
Sudah hampir 4 jam Karin menunggu kepulangan Reynald. Sejak tadi dia tidak bisa diam. Terlihat sangat gelisah dan beberapa kali mondar - mandir ke ruang tamu. Perasaannya semakin tidak enak. Pikirannya terus tertuju pada Bapaknya yang sedang di rawat. Radit juga tidak memberikan kabar lagi dan sekarang ponselnya tidak bisa di hubungi. Begitu juga dengan Reynald yang entah sedang dimana. Laki - laki itu tidak membaca pesan ataupun menjawab telfonnya.
Bukan karna berlebihan, wajar jika Karin gelisah seperti ini. Seseorang yang sedang di rawat adalah sosok laki - laki yang sangat berarti dalam hidupnya. Laki - laki yang sudah berjuang untuk menghidupi dirinya dan kedua kakaknya. Sosok laki - laki yang menjadi pelindungnya.
Keadaan fisiknya memang terlihat baik - baik saja, tapi sebagai seorang anak, Karin bisa melihat ada yang berbeda dari sorot matanya. Terlihat seperti sedang menahan sakit.
Hal menonjol yang membuat Karin curiga adalah, Bapaknya yang sempat pingsan. Sejauh yang Karin tau, selama ini Bapaknya tidak pernah pingsan. Keadaan fisiknya sangat sehat. Bapaknya hanya butuh istirahat saat mengeluh lelah.
Karin bangun dari duduknya saat mendengar pintu terbuka. Reynald benar - benar mengurungnya sampai menyuruh ART untuk menyembunyikan access card darinya.
"Kak,, ayo anterin ke rumah sakit.!" Seru Karin. Reynald yang masih di depan pintu hanya diam, dia terus berdiri disana tanpa melangkahkan kakinya untuk masuk. Tatapan matanya pada Karin terlihat sendu.
Karin yang sudah tidak sabar ingin menemui Bapaknya, segera menghampiri Reynald dan menarik tangannya untuk pergi.
"Ayo buruan kak,," Pintanya lagi dengan wajah memohon.
Reynald terlihat menghembuskan nafas.
"Kita masuk dulu, ada yang harus aku bicarakan." Reynald meraih pinggang Karin dan mendorongnya untuk masuk. Dia juga menutup pintu.
"Kakak bisa bicara di jalan nanti. Sekarang antar aku dulu ke rumah sakit, aku mohon kak,,," Karin menggenggam tangan Reynald dengan kedua tangannya. Dia menatap Reynald dengan mata sendu dan memohon. Karin sudah seperti anak kecil yang sedang merengek pada ayahnya.
"Karin,,," Tegur Reynald. Suara lembutnya mampu membuat Karin terdiam dan menatap intens manik mata Reynald. Ada perasaan senang tapi juga cemas. Meski suara lembut Reynald mampu membiusnya, namun tatapan mata Reynald mampu menghadirkan perasaaan cemas dan takut yang entah karna apa.
"Duduk dulu, aku akan mengantar kamu selesai kita bicara." Reynald menggiring Karin ke sofa. Keduanya duduk beriringan dan saling menatap.
Reynald mengalihkan pandangannya. kemudian memijat pelan pelipisnya. Tidak tega rasanya memberitahukan hal ini pada Karin. Saat ini wajah Karin bahkan sudah terlihat sendu. Entah akan seperti apa reaksi Karin setelah mendengar kabar buruk darinya.
"Kak,,," Panggil Karin lirih. Dia merasa heran dengan tingkah Reynald yang sepertinya ragu untuk bicara. Dia justru terlihat melamun.
Reynald menoleh. Di genggamnnya erat tangan Karin, lalu melempar senyum tipis dan tatapan teduh. Reynald menepuk pelan punggung tangan Karin yang ada dalam genggamannya.
"Tolong pikirkan kehamilan kamu, jaga kesehatan kamu dan anak yang ada di dalam kandungan kamu." Pinta Reynald tulus. Dia takut kenyataan buruk itu akan berdampak buruk juga bagi Karin dan calon anaknya. Reynald hanya tau jika saat ini Karin tidak boleh terlalu stres dan tertekan karna bisa mempengaruhi kehamilannya, seperti yang dokter katakan padanya kemarin. Itu sebabnya dia ragu untuk memberitahukan kabar itu pada Karin.
Karin terlihat mengerutkan kening. Ucapan Reynald membuatnya bertanya - tanya.
"Maksud kakak apa.?!" Tanya Karin nada tinggi. Seketika dia jadi berfikir jika ada wanita lain yang datang dalam kehidupan Reynald dan membuat Reynald akan meninggalkannya.
"Oh,,, aku mengerti.!" Karin langsung menarik kasar tangannya dari genggaman Reynald. Moodnya semakin memburuk. Karin menyadari bahwa akhir - akhir ini dia semakin sensitif dan mudah menangis. Dia juga selalu berfikir negatif pada Reynald. Hal itu tidak bisa dia cegah, terlebih sikap Reynald yang memang membuat istri dimanapun akan geram jika memiliki suami sepertinya.
"Kakak tidak usah khawatir, aku akan menjaganya dengan baik. Aku juga bisa mengurusnya sendiri,,"
"Kakak ingin kita berpisah.? Lakukan saja." Meski suara Karin terdengar tegas, tapi saat ini hatinya bergetar karna merasakan sakit. Reynald memang menyebalkan, tapi hatinya sudah terlanjur mencintai laki - laki itu.
"Kamu ini bicara apa.!" Seru Reynald tegas.
"Pernikahan kita memang terjadi karna accident, tapi bukan berarti akan mempermainkan pernikahan ini.!" Tambahnya lagi. Kesal rasanya mengetahui bahwa Karin selalu menganggapnya tidak menghargai pernikahan mereka. Seolah di mata Karin, Reynald hanya akan mempermainkan permainkan pernikahan.
"Kenapa terus menganggapku seperti itu..?! Apa aku seburuk itu di mata kamu.?!" Tanya Reynald tegas. Sikapnya dingin dan ketus pada Karin, bukan berarti selama ini dia tidak menghargai pernikahannya. Dan bukan berarti dia ingin berpisah dengan Karin.
Karin hanya diam setelah Reynald menegurnya. Dia bisa melihat kekecewaan dari sorot matanya.
Apa salah jika dia berbicara seperti itu pada Reynald.?
"Maaf,,," Bibir Karin bergetar. Dia menundukan kepalanya. Hati dan pikirannya sama sekali tidak merasakan ketenangan sedikitpun. Pikirannya terbagi pada Reynald yang selalu bersikap dingin padanya sampai membuatnya terus berfikir buruk. Dan Bapaknya yang entah bagaimana keadaannya.
"Aku ingin ketemu Bapak. Aku,,,,
Reynald langsung menarik Karin ke dalam dekapannya karna dia menangis.
Reynald jadi semakin kebingungan. Kondisi Karin saat ini tidak memungkinkan untuk mendengarkan kabar buruk yang akan dia sampaikan. Tapi jika tidak memberitahukannya saat ini, Reynald takut Karin akan kecewa padanya jika terjadi sesuatu.
"Aku akan mengantar kamu, tapi kamu harus janji padaku lebih dulu. Pikirkan kondisi kamu dan anak yang ada di dalam kandungan kamu,," Tutur Reynald lembut. Saat ini dia sangat mengkhawatarikan Karin dan calon anaknya. Begitu juga dengan keluarga Karin yang memang sejak awal ingin merahasiakannya dari Karin, karena mereka juga memahami kondisi Karin yang sedang hamil muda.
"Kak,, apa terjadi sesuatu pada Bapak.?!" Karin labgsung melepaskan diri dari pelukan Reynald. Menatap Reynald dengan pandangan cemas.
"Kenapa kakak bicara seperti itu.?! Bagaimana kondisi Bapak sebenarnya.?!" Karin menggoncang - goncangkan lengan Reynald karna laki - laki itu tak kunjung bersuara.
Reynald menarik nafas dalam. Dia benar - benar tidak tega untuk mengatakannya.
"Kita pergi sekarang. Bapak sudah menunggu kamu,,," Reynald berdiri sembari menarik tangan Karin untuk berdiri.
Pada akhirnya dia lebih memilih untuk bungkam dan membiarkan Karin untuk melihat sendiri bagaimana kondisi Bapaknya saat ini.
Karin menurut dan mengikuti langkah Reynald.
Sepanjang perjalanan, Karin terus diam dan terlihat melamum.
Ucapan Reynald membuatnya semakin berfikir buruk tentang kondisi Bapaknya.
"Kenapa kesini kak.?" Tanya Karin. Dia baru menyadari jika jalan yang mereka lewati bukan ke arah rumah sakit.
Reynald hanya melirik sekilas dan tidak menjawab pertanyaan Karin. Dia terus melajukan mobil dnlan membelokkan mobilnya ke rumah sakit terbesar di kota itu.
"Kak.?!" Seru Karin. Dia masih meminta jawaban dari Reynald.
"Ini bukan rumah sakit tempat Bapak di rawat kan.?" Tambahnya lagi.
"Jangan banyak tanya, ikut saja." Sahut Reynald tegas. Dia tidak tau lagi harus berbicara apa pada Karin.
Begitu turun dari mobil, Reynald langsung menggandeng tangan Karin. Dia juga sempat memberikan tatapan penuh kekhawatiran.
Kondisi Karin setelah melihat kondisi Bapaknya nanti, menjadi ketakutan terbesar dalam diri Reynald. Tentu saja dia tidak ingin hal buruk terjadi pada Karin dan calon anaknya.
"Aku tau kamu itu kuat,,," Ujar Reynald yakin.
"Kalau tidak, mungkin kamu sudah pergi dariku." Tambahnya lagi. Karin hanya menyimak ucapan Reynald, dia sama sekali tidak ada niatan untuk menanggapinya. Pikirannya saat ini hanya fokus untuk melihat kondisi Bapaknya.
Reynald terus menggandeng Karin menyusuri koridor rumah sakit. Saat ini keduanya sama - sama gelisah. Sibuk dengan pikirannya masing - masing.
Karin menghentikan langkahnya saat dari kejauhan melihat Ibu beserta kedua kakak dan kakak iparnya tengah duduk di depan ruang ICU.
"Bapak,,," Ucap Karin dengan suara bergetar. Dia langsung menarik tangannya dari genggaman Reynald dan berlari menghapiri mereka.
"Karin.!" Tariak Reynald, dia tidak berhasil mencegah Karin.
Karin semakin histeris saat melihat keluarga tengah menangis. Dia tau pasti telah terjadi sesuatu yang buruk pada Bapaknya.
"Ibu,,,!" Karin langsung menghambur kepelukan Ibu dahlia. Tangis keduanya sama - sama pecah.
Hancur pastinya meski Karin belum melihat sendiri bagaimana kondisi Bapaknya.
"Dimana Bapak.? Bagaimana kondisinya bu.?!" Tanya Karin di sela isak tangisnya.
"Bapak,,,," Ibu Dahlia terlihat berat untuk mengatakannya.
"Kamu harus kuat neng, inget kamu itu sedang hamil."
"Bapak kristis,,," Ibu Dahlia semakin erat memeluk Karin. Anaknya itu tidak bersuara, tapi badannya bergetar hebat dengan tangisnya yang histeris.
"Sabar neng, Kita berdo'a buat kesembuhan Bapak. Bapak pasti sehat."
Reynald memaku. Pemandangan didepan matanya begitu mengiris hati.
...*****...
Novelnya Nicho udah launching. Tapi up bertahap seperti biasa.
Beberapa hari lagi bakal pisah sama Reynald dan om Kenzo, jadi pindah ke Nicholas ya😊
Masukin daftar favorit aja dulu. Bacanya nanti kalo udah tamat. Eehh,, kelamaan ya🤣.