu - ibu yang melirik ke arahnya, aku hanya bisa mengulum senyum dari kejauhan. Aku rasa om Kenzo pasti menahan malu saat ini.
"Jee,,!"
"Ngapain senyum - senyum sendiri,,!"
Tegur kak Gerald yang tiba - tiba sudah duduk di sebelahku.
"Eh,,, kak,," Ujarku.
"Sama siapa.?"
"Aku denger kamu kuliah di tempat yang sama, tapi sampai sekarang aku belum pernah liat kamu di kampus,," Tuturnya.
"Aku baru masuk lagi kak, sebulan yang lalu nggak masuk,,"
"Kakak sama siapa.?"
"Pantes."
"Kapan - kapan pulang bareng ya."
"Sama temen, lagi mau cari buku." Kak Gerald menunjuk 3 orang temannya yang sedang menatap ke arah kami.
Aku hanya mengangguk 2 kali.
"Ikut yuk,, dari pada sendirian disini. Kita nonton abis ini,,," Ajaknya.
"Aku,,,,
"Siapa bilang sendirian.!" Ucapanku di potong oleh om Kenzo yang sudah berdiri di depan ku. Dia juga sudah membawa ice cream yang aku minta.
"Ayo,,," Om Kenzo meraih tanganku, memintaku untuk beranjak.
"Jangan mendekatinya lagi kalau masih ingin hidup.!" Geram om Kenzo dengan tatapan tajamnya yang seakan ingin menerkam kak Gerald.
"Santai om,,"
"Om yang ngaku - ngaku suami Jeje kan. Sebelum janur kuning melengkung, siapapun boleh deketin Jeje,," Ucap kak Gerald dengan santainya.
"Aku duluan kak,,," Tidak mau terjadi keributan, aku langsung pergi dari hadapan kak Gerald sembari menarik tangan om Kenzo. Awalnya om Kenzo enggan beranjak dari sana, tapi aku terus menarik tangannya.
"Ini,,," Om Kenzo memberikan ice cream itu padaku.
"Duduk disana saja, habiskan dulu ice creamnya sebelum beli cincin,,"
Aku menurut dan mengikuti om Kenzo.
Kami sudah duduk, aku bahkan sudah memakan 2 roll ice cream, tapi om hanya diam saja sejak tadi.
Suasana hati om Kenzo semakin buruk saja setelah melihatku berbicara dengan kak Gerald.
Meski tadi om Kenzo terlihat sangat marah pada kak Gerald, namun dia tidak mengatakan apapun padaku.
"Om,, kenapa cepet banget dapet ice creamnya.?" Aku mulai membuka pembicaraan.
"Padahal disana masih rame, yang datang lebih dulu dari om saja masih ngantri,," Aku melirik ke arah kedai ice cream itu.
"Kamu pikir aku bakal biarin anak ingusan itu bicara lama - lama sama kamu.!"
"Aku harus membayar semua tagihan ice cream mereka agar aku bisa dapat giliran lebih dulu."
Aku hanya bisa melongo mendengar penjelasan om Kenzo. Bisa - bisanya dia punya ide seperti itu.
"Jangan marah - marah om. Ademin dulu nih,," Aku menyodorkan ice cream didepan mulut om Kenzo. Tanpa menolak, om Kenzo melahapnya.
Selesai menghabiskan ice cream, kami langsung ke store perhiasan.
Aku menyerahkan sepenuhnya pada om Kenzo untuk memilih cincin pernikahan kami.
Om Kenzo terlihat antusias mencoba memasangkan cincin di jari manisku.
"Yang ini saja ya, lebih bagus di pakai kamu,," Ujarnya.
Aku mengangguk patuh.
"Sebaiknya besok pagi saja kita menikah,," Bisik om Kenzo sembari melepas kembali cincin itu dari tanganku.
"Om.!" Tegur ku. Ku cubit pelan tangannya.
Sepertinya om Kenzo sudah tidak sabar untuk menikah. Ah bukan,, dia tidak sabar untuk merengkuh kenikmatan lagi bersamaku.
Kali ini aku tidak akan membiarkan om Kenzo dengan mudah mendapatkannya, dia harus berusaha lebih keras lagi untuk itu.
Jika om Kenzo bisa menyembunyikan kebohongan besar padaku, maka aku bisa mengerjainya dalam urusan ranjang nantinya.
Aku tersenyum puas dalam hati. Tapi rupanya bibirku juga ikut mengulas senyum, hingga menarik perhatian om Kenzo.
"Kenapa senyum - senyum.?"
"Udah nggak sabar bergulat di ranjang.?" Selorohnya dengan kekehan kecil. Aku langsung mengangguk untuk membuatnya semakin tidak sabar.
...***...
Rupanya ucapan om Kenzo benar - benar serius. Dia meminta pada om Andreas dan papa untuk mempercepat pernikahan kami. Seharusnya hari minggu baru akan di bicarakan perihal acara pernikahan kami, tapi ternyata om Kenzo datang bersama papanya tepat dimalam setelah kami membeli cincin.
Dan pernikahan kami di gelar hari sabtu ini, tepat pukul 10 pagi.
Acara sederhana yang hanya di hadiri oleh keluarga inti dan rekan bisnis papa juga rekan bisnis om Andreas.
Kak Nicho bahkan tidak bisa hadir karna acaranya yang digelar secara mendadak.
Taman belakang rumah di sulap sedemikian rupa untuk acara pernikahan kami dengan tema garden party.
Tidak pernah terbayang sebelumnya akan menikah di usia semuda ini dan dengan persiapan yang serba mendadak.
Mungkin saat ini perasaanku pada om Kenzo belum sepenuhnya kembali seperti dulu, tapi aku punya harapan besar pada pernikahan kami.
Aku berharap akan ada banyak kebahagiaan yang aku rasakan nantinya, aku juga berharap tidak ada permasalahan yang akan menguras emosi dan air mata.
Aku tidak mau kehidupan rumah tangga ku seperti mama dan papa, apa lagi seperti om Andreas dan ibu Grace yang pada akhirnya harus berpisah.
...****...
Hayoo harus pada dateng semua loh ya š¤£
Amplopnya jangan lupa disiapin,, eh amplopnya di ganti vote aja dehš¤.
Yang mau bawa kantong plastik silahkan, makanan yang enak - enak udah disiapin buat di bungkus bawa pulang.
Ada yang belum mampir di akun othor yang satunya.? mampir dulu yukš„°
Nama aku : Ratna Wullandarrie
Note "Menikah dengan suami kakakku" banyak adegan dewasa di pertengahan bab, buat yang puasa sebaiknya baca pas malem yaš