
Yang panas mau lewat dulu,,,
...***...
Kedatangan Jeje dan Kenzo langsung di sambut hangat oleh Papa Alex dan Mama Rissa. Meski baru beberapa hari yang lalu mereka bertemu, nyatanya kerinduan mereka pada putri cantiknya itu sangat besar.
"Sayang,,," Seru mama Rissa. Dipeluknya Jeje dengan erat penuh kasih sayang.
Mama Rissa dan Papa Alex sudah mengetahui kedatangan Mirna. Wanita yang dulu hampir berhasil merusak rumah tangganya, tadi menghubungi papa Alex 1 jam yang lalu.
Kini keduanya sudah tau kalau Jeje baru saja bertemu dengan ibu kandungnya.
"Jeje kangen mamah,,," Ujarnya dengan suara yang tercekat. Mata Jeje bahkan berkaca - kaca. Membayangkan sakitnya hati mama Rissa dulu saat ibu kandungnya berusaha menghancurkan rumah tangga mama Rissa. Berusaha mengambil semua yang di miliki oleh mama Rissa karena rasa iri.
Siapa yang tidak akan terluka kalau penghancur rumah tangganya adalah sahabatnya sendiri.
Melihat kedua wanita yang dicintainya saling berpelukan dengan rasa sayang, papa Alex tidak diam saja, dia mendekat dan memeluk keduanya.
"Papa juga mau di peluk,," Tuturnya dengan tawa kecil. Jeje dan Mama Risa ikut tertawa dengan rona bahagia.
Kenzo mengulas senyum melihat kehangatan yang terjadi di depannya. Laki - laki itu merasa bersyukur karena kedua orang tua Jeje sudah bisa menerima dan menyayangi Jeje dengan tulus.
Selama ini tentu saja Kenzo mengetahui sikap cuek dan ketidak pedulian mereka pada Jeje, hingga remaja itu nekat memilih menjadi sugar baby.
Namun dibalik kesedihan yang di alami oleh Jeje, Kenzo menyelipkan rasa syukur karena bisa bertemu dengan remaja itu yang kini menjadi istrinya.
"Ayo masuk,,," Papa Alex menyuruh keduanya masuk ke ruang keluarga.
Jeje mengangguk, dia masuk kedalam bersama mama Rissa sambil terus mendekap lengannya.
Sementara itu Kenzo dan Papa Alex berjalan di belakang mereka.
"Jeje baru saja bertemu dengan,,,
"Saya tau Ken. Tolong awasi Jeje, jangan sampai dia bertemu dengan ibu kandungnya lagi,,"
Papa Alex memotong ucapan Kenzo. Laki - laki itu terlihat bingung karna rupanya Papa Alex sudah mengetahui bahwa Mirna ada di disini.
"Jadi Papa sudah tau.? Kenapa Papa tidak mencegahnya untuk tidak datang ke Indonesia,,?" Kini giliran Papa Alex yang menatap Kenzo dengan bingung dan penuh tanya.
"Apa yang kamu ketahui tentang Mirna.?" Tanya Papa Alex. Kini wajahnya terlihat serius menatap Kenzo. Laki - laki paruh baya itu bahkan sampai menghentikan langkahnya.
"Maaf Pah,,," Ucap Kenzo lirih. Dia merasa lancang karena sudah mencari tau tentang masa lalu keluarga istrinya, tanpa sepengetahuan siapapun.
"Saya tau semuanya,," Tuturnya.
"Termasuk Mirna yang menukar Jeje dengan perusahaan.?" Tanya Papa Alex lirih. Dia takut ucapannya akan di dengar oleh Jeje.
Kenzo mengangguk cepat. Wajah Papa Alex seketika terlihat cemas.
"Tolong rahasiakan ini dari Jeje. Dia akan semakin terluka jika mengetahui perbuatan Mirna,," Pintar Papa Alex memohon.
Selama ini dia menyadari kesalahannya yang sudah mengabaikan Jeje hanya karena membenci Mirna. Papa Alex mengerti, sudah banyak kesedihan yang dirasakan oleh Jeje selama ini karena sikapnya. Sekarang Jeje sudah bahagia, dia tidak ingin melihat Jeje terluka jika mengetahui ibu kandungnya mau memberikan Jeje padanya dengan syarat meminta perusahaan sebagai gantinya.
"Saya tidak mungkin melukai istri saya Pah,," Tegas Kenzo. Mana mungkin dia tega memberi tahu Jeje akan hal itu. Terbukti selama ini Kenzo tidak pernah bercerita apapun tentang masa lalu keluarga Jeje meski dia sudah mengetahui semuanya.
Papa Alex menepuk pelan bahu Kenzo.
"Saya percaya sama kamu Ken.!" Ucapnya yakin dan bangga. Tidak salah dia mengijinkan Jeje menikah dengan Kenzo. Papa Alex sudah tau seperti apa sikap Kenzo. Menantunya itu sangat dewasa dengan pembawaannya yang tenang namun tegas. Juga sikapnya yang tentu saja sangat baik dan sopan.
Hampir 1 jam lebih mereka mengobrol di ruang tamu. Jam sudah menunjukan pukul 10 malam. Jeje terlihat sudah menguap beberapa kali, namun enggan untuk masuk ke kamar.
Remaja ini masih asik menempel di lengan besar Kenzo sambil menyimak obrolan kedua orang tuanya dan suaminya itu.
"Kamu tidur duluan saja,," Ucap Kenzo lirih. Di usapnya punggung Jeje beberapa kali.
Remaja itu hanya menggeleng pelan.
"Kalian tidur saja, Papa sama Mama juga mau tidur."
Ujar Papa Alex. Rupanya sejak tadi dia memperhatikan anak dan menantunya itu.
Melihat Jeje yang sangat dekat dan lengket pada Kenzo, membuat Papa Alex merasa bersyukur.
Itu artinya Kenzo adalah sosok suami yang penuh cinta dan kehangatan.
Jeje dan Kenzo mengangguk serempak, keduanya pamit pada Papa Alex dan Mama Rissa. Lalu beranjak dari ruang keluarga.
"Gendong by,,," Rengek Jeje manja. Kenzo terlihat kaget mendengar permintaan istrinya yang tidak tau tempat itu.
Mungkin Papa Alex dan Mama Rissa mendengar rengekan Jeje, karena jarak mereka belum terlalu jauh.
"Nanti saja kalau sudah di atas,," Sahut Kenzo lirih.
Penolakan Kenzo membuat wajah Jeje cemberut seketika.
"Nggak mau by, pokoknya aku mau gendong sekarang,," Jeje memposisikan diri didepan Kenzo. Kedua tangannya langsung melingkar erat di leher Kenzo dan menempel sempurna di badan Kenzo. Hal itu membuat Kenzo langsung menyangga badan Jeje yang sudah berada dalam gendongannya.
"Mama sama Papa kamu ngeliat.!" Tegur Kenzo.
"Memangnya kenapa.?" Tanya Jeje dengan nada polosnya.
"Kan cuma gendong by, bukan ciuman atau begituan,," Ujarnya cuek.
Kenzo hanya diam saja dengan helaan nafas pelan.
"Kamu berat sayang,," Keluh Kenzo setelah menyelesaikan pijakan anak tangga yang terakhir.
Jeje hanya terkekeh kecil, sedikitpun tidak berniat untuk turun dari gendongan Kenzo. Dia justru mengeratkan tangannya di leher Kenzo.
Laki - laki itu paham kalau istrinya enggan turun. Dia terus menggendong Jeje sampai masuk ke dalam kamar Jeje dengan nuansa feminim yang mendominasi.
"Om,,," Panggil Jeje lirih. Dia menatap wajah Kenzo dengan jarak yang sangat dekat.
Mendengar Jeje yang lagi - lagi memanggilnya om, membuatnya mengerutkan dahi.
"Om lagi.?" Ujar Kenzo setengah protes.
Jeje mengangguk antusias.
"Aku pengen manggil om,,"
"Aku kangen jadi sugar babynya om,," Tuturnya manja sedikit malu - malu.
Kenzo menarik sudut bibirnya, membentuk seulas senyum terlihat mesum.
"Termasuk kangen berbuat mesum,,?" Tanya Kenzo.
Remaja dalam gendongannya mengangguk cepat.
Kenzo tersenyum lebar. Ini yang sudah dia tunggu sejak tadi. Kenzo pikir malam ini akan berakhir begitu saja karena Jeje yang terlihat sudah mengantuk, tapi rupanya Jeje yang justru menginginkan kegiatan panas itu.
Kenzo berjalan menuju ranjang, dia duduk di ujung ranjang hingga membuat Jeje berada di pangkuannya dalam posisi saling berhadapan.
Jeje masih setia melingkarkan tangan di leher Kenzo. Sementara itu Kenzo melingkarkan tangannya di pinggang ramping Jeje.
Mereka saling menatap, seluas senyum mengembang di bibir keduanya. Tatapan yang semakin lama berkabut gairah.
Tangan Kenzo mulai menggerayangi tubuh bagian belakang Jeje. Bahkan mulai menyusup kedalam dress longgar yang di kenakan oleh istrinya.
Jeje meremas kuat rambut Kenzo saat merasakan gelayar kenikmatan yang mulai menjalar di tubuhnya.
Kenzo mendekatkan wajahnya, dilahapnya bibir merah mudah milik Jeje. Ciuman lembut itu berubah panas dan menuntut saat Jeje menyambutnya. Suara kecapan bibir mereka bahkan terdengar jelas.
"Omm,,," Desah Jeje saat kedua asetnya di hisap bergantian dengan remasan lembut.
Dress bagian atas sudah turun hingga sebatas perut. Kain penutup asetnya itu bahkan sudah tergeletak di lantai.
Hawa dingin di kamar itu sudah berubah panas.
Mendengar suara desahan yang terus keluar dari mulut Jeje, membuat Kenzo semakin bersemangat untuk membuat istrinya itu terus mengeram nikmat.
Dibaringkannya tubuh Jeje dengan lembut di tengah ranjang. Kenzo menyingkirkan semua kain yang tersisa di di tubuh Jeje.
"Om,,,!" Pekik Jeje, dia menahan kepala Kenzo yang akan mendekat di antara kedua pahanya.
"Nikmati saja,," Ujar Kenzo sembari menyingkirkan tangan Jeje.
Remaja itu dibuat menegang, suara desahannya semakin kencang. Tangannya bahkan terus mencengkram rambut Kenzo.
"Kok udahan om.?" Protes Jeje kecewa. Kenzo tersenyum melihat ekspresi wajah polos istrinya yang sedang berkabut gairah.
"Pakai ini,,," Ujar Kenzo sembari menatap benda miliknya. Jeje mengangguk patuh.
Hanya selang beberapa detik, suara desahan yang bersautan menggema di kamar itu.
Kini tubuh polos keduanya sudah dibalut dalam selimut yang sama. Jeje memeluk erat tubuh suaminya, dia menjadikan dada Kenzo sebagai bantalnya.
"Aku nggak mau ketemu sama wanita itu lagi om,," Ujar Jeje sedih. Entah kenapa dia sama sekali tidak merasakan apapun saat melihat ibu kandungnya untuk pertama kali. Yang ada Jeje justru terus memikirkan perasaan mama Rissa.
"Jangan pikirkan itu. Aku akan mengurusnya nanti,,"
Kenzo tidak ingin istrinya itu merasa terbebani dengan terus memikirkan ibu kandungnya.
Mungkin salah jika dia melarang Mirna bertemu dengan anak kandungnya. Namun Kenzo tidak mau mengambil resiko untuk membuat Jeje semakin sedih dan terluka nantinya.
...***...
Jangan lupa like dan votenya🥰