
Wajah Reynaldi masih merah, dan sorot matanya yang juga di penuhi amarah. Reynald tak habis pikir dengan Angel. Kenapa dia bisa menyebutnya orang lain sedangkan Alisha adalah anak kandungnya. Kenapa sampai harus secemas itu mengkhawatirkan Alisha yang sedang pergi dengan ayahnya. Padahal Reynald sudah mendapat ijin dari Angel untuk membawa Alisha makan diluar. Lalu kenapa harus bersikap berlebihan seperti itu.
Seolah - olah Reynald hanya orang lain yang tidak akan bisa menjaga Alisha dengan baik.
Reynald jadi berfikir, mungkin itu yang menjadi salah satu alasan Angel menyembunyikan Alisha darinya selama ini. Menganggap bahwa dirinya tidak bisa menjadi ayah yang baik untuk Alisha.
"Brengs*k,,,,!!" Geramnya. Reynald memukul stir mobil dengan penuh emosi.
Karin yang sejak tadi diam, langsung tersentak mendengar geraman Reynald dan suara pukulan yang cukup kencang.
Dia melirik Reynald, rahangnya terlihat mengeras dengan deru nafas yang kencang.
"Kakak masih marah dengan ucapan kak Angel.?" Suara Karin seolah menyadarkan Reynald. Dia menoleh dengan raut wajah yang cemas, seakan baru menyadari kalau ada Karin di sampingnya.
"Kamu baik - baik saja.?" Reynald menggenggam tangan Karin. Dia lebih tertarik menanyakan keadaan Karin dari pada menjawab pertanyaan Karin yang bahkan tidak begitu terdengar jelas olehnya.
"Tidak apa,,," Sahutnya. Dahi Karin mengkerut dengan gelengan kepala.
Reynald terlihat lega, dia menghela nafas pelan.
"Maaf,,," Ujarnya tulus. Tangannya langsung beralih mengusap lembut perut Karin, lalu kembali fokus menyetir.
Karin reflek tersenyum tipis. Entah perasaan apa yang sedang dia rasakan saat ini. Begitu sulit untuk di ungkapkan dengan kata namun begitu menyentuh hatinya. Apa yang di lakukan oleh Reynald hampir membuatnya meneteskan air mata. Hal sederhana memang, tapi begitu berkesan. Usapan tangan Reynald yang lembut, juga permintaan maaf yang tulus meski sebenarnya Reynald tidak berbuat salah padanya.
Karin tau, Reynald pasti takut membuatnya kaget karna sempat berteriak dan memukul stir. Dia juga mengkhawatirkan kondisi anak mereka bahkan berusaha menenangkannya dengan cara memberikan usapan penuh cinta.
Kali ini Karin memberikan diri meraih tangan Reynald. Hal itu membuat Reynald melirik sekilas ke arahnya dan kembali memfokuskan pandangan pada jalan. Dia harus hati - hati dalam mengendari mobil karna sedang membawa istri dan calon anaknya. Meski sejujurnya Reynald ingin terus menatap Karin dan menyimak apa yang akan Karin katakan setelah menggenggam tangannya.
"Aku tau kakak kecewa dengan ucapan kak Angel." Tidak mau memancing kemarahan Reynald, Karin memilih untuk bicara selembut mungkin. Hal ini pasti akan sensitif bagi Reynald. Apapun yang sudah menyangkut tentang seorang anak, pasti tidak akan mudah di terima dengan logika, karna orang tua lebih berpegang pada perasaan.
"Kak Angel tidak bermaksud seperti itu. Dia bahkan sudah menganggapku sebagai ibu untuk Alisha. Jadi tidak mungkin kalau kak Angel menganggap kakak seperti orang lain bagi Alisha." Penuturan Karin langsung mendapat respon dari Reynald. Dia kembali memberikan lirikan sekilas padanya.
"Dia tidak akan secemas itu kalau tidak menganggapku orang lain."
"Kalau dia menganggapku sebagai ayah Alisha, harusnya dia mempercayakan Alisha sepenuhnya padaku saat kita pergi bersama. Apa dia pikir aku tidak akan mengawasi dan menjaga Alisha dengan baik.! Alisha anakku, sedikitpun aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padanya. Lalu kenapa dia harus berfikir seperti itu.?!"
Jelas Reynald dengan kekesalan yang terasa menggebu, namun dia berusaha untuk mengendalikan diri agar tidak bicara dengan suara keras pada Karin.
Reynald menghembuskan nafas kasar. Dia masih saya merasa tersinggung karna di anggap orang lain dalam kehidupan putrinya sendiri.
Hatinya sudah terlanjur hancur saat mengetahui Angel menyembunyikan keberadaan Alisha padanya selama bertahun - tahun. Dengan perbuatan Angel yang sengaja menyembunyikan Alisha darinya, hal itu saja sudah membuat Reynald merasa tidak di anggap oleh Angel sebagai ayah biologis Alisha. Dan sekarang Angel justru menganggapnya sebagai orang lain.
"Bukan seperti itu maksud kak Angel."
"Dia bilang, selama ini Alisha tidak pernah pergi dengan siapapun seorang diri tanpa kak Angel. Kak Angel hanya khawatir Alisha akan rewel nantinya."
"Meski kakak adalah ayahnya, tapi Alisha tidak tau akan hal itu. Dia bahkan baru bertemu kita beberapa kali, jadi wajar saja kalau kak Angel cemas."
"Bukan cemas karna tidak percaya pada kak Rey, tapi cemas pada Alisha."
Meski Karin sudah mencoba untuk memberikan pengertian dengan berbicara panjang lebar, tapi hal itu seperti tidak memberikan pengaruh apapun untuk Reynald. Laki - laki itu masih saja terlihat kesal.
"Kakak sudah melakukan yang terbaik untuk Alisha. Kakak menjadi ayah yang sempurna untuknya. Aku yakin suatu saat Alisha akan bangga jika mengetahui kak Rey adalah ayahnya." Karin memberikan usapan lembut pada punggung tangan Reynald. Dia juga mengulas senyum meski Reynald hanya meliriknya sekilas.
"Bukannya kakak lihat sendiri, Alisha sangat bahagia pergi bersama kita, dia terlihat bahagia saat bermain dengan daddynya,,," Ujar Karin penuh kebanggan, juga memberikan semangat di dalamnya.
Sepertinya usaha Karin untuk mengembalikan mood Reynald belum juga berhasil. Laki - laki itu masih saja memasang wajah kesal dan setengah datar.
Karin menghela nafas pelan, sepertinya dia harus kembali membujuk Reynald.
"Aku bahkan sudah tidak sabar menunggu anak kita lahir. Tidak sabar rasanya melihat kakak menjaga dan mengajak anak kita bermain,,,"
Reynald tersenyum tipis mendengarnya. Dia menarik tengkuk Karin dan mendaratkan kecupan singkat di keningnya.
Karin merasa lega karna Reynald tidak lagi terlihat kesal. Meski saat ini dia tidak berbicara apapun.
...****...
Sampainya di apartemen, Karin langsung pergi ke dapur untuk mengambil makanan. Sejak tadi dia terus memikirkan Reynald yang baru makan beberapa suap saja.
Dia masuk ke kamar untuk memberikan makanan itu pada Reynald. laki - laki itu sedang duduk di balkon dengan sebatang rokok di tangannya. Dia sudah mengganti bajunya dan hanya memakai kaos lengan pendek serta celana pendek.
Reynald langsung mematikan rokoknya saat melihat Karin berjalan menghampirinya.
"Kakak harus makan lagi, tadi hanya makan sedikit di resto,," Pinta Karin. Dia meletakan nampan berisi makanan dan minum, lalu ikut duduk di samping Ryenald.
"Nanti saja, aku masih kenyang,,," Tolak ya halus.
"Sebaiknya kamu istirahat. Aku akan menyusul nanti,,," Ujarnya. Tak lupa mengusap kepala dan perut Karin secara bergantian.
"Dia pasti kelelahan,,," Katanya lagi.
Karin langsung menggelengkan kepalanya.
"Aku akan ke istirahat kalau kakak sudah makan."
Reynald nampak menghela nafas, namun pada akhirnya dia menyantap makanan yang dibawakan oleh Karin tanpa memberikan protes lagi.
Karin tersenyum lega melihat Reynald yang menghabiskan makanannya.
"Aku bawa ke dapur dulu,,," Karin hendak membereskan piring dan gelas itu, tapi Reynald melarangnya.
"Tidak usah, biarkan saja di situ." Ujarnya.
"Kamu harus istirahat sekarang, aku temani ke dalam,,," Reynald menggandeng tangan Karin dan mengajaknya masuk ke kamar.
Keduanya merebahkan diri di ranjang. Meski setiap hari tidur di atas ranjang yang sama, suasana canggung masih saja di rasakan oleh Karin.
Dia menatap Reynald saat laki - laki itu memeluknya dari belakang.
"Tidur.!" Ujar Reynald tegas. Karin mengangguk pelan. Dia mencoba memejamkan matanya dalam posisi yang sangat menenangkan. Reynald mendekapnya erat, bahkan terus mengusap perutnya. Perlakuan Reynald membuatnya merasa tenang dan perlahan mengantarnya ke alam mimpi. Kesadarannya sudah mulai menghilang.
"Eummm,," Karin menggeliat dan mengeluarkan suara ******* tertahan.
Reynald terlihat mengulum senyum. Dia semakin menjadi - jadi membuat tubuh Karin menggeliat dan kembali mengeluarkan suara erotis yang mampu membuatnya semakin bergairah.
Dia semakin kencang meremas kedua aset Karin karna wanita itu tak kunjung membuka matanya.
"Kak.!" Mata Karin langsung terbuka sempurna. Dia melotot melihat Ryenald yang ada di depannya dengan kedua tangannya yang di masukan kedalam bajunya dan sedang asik memainkan asetnya.
"Dari tadi mendesah, kenapa baru bangun sekarang,,," Goda Reynald. Tangannya semakin bergerak liar. Hal itu membuat tubuh Karin menggeliat, dia terpaksa menahan desahannya karna malu.
"Lepas ih,,, kenapa mengganggu tidurku.!" Geram Karin. Dia pura - pura kesal untuk membuat Reynald menghentikan aksinya.
"Sudah jam 4 lewat, kamu sudah tidur selama 3 jam,,," Penuturan Reynald membuat Karin terdiam.
"Kita main sebentar sebelum mandi,," Bisiknya. Badan Karin seketika memaku, dia pasrah saja saat Reynald melancarkan aksinya.
...*****...