My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
19. Season2



Setelah makan malam bersama, Karin dan Reynald pamit untuk tinggal di apartemen.


Kedua orang tua Karin terlihat sedih melepaskan anaknya untuk tinggal bersama dengan sang suami.


Ada perasaan tidak rela melepaskan anak perempuan mereka satu - satunya. Anak yang selama ini sangat baik dan penurut. Mandiri dan jarang merepotkan mereka.


"Bapak titip Karin dan cucu Bapak sama kamu,," Pak Dadang menatap Reynald dengan serius.


"Tolong jaga anak Bapak, jangan buat dia sedih,,," Pintanya memohon, matanya bahkan berkaca - kaca. Selama ini Pak Dadang merasa belum bisa membahagiakan Karin karena tidak bisa memberikan kehidupan yang layak seperti orang lain pada umumnya.


Mereka hanya bisa memberikan pendidikan dan makan seadanya.


"Bapak tidak perlu khawatir, saya akan menjaga Karin dengan baik." Ucap Reynald yakin.


"Bapak percaya sama kamu. Jangan rusak kepercayaan kami,,"


Reynald mengangguk cepat.


Sementara itu Karin sedang memeluk erat ibunya. Padahal dia hanya akan pindah tempat tinggal, masih dalam kota yang sama, tapi terasa berat bagi Karin untuk pisah dengan keluarga. Terutama ibunya.


"Nggak usah sedih neng. Memang sudah seperti ini kodrat wanita yang sudah menikah, harus tinggal dengan suami,," Tutur Ibu Dahlia lembut.


"Walaupun pernikahan ini bukan kehendak kamu, tapi kamu tetap menjalaninya dengan tulus dan ikhlas, karena pernikahan kamu atas kehendak Tuhan."


"Kamu harus belajar jadi istri dan ibu yang baik untuk anak kamu nanti,,"


Tidak ada yang bisa Ibu Dahlia berikan pada Karin selain nasehat. Walaupun dia terluka karena anaknya harus mengalami kejadian pahit seperti ini, tapi Ibu Dahlia mencoba untuk ikhlas dan menerimanya dengan besar hati.


Nasi sudah menjadi bubur, apa yang sudah menimpa Karin tidak bisa di kembalikan seperti semula.


Maka harapan terbesarnya sebagai seorang ibu adalah melihat anaknya bahagia dalam menjalani bahtera rumah tangga.


Karin mengangguk patuh. Dia menyadari semua nasehat ibunya sudah pasti yang terbaik untuk rumah tangganya.


"Iya Bu, Karin akan berusaha,,"


"Karin janji akan sering - sering datang kesini. Ibu jaga kesehatan, jangan capek - cepek Bu."


"Jangan khawatirkan ibu. Kamu juga harus jaga kondisi biar tetep sehat. Jaga calon cucu ibu baik - baik,," Ibu Dahlia mengusap perut Karin dengan seulas senyum yang mengembang di bibirnya. Karin juga ikut tersenyum melihat kebahagiaan di wajah sang ibu.


"Jangan adek gue.! Kalau sampai nyakitin Karin, jangan harap bisa ketemu lagi sama mereka.!" Tegur Radit kestus.


Reynald yang sedang menatap ke arah dua wanita itu, kini beralih menatap Radit yang duduk di sebelahnya.


"Anak kecil tau apa kamu.!" Geram Reynald pelan.


Radit nampak tidak terima.


"Biar anak kecil begini, gue itu kakak ipar kamu,," Sahutnya cepat. Reynald hanya berdecak kesal dengan tatapan sinis.


Orang tua dan kakak Karin, mengantar kedua sepasang suami istri itu sampai di teras rumah.


Karin masih saja memeluk Ibu dan Bapaknya bergantian.


Berbeda dengan reynald yang sudah masuk ke dalam mobil setelah meletakan koper Karin di bagasi.


"Kasih tau aa kalau si sombong itu macem - macem sama kamu dek. Biar aa hajar nanti,," Ucap Radit.


"Aa gayanya kayak yang berani aja,," Celetuk Karin sembari menahan tawa.


"Karin bisa jaga diri, aa nggak usah khawatir."


"Sudah sana masuk, itu suami kamu sudah nungguin dari tadi,,," Ujar Pak Dadang sembari melirik Reynald yang terlihat memasang wajah kesal.


Karin mengangguk, lalu segera menghampiri Reynald dan masuk ke dalam mobil.


Reynald langsung melajukan mobilnya begitu Karin masuk ke mobil.


Wanita itu sempat melambaikan tangan pada keluarganya. Matanya berkaca - kaca karna sedih harus tinggal terpisah dengan mereka.


"Kamu hanya pindah tempat tinggal, bukan pindah negara.!" Ketus Reynald. Laki - laki itu sudah memperhatikan Karin yang terlihat sedih saat sedang berpamitan pada kedua orang tuanya.


Di liriknya Reynald dengan dengan tatapan tak suka.


Karin merasa laki - laki itu tidak punya rasa simpati sedikitpun.


Baru saja membuka mulut untuk protes, Reynald sudah meliriknya dengan tatapan dingin.


Karin langsung mengurungkan niatnya, wanita itu memilih diam. Dia bahkan memalingkan wajahnya keluar jendela.


Lebih baik memandang keramaian ibu kota di malam hari, daripada memandang wajah dingin dan kaku itu.


"Kenapa diam.?!" Tanyanya ketus. Suara ketus itu selalu membuat Karin menyabarkan dirinya.


"Apa gunanya bicara,," Sahut Karin datar. Sedikitpun dia tidak berpaling dari jalanan yang ramai. Menatap wajah Reynald hanya akan membuatnya sedih. Sikap dingin dan kaku itu selalu saja membuat Karin merasa tidak ada artinya bagi Reynald.


Sekelebat bayang di masa lalunya kembali muncul. Teringat kembali pada sosok wanita yang sangat dia cintai kala itu.


Jika sedang berdebat dan tidak kunjung selesai, akan saling diam satu sama lain.


Sudah 5 tahun berlalu, namun kenangan indah itu masih terpatri dalam hati dan pikirannya.


Wanita pertama yang mengisi relung hatinya, wanita pertama yang mampu mengambil cinta dan perhatian yang dia miliki. Bahkan wanita pertama yang dia ambil kesuciannya.


Janji untuk mengikat janji sehidup semati dalam ikatan suci pernikahan, kandas begitu saja saat wanita cantik itu lebih memilih pergi dan menikah dengan laki - kaki lain. Hanya karna dia tidak memiliki apapun lagi.


Sakitnya dikhianati, nyatanya tidak mampu menghapus perasaan cinta di hatinya.


Laki - laki itu masih saja mencintainya, bahkan terkadang masih berharap dia akan kembali padanya.


Mobil yang si tumpangi mereka sudah terparkir di basement apartemen, Reynald turun dari mobil dan mengeluarkan koper Karin dari bagasi.


Karin yang juga sudah keluar dari mobil, langsung menyambar koper miliknya.


"Berikan padaku,,!" Reynald merebut koper dari tangan Karin. Dia mengunci mobilnya, kemudian berjalan sembari menyeret koper milik Karin.


Wanita itu masih berdiri di tempatnya. Merasa kesal karna Reynald semakin ketus padanya.


Sadar jika Karin tidak mengikutinya di belakang, Reynald segera berbalik balik.


"Apa perlu aku gandeng.?!" Sindir Reynald.


"Tidak perlu.! Terima kasih tawarannya,,,!" Sahut Karin sinis. Dia bergegas melangkah cepat. Dia bahkan mendahului Reynald dan melewatinya begitu saja.


Percuma saja bersikap baik kalau Reynald justru semakin dingin dan kaku padanya. Lebih baik dia bersikap cuek pada laki - laki menyebalkan itu.


Karin terus berjalan cepat, dia sudah sering di bawa ke apartemen ini oleh Reynald. Jadi tidak perlu penunjuk arah untuk sampai di apartemennya.


Reynald hanya bisa menggelengkan kepala melihat Karin yang sudah berjalan jauh di depannya.


Meski tidak ada perasaan cinta untuk wanita itu, Reynald tetap saja merasa bersalah dan kasihan padanya.


Wanita itu mengandung di usianya yang masih sangat muda karena kecerobohannya.


Itu sebabnya Reynald langsung bertanggung jawab atas perbuatannya.


Lagipula anak yang ada di dalam kandungan Karin adalah tanggung jawabnya.


Sebejad apapun kelakuannya, dia akan tetap mengakui darah dagingnya sendiri dan sudah pasti menyayanginya.


Karin sudah sampai lebih dulu, dia duduk di samping pintu apartemen dengan menekuk kedua lututnya. Kedua tangannya memeluk lutut, pandangan matanya lurus ke dapan. Menatap dinding di seberangnya dengan tatapan menerawang.


Karin sudah menyiapkan hatinya jika memang kehidupan rumah tangganya akan dipenuhi dengan rasa sakit dan air mata.


Membuat Reynald mencintainya dan bersikap baik padanya, sepertinya hanya akan menjadi mimpi yang sulit untuk dia gapai.


"Bangun.!"


"Kenapa duduk disitu.!" Tegur Reynald yang baru saja sampai. Dia sudah menyiapkan akses card di tangannya.


Karin hanya mendongakkan kepala untuk menatap Reynald, lalu segera berdiri tanpa berbicara apapun.


Setelah Reynald membuka pintu dan masuk lebih dulu, Karin ikut menyusulnya ke dalam.


"Langsung tidur saja kalau ngantuk,," Ucap Reynald sembari menutup kembali pintu apartemennya.


Karin mengangguk pelan. Dia berjalan ke arah kamar tamu. Rasanya malas jika harus tidur dengan Reynald malam ini.


"Siapa yang nyuruh kamu tidur disitu.?!" Seru Reynald saat Karin akan membuka pintu kamar.


"Masuk ke kamarku.!" Perintah tegas tak mau dibantah.


"Menyebalkan.!" Gumam Karin kesal, sembari berjalan ke kamar Reynald.


Siapa yang akan tahan tinggal dengan laki - laki seperti itu, batin Karin.


...***...


Masih nggak minat mampir di novel baru.? 😁




Di akun : Ratna wullandarrie