
"Sayang,,," Panggil Kenzo lirih. Dia mengguncang pelan bahu Istrinya yang tertidur pulas.
Rupanya Jeje langsung tertidur setelah melakukan penyatuan untuk kesekian kalinya. Remaja itu sangat kelelahan hingga akhirnya mengantuk.
Jeje tidak bergerak sedikitpun meski Kenzo mengguncang lengannya, dia masih damai dalam tidurnya. Laki - laki itu jadi merasa bersalah pada istrinya, dia sudah mengerjai istrinya dan membuatnya kelelahan.
Permintaan istrinya yang mengajaknya ke mall, harus tertunda hingga berjam - jam akibat melakukan kegiatan panas.
"Bangun Je,,," Sekali lagi Kenzo mengguncang lengan Jeje.
Wanita cantik di sampingnya itu mulai menggeliat kecil.
"hmm,, kenapa by,? Aku ngantuk,,," Gumam Jeje dengan mata yang masih terpejam. Dia justru semakin menarik selimut dan merubah posisi membelakangi Kenzo.
Kenzo tersenyum simpul, merasa kasian sekaligus gemas dengan istrinya.
"Aku mau lagi sayang,,," Bisik Kenzo sembari memeluk Jeje dari belakang.
Saat itu juga Jeje langsung berbalik badan, menatap Kenzo dengan mata yang membulat sempurna.
"Ya ampun by.! Apa nggak cukup udah nyiksa aku sampe kelelahan seperti ini.!" Keluh Jeje kesal.
Dia mendorong dada Kenzo hingga menjauh dari sampingnya.
"Aku nggak mau lagi.!" Geramnya.
Jeje bangun, dia menggulung tubuhnya dengan selimut.
"Aku bercanda Je,," Kenzo terkekeh geli.
"Ayo mandi. Kita ke mall sekarang."
Jeje tidak menghiraukan ucapan Kenzo, dia turun dari ranjang dan berjalan ke kamar mandi.
"Je,,!" Seru Kenzo untuk menghentikan langkah istrinya.
"Aku cape by, mau mandi terus tidur." Sahutnya tanpa menoleh.
"Lain kali saja ke mallnya,,"
Jeje sudah menghilang di balik pintu.
Kenzo terlihat menghela nafas berat, tidak menyangka istrinya itu akan marah padanya.
Sementara itu Jeje terkekeh geli di dalam kamar mandi, dia yakin Kenzo pasti merasa kesal dan bersalah karna sudah membuatnya marah.
Remaja itu masih saja mau menjahili suaminya.
Setelah mandi untuk kedua kalinya, Jeje keluar kamar mandi dengan berbalut handuk kimono. Dia sedikit tersentak saat mendapati suaminya berdiri tepat di depan pintu kamar mandi dengan raut wajah yang terlihat cemas.
"Kamu masih marah.?" Pertanyaan itu langsung di lontarkan oleh Kenzo begitu dia keluar dari kamar mandi.
Jeje bersikap cuek, mengangkat kedua bahunya acuh dan berjalan melewati Kenzo.
"Aku janji nggak akan kayak gitu lagi,," Ujar Kenzo lagi sembari mengikuti langkah Jeje.
Jeje masih belum puas untuk membuat Kenzo merasa bersalah, dia masih diam dan terus melangkah masuk ke walk in closet.
"Je,, aku minta maaf,,," Kenzo meraih tangan Jeje, membalik tubuh istrinya hingga berhadapan.
Tatapan sendu Kenzo membuat Jeje tidak tahan lagi, dia terbahak - bahak.
"Hahaha,,, kamu lucu banget by,,," Ujarnya geli. Jeje mengalungkan kedua tangan di leher Kenzo, bergelayut manja dengan tawa renyahnya yang masih menggema.
Kenzo mendelik, rupanya dia masuk ke perangkap Jeje.
"Awas kamu ya.!!" Geram Kenzo, dia langsung mengangkat tubuh Jeje hingga membuat remaja itu seperti bagi koala yang melekat di tubuh bagian depannya.
"Haha maaf by,, buruan turunin, aku belum pake baju,,," Pintar Jeje.
"Nggak akan.!"
"Kamu sudah berani mengerjai suamimu sendiri.!" Geram Kenzo. Dia membawa Jeje keluar dan berjalan ke arah ranjang.
Remaja itu langsung memberontak dalam gendongan Kenzo.
"Hubby maaf,, turunin pleaseee,,," Rengek Jeje dengan wajah yang panik. Dia takut Kenzo akan kembali memaksanya untuk melakukan penyatuan.
"Jangan harap, kamu harus di hukum dulu,,!"
Kenzo melempar pelan tubuh Jeje ke atas ranjang.
Dia ikut naik ke atas ranjang, membuat Jeje memberingsut mundur.
"By jangan bercanda pleaseee,, aku beneran cape by,," Rengeknya memohon.
Kenzo tidak menghiraukan ucapan Jeje, dia justru mengungkung tubuh istrinya.
Bibir merah muda Jeje langsung menjadi sasarannya, Kenzo melu**t dan menyesap bibir istrinya tanpa henti.
Tangan nakalnya membuka tali kimono, membuat tubuh bagian atas Jeje terbuka seluruhnya. Ciuman Kenzo semakin turun kebawah, menyesap lembut leher jenjang istrinya.
Perlawanan Jeje seakan tidak berarti, kedua tangannya bahkan di tekan oleh Kenzo.
"Sudah by,, eummhhh,,,"
Jeje mendesah saat Kenzo menyesap salah satu aset kembarnya.
Rasa nikmat yang menjalar, membuat Jeje kehilangan akal sehatnya. Dia seolah enggan untuk memberontak lagi. Tubuhnya menginginkan lebih.
Melihat Jeje yang sudah pasrah dan tidak memberontak lagi, Kenzo melepaskan tangan Jeje. Dia terus memberikan rangsangan di aset kembar Jeje yang selalu membuat remaja itu melayang.
"Byyy,,," Jeje meremas rambut Kenzo, menekan kepalanya untuk menyesap lebih dalam. Tapi saat itu juga Kenzo menyingkir dari atas tubuh Jeje.
"Itu hukumannya,,,!" Seru Kenzo dengan seulas senyum, dia berlalu dan masuk ke kamar mandi, meninggalkan Jeje yang mematung dengan gairah yang seketika meredup.
Jeje mendengus kesal, rupanya suaminya itu hanya ingin membuatnya terangsang, setelah itu pergi begitu saja.
"Hubbyyyyy,,,!!" Teriak Jeje kesal, namun dia juga malu karna sudah menikmati cumbuan Kenzo.
Mereka dua seakan tidak ada habisnya untuk saling menjahili satu sama lain. Sampai akhirnya keduanya sepakat untuk tidak lagi saling menjahili.
"Jangan bercanda lagi, oke.?!" Ujar Kenzo.
"Sekarang waktunya kita kencan,,"
Jeje mengulum senyum, merasa berbunga - bunga mendengar kata kencan dari mulut Kenzo.
"Siap boss,,," Jeje mengacungkan kedua jempolnya, tak lupa mengembangkan senyum manisnya pada Kenzo.
"Good girl,," Kata Kenzo sembari mengusap lembut kepala Jeje.
...****...
Mobil mewah yang di tumpangi keluarga Karin, masuk kedalam perumahan yang cukup bagus.
Sebagai grabcar, tentu saja Bapak Karin pernah masuk ke perumahan yang menurutnya mewah ini.
Rumah minimalis bergaya modern itu terlihat mewah baginya.
Reynald memarkirkan mobilnya di halaman rumah yang memiliki 2 lantai.
"Sudah sampai,," Ucapnya datar, dia segera turun dari mobil. Karin dan kedua orang tuanya ikut menyusul.
Taksi online yang di tumpangi Radit juga baru berhenti di depan rumah.
"Kamu itu serius sewain rumah ini buat kita.?" Tanya Bapak Karin, dia sedang mengamati rumah lantai 2 di hadapannya.
"Bapak pikir saya nggak punya uang untuk beli rumah ini.?"
"Rumah ini akan saya beli untuk tempat tinggal kalian,," Jelasnya.
"Kamu ini.!!" Bapak Karin hampir saja memukul calon menantunya yang tidak beretika itu.
"Sudah Pak,," Cegah Karin dan Ibunya.
"Sudah gimana Bu.? Dia itu harus dipukul dulu biar nggak sombong."
"Calon menantu nggak ada sopan - sopannya bicara sama kita.!" Geram Bapak Karin sambil mendelik pada Reynald.
"Kak Reynald memang begitu Pak, udah dari sananya kaku dan sombong." Celetuk Karin.
Tatapan setajam silet di arah Reynald pada Karin. Namun Reynald hanya diam tanpa berkomentar apapun.
"Ayo masuk, rumahnya sudah di bersihkan. Barang - barangnya juga lengkap di dalam."
Reynald berjalan mendahului mereka.
"Bapak, Ibu, bantuin bawain nih,,," Seru Radit.
Keduanya langsung membawa tas mereka, termasuk Karin yang ikut membawa tas besar miliknya.
"Wahh,,, keren juga Pak rumahnya."
"Ini beneran buat kita pak.? Kalo aa minta motor sama dia di beliin nggak Pak.?"
"Kamu ini.!!" Tegur Bapak tak suka.
"Jangan manfaatin orang,,"
"Loh Bapak aja minta rumah,," Celuk Radit.
"Siapa yang minta rumah.? Bapak itu kan cuma minta di sewain rumah baru biar kita bisa pindah."
"Lagian tadinya Bapak itu cuma mau ngerjain dia, eh ternyata beneran langsung di bawa kesini,," Jelasnya jujur. Terlihat sekali kalau orang tua Karin sangat polos.
"Bapak sama aa tuh nggak ada bedanya,," Ibu Karin menimpali. Karin hanya menggeleng pelan mendengar perdebatan mereka.
Reynald sudah berdiri di ruang tamu saat Karin dan keluarganya masuk.
"Ada 3 kamar di rumah ini, cukup untuk kalian."
"Saya permisi dulu, ada urusan."
"Besok saya kesini lagi, sesuai janji saya untuk membawa kedua orang tua saya,,"
Reynald berpamitan pada kedua orang tua Karin.
"Begini dong, sopan sedikit sama yang lebih tua.!" Komentar bapak setelah Reynald menjabat tangannya.
"Jangan songong,," Tambahnya lagi.
Reynald hanya diam, malas untuk menanggapi.
"Makasih banyak loh ini sudah di pinjami rumah." Ujar Bapak tulus.
"Bukan di pinjami, nanti buat Bapak rumah ini,,"
"Saya permisi,," Reynald membungkuk hormat, laku keluar begitu saja.
"Tunggu kak,,"
Karin menghentikan langkah Reynald yang sudah sampai di halaman rumah.
"Apa.?" Tanya Reynald datar.
"Kakak nggak perlu kasih rumah ini untuk kami, itu terlalu mewah,," Karin menundukan kepalanya, merasa tidak enak hati pada Reynald.
"Terima saja sebelum aku berubah pikiran." Tegasnya.
"Aku pulang dulu. Hubungi aku kalau butuh sesuatu."
"Ada banyak bahan makanan di dapur. Jangan lupa makan dan minum obat dari rumah sakit,,"
Belum sempat Karin menjawab, Reynald sudah menghilang dari hadapannya. Masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya.
Karin hanya mematung dengan perasaan yang bergemuruh. Hatinya menghangat setelah mendapatkan sedikit perhatian dari Reynald.
Karin tau, perhatian itu di berikan Reynald untuk calon anak mereka, bukan untuknya.