My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
Bab 71. Pertunangannya



Aku sudah berusaha untuk menguatkan hati. Berusaha untuk tidak terus terjebak dalam luka yang semakin terasa menyiksa. Aku sadar, terus merasa sedih dan terpuruk tidak akan mengubah apapun. Semuanya sudah terjadi di depan mata, aku hanya tinggal menunggu sampai aku benar - benar kehilangannya.


Tapi sekeras apapun aku berusaha untuk kuat menguatkan hati, tetap saja aku tidak bisa menyembunyikan rasa sakit yang aku rasakan.


Dengan langkah gontai, hati yang terasa diremas, juga deguban jantung yang semakin cepat, aku memasuki ballroom hotel mewah dengan perasaan hancur. Tidak pernah terbayangkan aku akan hadir dalam pertunangan laki - laki yang sangat aku cintai.


Laki - laki yang mampu mengambil cinta pertamaku.


Masih sangat jelas di ingatan, bagaimana awal pertemuan kami yang begitu mengesankan. Mungkin saat itu aku sudah menaruh hati sejak pertama kali bertemu dengannya.


Pesona dan kebaikannya mampu menarik perhatianku. Membuatku sangat nyaman dan ingin selalu ada di dekatnya. Menghabiskan waktu bersamanya adalah kebahagiaan yang tak ternilai bagiku.


Aku begitu mengagungkannya, mendamba dan mencintainya setulus dan sepenuh hatiku.


Memberikan seluruh cinta yang aku miliki hanya untuknya. Tanpa berfikir panjang, tanpa memikirkan resiko yang akan aku dapatkan jika dia mengecewakanku. Dan seperti inilah akhirnya.


Saat seluruh hatiku di genggam olehnya, namun dia pergi bersama wanita lain. Aku harus merasakan sakit yang tak kunjung usai. Rasa sakit yang terus menusuk pada hatiku.


Disaat semua tamu undangan menunjukan wajah bahagianya, hanya aku seorang diri yang tidak mampu menutupi rasa sakit ini. Aku terus berjalan di samping mama, mengikuti langkahnya yang sudah pasti akan menghampiri pemilik acara untuk mengucapkan selamat. Aku menahan sesak di dada, rasanya aku ingin berteriak sekencang mungkin untuk menghilangkan sesak ini.


Dari kejauhan aku bisa melihat wajah tampan itu, wajah tampan yang semakin mencabik - cabik hatiku. Rasanya tidak sanggup untuk menghampirinya. Aku belum melihat wanita yang akan menjadi tunangan kekasihku.


Di sana hanya ada ketiga laki - laki yang aku kenal, termasuk laki - laki paruh baya yang di panggil papa oleh om Kenzo saat di restoran.


"Mah,,, Jeje mau ke toilet dulu ya,,"


Tidak sanggup untuk melihatnya semakin dekat, aku memilih untuk menghindar.


"Ya sudah, tapi jangan lama - lama ya. Sebentar lagi acaranya di mulai,,,"


Aku hanya mengangguk. Mama dan papa kembali melangkah, sedangkan aku masih diam mematung disini. Diam di tengah kerumunan pada tamu undangan yang sedang asik berbincang.


Acara ini digelar sangat mewah, para awak media bahkan berbondong - bondong hadir disini.


Nadine model terkenal, wajar saja acara pertunangannya dihadiri oleh pemburu berita.


Suasana riuh di dalam ballroom, perlahan mulai hening saat pembawa acara mulai bersuara.


Semua mata tertuju pada panggung besar nan mewah itu. Mereka sedang menantikan kehadiran Nadine, si pemilik acara.


Suara tepuk tangan yang meriah, menyambut kehadiran Nadine yang terlihat begitu cantik bak ratu di kerajaan. Gaun panjang berwarna putih, terlihat berkilau.


Pantas saja om Kenzo lebih memilihnya, aku tidak sebanding dengannya.


Aku semakin kesulitan untuk bernafas, saat acara tukar cincin akan dimulai. Aku melangkahkan kaki, semakin mendekat ke arah mereka. Aku ingin om Kenzo akan melihatku sebelum dia benar - benar memasangkan cincin di jari Nadine.


Entah kenapa hati ini masih terus berharap, aku ingin om Kenzo membatalkan pertunangannya saat melihatku ada disini. Berharap dia lebih memilih untuk tetap bersamaku.


Aku berdiri di deretan paling depan yang menyaksikan keduanya akan bertukar cincin.


Jangan di tanya lagi bagaimana perasaanku saat ini. Tidak ada kata yang mampu menggambarkan sakitnya hati ini.


Hujaman benda tajam menancap di hatiku, saat Nadine memasangkan cincin di jari manis om Kenzo. Laki - laki itu masih belum menyadari keberadaan ku.


Kini giliran om Kenzo yang meraih tangan Nadine dan memasangkan cincin dicarinya.


Saat itu juga duniaku terasa runtuh. Seluruh dunia seakan menjauhiku. Aku sendiri dalam kegelapan. Cahayaku pergi, seiring dengan rasa sakit yang terus menghujani hatiku. Aku kehilangan arah, tidak tau harus kemana akan melangkah.


Buliran bening mulai lolos dari pelupuk mataku, aku pikir air mataku sudah mengering.


Segera ku usap, dan menahan air mataku agar tidak kembali tumpah.


Saat pandangan mata om Kenzo lurus ke dapan, saat itulah dia melihatku. Tidak perlu ditanya lagi bagaimana reaksinya. Om Kenzo jelas sangat terkejut. Mungkin dia tidak mengira kalau aku sudah mengetahui acara pertunangannya.


Aku tersenyum padanya di tengah hancurnya hatiku.


Aku ingin menunjukan kalau aku baik - baik saja.


Om Kenzo terlihat bingung, seolah ingin menghampiriku namun dia tidak mungkin melakukannya dalam keadaan seperti ini.


Aku masih berdiam diri disini, terus menatap ke arah nya. Aku ingin membuatnya bersalah karna sudah mengingkari janjinya padaku.


Suasana mulai kembali ramai, acara tukar cincin dan pemberian ucapan selamat sudah berakhir. Tamu undangan mulai kembali bising. Aku memilih untuk pergi. Ternyata aku tidak sanggup untuk menghampirinya dan mengucapkan kata perpisahan padanya.


Saat ini aku hanya ingin pulang dan menenangkan diri.


"Ikut aku,,,"


Aku dikagetkan oleh kehadiran om Kenzo yang tiba - tiba mencekal tanganku dari samping. Tanpa menunggu jawaban dariku, om Kenzo menarik ku masuk kedalam ruangan kosong dan mengunci pintunya.


"Lepasin om,,!" Ku tarik kasar tanganku dari cengkramannya. Aku menatap tajam om Kenzo yang terlihat panik.


"Aku akan jelasin semuanya,,"


Aku tersenyum sinis. Apa dia pikir aku sangat bodoh, sampai dia akan menjelaskan apa yang sudah aku lihat di depan mataku.


"Jangan buang - buang waktu hanya untuk menjelaskan apa yang sudah aku ketahui. Sebaiknya om kembali saja, sebelum ada yang melihat kita disini,,"


Aku berjalan ke arah pintu, namun om Kenzo menahannya dengan bersender pada pintu.


"Ini nggak seperti yang kamu lihat. Pertunangan ini bukan keinginanku."


Aku sangat geram mendengar ucapan yang tidak masuk akal itu.


"Keinginan om atau bukan, aku nggak peduli om. Itu bukan urusanku. Minggir, aku mau pulang,," Aku berusaha mendorong badan om Kenzo kesamping, tapi tidak berhasil.


Aku menepis tangan om Kenzo yang menyentuh pipiku, dia menatapku dengan nanar.


"Tetap percaya sekalipun om sudah bertunangan dan akan menikah.?!!" Bentakku.


"Jadi aku harus menjadi simpanan om.?! Jangan mimpi om.!!"


"Aku datang kesini bukan untuk meminta penjelasan. Aku bukan anak kecil yang nggak tau apa yang aku lihat.!"


"Hari ini hubungan kita sudah berakhir.! Ah bukan,, lebih tepatnya detik ini.! Aku datang hanya untuk mengakhiri hubungan kita dan mengucapkan salam perpisahan."


Om Kenzo terlihat bengong menatapku. Dia seakan tidak percaya kalau aku bisa berkata dengan nada tinggi padanya.


"Sampai kapanpun hubungan kita nggak akan berakhir. Jangan coba - coba untuk mengakhirinya.


Aku akan bertanggung jawab atas apa yang sudah aku lakukan, jadi jangan harap bisa pergi.!"


Tegasnya.


Rupanya om Kenzo mengambil kesucian ku hanya untuk menahan ku agar aku tidak pergi darinya. Dia pikir aku akan tetap bertahan untuk mendapat pertanggung jawaban darinya.


"Om nggak perlu tanggung jawab, aku pun nggak meminta itu. Lupakan saja kalau kita pernah melakukannya,,!"


"Kenapa kamu keras kepala sekali.! Percaya padaku kali ini saja, dan jangan pernah akhiri hubungan kita apa lagi pergi dari sisiku."


"Tunggu aku sampai aku bisa membatalkan pernikahan ini,, jadi aku mohon, tetap disisiku,,"


Om Kenzo membawaku dalam dekapannya, dia memelukku sangat erat.


"Maafkan aku, maaf sudah membuatku terluka. Aku nggak bermaksud menyembunyikan pertunangan ini dari kamu. Aku hanya belum siap melihat kamu kecewa. Tapi pada akhirnya aku justru mengecewakanmu."


"Sayang,, aku mohon jangan pergi. Aku pasti akan membatalkan pernikahan ini, percaya padaku,,"


Aku hanyut dalam pelukannya yang terasa begitu nyaman dan membuat rasa sakitku berkurang.


"Aku ingin memeluk om untuk yang terakhir kalinya,," Ucapku lirih. Aku melingkarkan tangan di pinggangnya, memeluknya begitu erat seakan enggan untuk melepaskannya.


"Aku mohon jangan bicara seperti itu. Kita akan tetap bersama."


Aku mendorong tubuh om Kenzo.


"Jangan dipaksakan om, semuanya sudah berakhir. Tolong biarin aku pergi sekarang."


"Kenapa kamu keras kepala sekali.!! Sudah berapa kali aku bilang.! Percaya paksa ku dan jangan pernah coba untuk pergi.!! Pernikahan ini nggak akan pernah terjadi. Tunggu sampai aku bisa mendapatkan bukti untuk membatalkannya.!"


Om Kenzo terus berbicara dengan nada tinggi. Dia seakan sudah kehabisan kesabaran.


"Jangan dipaksakan om. Aku nggak pernah memaksa om untuk tetap bersamaku dan menikahiku. Jadi sebaiknya hubungan ini memang sudah seharusnya di akhiri,,"


"Jadi kamu akan tetap pergi.? Kamu nggak mau nunggu.? Kalau begitu kita bongkar saja hubungan kita di depan semua orang, aku akan bilang kalau aku sudah menghamilimu. Aku siap menerima resikonya termasuk kehilangan,,," Om Kenzo tidak meneruskan ucapannya, dia menarik tanganku untuk membawaku keluar.


"Berhenti om.! Jangan gila.! Apa dengan cara seperti ini om pikir setelah ini hubungan kita akan direstui oleh orang kita.!"


"aku nggak butuh restu dari mereka, asal kamu tetap di sisiku.!" Tegasnya.


Aku tidak mungkin diam saja dan membiarkan hal ini terjadi. Mama dan papa pasti akan kecewa padaku, termasuk semau orang yang mungkin akan menghinaku karna sudah mengacaukan acara pertunangan itu.


"Baiklah, aku nggak akan pergi. Kau akan menunggu om sampai berhasil membatalkan pernikahan itu. Tapi aku mohon,, jangan membongkar hubungan kita pada siapapun sebelum hubungan om dan wanita itu berakhir,,"


Pada akhirnya aku harus berpura - pura untuk tetap berada disisinya. Ini satu - satunya cara agar aku bisa pergi darinya.


Om Kenzo nampak diam, sepertinya dia tidak percaya begitu saja dengan ucapan ku.


Segera ku peluk om Kenzo untuk meyakinkannya.


"Aku janji akan tetap berada disisi om Ken. Tapi aku mohon, jangan buat aku semakin terluka dengan menahanku di tepat ini. Aku nggak sanggup melihat kalian berdua."


"Apa om tau bagaimana perasaanku saat ini, aku sangat hancur dan terluka. Rasanya aku ingin berlari sejauh mungkin untuk melupakan kejadian ini."


"Maafkan aku. Aku janji akan secepatnya menikahimu setelah aku berhasil membatalkan pernikahan ini. Kamu harus percaya padaku,,"


Aku mengangguk lemah.


"Ijin aku pulang om, aku nggak sanggup lagi terus berada ditempat ini." Pintaku setelah melepaskan pelukanku.


"Baiklah. hati - hati,," Om Kenzo mengecup keningku, cukup lama mendaratkan bibirnya disana.


"Kita akan bertemu besok,,"


Aku berusaha tersenyum padanya, sebelum akhirnya aku keluar dari ruangan itu dan berjalan cepat meninggalkan area ballroom.


Maafkan aku om, aku akan tetap pergi. Bagaimana mungkin aku tetap di sampingmu saat kamu membuatku kecewa dan membuatku mulai membencimu.!


Aku tidak akan percaya lagi dengan omong kosongmu itu.!


Sudah cukup selama ini aku begitu bodoh menjadi penghiburmu.!


...*****...


Tenangkan hati, tenangkan pikiran. Selamat move on Je🥰


Votenya jangan sampe ketinggalan ya🥰