My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
Bab 94. Perseteruan ipar



Suasana di apartemen Fely sempat hening dengan ketegangan. Kenzo menatap tajam pada Nicho, sedangkan Jeje dan Fely terlihat takut. Mereka takut Kenzo akan berbuat sesuatu pada Nicho.


"Memang apa yang aku lakukan.?" Dengan santainya Nicho balik bertanya pada Kenzo.


Tentu saja sikap santai yang di tunjukan oleh Nicho, mampu menyulut emosi Kenzo.


Dia langsung mendekat, hendak melemparkan tinjuan pada Nicho.


"Hubby,,,!! Stop,,!" Teriak Jeje.


"Jangan pukul kakakku, atau aku akan marah,,!" Ancamnya. Dia menatap kesal pada suaminya itu.


Dengan berat hati Kenzo mengurungkan niatnya dan tidak jadi memukul Nicho.


"Kamu lihat sendiri sayang, kakak kamu sudah macam - macam pada Fely,,"


Keluh Kenzo dengan suara lembut.


Nicho berdecak sinis melihat perubahan suara Kenzo yang begitu lembut saat berbicara dengan Jeje. Sedangkan tadi dia meraung seperti singa yang sedang mengamuk.


"Kak, ini nggak seperti yang kakak pikirkan,,," Sanggah Fely. Kenzo meliriknya dengan tatapan tajam, menyuruhnya untuk tidak memberikan pembelaan.


"Memangnya apa yang kakakku lakukan.? Dia baru saja selesai mandi,,"


"Lagipula kita belum mendengarkan penjelasan dari mereka. Jangan asal menuduh dan memukul begitu saja by,," Keluh Jeje kesal.


Menurutnya Kenzo sangat berlebihan. Dia terlihat tidak terima ada Nicho di apartemen adiknya. Padahal belum tentu Nicho berbuat macam - macam pada Fely.


Kenzo menghela nafas. Dia mencoba untuk tenang agar tidak membuat istrinya marah.


Sejujurnya dia tidak terima karna Nicho ada di apartemen Fely, apalagi sampai mandi didalam kamar adiknya. Kenzo sudah berfikir macam - macam, dia takut adiknya akan di rusak oleh Nicho.


Kenzo sadar, dia juga sudah merusak Jeje. Tapi dia tidak seperti kebanyakan laki - laki yang akan mencampakkan perempuan yang sudah dia rusak. Buktinya dia bertanggung jawab dengan apa yang sudah dia perbuat pada Jeje.


Dia tidak mau Felicia diperlakukan seperti itu, karna dia tidak percaya Nicho bisa mempertanggung jawabkan perbuatanya pada Felicia.


"Pakai bajumu dan jelaskan padaku,," Ujarnya pada Nicho. Kenzo berjalan menuju sofa, mendudukkan dirinya di sana. Dia mencoba untuk menenangkan dirinya.


Dengan wajah yang terlihat kesal, Nicho kembali masuk kedalam kamar untuk memakai baju lebih dulu.


"Sabar by, jangan marah - marah. Nanti semakin terlihat tua,,," Seloroh Jeje. Dia tersenyum meledek ke arah Kenzo dengan menyengir kuda, tapi kemudian dia mengedipkan satu matanya.


Kenzo hanya mengulas senyum sembari menggelengkan kepalanya. Lama - lama dia akan semakin gila dengan tingkah menggemaskan yang di tunjukan oleh istrinya.


"Kak Fely, tolong bantuin bawa belanjaannya yah,,,"


Jeje mendekati 3 kantong belanjaan yang tadi diletakan oleh Kenzo di lantai. Dia mengambil 1 kantong belanjaan lagi, menyisakan 2 untuk dibawa oleh Fely.


"Kalian belanja dulu untukku.? Kenapa harus repot - repot,,," Ujarnya. Dia membawa kantong belanjaan itu dan mengikuti Jeje yang berjalan ke arah dapur.


"Bukan repot kak, tapi my hubby perhatian sama kak Fely,," Sahutnya dengan suara khasnya yang cerewet.


Fely terkekeh geli mendengar Jeje yang memanggil kakaknya dengan sebutan my hubby.


"Aku nggak nyangka ternyata selama ini kalian menjalin hubungan,," Ujar Fely.


Jeje menatap Fely yang sedang menata belanjaan di dalam kitchen set.


"Iya, aku juga nggak nyangka kalian sekongkol buat ngirim aku ke Singapur, biar aku nggak liat pertunangan itu. Untung saja aku tau sebelum berangkat,,," Keluh Jeje kesal.


Fely tersenyum, dia menghentikan kegiatannya dan menatap serius pada Jeje.


"Kak Kenzo sangat mencintaimu. Dia tidak mau kamu terluka karna mengetahui pertunangan itu. Saat itu dia belum bisa mendapatkan bukti untuk membatalkan pernikahannya, itu sebabnya dia memilih untuk menutupinya dari kamu,," Jelasnya.


Fely ingat saat Kenzo datang padanya, menceritakan hubungannya dengan Jeje dan meminta tolong untuk membawa Jeje ke Singapur, bahkan menyuruhnya untuk terus menjaga Jeje selama disana.


"Ya aku tau itu kak,," Sahutnya lemah. Rasanya menyakitkan mengingat kembali kejadian itu.


"Kakak harus jelaskan padaku, kenapa kak Nicho sudah ada disini.?" Tanya Jeje penuh selidik. Dia bahkan menatap Fely dari ujung kaki sampai kepala, ingin memastikan jika tidak ada sesuatu yang mencurigakan.


"Kalian nggak habis ngelakuin,,,


"Apa sih Je. Kami nggak mungkin melakukannya,," Ujarnya memotong ucapan Jeje. Tapi Fely tertunduk malu, dia memang tidak melakukan hubungan suami istri dengan Nicho. Tapi mereka sempat bercumbu mesra sebelum Nicho mandi tadi.


"Nicho datang jam 7, aku juga nggak tau kalau dia akan pulang,,"


"Dia kelelahan dan langsung tidur di kamarku, baru bangun 30 menit yang lalu."


"Kami nggak ngapa - ngapain,,,"


Jelasnya.


Dengan santainya Nicho bilang akan menginap di apartemennya selama 1 minggu ke depan.


Fely tau kalau Nicho tidak mau kembali ke rumahnya lagi, karna sebelum Nicho berangkat ke New York setelah pertengkaran dengan papanya, Nicho datang menemuinya dan memintanya untuk kembali padanya. Dia bahkan meminta maaf atas nama papanya yang sudah menghinanya.


Fely pun menyetujui permintaan Nicho untuk kembali padanya. Terlebih, dia memang masih memiliki perasaan pada Nicho.


"Syukurlah, aku kira kalian baru saja bergulat nikmat di atas ranjang."


Ucap Jeje lega.


"Ya ampun Je,,!" Pekik Fely. Dia sampai membungkam mulut Jeje.


"Anak dibawah umur bicaranya sudah seperti itu,," Keluhnya. Jeje menyingkirkan tangan Fely dari mulutnya.


"Kakak lupa, aku sudah menikah. Memangnya kenapa kalau bicara seperti itu,," Sahutnya santai.


Sedikitpun dia tidak risih pada Fely.


"Ya baiklah,," Jawabnya pasrah.


"Selamat atas pernikahan kalian,,," Fely memeluk Jeje dengan penuh kasih sayang. Sejak menjalin hubungan dengan Nicho, Fely memang sudah menganggap Jeje seperti adiknya sendiri.


"Semoga kalian selalu bahagia,,,"


"Terima kasih adik ipar yang nanti akan menjadi kakak ipar,,," Jeje tertawa mengatakan itu.


"Rumit sekali ya,,," Sambungnya lagi. Dia semakin tertawa, Fely yang baru menyadari akan hal itu juga ikut tertawa renyah.


Sementara itu, Kenzo langsung mengintrogasi Nicho begitu dia keluar kamar dan menghampirinya.


"Apa kamu nggak sanggup menyewa kamar di hotel.? Kenapa harus tidur di apartemen Felicia.!" Geram Kenzo.


Dia sudah mendengar penjelasan Nicho, jika dirinya baru sampai dari New York dan langsung ke apartemen ini.


"Aku harus hemat.! Kamu tau sendiri semua fasilitasi sudah di cabut oleh papaku.!" Ujar Nicho beralasan. Padahal dia bisa saja menginap di hotel, tapi bukankah lebih menyenangkan jika bisa bersama kekasihnya. Begitu pikirnya.


Lagipula dia harus menjalani LDR dengan Fely, yang mengharuskan mereka jarang bertemu dalam waktu yang lumayan lama.


Selagi ada kesempatan untuk bersama, kenapa tidak di manfaatkan.


Nicho memang cerdas dalam urusan yang satu ini.


Kenzo berdecak kesal. Tapi dia percaya begitu saja, karna dia sudah mendengar sendiri dari Jeje kalau papanya mencabut semua fasilitas untuk Nicho.


Kenzo tidak tau saja kalau Nicho memiliki bisnis di New York, meskipun masih terbilang kecil. Tapi jangankan untuk menginap di hotel, biaya tiket pulang pergi saja bisa dia beli sendiri.


Kenzo mengeluarkan dompet dalam saku celananya, dia mengeluarkan kartu kredit dan memberikannya pada Nicho.


"Pakai ini selama kamu di Indonesia.!" Tegasnya.


"Malam ini jangan sampai kamu tidur disini.!"


"Kalau sampai kamu tidur disini, jangan harap aku mengijinkan Felicia untuk menikah denganmu.!" Ancamnya.


"Kamu mengancam ku.?!" Geram Nicho tak terima. Namun dia menerima kartu kredit dari Kenzo. Ide gila untuk menguras uang Kenzo, muncul dalam benaknya. Suami dari adiknya itu terlalu menyebalkan, sesekali dia harus mengerjainya.


"Aku yang berhak untuk menentukan siapa yang akan menjadi suami Felicia nantinya.!" Ujar Kenzo tak mau kalah. Keduanya sama - sama tak mau kalah dengan suara tegas dan sikap dinginnya.


"Apa kamu lupa kalau istrimu adalah adikku.?!"


"Kamu seenaknya saja menggunakan cara licik untuk menikah dengan adikku. Dasar tidak tau diri, berbuat seenaknya saja,"


Nicho memelankan kalimat terakhirnya. Namun ucapannya masih terdengar di telinga Kenzo. Membuat si empunya semakin meradang.


"Apa kamu bilang.?!" Kenzo melotot menatap. Nicho.


"Apa.?!" Ketus Nicho.


"Kamu,,,!!


Jeje yang sejak tadi mendengar obrolan sengit di antara suami dan kakaknya, memutuskan untuk menghampiri mereka.


"Ya ampun hubby,,!! Kak Nicho.!! Kalian seperti anak kecil saja.!" Tegur Jeje.


Keduanya seketika terdiam, tapi masih saling melirik tajam.


Perdebatan sengit mereka pun terpaksa berakhir.