
Karin menatap tangannya yang baru saja di gandeng oleh Reynald. Laki - laki itu tiba - tiba menghampirinya setelah mengambil parsel buah dari bagasi dan langsung menggandeng tangannya.
Setiap kali bersentuhan dengan Reynald, rasanya terasa sangat hangat sampai menjalar ke seluruh tubuh.
Sentuhannya selalu hangat, hingga menimbulkan gelayar yang mampu membuat bulu kuduk meremang. Namun sikapnya sangat dingin.
Bukan tanpa alasan jika Karin ragu dengan rumah tangganya bersama Reynald bisa berjalan normal layaknya pasangan suami istri pada umumnya.
Sampai detik ini, dia tidak bisa membaca atau pun memahami seperti apa perasaan Reynald padanya.
Terkadang saat Reynald menunjukan sedikit perhatian dan kecemasannya meski dengan gayanya yang kaku, Karin merasa ada sedikit rasa cinta di hati Reynald untuknya.
Namun saat Reynald bersikap dingin dan mengabaikannya, dia merasa cinta Reynald masih sepenuhnya untuk Angel.
Terkadang wanita memang tidak hanya butuh tindakan untuk membuktikan bahwa dia mencintainya, namun wanita juga perlu mendengar ungkapan cinta dari laki - laki yang memang mencintainya.
Setidaknya kalaupun sulit untuk mengungkapkan cinta, harusnya bisa memberikan bukti yang meyakinkan. Bukan malah membuatnya bingung dan terus bertanya - tanya tanpa ada jawabannya.
"Tangan kamu dingin.!" Ujar Reynald. Sedikitpun tidak melirik Karin dan fokus berjalan sembari menggandengnya.
Karin melirik Reynald, bagaimana tangannya tidak dingin kalau saat ini dia sangat gerogi. Rasanya aneh saja tiba - tiba laki - laki itu mau menggandnegnya. Karin bahkan sampai keringat dingin dibuatnya.
Namun pernyataan ketus Reynald membuat Karin menyebikkan bibirnya.
"Lebih baik tangannya yang dingin, daripada sikapnya yang dingin," Sindir Karin. Dia langsung melengos begitu Reynald meliriknya tajam.
Tiba - tiba saja nyalinya kembali menciut setelah tadi berani mengeluarkan sindiran halus untuk Reynald.
"Siapa yang dingin.?!" Tanya Reynald sedikit mendesak. Karin jadi kelabakan sendiri, terlihat sangat gugup dan tidak berani untuk menatap Reynald, apa lagi untuk menjawabnya.
"Sikap siapa yang dingin.?!" Tanya Reynald sekali lagi. Kali ini dia menarik tangan Karin hingga tubuh wanita itu menempel di dada bidangnya.
"Kak.!" Pekik Karin gaket. Saat akan menjauh, Reynald justru melingkarkan satu tangannya di pinggang Karin dan semakin menekan tubuh Karin hingga menempel sempurna dengan tubuhnya.
Karin semakin gugup, jarak wajahnya dengan Reynald hanya berjarak beberapa senti saja. Hembusan nafas Reynald bahkan sampai mengenai wajahnya, terasa sangat hangat dan menggelitik.
"Lepasin kak.! Nanti ada yang liat." Ujar Karin panik. Dia juga mengedarkan pandangannya untuk memastikan tidak ada orang di sana. Keadaan gedung apartemen itu terlihat sepi. Tapi tetap saja membuat Karin was - was. Takut jika nantinya ada seseorang yang keluar dari apartemen.
"Jawab dulu.! Siapa yang dingin.?!" Reynald masih bersikeras untuk mendengarkan jawaban dari Karin. Laki - laki itu sepertinya enggan melepaskan Karin sebelum wanita itu bersuara. Dia ingin tau sebesar apa keberanian Karin untuk menyebutnya dingin.
"Siapa apanya.? Aku hanya sedang membandingnkan saja." Jawab Karin gugup.
"Lebih baik tangan yang dingin dari pada sifatnya yang dingin. Tidak bermaksud untuk,,, eumm,,,
Karin tidak meneruskan ucapannya karna mulutnya sudah dibungkam oleh luma*tan lembut bibir Reynald. Karine mnggelengkan kepalanya, juga memukul pelan dada Reynald agar laki - laki itu melepaskan ciumannya.
"Eumm,,, eumm,,,!" Suara teriakan Karin tertahan.
Penolakan Karin justru membuat Reynald semakin rakus menciumnya. Dia menyesal dan melu*matnya tanpa memberikan jeda bagi Karin untuk bernapas.
Karin langsung mendorong dada Reynald begitu Reynald melepaskan ciumannya. Dia berusaha mengatur napasnya yang tersenggal.
Dadanya naik turun dengan cepat.
Reynald seperti akan menyedot habis napasnya.
"Ya ampun kak.!" Seru Karin kesal. Dia tidak bisa lagi berkata apapun, hanya bisa memberikan tatapan penuh kekesalan pada laki - laki yang sedang menatapnya dengan senyum smirk yang mengembang.
"Sekali lagi kamu berani menyindirku, jangan harap bisa bernafas dengan baik.!" Ancamnya dengan memberikan tatapan mesum dan licik.
Karin melongo di buatnya. Melihat raut wajah Reynald membuat bulu kuduknya meremang. Laki - laki itu terlihat jelas sedang memikirkan hal mesum yang mengerikan.
...****...
Reynald terus menekan bel berkali - kali. Dia terlihat sengaja melakukan aksi konyol itu untuk mengganggu penghuni apartemen.
Berkali - kali pula Karin menegurnya, tapi Reynald terlihat tidak peduli dan terus menekan bel.
"Sialan.! Siang - siang begini sempat - sempatnya cocok tanam." Gerutu Reynald.
Dia terlihat sangat yakin kalau dua penghuni apartemen itu sedang melakukan kegiatan panas di atas ranjang, karna mereka tak kunjung membukakan pintu sejak dia menekan bel 5 menit yang lalu.
"Siapa yang cocok tanam.?" Karin bertanya dengan ekspresi polos. Dia sama sekali tidak mengerti apa yang dibicarakan Reynald.
"Siapa lagi kalau bukan teman kamu yang menyebalkan itu." Sahut Reynald cepat.
Karin memutar bola matanya malas. Merasa kesal karna Reynald sudah mencibir sahabatnya.
Lagi - lagi Reynald menekan bel dengan tidak sabaran.
"Kak jangan seperti itu nanti rusak.!" Tegur Karin.
"Biarkan saja. Pemilik apartemen ini bisa mengantinya seratus kali kalau mau." Sahutnya ketus.
"Apa kamu bilang.?!" Suara berat Kenzo terdengar menggema. Reynald hanya tersenyum kecut melihat bosnya yang baru saja membukakan pintu.
"Apa tidak bisa ditunda nanti malam.? Siang - siang begitu tetap aja di hajar,," Cibir Reynald. Dia menyelonong masuk begitu saja.
"Heh sialan.! Aku belum menyuruhmu masuk.!" Teriak Kenzo.
"Bukannya aku sudah biasa seperti ini." Sahut Reynald enteng. Dia meletakan parcel buah di atas meja, lalu duduk santai di sofa dengan menyenderkan punggungnya.
"Maaf kak,,," Ucap Karin sopan. Dia merasa tidak enak hati pada Kenzo.
"Dia memang seperti itu. Gila sepanjang waktu, tidak pernah normal." Kenzo sengaja mengencangkan suaranya agar bisa di dengar oleh Reynald.
Sikapnya memang terkadang menyebalkan sejak dulu. Tapi laki - laki itu tau caranya berterima kasih.
Dia tidak pernah melupakan kebaikan Kenzo yang sejak dulu sudah membantunya bangkit dari keterpurukan dan membantu keuangan keluarganya.
Reynald sangat setia padanya hingga saat ini, dan berdedikasi tinggi dalam bekerja di perusahaannya.
Terbukti dia masih bertahan di perusahaan Kenzo meski orang tuanya sudah mulai merintis perusahan kembali walaupun masih terbilang kecil.
"Masuk,, Jeje sedang ganti baju." Ujar Kenzo pada Karin. Karin mengangguk pelan. Dia menghampiri Reynald dan duduk di sebelahnya. Disusul oleh Kenzo setelah dia menutup pintu.
Kenzo duduk di seberang mereka. Dia tersenyum kecut melihat parcel buah di atas meja, parcel yang tadi di bawa oleh Reynald.
"Setidaknya kamu mulai waras sekarang,," Sindir Kenzo. Tentu saja Reynald sangat paham maksud Kenzo. Seumur hidupnya mengenalnya Kenzo, dia memang tidak pernah memberikan apapun pada Kenzo, kecuali waktu, tenaga dan pikirannya.
"Kamu pikir yang membantu pekerjaanmu selama ini orang gila.?" Celetuk Reynald tak terima.
"Waras dalam bekerja, tapi gila di luar itu." Kenzo melirik Karin dengan sorot mata yang terlihat iba. Merasa kasihan pada wanita lugu itu. Karna sifat polos dan baik yang dimiliki oleh Karin, sama persis dengan Jeje. Tentu saja Kenzo tidak tega jika ada wanita sebaik itu tidak mendapatkan perlakuan yang baik.
"Masih untung ada yang mau menikah sama kamu.!" Cibir Kenzo lagi.
"Sialan.! Apa kamu lupa selama ini banyak wanita yang rela melempar tubuhnya ke ranj,,,," Reynald menghentikan ucapannya saat mendaptkan tatapan tajam dari Kenzo. Dia langsung menyadari arti tatapan itu.
Perlahan Reynald mulai melirik Karin. Wanita itu terlihat bengong, seperti tidak paham dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh Reynald.
Tiba - tiba saja sorot mata Reynald berubah teduh. Wajah polos Karin seolah mampu menggores hatinya.
"Bagaimana perkembangan saham di perusahaannya.? Pastikan wanita itu tidak tau kalau itunadalah perusahaanku." Kenzo langsung mengalihkan pembicaraan agar suasana kembali mencair.
"Jangan khawatir, semuanya aman."
"40 % sahamnya sudah menjadi milik kita. Tunggu beberapa saat lagi, perusahaannya akan berpindah tangan." Ujar Reynald yakin.
"Bagus.! Pastikan dia akan hancur setelah ini.!"
Geram Kenzo tegas.
"Siapa yang hancur by.?" Kedatangan Jeje langsung membuat mereka menatap ke arahnya.
Kenzo terlihat cemas, dia memang merahasiakan semua itu dari Jeje. Tidak mau hal itu akan kembali membuat Jeje terbebani.
"Je,,," Sapa Karin dengan mata yang berbinar. Dia langsung berdiri menghampiri Jeje dan disambut pelukan hangat oleh Jeje.
"Akhirnya kamu datang juga." Jeje terlihat sangat senang dengan kedatangan Karin. Padahal baru beberapa hari mereka tidak bertemu, tapi terasa lama.
"Aku khawatir, bagaimana keadaan kamu sekarang.?" Tanya Karin setelah melepaskan pelukannya.
"Aku baik - baik saja." Sahut Jeje semangat.
"Sepertinya pertanyaan itu lebih tepat untuk kamu."
"Apa kak Reynald menyiksamu.?!" Tanya Jeje ketus. Dia juga melirik Reynald dengan lirik tajam. Aura singanya sudah mulai muncul. Reynald bisa mencium tanda - tanda bahaya yang sedang menguntainya.
"Apa.? Terus saja memojokkanku.!" Reynald memberikan pembelaan.
"Bukan memojokkan, memang seperti itu faktanya."
"Kak Rey tidak bisa bersikap lembut pada Karin,,"
"Karin juga terlalu menurut. Harusnya tinggalkan saja laki - laki yang hanya bisa menyiksa batin."
"Ken istrimu itu benar - benar menyebalkan.!"
"Kalian itu selalu ribut kalau bertemu.! Ayo ke ruang kerjaku. Masih banyak yang harus aku bicarakan."
Kenzo bangun dari duduknya. Dia lebih memilih untuk mendinginkan suasana dengan memisahkan istri dan asistennya itu. Mereka akan terus berdebat kalau tidak dipisahkan.
"Ajari kak Reynald bagaimana cara memperlakukan istri dengan baik by,," Jeje masih saja menyinggungnya. Dia merasa kesal setiap kali melihat raut wajah Karin yang terlihat tertekan.
"Jangan marah - marah, ingat bayi kita,," Ujar Kenzo lembut. Dia juga mengusap pucuk kepala Jeje dan mengulas senyum padanya.
"Seperti itu contohnya.?" Celetuk Reynald dengan ekspresi wajah tengil.
"Itu lebay namanya.!" Cibirnya ketus. Dia berjalan cepat meninggalkan ruang tamu sebelum mendapatkan serangan balik dari Jeje.
Jeje memberengut kesal.
"Tenang saja, aku akan menghajarnya,," Ujar Kenzo lirih. Jeje tersenyum puas mendengarnya.
Karin hanya diam saja, sibuk dengan pikirannya tentang sikap Reynald yang sepertinya memang akan terus dingin dan kaku padanya. Rasanya tidak akan mungkin dia bersikap lembut seperti Kenzo.
...****...