
Jeje terlihat sangat nyaman tidur dalam posisi duduk sembari memeluk mama Grace. Sejak tadi siang datang ke apartemen Fely, Jeje langsung menempel pada mama Grace dan bercerita banyak hal padanya. Kenzo bahkan tidak menyangka jika kedekatan sang mama dan istrinya akan intens itu.
Jauh diluar dugaannya. Kenzo seperti melihat ibu dan putri kandung dalam kedekatan sang mama dan Jeje. Bahkan Fely saja tidak semanja itu pada mama Grace.
Sejak tadi Kenzo bahkan menatap keduanya dengan mata yang berbinar karena bahagia. Dia merasa tidak salah dalam memilih seorang istri. Teman hidupnya itu bukan hanya mampu merebut hatinya, tapi juga mampu merebut hati keluarganya. Mereka sangat menyayangi Jeje dengan tulus, seperti halnya dengan Jeje yang selalu bersikap tulus dengan siapapun.
"Menginap disini saja Ken, kalian bisa tidur di kamar Fely. Biar Fely tidur sama mama,,"
Mama Grace menatap Kenzo dan Fely bergantian. Fely menganggukkan kepala tanda setuju dengan usulan sang mama.
"Ya sudah. Ken juga tidak membangunkannya,,"
Kenzo beranjak dari duduknya dan menghampiri Jeje yang masih damai dalam tidurnya. Dia berniat untuk menggendong Jeje untuk dipindahkan ke kamar Fely.
"Aku beresin dulu tempat tidurnya,," Fely bergegas pergi ke kamarnya, merapikan bantal dan seprei yang sedikit berantakan. Dia juga membiarkan pintu tetap terbuka agar Kenzo tidak kesusahan membawa Jeje masuk.
"Jaga istri dan calon anak kalian baik - baik Ken. Usahakan buat Jeje selalu merasa bahagia selama hamil, karna itu bagus untuk perkembangan janinnya,," Mama Grace berkata lirih sebelum Kenzo mengangkat Jeje.
"Ken mengerti mah."
"Kami ke dalam dulu,,"
Mama Grace mengangguk pelan, dia membiarkan Kenzo mengangkat Jeje dan memindahkannya ke kamar.
Melihat anak yang selama belasan tahun terpisah darinya kini sudah hidup bahagia dengan istri yang tepat, mama Grace merasa sangat bersyukur untuk itu.
"Udah malem mah, ayo tidur,,"
Fely yang beru keluar dari kamarnya, langsung menghampiri mama Grace dan mengajaknya untuk tidur. Dia tau seharian ini sang mama tidak istirahat karena kedatangan Kenzo dan Jeje.
Mama Grace mengangguk, dia beranjak dan pergi ke kamarnya sembari menggandeng lengan Fely.
"Apa Nicho kecewa dengan keputusan mama.?"
Mama Grace menatap Fely dengan intens. Mama Grace tau kalau sebenarnya Fely juga terlihat kecewa saat melarang Nicho menikahinya sebelum mendapat restu dari papa Alex.
Mama Grace paham jika keduanya masih sangat mencintai meski pernah berpisah selama 1 tahun. Tidak adil memang kalau saat ini dia melarang mereka untuk menikah, namun dia ingin putrinya menikah dengan restu dari kedua orang tua Nicho.
Fely menggeleng pelan.
"Fely nggak tau mah. Tapi Fely yakin Nicho bisa mengerti keputusan mama,,"
Fely tidak berani mengatakan kalau Nicho kecewa. Tentu saja Fely bisa melihat kekecewaan di wajah Nicho saat itu. Dia hanya bisa berharap Nicho bisa kembali berdamai dengan papa Alex dan berharap papa Alex akan merestui mereka. Meski sejujurnya masih ada rasa kecewa atas penghinaan yang dilakukan oleh papa Alex terhadapnya, tapi Fely juga ingin mendapat restu darinya.
"Pernikahan itu untuk 1 kali seumur hidup, restu kedua orang tua itu sangat penting sayang. Restu orang tua juga yang akan membuat pernikahan itu langgeng dan bahagia,,," Mama Grace mengusap lembut kepala Fely. Dia hanya ingin putrinya tau jika restu orang sangat penting dan berpengaruh bagi kehidupan rumah tangganya kelak.
"Fely mengerti mah. Nicho pasti akan berusaha utuk mendapatkan restu dari om Alex,," Fely mengembangkan senyum, ada harapan dari seulas senyumnya. Harapan yang begitu besar akan hubungannya dengan Nicho. Berharap bisa disatukan dalam ikatan pernikahan yang suci dan sakral.
...****...
Rupanya menangis berjam - jam membuat tenggorokan Karin mulai mengering. Dia juga terlihat kelelahan karena belum tertidur sampai tengah malam seperti ini.
Perlakuan kasar Reynald pada Karin, membuat wanita itu terus menangis sejak Reynald keluar dari kamar. Karin merasa semakin kehilangan harapan untuk bisa memulai rumah tangga bersama Reynald. Dia bahkan semakin yakin kalau Reynald tidak bisa mencintainya dan tidak bisa menerimanya sebagai istri.
Karin turun dari ranjang dengan perlahan, berjalan keluar dari kamarnya. Wanita itu sedikit terkejut mendapati Reynald yang tidur di sofa ruang keluarga. Laptop di atas meja yang belum tertutup, juga menarik perhatian Karin.
Laki - laki itu masih mengenakan baju kantor, hanya saja dasi dan jasnya sudah di lepas.
Karin tidak menyangka kalau Reynald masih ada di rumahnya. Dia pikir laki - laki itu akan kembali ke apartemen setelah membentaknya dan keluar begitu saja dari kamar.
Karin menghela nafas pelan, dia kembali melanjutkan langkahnya untuk pergi ke dapur. Saat ini dia benar - benar haus dan ingin meneguk air putih.
Karin masuk kedalam kamarnya, dia mengambil selimut dan berjalan menghampiri Reynald. Dalam jarak yang sangat dekat, Karin bisa melihat dengan jelas wajah Reynald yang terlihat kelelahan. Wajah dingin dan cueknya bahkan tidak terlihat lagi. Dia justru terlihat sangat rapuh saat sedang terlelap seperti itu.
Tanpa ragu Karin merentangkan selimut untuk menutupi tubuh Reynald. Dia sedikit menunduk, hingga wajah Reynald semakin dekat dengannya. Tampan, Karin mengakui jika laki - laki yang sudah menjadi suaminya itu memang sangat tampan. Namun ketampanannya hilang begitu saja setiap kali laki - laki itu berbicara dengan nada ketus dan tinggi padanya.
Selesai memasangkan selimut di tubuh Reynald, Karin bergegas untuk kembali ke kamarnya.
Namun wanita itu tersentak saat tiba - tiba pergelangan tangannya di genggam. Karin berbalik badan, menatap tangannya yang digenggam oleh Reynald. Perlahan pandangan matanya diarahkan pada wajah Reynald. Rupanya laki - laki itu terbangun.
Keduanya saling menatap untuk beberapa saat dalam keheningan. Tangan Karin bahkan masih digenggam erat oleh Reynald.
Dari sorot mata mereka, sangat jelas jika keduanya sama - sama merasa bersalah. Keduanya sadar jika sikapnya sudah keterlaluan. Reynald yang terlihat menyesal karena tidak bisa mengontrol emosinya, juga Karin yang menyesal karena sudah pergi diam - diam hingga membuat Reynald marah.
"Maaf,,," Ucap keduanya bersamaan. Menyadari akan hal itu, keduanya kompak mengalihkan pandangan. Reynald pun perlahan melepaskan genggaman tangannya.
Reynald bangun dan kini dalam posisi duduk. Sedangkan Karin masih berdiri kaku didepan Reynald.
"Kamu belum tidur.?" Reynald kembali mengeluarkan suara setelah melihat jam di pergelangan tangannya.
Reynald menatap intens mata Karin yang terlihat sebab dan merah. Dia tau jika wanita itu baru saja menangis.
"A,,aku habis minum,," Karin menjawab tanpa berani menatap Reynald. Dia terlihat sangat gugup karena terus ditatap oleh Reynald.
Reynald menarik tangan Karin, meminta wanita itu untuk duduk disampingnya. Meski terlihat ragu, tapi Karin memutuskan untuk menuruti Reynald dengan duduk disampingnya.
"Aku nggak suka kamu pergi diam - diam seperti ini. Ingat kalau saat ini ada kehidupan di dalam perut kamu. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada kalian.? Apa kamu pikir mereka tidak akan menyalahkanku nantinya.?" Reynald menekankan kalimat terakhirnya untuk membuat Karin sadar jika apa yang dia lakukan adalah sebuah kesalahan.
"Mereka sudah menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab kalian padaku. Jika terjadi sesuatu, apa mereka masih bisa mempercayaiku untuk menjaga kalian.?" Reynald menatap Karin dengan sorot yang dalam. Berharap Karin akan mengerti kenapa dia sampai semarah itu padanya.
Karin hanya bisa menunduk. Dia merasa bersalah dan terpojok. Bahkan tidak bisa untuk sekedar memberikan pembelaan kenapa dia bisa pergi diam - diam dari apartemen.
Reynald menghela nafas pelan. Dia mengusap pelan punggung tangan Karin.
"Kembali ke kamar dan tidur, sudah larut." Ujarnya lembut. Setiap kali Reynald bicara lembut padanya, hatinya selalu berdebar. Jika saja Reynald selalu berbicara lembut padanya, mungkin dia tidak akan memiliki prasangka buruk pada laki - laki tampan itu. Dia juga tidak akan khawatir tentang perasaan Reynald padanya.
Karin mengangkat wajahnya, dia memberanikan diri untuk menatap Reynald dalam jarak yang sangat dekat. Ada hal yang ingin dia tanyakan namun terlihat ragu.
"Apa.?" Tanya Reynald sembari menggerakkan kepalanya. Rupanya dia tau kalau ada sesuatu yang ingin Karin katakan padanya.
"Bagaimana keadaan anak kakak.?" Suara Karin terdengar lirih. Dia takut mendengar jawaban yang mungkin saja bisa menyinggung perasaannya, namun Karin juga penasaran akan hal itu. Dia juga ingin tau apa rencana Reynald selanjutnya setelah kehadiran anak itu.
"Alisha sudah melewati masa kritisnya." Reynald terlihat bahagia menjawabnya.
"Siap atau tidak, kamu harus bisa menerima kehadiran Alisha. Dia anakku."
"Lain kali akan aku ceritakan. Sekarang masuk ke kamar dan tidur,," Perintahnya tegas.
Meski Karin tidak puas dengan jawaban Reynald, dia memilih untuk tidak bertanya lagi dan beranjak dari duduknya.
Karin ingin tau akan dibawa kemana hubungan mereka setelah kehadiran Alisha dan masa lalu Reynald.
Karin menutup pintu kamar perlahan, dia sempat melihat Reynald yang justru sudah sibuk dengan laptopnya. Rasanya ingin menegur Reynald dan menyuruh laki - laki itu untuk tidur lagi, namun Karin tidak punya keberanian untuk itu.
...****...
Udah lama nggak pernah minta vote.
Besok hari senin, jangan lupa kasih votenya di novel ini.
Thank you 😘