My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
Bab 73. Mencegahnya



Kenzo Pov


Aku tidak mungkin berkata jujur papa Jeje kalau aku akan menggelar acara pertunangan minggu ini.


Aku tidak siap untuk melihatnya kecewa dan terluka karenaku, juga tidak siap untuk merenggut kebahagiaannya. Itulah kenapa aku memilih untuk menyembunyikan semua ini darinya, dan memintanya untuk pergi ke Singapura bersama Felicia. Dengan harapan Jeje tidak akan tau tentang berita pertunangan ku yang akan di publikasikan.


Aku masih mengumpulkan bukti untuk membatalkan rencana pernikahanku. Aku tidak bisa sembarangan membatalkan pernikahan ini, aku tau betul siapa om Bastian. Dia tidak akan segan - segan menghancurkan siapapun yang sudah mempermalukannya.


Aku menyuruh orang untuk terus memata - matai Nadine dan Alex, laki - laki yang beberapa bulan terakhir terlihat bersama dengan Nadine.


Ada fakta besar yang sedang di sembunyikan oleh Nadine, dan aku masih mencari bukti agar bisa aku gunakan untuk membatalkan pernikahan kami sebelum waktunya tiba.


Aku berniat untuk memberitahukan tentang itu pada Jeje setelah berhasil mengumpulkan bukti, dan membuat laki - laki itu mau mengakuinya di depan papa dan om Bastian.


Pagi itu aku dibuat cemas ketika mendapat kabar dari Fely. Dia bilang kalau Jeje tidak bisa ikut bersamanya karna sedang sakit. Aku langsung menghubunginya, menanyakan kondisinya. Jeje hanya bilang dia tidak enak badan dan hanya butuh istirahat. Dia mematikan telfonnya sepihak, dan aku tidak bisa menghubunginya lagi setelah itu.


Aku semakin mengkhawatirkannya, tapi tidak ada yang bisa aku perbuat. Tidak mungkin aku datang kerumahnya.


Saat acara dimulai, aku tidak bisa tenang dan terus memikirkan bayi besarku itu. Karna sampai jam 7 malam, nomor ponselnya masih belum bisa di hubungi.


Perasaanku bahkan mulai tidak enak. Aku juga menyimpan ketakutan dan rasa bersalah padanya. Aku hanya takut dia akan mengetahui pertunangan ini dan akhirnya akan kecewa padaku.


Meski aku sudah mengikatnya, dengan mengambil kesuciannya, tetap saja aku khawatir dia akan pergi dan tidak bisa percaya padaku.


Egois memang, tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku hanya ingin membuatnya tetap berada di sampingku.


Malam itu aku hampir tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Wajah cantik yang sejak tadi aku cemaskan, tiba - tiba saja ada dihadapanku setelah aku dan Nadine saling memasangkan cincin. Entah sejak kapan Jeje berdiri disana.


Hatiku tercabik melihat tatapan matanya yang kosong, dia seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat di depan matanya.


Beberapa saat kami saling menatap, perlahan tatapan matanya mulai fokus pada ku dan terlihat memendam kemarahan dan sakit yang dia rasakan.


Rasanya aku ingin berlari untuk memeluknya, menutup matanya dan membisikan kata di telinganya untuk melupakan apa yang baru saja dia lihat.


Jeje mulai beranjak dan meninggalkan tempatnya. Aku bergegas mengejarnya, saat melewati lorong yang sepi, segera ku tarik tangannya dan membawanya masuk kedalam ruangan kosong.


Aku berusaha menjelaskan padanya, namun dia bersikeras untuk mengakhiri hubungan kami dan memilih untuk pergi. Aku tidak punya pilihan lain selain mengancamnya akan mengumumkan hubungan kami di depan semua orang, dan ancaman itu berhasil membuat Jeje mengurungkan niatnya untuk mengakhiri hubungan kami.


Aku tidak akan sanggup jika harus kehilangannya.


Semoga saja dia tetap percaya padaku.


...****...


Pagi ini aku masih saja tidak bisa tenang. Bahkan semalam tidak bisa tidur karna memikirkan Jeje yang sampai sekarang belum bisa di hubungi.


Rasanya aku ingin datang kerumahnya saat ini juga, namun ada rapat penting yang tidak bisa aku tinggal.


Pukul 9 pagi, aku dan papa sudah berada di ruang rapat. Rapat penting yang di hadiri oleh beberapa pemilik perusahaan termasuk om Alexander dan om Bastian. Aku lebih banyak melirik om Alex, dia nampak biasa saja. Aku yakin Jeje juga baik - baik saja. Karna jika terjadi sesuatu pada Jeje, aku yakin dia tidak akan hadir dalam rapat ini dengan wajah yang tenang.


Rapat berlangsung selama hampir 1 jam lebih. Beberapa orang mulai meninggalkan ruang rapat satu persatu. Aku masih diam di tempat ku, aku ingin menunggu om Alex dan mengorek informasi sedikit untuk tau keadaan Jeje.


Aku beranjak dari dudukku, saat om Alex akan keluar dari ruang rapat.


"Selamat siang om,,," Sapaku sembari membungkukkan badan.


"Siang Ken,," Om Alex menepuk pundakku.


"Apa Nicho sering menghubungimu,,?"


Aku pikir akan sulit untuk mengorek informasi, ternyata om Alex lebih dulu membuka obrolan.


"Tidak om, hanya sesekali saja,,"


Om Alex terlihat menghela nafas berat.


"Anak itu sangat susah di atur. Tidak seperti kamu,,"


"Sekarang dia malah memutus perjodohan dan memilih untuk tidak kembali ke rumah lagi,," Tuturnya.


Rupanya anak itu memang benar - benar serius dengan Fely, dia bahkan sampai menentang om Alex. Nicho lebih tegas dan gantle man dari pada aku yang hanya bisa menuruti permintaan papa.


"Mungkin Nicho ingin menjalani hidupnya sesuai yang dia inginkan om. Hidup dibawah tekanan dan aturan memang tidak nyaman,,,"


Om Alex tersenyum lebar.


"Anak - anak jaman sekarang memang berbeda, suka berbuat semaunya tanpa pikir panjang untuk masa depan."


Aku hanya tersenyum kikuk.


"Bagaimana kabar istri dan anak perempuan om,,?" Tanyaku hati - hati, takut om Alex akan menaruh kecurigaan padaku.


"Mereka baik - baik saja." Om Alex melihat jam di pergelangan tangannya.


"Mungkin sekarang mereka sudah sampai di bandara,,"


"Bukan cuma Nicho yang berbuat semaunya, adiknya pun juga seperti itu. Tiba - tiba saja memutuskan untuk kuliah di New York."


Untuk beberapa saat aku sempat diam. Ada sesuatu yang terasa menghantam dadaku.


"Maksud om, saat ini anak perempuan om akan pergi ke New York,,?"


"Ya,, dia bersikeras untuk berangkat hari ini juga,,"


Pikiranku tiba - tiba kalut, aku pikir dia akan tetap di sisiku. Rupanya diam - diam dia akan meninggalkanku. Dia benar - benar keras kepala, kenapa tidak mau mendengarkan ku dan percaya padaku.


Aku harus menyusul ke bandara sebelum dia benar - benar pergi. Aku tidak akan membiarkan dia pergi selangkah pun dariku.


Aku mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, beruntung jarak dari kantor ke bandara tidak membutuhkan waktu lama.


Setelah memarkirkan mobil, aku berlari menuju ruang tunggu keberangkatan.


Banyaknya orang membuatku kesulitan untuk menemukannya. Masih ada waktu 40 menit sebelum berangkat, aku yakin dia masih ada di ruang tunggu.


Aku terus mengedarkan pandangan, menatap satu persatu semua orang yang duduk disana.


"Jeje,,," Ucapku lirih. Aku melihatnya sedang duduk bersama tante Rissa.


Aku langsung mendekat ke arahnya.


"Je,," Tegur ku. Dia mendongak dan terlihat kaget melihat ku berdiri di hadapannya.


"Siang tante,," Sapaku.


"Nak Ken, ada apa.?"


"Maaf tante, ada yang harus aku bicarakan dengan Jeje,,"


Aku menatapnya lagi, dia masih saja diam tanpa berbicara apapun.


"Membicarakan tentang apa.?" Tante Rissa menatap kami bergantian untuk meminta kejelasan.


"Maaf tante,, sebenarnya kami,,,


"Nggak ada yang perlu di bicarakan, sebaiknya om pergi saja.!" Ujarnya memotong ucapanku.


"Je,, dengerin aku dulu. Kita harus bicara,,"


Aku meraih tangannya, namun dia segera mengibaskan tangan.


"Sayang, ada apa ini.?" Tanya tante Rissa, dia menatap Jeje dengan kebingungan.


"Jangan bilang selama ini kalian,,,,"


"Selama ini kami memang menjalin hubungan, tante,," Ucapku cepat. Aku tidak peduli dengan reaksi tante Rissa. Dia harus tau kalau kami memang memiliki hubungan.


"Om.!!" Bentak Jeje. Dia menatapku dengan tatapan tajam.


"Aku dan Jeje saling mencintai, tante,,"


"Om.!! Hentikan.! Aku mohon pergi dari sini dan jangan bicara omong kosong.!"


"Jika kita saling mencintai, pertunangan malam itu tidak akan pernah terjadi.!" Serunya dengan nafas yang terengah - engah. Aku tau dia sedang menahan kekesalan padaku.


"Bukankah aku sudah sering meminta untuk tetap percaya padaku.! Aku sedang mengumpulkan bukti untuk membatalkan pernikahanku. Kenapa kamu tidak mau mendengarkan ku,,?"


Aku hampir kehilangan kesabaran, sulit sekali membuatnya untuk tetap mendengarkan perkataanku. Apa dia pikir selama ini aku hanya main - main saja.? Apa dia tidak bisa melihat cintaku yang begitu besar untuknya.


"Jelaskan pada mama Je, sejak kapan kalian menjalin hubungan,,?"


Tatapan mata tante Rissa pada Jeje sangat intens.


Aku bisa melihat kegugupan Jeje saat ini.


"Sudah hampir 5 bulan yang lalu, tante,,"


Aku terpaksa menjawab karna Jeje enggan menjawabnya.


"Maaf karna selama ini kami tidak memberitahukan hal ini."


"Je,,,?"


"Jadi selama ini kamu menjalin hubungan dengan laki - laki yang sudah memiliki calon istri.?" Tante Rissa menatap mama penuh kecewa.


"Maafkan Jeje mah, Jeje nggak tau kalau dia sudah memiliki calon istri. Itu sebabnya Jeje memilih untuk pergi dan mengakhiri hubungan kami setelah mengetahui semuanya. Jeje nggak mau menjadi penyebab rusaknya hubungan orang lain."


Buliran bening mulai menetes dari pelupuk matanya.


"Jeje nggak mau seperti ibu kandung Jeje yang sudah merusak kebahagiaan mama dan papa dulu,,," Suara Jeje tercekat, terdengar bergetar menahan tangisnya.


"Sayang,, jadi kamu,,,," Mama Rissa terlihat syok.


Aku juga baru menyadari kalau ternyata Jeje sudah mengetahui tentang ibu kandungnya.


"Jeje sudah tau semuanya mah."


"Jeje mohon, suruh dia pergi mah. Jeje nggak mau merusak hubungan orang lain, lagi pula saat ini Jeje membencinya.!" Ucapnya dengan menatap sinis ke arahku.


Ucapannya membuatku tertampar. Aku sangat bodoh, aku yang sudah membuatnya jadi membenciku. Aku tidak bisa menjaga cintanya.


...****...


Nahh,, tau rasa dah si om😁


Selamat berjuang dapetin cintanya Jeje kembali, itu pun kalo Jejenya mau balik lagi, 🤪


Yang belum vote, ayo mucullll. Dapat salam dari om Ken🤣