My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
Bab 76. Tidak mudah



2 minggu berlalu sejak aku memutuskan untuk pergi, melupakan semua kenangan indah dan mencoba menyembuhkan luka.


Aku pikir akan mudah untuk melakukannya, tapi ternyata tidak semudah yang aku bayangkan.


Meskipun aku sudah yakin jika di dalam hati ini sudah tidak ada lagi rasa yang terselip sedikitpun untuknya, tetap saja bayangan wajahnya terkadang muncul dalam benakku.


Terlebih bayangan wajahnya di acara pertunangan mereka yang digelar sangat mewah itu. Ada sesak di dada yang tidak bisa aku ungkapkan dengan kata, terlalu perih dan menyakitkan. Aku masih belum percaya acara yang pernah aku khayalkan sebelumnya, harus menjadi acara wanita lain.


Aku tidak mengerti kenapa om Kenzo tega membohongi sejauh ini. Bagaimana bisa dia mengatakan cinta padaku dan memintaku untuk tetap disisinya, sedangkan pernikahannya dengan wanita lain sudah ada di depan mata. Siapa yang tidak kecewa.!


Dia seolah menjadikanku sebagai wanita paling bodoh di dunia ini.


Penyesalan memang tidak bisa mengubah apapun, tapi setidaknya dari rasa penyesalan itu aku bisa belajar untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa dan lebih baik lagi. Biarlah apa yang sudah terjadi padaku, menjadi pelajaran berharga dalam hidupku.


Tidak seharusnya aku mencintai seseorang dengan segenap hatiku, bahkan mempercayainya lebih dari diriku sendiri. Pada akhirnya aku harus kecewa, bahkan hancur tak tersisa.


Melihat orang yang kita cintai bersanding dengan orang lain, nyatanya lebih dari sebuah kehancuran.


Berjanji menikahi ku, namun memasangkan cincin di jari wanita lain.


"Masih ngelamunin bajingan itu.?!" Tegur kak Nicho. Aku tersentak kaget, namun langsung menguasai diri dan pura - pura melanjutkan sarapan ku.


Aku tidak menyangka, mama akan menceritakan huhunganku dengan om Kenzo pada kak Nicho. Saat aku baru sampai, kak Nicho bukannya menyambutku, tapi malah mencecarku dengan banyak pertanyaan dan setelah itu memarahiku. Kak Nicho bahkan sampai berjanji akan menghajar om Kenzo jika bertemu dengannya. Dia merasakan tidak terima karna aku diperlakukan seperti ini oleh ok Kenzo.


"Apaan sih kak, aku tuh bete kelamaan diem di apartemen sendirian.! Lama banget mulai kuliahnya. Apa serepot itu pindah kuliah.?"


Selama 2 minggu ini, aku hanya berdiam diri di apartemen. Sesekali keluar untuk jalan - jalan di sekitar apartemen, atau datang ke cafe milik kak Nicho.


Aku tidak tau kalau ternyata kak Nicho memiliki bisnis disini, ya walaupun masih sebatas cafe kecil, namun cukup ramai. Kebanyakan pengunjung disana adalah mahasiswa yang berasal dari Indonesia.


Pantas saja kak Nicho tidak merasa takut saat papa mengancam akan mencabut semua fasilitas dan memblokir semua kartu miliknya.


"Paling satu minggu lagi baru mulai kuliah,,"


"Kalau kamu bosen, nanti kakak suruh temen kakak buat ajak kamu jalan - jalan. Hari ini kakak harus ke cafe, mau ngecek laporan,,"


"Siapa.? Aku nggak mau di temenin kak Edwin,,"


Aku mulai pasang kuda - kuda, jangan sampai kak Edwin yang menemaniku jalan - jalan. Aku sudah bisa menebak seperti apa sifat kak Edwin, dari sorot matanya saja sudah membuatku merinding. Aku ingat saat pertama kali bertemu dengannya, dia terus menatapku dari atas sampai bawah. Tatapan yang seolah menembus kain yang menutupi tubuhku.


"Kamu pikir kakak sudah gila, mana mungkin kakak nyuruh kamu jalan sama buaya darat itu."


"Biar Fatih saja yang temenin kamu, hari ini dia juga free."


Kak Nicho mengambil ponsel di atas meja, lalu mulai menghubungi kak Fatih.


"Ya."


"Dateng ke apartemen adik gue bro, sekarang,,"


Setelah itu kak Nicho mematikan sambungan telfonnya. Aku hanya bisa geleng kepala, enak sekali dia menyuruh orang untuk datang kesini tanpa basa - basi lebih dulu.


Aku dan kak Nicho mulai menghabiskan sarapan tanpa bersuara.


Kak Nicho memang selalu datang ke apartemenku setiap kali akan makan. Itu pun kalau dia sedang ada di apartemennya.


Apartemen ku dan kak Nicho masih berada di dalam gedung yang sama dan lantai yang sama. Kak Nicho melarang ku untuk tinggal bersama dengannya, karna apartemen kak Nicho sering di jadikan basecamp oleh teman - temannya. Dia takut aku akan menjadi bahan incaran para temannya yang memiliki hobby liar.


"Kakak pergi dulu Je."


"Kamu siap - siap aja sekarang, biar langsung jalan kalau Fatih datang,,"


Kak Nicho menyambar ponsel dan jaket, lalu beranjak dari duduknya.


"Oke kak,, siap,,"


Aku membereskan meja makan lebih dulu, kemudian mencuci piring.


Bel berbunyi, bersamaan dengan piring terakhir yang aku cuci. Segera ku letakan piring di tempatnya, lalu bergegas membukakan pintu.


"Haii kak,, maaf ya jadi ngerepotin,," Sapaku pada kak Fatih. Dia menatapku sejenak, lalu segera mengalihkan pandangan. Aku jadi ikut menatap diriku sendiri, karna tatapan mata kak Fatih seolah mengatakan jika ada yang salah pada diriku.


Apron sebatas lutut masih menempel di badanku, Celana pendek yang aku pakai tidak terlihat karna tertutup apron, aku mengenakan baju lengan pendek dengan kerah yang sedikit lebar di bagian bahu. Apanya yang salah.?


"Kamu belum siap - siap.? Aku tunggu disini ya,," Ucapnya tanpa berani menatapku. Aku jadi kikuk sendiri.


"Eh,, iya kak, baru selesai cuci piring." Sahutku.


"Kak Fatih udah udah sarapan.?"


Kak Fatih menggeleng pelan.


"Sarapan disini aja kak, sambil nunggu aku ganti baju. Aku masak banyak, sayang nggak ada yang ngabisin."


Tawarku. Ku lihat kak Fatih seperti orang yang kebingungan.


"Nggak usah Je, aku sarapan di luar aja nanti,,"


Tolaknya dengan suara lembut.


"Oh,, ya sudah terserah kakak aja. Masuk kak, aku ganti baju dulu ya,,"


Kak Fatih mengangguk, aku langsung masuk ke dalam untuk bersiap.


Saat aku kembali, rupanya kak Fatih tidak ikut masuk ke apartemenku. Di berdiri diluar, tepat di seberang pintu dengan bersender pada dinding sambil memainkan kan ponselnya.


"Kakak nunggu di luar.? Aku pikir tadi iku masuk,," Seru ku. Kak Fatih memasukkan ponsel di saku jaketnya, lalu menatap ke arahku.


"Astaghfirullah Je,, celana kamu,,," Pekiknya. Lagi - lagi di mengalihkan pandangan matanya.


Aku menatap ke bawah, ada apa dengan celana pendek ku.?


"Kenapa kak.?" Tanyaku heran.


"Kamu serius mau keluar pake celana pendek kaya gitu.?"


Aku mengangguk.


"Sebaiknya ganti celana panjang aja, aurat kamu kelihatan kemana - mana." Ujarnya memerintah dengan nada bicara yang terdengar khawatir.


"Aurat,,?" Ucapku menirukan perkataannya. Aku kembali menatap tubuh bagian bawah ku yang memang sedikit terekspose.


"Kalau nggak mau ganti, mending nggak usah jalan - jalan Je,," Katanya lagi.


"Tapi apanya yang salah kak.? Masih di batas wajar kok, bajuku juga lengan panjang,," Tanyaku bingung.


Celana yang aku pakai tidak terlalu pendek, bahkan aku melihat perempuan disini banyak yang memakai celana lebih pendek dari yang aku pakai saat ini.


"Jelas salah, itu terlalu pendek. Nyaris kayak nggak pake celana malah."


"Nggak baik cewe keluar pake pakaian minim. Bisa menggerakan syahwat dan bisa membuat seseorang melakukan kejahatan."


"Aku nggak mau ambil resiko kalau nanti di jalan kamu di gangguin cowo - cowo. Buruan ganti celana panjang aja,,"


Ucapnya panjang lebar, aku semakin bingung saja di buatnya.


"Oke,, oke,, aku ganti,," Ucapku cepat.


Dari pada aku terus berdebat dengan kak Fatih, hanya buang - buang waktu, lebih baik aku turuti saja perkataannya. Kalau aku terus menjawab, bisa - bisa waktuku habis untuk berdebat saja. Yang ada kami tidak jadi jalan - jalan.


Kami sudah keluar dari gedung apartemen. Aku hanya menurut saja mengikuti langkah kak Fatih. Dia bilang akan mengajakku ke tempat yang paling banyak didatangi oleh mahasiswa asal Indonesia.


"Kenapa nggak dari awal langsung kuliah di sini Je.? " Tanya kak Fatih setelah cukup lama dia diam, padahal sejak dari aku terus bercerita padanya.


"Waktu itu aku ngerasa nggak bakal berani kalau tinggal sendiri disini, lagipula 1 tahun lagi kan kak Nicho wisuda."


Kak Fatih hanya mengangguk saja.


"Rencana kak Fatih apa setelah lulus.?"


Sejujurnya agak canggung juga berkomunikasi dengan kak Fatih, tapi tidak enak kalau hanya diam saja. Kak Fatih hanya cerewet kalau sedang mengomel saja.


"Lanjut magister Je,," Sahutnya singkat.


"Magister.? Aku pikir kak Fatih sama kak Nicho,,,


"Nicho senior ku,,," Ujarnya memotong ucapanku.


"Oh,,," Aku hanya ber O ria.


Mataku langsung melotot saat melihat kedai es krim yang terlihat menggoda.


"Kak beli es krim yuk,," Aku menggandeng tangan kak Fatih dan menariknya. Namun yang di tarik hanya diam di tempat sambil terus menatap ke arah tanganku yang sedang menggenggam tangannya.


"Eh,, maaf kak,," Segera ku lepas lagi tangan kak Fatih.


Sepertinya dia syok karna aku memegang tangannya. Aku tidak sadar karna terlalu antusias.


...*****...


Tetap stay dan dukung novel ini ya😊