My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
Bab 105. Khawatir



Jeje dan Kenzo dalam perjalanan menuju ke apartemen. Mereka langsung pamit setelah menghabiskan sarapan.


Sudah pukul 8, Jeje masih harus ke apartemen dan setelah itu ke kampus.


Kalau saja tidak ada tugas di laptopnya, pasti dia bisa berangkat langsung dari rumah orang tuanya.


Kenzo melirik Jeje yang sejak tadi nampak melamun. Di raihnya tangan Jeje yang ada di pangkuan. Kenzo mengusapnya perlahan.


Genggaman tangan Kenzo membuat Jeje menoleh.


"Kenapa.?" Tanya Kenzo dengan tatapan teduh.


"Kamu takut hamil,,?" Ujarnya lagi. Kenzo seolah tau apa yang ada dalam pikiran istrinya. Benar saja, Jeje langsung mengangguk. Membenarkan pertanyaan Kenzo.


Remaja itu terlalu mengkhawatirkan banyak hal tentang kehamilan, jika memang dia harus hamil dalam waktu dekat ini.


Banyak hal yang akhirnya membuat Jeje berfikir puluhan kali untuk hamil di usianya yang baru 18 tahun. Dia khawatir tidak bisa menjaga dengan baik kehamilannya, juga mengkhawatirkan persalinannya nanti. Dan yang paling membuatnya khawatir, dia takut tidak bisa mengurus anak dengan baik.


Jeje menyadari kekurangannya yang mungkin belum cukup dewasa untuk menjadi seorang ibu.


Jeje pun sadar, dia belum sepenuhnya bisa mengontrol perasaan dan emosinya.


"Kamu punya suami, kenapa harus takut hamil,,"


"Nggak cuma takut hamil by. Aku takut nggak bisa jadi ibu yang baik untuk anak kita nanti." Pandangan mata Jeje lurus ke depan, menerawang jauh dalam pikirannya.


"Gimana kalau nanti aku mengabaikan anak kita, memarahinya, atau membentaknya,," Ujarnya lirih. Sedikit ada rasa sesak yang menyelinap dalam hatinya. Dia ingat bagaimana selama belasan tahun merasa di abaikan oleh kedua orang tuanya.


"Aku akan menghukummu kalau kamu berani melakukan itu pada anak kita,," Sahut Kenzo dengan candaan. Dia paham akan kekhawatiran yang di rasakan oleh istrinya. Dia mencoba untuk membuatnya santai, tidak terlalu di bebankan dalam memikirkan soal kehamilan dan mengurus anak nanti.


"Hubby,,, aku serius,,," Rengek Jeje kesal.


Kenzo mengulas senyum, dia mengusap pelan kepala istrinya dengan penuh cinta.


"Kamu wanita yang baik, penyabar dan dewasa. Aku yakin kamu akan jadi ibu yang terbaik untuk anak - anak kita nanti,,,"


"Kamu harus yakin itu. Jadi jangan khawatir,,"


Kenzo meyakinkan istrinya dan memberikan semangat untuknya. Dia mengucapkan kata demi kata dengan lembut.


Mendapat semangat dan dukungan penuh dari suaminya, sedikit membuat Jeje merasa lega.


Perlahan mulai yakin pada dirinya sendiri bahwa dia mampu untuk menjadi seorang ibu di usia yang masih sangat muda.


...***...


Jeje melambaikan tangan pada Kenzo. Laki - laki di dalam mobil itu terlihat sangat tampan dengan setelan jasnya. Saat dalam perjalanan, jeje bahkan terus melirik ke arah suaminya itu. Hari ini dia terlihat sangat gagah, atau mungkin hanya pikiran Jeje saja karna terus terbayang permainan Kenzo yang luar biasa itu.


"Hati - hati di jalan by,," Ucapnya.


Kenzo mengangguk dengan seulas senyum. Dia segera melajukan mobilnya, berlalu dari depan kampus Jeje.


Kedatangan Karin yang baru saja turun dari angkutan umum, menarik perhatian Jeje. Karin terlihat lesu, dengan satu tangan yang menutup mulutnya. Remaja itu berjalan cepat masuk kedalam kampus. Dia bahkan tidak mendengar teriakan Jeje yang memanggilnya.


Hal itu semakin membuat Jeje kebingungan. Dengan tergesa-gesa mengejar langkah Karin yang semakin cepat. Namun bukannya masuk ke dalam kelas, Karin justru masuk ke dalam toilet.


Jeje setengah berlari hingga sampai di toilet.


Terdengar seseorang yang muntah dari dalam sana.


Jeje bisa memastikan jika orang sedang muntah adalah Karin.


Pantas saja dia terus menutup mulutnya dan berjalan cepat. Tanpa berpikir lama, Jeje segera mengetuk pintu.


"Karin,, are you oke,,?" Tanya Jeje. Dari nada suaranya terdengar panik. Tentu saja dia khawatir pada sahabatnya.


Karin tidak menjawabnya, tak berselang lama remaja itu keluar dengan wajah yang pucat, matanya bahkan sayu.


Jeje semakin cemas melihat kondisi Karin.


"Je,,," Ucapnya lemas.


"Ya ampun Karin, kamu sakit.?" Jeje mendekat, mencoba untuk mengecek suhu badan Karin dengan menempelkan punggung tangannya di kening Karin.


"Nggak panas. Tapi muka kamu pucat banget,," Katanya.


"Aku nggak kenapa - kenapa Je. Cuma masuk angin aja. Semalem susah tidur. Belum lagi aroma di dalam angkutan umum yang nggak enak. Perutku jadi mual,," Jelas Karin.


Jeje mengangguk paham.


"Tapi kamu udah minum obat,,?"


Karin menggeleng pelan.


Jeje langsung menarik tangan Karin, membawanya keluar dari toilet.


"Mau kemana Je,,?"


Karin berusaha menyeimbangkan langkah Jeje.


"Minta obat, memangnya apa lagi."


"Kamu itu kalo sakit jangan di biarin kayak gini Rin, bahaya. Paling nggak kamu harus minum obat dulu." Jeje terlihat sangat khawatir, hingga terus berbicara menasehati Karin.


"Selesai kuliah, kita langsung ke dokter." Ujarnya lagi dengan suara tegas.


"Aku yang bayar,,," Katanya memotong ucapan Karin. Jeje paham, pasti Karin akan mempersoalkan tentang biaya. Dia tau bagaimana kondisi keuangan Karin yang serba pas - pasan.


Selesai meminta obat, keduanya langsung masuk ke dalam kelas.


Karin terlihat tidak konsentrasi dalam mengikuti pelajaran. Sesekali menutup mulutnya karna perutnya bergejolak, terasa akan kembali memuntahkan sesuatu.


Jeje hanya bisa menghela nafas, merasa kasian dengan keadaan Karin.


...***...


"Ayo ke dokter,," Perintah Jeje. Dia langsung berdiri dari duduknya. Keadaan kelas mulai sepi karna satu persatu mahasiswa sudah keluar lebih dulu.


"Nggak usah Je, aku udah baikan kok sekarang,," Ujar Karin jujur. Saat ini dia memang tidak lagi merasa mual, bahkan kondisi badannya sudah jauh lebih segar dari pada tadi pagi.


"Tapi tetap harus di periksa Rin, biar sembuh total,,"


Tanpa meminta persetujuan Karin, Jeje langsung menarik tangannya.


"Udah buruan, kita ke dokter sekarang. Sekalian makan siang nanti,,"


Karin hanya pasrah mengikuti kemauan Jeje.


Keduanya masuk kedalam taksi online yang sudah di pesan oleh Jeje.


"Nggak usah di rumah sakit Je, ke dokter biasa aja,," Sejak tadi Karin terus protes. Dia tidak enak pada sahabatnya itu yang nanti akan membayar biayanya. Pasti tidak sedikit karna harus periksa di rumah sakit.


"Udah jangan banyak protes Rin, di rumah sakit atau di tempat lain, sama aja. Lagian kita cari yang deket dari sini,,,"


Jeje sedikit geram karna Karin terus memberikan protes.


Setelah melakukan pendaftaran dan menunggu antrian, kini Karin yang mendapat giliran. Jeje ikut masuk ke dalam untuk menemani sahabatnya itu.


Nampak dokter wanita paruh baya, dia menanyakan keluhan yang di rasakan oleh Karin.


Dokter itu hanya mengangguk saat Karin menjelaskan dengan rinci.


Dia meminta tangan Karin, mengecek denyut nadi untuk beberapa saat. Setelah itu mengukur tensi darah.


"Teman saya sakit apa dok,,?" Tanya Jeje.


"Kita lakukan pemeriksaan lain dulu ya." Sahutnya.


"Silakan berbaring di sana." Dokter itu menunjuk bangsal. Karin mengangguk dan berjalan ke sana.


Setelah berbaring, dokter itu meraba pelan perut Karin.


"Sebaiknya kalian pindah ke dokter obgyn saja."


Tuturnya.


Jeje langsung membulatkan matanya. Berbeda dengan Karin yang tampak tidak paham.


"Apa dok.?!" Serunya kaget.


"Jadi,,, " Jeje menggantungkan ucapannya.


"Ya, sepertinya nona Karin sedang hamil."


"Untuk memastikan berapa usia kandungannya, kalian bisa langsung ke dokter obgyn,," Jelasnya.


"Jadi saya hamil dok,,,?" Tanya Karin dengan raut wajah datar. Jeje sampai bingung melihatnya.


"Iya. Tapi perlu di pastikan lebih dulu. Sepertinya usia kandungannya masih menginjak 4 sampai minggu. Jadi wajar kalau mengalami gejala muntah - muntah."


"Apa.?!!" Pekik Karin dengan mata yang membuka sempurna.


"Jadi saya,,,,


"Kalau begitu kami permisi dok, Terima kasih,,"


Jeje menarik tangan Karin agar turun dari bangsal.


Karin mengikuti langkah Jeje dengan gontai. Pandangan matanya berubah kosong, dia tidak mengatakan apapun sejak keluar dari ruangan itu.


Jeje membawa Karin untuk duduk lebih dulu. Dia tau kalau saat ini Karin sangat syok.


Cukup lama Jeje membiarkan Karin untuk menenangkan diri lebih dulu.


"Udah lebih baik.? Kita ke dokter obgyn sekarang ya,," Tutur Jeje lembut. Karin tidak bereaksi apapun, air matanya luruh.


"Kamu harus percaya, semuanya akan baik - baik saja,," Jeje menggenggam tangan Karin untuk memberikan kekuatan.


"Aku akan menyuruh kak Reynald untuk tanggung jawab,," Ujarnya lagi.


Kali ini Karin menatap Jeje.


"Laki - laki brengsek itu nggak akan mungkin tangung jawab Je,," Ujarnya pasrah.


"Aku akan bantu kamu Rin, dia pasti mau tanggung jawab,," Ucap Jeje yakin.


Dia bisa meminta bantuan Kenzo untuk menyelesaikan masalah Karin dan Reynald.