My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
60. Season2



Menuruti perkataan Reynald hanya akan mempermalukan diri sendiri di depan Jeje dan Kenzo. Meski tau Jeje tidak akan mempermasalahkan dirinya yang datang tanpa membawa buah tangan apapun, tapi tetap saja rasanya tidak pantas menjenguk seseorang dengan tangan kosong.


Reynald memang keterlaluan, dia bahkan hampir membuang 2 pasang sepatu dan 2 tas tanpa berfikir lebih dulu. Tapi hanya sekedar untuk membawakan buah ke rumah bosnya, dia seperti akan kehilangan sebagaian uang yang dia miliki.


"Berhenti dulu di supermarket kak, aku haus,," Pinta Karin. Yang di ajak bicara terlihat melirik sekilas.


Kalau tidak menggunakan cara seperti ini, Reynald pasti akan melakukan mobilnya tanpa henti sampai di apartemen Kenzo.


"Hemm,,," Hanya deheman datar yang keluar dari mulut Reynald setelah kembali fokus pada jalanan.


Karin bernafas lega, akhirnya ada cara untuk membeli buah agar datang tidak dengan tangan kosong. Entah akan seperti apa reaksi Reynald setelah ini, Karin tidak akan memperdulikannya. Yang terpenting dia tidak akan merasa malau di hadapan Jeje dan Kenzo.


Karin tersenyum lebar saat Reynald membelokan mobilnya ke supermarket. Reynald benar - benar menuruti permintaannya tanpa memberikan protes sedikitpun.


"Kenapa senyum - senyum.?" Tegur Reynald dengan wajah datarnya. Laki - laki itu memang tidak bisa di ajak kompromi. Tidak bisa melihat orang senang sedikit, sudah di rusak oleh sikap dinginnya.


Karin hanya menggeleng acuh, dia melepas seatbelt dan langsung turun dari mobil. Di susul Reynald yang juga keluar dari mobil dan langsung berjalan cepat mendahului Karin.


Karin menghela nafas, dia harus banyak bersabar menghadapi gunung es dan kanebo kering itu. Sikapnya tidak romantis sama sekali. Saat laki - laki lain menggandeng mesra atau merangkul istrinya, laki - laki itu justru meninggalkannya begitu saja.


Berjalan cepat dengan langkahnya yang lebar. Bisa - bisanya dia mengabaikan Karin yang sendang mengandung anaknya. Tidak berfikir kalau kaki panjangnya itu bisa melangkah 3 kali lipat dari langkah kaki Karin. Bagaimana Karin bisa mengejarnya dalam kondisi hamil muda seperti ini.


Karin melangkahkan kaki dengan sedikit menghentakkan kakinya karna merasa jengkel dengan sikap Reynald. Dia langsung mengusap - usap perutnya berulang kali, sembari berdo'a dalam hati agar anaknya tidak meniru sifat jelek Reynald.


"Kenapa perut kamu.?" Tiba - tiba Reynald berada di hadapannya. Entah kapan laki - laki itu menyusulnya.


"Kalau sakit tunggu di mobil saja. Mau minuman apa.?" Karin meliriknya bingung. Merasa tidak yakin kalau orang yang ada di hadapannya adalah Reynald. Sikapnya tiba - tiba sangat lembut. Perubahan sikapnya terlalu cepat, hanya dalam hitungan beberpa menit saja.


"Apa.? Kenapa menatapku seperti itu.?" Tanya Reynald datar.


"Tidak, aku pikir orang lain."


"Perutku baik - baik saja, aku hanya melihat ada orang yang menyebalkan tadi."


Jawab Karin cuek.


"Apa hubungannya dengan mengusap perut.?"


"Tentu saja ada." Sahut Karin cepat. Dia terlihat sangat semangat mendengar pertanyaan Reynald. Merasa jika punya kesempatan untuk menyindir laki - laki dingin itu.


"Agar anak kita tidak meliki sifat yang menyebalkan seperti orang tadi. Sangat dingin, kaku, tidak peka dan memiliki kepedulian, hahya memikirkan dirinya sendiri.!. Bahkan meninggalkan pasangannya seorang diri.!"


Ujar Karin tersungut - sungut. Dia langsung beranjak dari hadapan Reynald, kali ini dia yang meninggalkan Reynald di tempat. Biar saja gunung es itu sibuk berfikir.


"Sialan.!" Gumam Reynald kesal, dia seperti menyadari siapa orang menyebalkan yang dibicarakan oleh Karin itu.


Reynald menyusul Karin dengan langkah cepat, hanya beberapa langkah saja dia sudah berjalan di belakang Karin dalam jarak yang dekat. Pantas saja wanita itu menggerutu, jalannya sangat lambat.


"Kalau tidak mau tertinggal, jangan pelan seperti ini jalannya." Komentar Reynald. Kali ini suaranya tidak lagi terdengar datar, lebih sedikit lembut.


Karin langsung membalik badannya, laki - laki itu sudah tau siapa yang dia sindiri tadi, tapi masih belum peka juga.


"Aku bisa lari kalau kakak mau.!" Sahutnya kesal.


Reynald langsung terdiam, terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Maaf.!" Ucapnya tegas. Meski sadar kalau dia salah karna menyuruh Karin untuk berjalan cepat, namun Reynald terlihat enggan mengakuinya. Cara dia meminta maaf pun tetap dengan gaya coolnya.


Karin melengos, lama - lama tensinya bisa naik kalau terus berbicara dengan Reynald. Meski obrolannya biasa, namun kalau sudah berhadapan dengan Reynald seperti sedang terjadi perdebatan sengit.


Reynald memilih diam dan mengikuti langkah Karin dari belakang. Dia sudah seperti bodyguard yang sedang menjaga wanita hamil. Matanya tajamnya mengawasi keadaan sekitar dengan teliti, seperti tidak memberikan celah pada sesuatu yang mungkin akan membahayakan wanita di depannya.


Reynald bahkan tidak menyadari kalau langkahnya menuju tempat yang tersedia berbagai macam buah.


Mata Reynald membulat sempurna saat melihat anak kecil mendorong troli belanjaan dari arah samping.


"Awas,,!" Reynald menarik Karin ke belakang, membawa Karin dalam dekapannya dan satu kakinya mendorong troli itu agar menjauh.


Karin berteriak saat Reynald menariknya tiba - tiba. Dia sempat melihat sekilas troli belanjaan itu akan menambraknya dari samping.


"Ya ampun,, maaf mas."


Seorang laki - laki menghampiri mereka, dia juga mengamankan anaknya yang tadi mendorong troli setengah berlari. Kalau saja Reynald tidak menarik mundur Karin, mungkin troli itu akan menabraknya.


Reynald menatap tajam laki - laki itu, dia melepaskan Karin perlahan dan menghampiri laki - laki itu.


"Kalau tidak bisa mengawasi anakmu dengan benar, jangan membawanya ke tempat seperti ini.!" Geram Reynald sembari mencengkram kerah bajunya.


"Ini bukan tempat bermain.!!" Bentaknya sembari melepaskan kasar tangannya.


"Maaf mas, maaf mba." Laki - laki itu tidak bisa membela diri karna merasa dia bersalah.


"Tidak apa,,," Karin menjawabnya cepat, lalu membawa Reynald menjauh.


"Tidak apa apanya.?!" Ujar Reynald tak terima. Dia menengok kebelakang dan menunjuk laki - laki tadi.


"Awasi baik - baik anakmu itu.!" Serunya ketus.


Beruntung di sekitar tempat kejadian hanya ada 2 ibu - ibu yang melihat perdebatan mereka. Setiknya Karin tidak terlalu malu dengan keributan yang baru saja terjadi.


"Jangan teriak - riak kak, bisa - bisa semua orang datang kesini,,," Ujar Karin setengah bersisik.


Reynald menarik tangannya dari genggaman Karin.


"Makanya kalau jalan liat - liat.! Masih untung aku di belakang kamu.!" Gerutu Reynald.


Karin langsung bengong menatapnya. Kanebo kering itu benar - benar menyebalkan. Tadi menyalahkan anak dan orang tuanya itu, sekarang malah menyalahkannya. Padahal jelas - jelas bukan dia yang salah. Kalau anak tadi tidak mendorong troli sambil berlari, pasti dia masih bisa menghindar tanpa perlu menunggu pertolongan dari Reynald.


"Kenapa jadi nyalahin aku.?" Karin bertanya dengan wajah yang berubah sendu. Dia langsung mengalihkan pandangan, dan berlalu dari sana.


Dia menghampiri pelayan, meminta pelayan itu untuk membuatkan parsel buah.


Saat Reynald menghampirinya, Karin langsung memasang kuda - kuda.


"Aku sudah pesan parsel buah, tidak enak kalau dibatalkan." Tutur Karin dengan suara datar.


"Kalau kak Rey tidak mau membayarnya, biar aku saja yang bayar." Lanjutnya lagi.


"Tapi aku pinjam dulu uangnya,,," Ucapnya lirih dengan wajah yang tertunduk karna malu.


Reynald terkekeh kecil, terdengar meledek. Namun dia tidak memberikan komentar apapun setelah itu.


"Terima kasih mba,,"


Karin menerima parsel buah berukuran besar itu, namun Reynald langsung merampasnya.


"Berat,," Kata Reynald sembari berjalan pergi. Karin mengikutinya di belakang.


"Kamu belum ambil minuman." Ujarnya datar.


"Tidak usah, aku tidak ingin minum,," Sahut Karin Cepat. Reynald menghentikan langkahnya dan meliriknya penuh selidik.


"Jadi kamu,,,


"Maaf,," Potong Karin dengan memasang wajah memohon. Reynald hanya menghela nafas pelan.


Dia baru sadar kalau Karin baru saja mengelabuhinya agar bisa membeli buah dengan alasan ingin minum.


"Hemm,,," Lagi - lagi hanya deheman yan'g ke layar dari mulutnya.


Reynald meletakkan parsel buah dia bagasi. Semnatar itu Karin sudah berada di dalam mobil dengan memegang 1 botol air mineral di tangannya.


Reynald sempat mengambil air mineral sebelum menuju kasir tadi. Dan minuman itu langsung di sodorkan pada Karin begitu selesai membayarnya.


Reynald masuk dan menatap Karin yang terlihat belum meneguk air mineral di tangannya.


"Kenapa tidak dimimun.?"


"Kamu sedang hamil, sebaiknya minum air mineral saja daripada minuman yang berwarna." Tutur Reynald. Karin mengangguk, dia membuka air mineral itu dan meneguknya. Setidaknya Reynald tidak akan bertanya lagi kenapa dia tidak meminumnya.


"Kak,,," Ucap Karin saat tiba - tiba Reynald merebut air mineral yang baru saja dia minun.


"Itu bekasku,,," Ujarnya lagi, namun Reynald sudah terlanjur meminumnya.


"Manis,,," Ucapnya datar sembari menyodorkan botol itu pada Karin dan memberikan tatapan dalam padanya. Karin hanya tersenyum kaku mendengarnya.


Apanya yang manis.? Pikir Karin heran. Jelas - jelas itunair mineral yang tidak memiliki rasa. Manis dari mananya.?


Tiba - tiba Karin menyentuh bibirnya saat melihat Reynald mengusap bibir dengan lidah.


Dia baru sadar kalau yang di maksud manis oleh Reynald adalah bekas bibirnya yang menempel di botol itu.


Karin langsung mengalihkan pandangan dan pura - pura memainkan ponselnya.


Sepanjang perjalanan menuju apartemen Kenzo, keduanya hanya saling diam. Aura Reynald yang dingin membuat Karin segan untuk memulai obrolan. Dia lebih sibuk memainkan ponselnya, dan sempat mengabari Jeje kalau sebentar lagi akan sampai.


...******...