My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
Bab 82. Mulai berjuang



Kenzo Pov


Aku pikir bayi besarku ini akan mudah menerima penjelasanku dan mau memaafkanku. Rupanya luka yang sudah aku goreskan pada hatinya mampu membuatnya begitu sakit hati dan kecewa. Dia enggan melanjutkan hubungan kami untuk saat ini.


Aku tau, dia sedang mencoba untuk menyembuhkan lukanya. Dan sebenarnya masih ada cinta di dalam hatinya untukku. Jika sudah tidak ada lagi cinta di hatinya, tidak mungkin dia akan membiarkanku tidur satu ranjang dengannya dan terus memeluknya seperti ini.


Tak lama setelah obrolan singkat tadi, perlahan dia mulai terlelap dengan dengkuran halus dan nafas yang teratur.


Aku tidak melonggarkan pelukanku sedikitpun, bahkan aku tidak ingin melepaskannya.


Selama 3 minggu ini aku menahan rindu yang begitu dalam padanya. 3 minggu tanpa kabar darinya, juga tanpa melihat wajahnya yang menggemaskan itu, terasa begitu menyiksa ku.


Buliran keringat sudah banyak bermunculan di pelipisnya meski tadi aku sempat menurunkan suhu ruangan, tetap saja selimut tebal yang membalut tubuhnya mampu membuatnya kepanasan seperti ini.


Entah apa maksudnya menggulung diri menggunakan selimut sampai menyiksa diri menahan panas. Aku mulai melepaskan selimut yang melilit di tubuhnya.


Padahal percuma saja dia membalut tubuh dengan selimut, aku bahkan sudah melihat semua isinya dengan sangat jelas.


Tahi lalat di paha atasnya saja bisa aku lihat meski sangat kecil. Warna hitam itu sangat kontras dengan warna pahanya yang seputih susu.


Aku membalik tubuhnya agar menghadap ke arahku. Ku tatap wajah polosnya yang mampu membuatku jatuh cinta hingga tergila - gila padanya.


Ada penyesalan yang terbesit dalam hatiku, harusnya aku tidak bertindak sejauh itu sampai mengambil kesuciannya hanya untuk membuatnya tetap berada disisiku. Nyatanya saat ini aku harus berjuang kembali untuk mengambil cintanya yang sudah terkubur oleh rasa kecewa.


Ku kecup keningnya dengan penuh cinta. Aku harap dia tidak akan berpaling dariku.


Kembali ku peluk tubuhnya dengan erat, membenamkan wajahnya di dadaku.


Tiba - tiba saja muncul ide untuk menjahilinya. Biar saja dia semakin sulit untuk menjauh.


...****...


"Ooommmm,,,,!!"


Aku hanya bisa menahan senyum saat mendengar teriakan Jeje dari dalam kamar. Dia pasti syok karna mendapati dirinya yang tidak memakai baju, hanya ada br* dan celan* dal*m saja yang menutupi kedua benda berharganya.


Aku memang sengaja melakukannya, biar saja dia berfikir macam - macam padaku. Dengan begitu, dia tidak akan lagi keras kepala. Kalau aku sering berbuat macam - macam padanya, bukankah dia akan berfikir berulang kali untuk pindah ke lain hati.


Aku tersenyum penuh kemenangan.


Aku segera menghampiri nya dengan membawa nampan berisi satu nasi goreng dan segelas air minum.


Rupanya dia sedang duduk di atas ranjang dengan selimut yang membalut tubuhnya hingga sebatas leher. Tatapan tajamnya seakan ingin mencabik - cabik wajahku.


"Sudah bangun.? Ayo sarapan dulu,," Ujarku dengan santai tanpa beban dan dosa. Aku bisa melihat Jeje yang semakin tajam menatapku.


"Om ngapain semalem.?! Kenapa bajuku bisa lepas semua.?!" Geramnya.


Aku meletakkan nampan di atas nakas, kemudian duduk disisi ranjang menghadap ke arahnya.


"Kamu nggak inget.?" Tanyaku sembari mengulas senyum.


"Inget apa.?! Jelas - jelas tadi malam aku tidur full berbalut selimut, kenapa jadi,,,"


Jeje nampak ragu untuk melanjutkan ucapannya.


"Jadi apa,,?" Godaku. Aku semakin mendekat ke arahnya.


"Om,, jangan macam - macam om.!" Pekiknya.


"Kita sudah biasa macam - macam Je."


"Semalam masih kurang.? Mau lanjut lagi sekarang.?" Aku menarik selimutnya, membuatnya memberontak hingga memukul lenganku berulang kali.


"Iih,, ngeselin banget sih.!" Dia berhasil lepas dan turun dari ranjang dengan selimut yang masih menempel di tubuhnya.


Dia punguti baju yang tergeletak di lantai, lalu bergegas pergi.


"Aku bakal bilangin ke kak Nicho.!" Teriaknya sebelum masuk ke kamar mandi.


"Bilang saja.!"


"Siap - siap besok kita menikah.!" Ujarku.


Dia melotot dan menutup pintu dengan keras.


Aku hanya tertawa melihatnya yang kesal seperti itu. Wajahnya sangat lucu dan menggemaskan.


Rasanya puas sekali berhasil membuatnya kesal.


Dia keluar kamar mandi dengan handuk kimono yang membalut tubuhnya, rambut basahnya di bungkus dengan handuk kecil.


Aku hanya bisa menatapnya, meski sebenarnya ingin memeluknya dan mencium aroma dari tubuhnya yang wangi itu.


"Kenapa om masih disini.? Mendingan balik ke tempat om aja." Ujarnya sembari mendekat ke arah lemari dan mengambil baju dari sana.


"Pakai baju dulu, setelah itu sarapan. Aku akan pergi setelah ini,,"


Anak itu memang keras kepala. Apa salahnya kalau aku tetap disini. Padahal aku yakin sebenarnya dia senang karna aku ada disini.


Dia keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap, rambut yang masih setengah basah dia biarkan terurai.


Dia mendekat ke arahku, mengambil nampan di atas nakas. Tanpa melihat ke arahku, dia berjalan ke arah balkon. Aku hanya menggelengkan kepala, kemudian beranjak dan mengikuti langkahnya.


Tidak mau aku terus berada disini, tapi membawa sarapan yang aku buat begitu saja tanpa permisi.


"Loh kenapa om ngikutin.? Katanya mau balik kalo aku sarapan.? Kok malah ikut kesini,,"


Aku duduk disebelahnya.


"Aku juga harus sarapan Je. Kita sarapan satu piring berdua, biar romantis,," Aku menarik nampan agar lebih dekat ke arahku.


"Tapi om,,,


"Jangan banyak protes Je. Aku tidak suka di bantah."


"Kamu mau pilih kita sarapan berdua, atau nikah besok pagi.?"


"Kalau mau pilih nikah besok pagi, aku tinggal bilang pada om Alex dan Nicho kalau kita sudah,,,


"Om,,,!" Dia langsung membungkam mulutku dengan telapak tangannya.


"Jangan bilang sama mereka. Mereka pasti akan kecewa padaku,," Dia melepaskan tangannya, lalu menunduk dengan kesedihan yang terpancar dari matanya.


"Aku sudah mengecewakan mereka,,," Aku bisa melihat air mata yang mulai menetes dari peluk matanya, namun dia segera menghapusnya.


Ku raih tangannya. Mengusapnya dengan perlahan.


"Lihat aku Je,," Pintaku. Dia menoleh lemah.


"Jangan merasa bersalah seperti ini, aku yang sudah memaksamu."


"Kalau kamu tidak mau mengecewakan mereka lagi, maka tetap disisiku. Aku harus bertanggung jawab atas apa yang sudah aku perbuat padamu,,"


Jeje tidak memberikan respon apapun, dia hanya diam dan membiarkanku tetap menggenggam tangannya.


Sepertinya dia memang butuh waktu untuk menyembuhkan lukanya.


"Yasudah, kamu habiskan saja sarapannya. Aku kembali ke apartemen dulu,,,"


Sembari berdiri dari dudukku, aku mengusap lembut pipinya.


"Makan dulu om,,," Ujarnya sembari menahan tanganku.


Aku kembali duduk sebelum moodnya berubah lagi.


Suasana hati anak ini memang tidak bisa di tebak.


Dia tidak protes saat aku menyuapinya. Semoga saja perlahan dia bisa membuka kembali hatinya.


"Enak om,," Pujinya datar, bahkan tidak melirik ke arahku.


Aku hanya mengulas senyum tipis.


Kami keluar dari kamar setelah menghabiskan sepiring nasi goreng berdua.


Saat aku akan keluar dari apartemennya, dia membuntuti ku dari belakang.


"Tadi ngusir, sekarang malah mau ikut,," Ujarku.


"Siapa yang mau ikut. Aku tuh mau ambil ponsel di tempat kak Nicho. Semalem ketinggalan disana,," Katanya. Dia berjalan melewati ku yang sudah berdiri di depan pintu.


"Cepetan keluar om, nanti kak Nicho,,,,


Dia tidak meneruskan ucapannya, diam mematung di ambang pintu yang baru saja dia buka.


"Siapa Je,," Aku mendekat dan melihat keluar, rupanya ada teman Nicho yang menyebalkan itu.


Dia menetap kami bergantian dengan tatapan datar.


"Kak,, ka,,kami hanya,,,


Jeje terlihat gugup.


"Nggak perlu di jelasin Je, kita mau berduaan didalam kamar atau dimanapun, itu bukan urusannya.!" Ketusku.


"Om,,!" Jeje mendelik menatapku.


"Aku duluan Je,, permisi,,"


Ujarnya sembari mengulas senyum padaku dan Jeje, kemudian berlalu dari hadapan kami.


"Kenapa om bilang kayak gitu.? Nanti kalau kak Fatih bilang sama kak Nicho gimana.?" Ujarnya dengan wajar yang panik.


"Itu jauh lebih baik,," Sahutku sambil berlalu meninggalkannya.


Menyebalkan sekali laki - laki itu. Sepertinya dia sedikit menaruh perasaan pada Jeje.


...***...


......Pastikan sudah vote untuk Jeje Kenzo🥰......