
Reynald hanya mengira - ngira saat memilih ukuran sepatu untuk Karin, tapi 2 pasang sepatu yang dia belikan sangat pas di kaki Karin.
Sementara itu 1 paperbag lagi yang berisi 2 buah tas kecil, hanya dibuka dan dilihat isinya saja.
Karin terlihat segan untuk menyentuh barang mewah itu. Barang - barang yang menurutnya tidak perlu untuk dia miliki, apalagi untuk di pakai sehari - hari.
Sejak terlahir ke dunia ini, dia hidup dalam kesederhanaan. Meski saat tumbuh dewasa dan bertekad untuk meraih masa depan yang lebih baik, namun sedikitpun tidak pernah terlintas dalam benaknya untuk hidup dalam kemewahan yang menurutnya berlebihan.
Kini saat diberikan jodoh yang memang memiliki kelebihan dalam segi materi, tak lantas membuatnya ingin mengubah gaya hidupnya yang sudah sederhana sejak dulu.
Baginya hidup sederhana jauh lebih bahagia dan menenangkan.
"Kenapa.? Tasnya jelek.?" Tanya Reynald. Sejak tadi dia memperhatikan Karin yang terlihat melamun, menatap paperbag berisi tas darinya. Wajah Karin terlihat tidak senang menerima pemberian darinya.
Sangat jauh berbeda dengan para wanitanya dulu, yang bahkan sampai kegirangan saat menerima barang mahal darinya. Bahkan ada yang terang - terang meminta untuk dibelikan tas, baju, ataupun sepatu dengan brand ternama.
Sikap yang di tunjukan Karin saat ini, seolah tidak menghargai pemberiannya.
Jangankan senang, mengatakan Terima kasih pun sepertinya enggan.
"Mana mungkin tas mahal jelek. Tentu saja bagus,,"
Jawab Karin cepat, namun raut wajahnya masih biasa saja. Hal itu justru membuat Reynald semakin yakin kalau Karin tidak mau menerima pemberiannya.
"Tapi tas dan sepatu itu terlalu mahal. Rasanya nggak cocok kalau aku yang pakai,," Sambungnya lagi.
Reynald menghembuskan nafas kasar. Dia membereskan sepatu dan memasukannya kembali kedalam paperbag.
"Aku bisa membuangnya kalau kamu tidak mau,,," Ujar Reynald datar. Dia beranjak dari ranjang, meraih kedua paperbag dengan kasar. Wajahnya juga terlihat menahan kekesalan.
"Aku di ruang kerja, panggil aku kalau kamu ingin makan malam,,"
Reynald melengos begitu saja setelah berbicara seperti itu pada Karin. Dia berjalan dengan langkah lebar untuk keluar dari kamar.
"Kak,, bukan seperti itu maksudku.!" Ujar Karin setengah berteriak. Dia sudah berdiri, ingin menyusul langkah Reynald namun laki - laki itu sudah terlanjur keluar dari kamar dan menutup pintu.
Karin terlihat bengong, entah apa yang salah dalam dirinya. Kenapa tiba - tiba Reynald terlihat kesal padanya setelah tadi berlaku manis dan lembut dengan memakaikan sepatu di kakinya.
Walaupun nada bicara Reynald terdengar datar dan biasa saja, tapi sorot matanya mengatakan kalau dia kecewa dan kesal.
Entah harus dengan cara apa untuk bisa memahami sifat dan suasana hati Reynald yang mudah berubah - ubah.
Laki - laki itu dapat menunjukan karakter yang berbeda - beda dalam waktu yang bersamaan.
Hanya dalam hitungan menit, sikapnya bisa berubah 180 derajat.
Hembusan nafas berat keluar dari mulut wanita cantik itu. Manik matanya masih saja menatap pintu yang tertutup. Rasanya sulit untuk bisa untuk mengimbangi sifat Reynald yang tidak konsisten dan stabil. Mudah berubah dan cepat berubah pula.
Menggapai cintai dari seorang Reynald rupanya tidak semudah yang dia rencanakan.
Mencoba bersikap cuek pada Reynald memang terkadang membuat laki - laki itu seperti mengejarnya, namun terkadang juga membuat Reynald semakin menjauh darinya. Begitu juga sebaliknya saat bersikap lembut dan sabar menghadapi Reynald. Respon yang diterima dari Reynald selalu berbeda - beda.
Bukankah sulit untuk menentukan sikap seperti apa yang harus di tunjukan pada Reynald agar laki - laki itu terus memberikan respon yang baik padanya.?
Satu - satunya yang bisa di lakukan Karin adalah membiarkan hubungannya dan Reynald mengalir begitu saja. Membiarkannya seperti air yang mengalir dan mengikuti kemana pada akhirnya akan berhenti.
Hampir 2 jam Karin berada di dalam kamar, dia memutuskan untuk keluar. Di tatapnya pintu ruang kerja Reynald yang terletak di samping ruang keluarga. Masuk kedalam dan membicarakan perihal permasalahan yang tadi pada Reynald, rasanya percuma saja. Permasalah itu tidak terlalu penting, namun Reynald menyikapinya dengan dingin.
Dia memutuskan pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam yang sudah di masak oleh ART sore tadi. Makanan itu hanya perlu di hangatkan lagi menggunakan microwave.
Dua paperbag di samping tempat sampah, langsung menjadi pusat perhatian Karin begitu sampai di dapur. Ternyata ucapan Reynald tidak main - main. Laki - laki itu benar - benar membuang tas dan sepatu mahal yang baru saja dia beli.
Karin menggelengkan kepalanya. Mudah sekali bagi Reynald membuang barang - barang yang harganya mencapai puluhan juta itu.
"Aku pikir hanya bercanda,," Gumam Karin heran. Dia mengambil kembali paperbag itu. Dari pada harus dibuang, lebih baik di simpan atau di pakai saat akan pergi nanti.
Mungkin saja setelah Reynald melihatnya memakai tas dan sepatu itu, Reynald bisa bersikap normal lagi padanya.
Makan malam sudah tertata rapi di meja. Karin beranjak dari dapur dengan membawa paperbag untuk di sampan di dalam kamar.
Reynald masih belum keluar dari ruang kerjanya. Dia memang berpesan untuk dipanggil jika akan makan malam.
"Kak,,," Karin mengetuk pintu beberapa kali.
Menunggu jawaban dari Reynald seperti sedang menaiki rollercoaster, memacu adrenalin dengan debaran jantung berdetak kencang. Takut kalau singa yang akan keluar dari dalam sana.
"Kak,,,!" Serunya sekali lagi. Mungkin tadi suaranya terlalu lirih, membuat Reynald tak kunjung menjawabnya.
Panggilan kedua juga tak kunjung membuat Reynald bersuara.
"Kak jangan tidur dulu.!! Belum makan malam.!!"
"Bangun kaa,,,,,k,,,,
Pintu tiba - tiba terbuka, tangan Karin tidak lagi mengetuk pintu, melainkan mengetuk dada Reynald.
Karin langsung menjauhkan tangannya dari dada bidang itu.
Dia tersenyum kikuk pada Reynald. Namun yang di senyumi hanya menunjukan wajah datar.
"Kalau bicara nggak ada suaranya, giliran teriak bikin kuping panas." Cibir Reynald. Dia menjentikkan jari telunjuknya di kening Karin.
Karin meringis kesakitan, mengusap sekilas keningnya.
"Aku nggak tuli, nggak usah teriak - teriak."
Karin mendengus kesal.
"Kalau nggak tuli kenapa nggak nyautin dari tadi. Ngabisin - ngabisin tenagaku aja." Sahutnya kesal.
Reynald tersenyum mendengar jawaban Karin, senyum yang sudah pasti mengejek.
"Mana ada teriak ngabisin tenaga. Ngabisin tenaga itu mend*s*h di atas ranjang, kaya yang biasa kamu lakuin." Senyum Reynald semakin mengembang. Bukan senyum yang terlihat menyejukan hati, melaikan senyum yang mampu membuat nyali Karin menciut seketika. Dia berhasil membuat Karin kehilangan kepercayaan dirinya karna malu.
"Kenapa kamu,,? Malu,,?" Nada bicara Reynald terdengar semakin meledek.
"Giliran udah sadar malu, pas digituin malah teriak - teriak keenakan, ngejambak rambut, nyakar punggung nggak jelas."
Karin semakin merasa malu di buatnya, namun dia juga mendelik menatap Reynald. Rasa kesalnya sudah di ubun - ubun, ingin menutup mulut Reynald tapi nyalinya tidak sebesar itu.
"Kenapa harus membahas hal seperti itu.?!" Tanya Karin kesal, lalu melengos pergi. Dari pada menanggapi Reynald yang sudah bicara melantur, lebih baik mengisi perutnya yang mulai keroncongan.
Karin sudah duduk di depan meja makan, piring didepannya juga sudah diisi dengan makanan.
Dia hanya melirik sekilas saat Reynald datang dan ikut duduk di sebelahnya.
"Bagaimana,? apa sudah bergerak,,,?" Suara Reynald terdengar lembut, dengan rasa penasaran tinggi. Karin menengok, tidak paham dengan pertanyaan Reynald yang tidak memiliki objek.
"Apanya yang bergerak.?" Karin balik bertanya dengan dahi yang mengkerut.
"Apa lagi kalau bukan calon anakku.!" Sahut Reynald kesal. Dia kesal sendiri karena Karin tidak memahami maksud dari pertanyaannya. Dia tidak sadar kalau pertanyaannya itu hanya membuat orang lain kebingungan. Tidak membahas apapun sebelumnya, tapi tiba - tiba mengajukan pertanyaan tanpa objek.
"Ooo,,," Karin hanya ber 'O' riya, kemudian menggelengkan kepalanya.
"Ini baru masuk bulan ke 2. Katanya baru terasa bergerak kalau sudah masuk bulan ke 4." Tutur Karin santai, tangannya sambil bergerak menyendok makanan kedalam mulutnya.
Reynald memperhatikan gerak - gerik Karin dengan seksama, sesekali melirik ke bagian perut Karin.
Tatapan matanya berubah dalam saat menatap kesana. Seperti ada perasaan dalam yang dia rasakan.
"Bukannya 3 hari lagi jadwal periksa ke dokter.?"
Karin hanya mengangguk, dia mendengar suara Reynald namun fokus pada makanannya. Nafsu makannya sudah mulai naik, selalu merasa lapar setiap kali melihat makanan di depan mata.
"Aku antar setelah pulang kerja nanti."
Ujar Reynald. Dia juga mulai menyendokan makanan kedalam mulutnya.
"Terserah kakak saja,,"
Karin menjawabnya datar. Dia masih kesal dan malu pada Reynald, sampai akhirnya tidak antusias berbicara dengan laki - laki itu. Meski sejujurnya dia sedikit senang atas perhatian yang ditunjukan Reynald pada calon anak mereka. Reynald memang cuek, tapi setidaknya dia masih memikirkan calon anaknya.
Makan malam di lewatkan mereka begitu saja. Tidak ada obrolan yang terjadi setelah itu.
Reynald langsung menyuruh Karin pindah ke ruang keluarga setelah makan malam, sementara itu dia membereskan meja makan dan menaruh piring kotor si washtafel.
Begitu selesai, dia langsung menyusul Karin.
Wanita cantik itu tengan sibuk memainkan ponselnya, sampai tidak menyadari ada Reynald yang sedang berdiri menatapnya.
Lagi - lagi hanya bisa menatap lekat wajah Karin. Setiap kali menatapnya, seperti ada perasaan yang sulit untuk di mengerti, bahkan oleh hatinya sendiri.
Terlalu rumit untuk dia pahami.
...****...