
Jeje hanya bisa menyembunyikan wajahnya dalam gendongan Kenzo. Dia merasa malu di gendong dalam keadaan tanpa memakai baju sehelai pun, begitu juga dengan Kenzo.
Begitu masuk ke kamar mandi, Kenzo langsung menurunkan Jeje. Remaja cantik itu langsung menutupi kedua bagian sensitifnya menggunakan tangan.
Entah kenapa dia merasa sangat malu telanjang bulat di depan Kenzo dalam keadaan tidak di selimuti gairah. Sedangkan saat di atas ranjang, remaja itu bisa menyingkirkan rasa malunya. Bahkan Jeje sangat agresif hingga mendominasi permainan.
"Apa yang mau kamu tutupi.?"
"Aku sudah melihat kedua benda itu, bahkan mencicipinya berulang kali." Jelas Kenzo datar. Dia melirik dada Jeje dan melirik benda penuh kenikmatan yang terletak di antara paha mulus istrinya itu.
Sadar jika Kenzo sedang mengamati tubuhnya, Jeje langsung membulatkan matanya.
"Hubby,, jangan buat aku makin malu,," Seru Jeje sedikit merengek.
"Buruan keluar, aku harus bersih - bersih,,," Pintanya.
Tanpa berkata apapun, Kenzo keluar dari kamar mandi. Saat itu juga Jeje bernafas lega. Dia langsung membersihkan miliknya, berharap benih milik Kenzo tidak jadi untuk saat ini. Setidaknya sampai dia siap untuk mengandung.
Selesai membersihkan diri, Jeje meraih handuk kimono. Di pakainya handuk itu sembari berjalan keluar kamar mandi. Tapi baru saja satu langkah keluar kamar mandi, Kenzo sudah menghadangnya. Laki - laki itu masih saja telanjang bulat.
Jeje sempat melirik benda milik Kenzo yang rupanya sudah kembali tegak. Buru - buru Jeje mengalihkan pandangannya.
Milik Kenzo terlalu membuatnya bernafsu.
"Mau kemana.?" Tanyanya datar.
"Mau pake baju by,,," Jeje mencoba lewat, namun Kenzo justru mendorong tubuh istrinya untuk kembali masuk ke dalam kamar mandi.
"Siapa yang ngijinin kamu pake baju.?"
"Urusan kita belum selesai,,"
Jeje mengerutkan keningnya
"Urusan apa by,,,?"
"Kita baru satu kali melakukannya. Tunggu sampai 2 kali lagi, baru boleh memakai baju,,," Kenzo menarik tali kimono di tubuh Jeje, kemudian melepaskan paksa dari tubuh mulus istrinya.
Jeje hanya bisa menelan saliva saat melihat tatapan mata Kenzo yang kembali di penuhi gairah.
Benar saja, suami tampannya itu langsung melu**t bibirnya tanpa henti. Dia mendorong pelan tubuh Jeje hingga bersender pada washtafel.
Tangannya pun sudah bergerak liar, menggerayangi benda kenyal yang selalu dia mainkan.
Kenzo melepaskan ciumannya, dia membuka pengaman yang sejak tadi dia pegang di tangan kirinya.
Pengaman yang diberikan oleh papa Andreas di hari pernikahannya. Rupanya Kenzo menyimpannya. Dia sudah memprediksikan kalau pengaman itu akan berguna.
Jeje diam sambil terus memperhatikan apa yang Kenzo lakukan.
"By,," Panggilnya.
"Pakai ini agar aman,," Ujarnya. Kenzo seolah tau apa yang ada di pikiran Jeje
"Nggak enak kalau harus di cabut saat akan keluar,,,"
Jeje hanya bisa mendelik dengan badan yang memaku. Suaminya itu benar - benar pandai membuatnya membisu dengan ucapan yang menurutnya vulgar.
Selesai memasang pengaman, Kenzo kembali menghujani Jeje dengan cumbuan. Keduanya sudah hanyut dalam kabut gairah.
Kenzo menghentikan aksinya setelah tadi menyesap kedua benda kenyal milik Jeje.
"Dari belakang,,," Bisik Kenzo sembari membalik pelan tubuh Jeje hingga membelakanginya. Jeje sudah paham hal itu. Dia langsung memposisikan diri, kedua sikunya bertumpu pada washtafel.
Jeje bisa melihat dirinya dan Kenzo dalam pantulan cermin.
Wajah keduanya sama - sama dalam pengaruh gairah yang tinggi.
"Uugghhh,,," Jeje menahan desahannya saat milik Kenzo menghujam miliknya dengan sekali hentakan. Seketika miliknya terasa sangat penuh dalam posisi seperti itu.
"Sakit,,?" Tanya Kenzo lembut. Dia mengusap kepala Jeje berulang kali.
"Sedikit,,," Suara Jeje sudah serak. Kenzo mengeluh senyum, dia paham kalau istrinya sudah tidak sabar untuk mendapat hujaman dari miliknya.
Kenzo mulai bergerak, menciptakan kenikmatan yang luar biasa untuk keduanya. Dalam hitungan detik, suara desahan dan erangan penuh kenikmatan memenuhi kamar mandi.
Penyatuan panas itu lebih lama dari sebelumnya, Kenzo bahkan terus menghujam milik Jeje meski istri cantiknya itu sudah 2 kali mencapai puncak.
Keringat mulai memenuhi pelipisnya. Remaja cantik itu begitu kewalahan mengimbangi suaminya.
"By aku cape,,," Keluh Jeje. Kakinya sudah sakit menopang tubuhnya sejak tadi.
"Sebentar lagi sayang,,," Kenzo semakin mempercepat gerakannya. Tak berselang lama, desahan pajang keluar dari mulutnya.
Malam itu mereka terpaksa mandi mandi lagi. Terlebih Kenzo yang baru mandi 3 jam yang lalu. Meski begitu, laki - laki tampan itu tidak mempermasalahkannya. Jangankan harus mandi 3 kali, mandi berkali - kali pun dia tidak keberatan asal dia bisa merengkuh kenikmatan bersama istrinya.
Kejutan dari Jeje mampu membuat Kenzo semakin tergila - gila padanya. Dia tidak menyangka, gadis remaja itu punya cara yang luar biasa untuk memberikannya kepuasan.
Sikap agresif Jeje saat di atas ranjang, terus berputar - putar di kepalanya.
Kini wanita cantik itu sudah terlelap di pelukannya.
Jeje terlihat sangat kelelahan karena harus mengimbangi permainan suaminya yang menguras waktu dan tenaga.
Hingga akhirnya Kenzo mengurungkan niatnya untuk kembali melakukan penyatuan.
Tidak masalah jika malam ini dia hanya melakukan 2 kali, karna besok pagi dia akan kembali memintanya.
Rasanya tidak akan ada kata puas untuk merengkuh kenikmatan dengan istri yang begitu dia cintai itu.
...***...
"Hubbyyyy,,,,,!" Teriak Jeje begitu bangun dari tidur panjangnya. Dia begitu syok melihat jarum jam yang sudah menunjukan pukul 10 pagi.
Jeje bergegas turun dari ranjang dan keluar dari kamar untuk mencari suaminya.
Suaminya itu sudah tidak ada di dalam kamar, tapi tidak membangunkannya. Padahal pagi ini dia harus kuliah jam 8 pagi, dan itu artinya sudah 2 jam dia terlambat.
"Nggak perlu teriak - teriak Je, pendengaran suamimu masih cukup bagus,,"
Ujar Kenzo santai. Dia sedang menata makanan di atas meja makan.
Jeje cemberut menghampirinya.
"Aku terlambat by,,," Keluhnya.
"Kenapa nggak bangunin aku,," Jeje duduk di depan meja makan, dia menyambar gelas dan menuang air putih. Di teguknya air itu hingga tandas. Rupanya tidur panjangnya cukup membuat tenggorokannya mengering.
"Aku baru bangun satu jam yang lalu." Sahut Kenzo berbohong. Padahal dia memang sengaja membiarkan Jeje tidak masuk kuliah. Hari ini dia akan mengurung Jeje di kamar seharian penuh.
"Nggak usah khawatir. Aku sudah mengurus surat ijin kamu,," Penuturan Kenzo membuat Jeje bernafas lega. Setidaknya dia tidak dibilang bolos kuliah.
"Makasih by,,," Ucapnya tulus sembari menyunggingkan senyum manis.
"Surat ijin itu nggak gratis sayang. Kamu harus membayarnya seperti tadi malam,,," Bisiknya.
Perasaan Jeje saat ini bercampur aduk. Dia hanya bisa diam dengan segala pikiran yang terlintas dalam benaknya.
Jeje sadar, aksinya tadi malam begitu memalukan karena terlalu agresif dan bersemangat. Tapi justru itu yang membuat Kenzo akhirnya terus mengingatnya. Dan itu memang tujuan Jeje sejak awal. Memberikan memory yang indah pada malam pertama setelah menikah.
Setelah menyantap sarapan mereka yang kesiangan, Kenzo langsung mengajak Jeje untuk mandi bersama. Kegiatan panas itu kembali terulang hingga beberapa kali.
Rupanya benar apa yang di katakan Kenzo saat dulu Jeje masih menjadi sugar babynya.
Jeje terus meminta untuk melakukan penyatuan, namun Kenzo menolaknya. Dia bahkan bilang bahwa Jeje akan kewalahan mengimbanginya.
...****...
Pengen tau dong, kalian tau novel ini darimana.?
Dari akun pertama author
Liat di beranda
Liat pas lagi baca novel author lain
Iseng ketik di pencarian
Liat di rangking vote
Atau iseng klik profil author karna liat komen author di novel yang lagi kalian baca 😁
(Author juga readers, kalo lagi pusing mikir + cape ngetik, suka baca novel author lain) 😁
Komen di bawah ya🥰
BTW Minal Aidin Wal Faidzin 🙏 mohon maaf lahir batin.
Selamat hari raya idul fitri bagi yang merayakan.
Besok author libur up. Mohon di maklumi 🥰🙏