My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
Bab 104. Malam yang panas



Jeje merasa beruntung bisa memiliki pendamping hidup seperti Kenzo. Tentu saja karna kedewasaan, kesabaran dan kebaikan Kenzo dalam menghadapinya yang membuat Jeje merasa beruntung. Meski di luar 3 hal itu Kenzo masih memiliki banyak kelebihan yang mampu membuat Jeje begitu mencintainya.


Jeje sedikit mendongakkan kepalanya, menatap Kenzo yang masih erat memeluk tubuhnya dalam dekapan.


"Sekarang jam berapa by,,?"


Kenzo menundukkan pandangan, kedua manik mata mereka saling beradu dengan tatapan yang begitu dalam penuh kasih sayang.


"Jam 11."


"Mau olahraga malam.?" Tanya Kenzo di telinga Jeje. Suara bisikan itu membuat jantungnya bedegub kencang. Bahkan hembusan nafas Kenzo mampu membuat tubuhnya memanas. Bayangan akan kehebatan Kenzo dalam mengalahkannya, semakin menaikan hawa panas yang dia rasakan.


Sesuatu di bawah sana bahkan mulai berdenyut.


Jeje tidak menjawabnya, dia masih memaku tanpa berkedip menatap Kenzo. Tatapan yang berubah menjadi tatapan mendamba di penuhi gairah. Begitu juga dengan Kenzo, perlahan tatapan matanya mulai berkabut gairah.


Tangan Kenzo mulai menyapu tubuh bagian belakang Jeje. Usapan tangan yang bercampur dengan nafsu, menghadirkan gelayar hebat di tubuh remaja cantik itu.


Jeje memejamkan mata, tangannya mencengkram erat punggung Kenzo.


Badannya mulai menegang, sesekali menggeliat saat Kenzo mulai menciumi lehernya.


Baju keduanya berserakan di lantai, tubuh polos keduanya terus bergerak liar di atas ranjang.


Cumbuan mereka semakin panas, keduanya saling merengkuh kenikmatan dan memberikan kenikmatan. Bergantian saling melu**t dan menyesap daerah sensitif masing - masing.


Mereka melepaskan ciumannya. Nafas keduanya terlihat memburu.


Dalam pangkuan Kenzo, Jeje memeluk erat tubuh suaminya itu.


"Di atas atau bawah,,?" Tawar Kenzo. Suara serak dan beratnya tidak mampu menutup gairah yang sedang dia rasakan.


Tanpa menjawab pertanyaan Kenzo,Jeje mengarahkan milik Kenzo untuk menembus miliknya.


Dia tau kalau suaminya itu pasti sangat lelah karna berjam - jam berada di kantor polisi.


"Aaghhh,," Erangan keduanya keluar saat berhasil melakukan penyatuan. Dalam posisi seperti itu, milik Jeje terasa sangat penuh. Begitu pun milik Kenzo yang terasa di cengkram kuat.


Kenzo menarik tengkuk Jeje, melu**t bibirnya dengan rakus. Istrinya itu memang pandai dalam hal memuaskannya. Bahkan bisa memahami keadaannya saat ini.


"Sekarang sayang,," Pinta Kenzo.


Jeje mengangguk, dia mulai bergerak liar di atas pangkuan suaminya.


Kedua tangannya mencengkram rambut Kenzo, sedikit menekan kepala Kenzo yang sedang berada di depan dadanya.


Kenzo menyesap kedua aset Jeje secara bergantian, hal itu membuat Jeje semakin bergerak cepat di atas tubuh suaminya.


Rasa nikmat yang menjalar, membuatnya semakin bersemangat.


Suara desahan keduanya memecah keheningan malam. Hawa dingin di kamar itu tidak lagi terasa. Peluh mulai membasahi tubuh keduanya.


Erangan panjang keduanya mengakhiri permainan panas itu. Tubuh keduanya menegang bersamaan saat rasa nikmat itu meledak.


"I love you,,," Bisik Kenzo.


Dia sangat menikmati permainan istrinya yang mampu membuat sangat puas.


"Love you too,," Sahut Jeje. Dia mengecup singkat bibir Kenzo, lalu menyingkir dari pangkuan suaminya.


"Aku lelah by,," Jeje merebahkan dirinya, menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.


Ucapan Jeje cukup membuat Kenzo mengerti, jika istrinya tidak sanggup untuk mengulang permainan.


"Kita lanjut besok,,," Ujar Kenzo. Jeje hanya membuatkan matanya, namun dia tidak memberikan penolakan.


Kenzo ikut merebahkan diri di samping istrinya. Masuk kedalam selimut yang sama dan memeluk erat tubuh Jeje.


Keduanya bahkan tidak menyadari jika permainan panas yang baru saja mereka lakukan, bisa saja berpotensi membuat benih milik Kenzo tumbuh di rahim Jeje.


...**...


Jeje bangun lebih awal. Masih dalam balutan selimut, dia menatap lekat wajah Kenzo yang masih terlelap. Wajah tampannya terlihat sangat damai dalam tidurnya.


Jeje mengulas senyum tipis dengan sedikit rona merah di pipinya. Remaja itu teringat dengan adegan panas yang mereka lakukan tadi malam.


Lagi - lagi dia merasa malu karna terlalu agresif. Meskipun hal itu membuat Kenzo merasa di puaskan olehnya.


"Bangun by,,," Jeje mengusap lembut pipi Kenzo. Sedikit menggoyang wajahnya.


"Emm,,," Kenzo hanya mengeluarkan sedikit suara seraknya dan menggeliat kecil tanpa membuka mata.


"Sudah siang by, aku harus berangkat ke kampus,," Jeje menaikan sedikit suaranya, bahkan menggoncang lengan Kenzo berulang kali untuk membangunkannya.


"Jam berapa.?" Tanya Kenzo. Masih dengan mata yang terpejam, dia menarik Jeje kedalam pelukannya. Remaja itu sedikit memberontak, karna sudah tidak punya banyak waktu untuk bermain - main.


"Jam 7 by. Aku ada kelas jam 9." Sahutnya.


"Kita belum mandi, belum sarapan, aku juga harus ambil laptop di apartemen." Jelas Jeje. Dia takut terlambat untuk sampai di kampus nanti.


Kenzo langsung membuka lebar matanya.


Jeje menghela nafas, rupanya ucapan Kenzo tadi malam benar - benar serius. Dalam situasi seperti ini, dia masih saja meminta haknya.


Remaja itu terlihat bingung, dia tidak punya banyak waktu, tapi dia juga tidak tega untuk menolak permintaan suaminya. Pria dewasa itu memang tidak pernah merasa cukup hanya dengan 1 kali melakukannya.


"Aku takut terlambat by,," Ujar Jeje lembut, agar tidak menyinggung perasaan suaminya. Penolakan dalam hal berhubungan suami istri terkadang memang sensitif. Terlebih jika sudah berkabut gairah seperti Kenzo saat ini. Tangannya bahkan sudah menggerayangi bagian favoritnya, sedikit meremasnya lembut.


"Cuma sebentar, langsung tancap saja,," Ujar Kenzo datar. Jeje langsung mencubit gemas pipi suaminya itu.


"Nggak perlu di sebut juga kali by,," Keluhnya. Kenzo hanya mengulas senyum.


Dia langsung menyingkap selimut yang menutupi tubuh mereka. Melempar selimut itu hingga jatuh ke lantai.


Kenzo memposisikan dirinya di antara kedua paha Jeje. Dia sedikit memberikan rangsangan pada istrinya itu. Memancing istrinya agar berselimut gairah untuk memudahkan penyatuan.


Kedua aset kembar Jeje menjadi sasaran, dia meremasnya bergantian menggunakan satu tangannya. Sedangkan leher jenjang Jeje di jelajahi bibir Kenzo, dia memberikan hisapan kecil disana.


Jeje terlihat pasrah saat tubuhnya mulai menegang. Desahan tertahan mulai lolos dari bibirnya.


"Jeje,,bangun sayang,,,!!" Teriakan mama Rissa membuat aktifitas Kenzo terhenti. Dia sedikit kesal memandang ke arah pintu yang sedang di ketuk berulang kali.


Jeje tersenyum kikuk pada Kenzo. Dia merasakan tidak enak hati pada suaminya itu.


"Nanti saja ya by setelah aku pulang kuliah,," Tolaknya halus.


"Tanggung Je, kamu nggak liat ini,," Kenzo menunjuk miliknya yang tegak berdiri.


"Tapi,,


"Bilang saja sudah bangun dan kamu mau mandi,," Perintahnya.


"Jeje,,,!!" Teriak mama Rissa sekali lagi.


Jeje langsung menuruti perkataan suaminya.


"Ya mah,,, Jeje udah bangun. Mau mandi dulu,,!!" Teriaknya.


"Ya sudah, mama tunggu di meja makan,,!!"


Keduanya terlihat lega. Sedikit kikuk karna kegiatan panas mereka sempat terjeda beberapa saat.


"Itu sebabnya aku langsung membawa kamu ke apartemen. Hal seperti ini pasti akan terjadi,," Ucap Kenzo datar. Dia kembali melakukan aksinya dengan mencumbu istrinya itu.


Keduanya melakukan penyatuan, desahan mereka saling bersautan.


Kenzo mempercepat gerakannya, untuk membuatnya cepat mencapai klimaks.


Pagi itu di awali dengan kegiatan panas yang cukup menguras tenaga.


...**...


Selesai mandi bersama, keduanya keluar dari kamar menuju meja makan.


Kehadiran Kenzo memang tidak di ketahui oleh orang tua Jeje. Karna saat dia datang, keadaan rumah sudah gelap dan sepi. Hanya ada penjaga rumah yang membukakan gerbang untuknya.


"Ken,,," Seru mama Rissa dan papa Alex bersamaan.


"Pagi mah, pah,," Kenzo mengangguk hormat pada mertuanya.


"Kapan kamu datang,,?" Tanya papa Alex.


"Tadi malam, jam setengah 11 pah,"


Kenzo dan Jeje mulai bergabung dengan mereka. Duduk saling berhadapan.


Mama Rissa mengamati Jeje dan Kenzo bergantian, kemudian menggelengkan pelan kepalanya.


Dia sudah tau apa yang baru saja terjadi di kamar anaknya itu.


Mama Rissa mulai tidak enak hati, karna dia pasti sudah mengganggu kesenangan anak dan menantunya itu.


"Ada urusan apa kamu sampai pulang semalam itu.?" Tanya papa Alex mengintrogasi.


"Papa pikir kalian berantem,,"


"Banyak pekerjaan kantor yang harus di selesaikan malam itu juga." Sahutnya.


Papa Alex hanya mengangguk. Jika urusan kantor, dia tidak bisa berkomentar. Karna dirinya pun disibukan dengan urusan kantor yang sering membuatnya pulang malam.


"Kalian tidak lupa dengan peringatan kami kan.?" Kini giliran mama Rissa yang menatap keduanya dengan tatapan mengintrogasi.


"Peringatan apa mah,,?" Tanya Jeje bingung.


"Apa lagi kalau menunda kehamilan. Usia kamu masih terlalu muda, belum lagi kamu baru mulai kuliah,," Jelas mama Rissa.


Jeje dan Kenzo saling pandang, dia baru ingat kalau semalam dan pagi tadi mereka tidak menggunakan pengaman. Wajah Jeje terlihat panik dan ketakutan.


Kenzo menggenggam tangan Jeje yang ada dia atas paha. Dia memberikan usapan lembut untuk memberikan ketenangan pada istrinya. Juga tatapan yang mengisyaratkan kalau semuanya akan baik - baik saja.