
"Kita makan dulu,," Kenzo membelokan mobilnya ke restoran yang berada di seberang hotel tempat mereka menginap.
Jeje melirik sekilas pada suaminya yang fokus menyetir. Dia memang selalu terlihat tampan kalau sedang memasang wajah serius seperti itu.
"Aku mau makanan Jepang by,," Seru Jeje.
Kenzo meliriknya dengan kening yang mengkerut. Sedikit kesal karena sudah memarkirkan mobil di restoran cepat saji.
"Disini jauh dari restoran Jepang, sayang. 20 menit dari sini,," Tutur Kenzo lembut.
Jeje menghela nafas pelan.
"Ya sudah, disini saja by." Sahutnya malas.
Perut laparnya bahkan seketika terasa kenyang, tidak berselera untuk makan di restoran cepat saji itu.
Jeje membuka seatbelt, lalu membuka pintu mobil untuk keluar.
"Tutup lagi pintunya,," Tegas Kenzo. Jeje menoleh, menatapnya bingung.
"Kenapa by,,?"
"Kita ke restoran Jepang,," Kenzo mengusap pelan pucuk kepala Jeje, tak lupa melempar senyum penuh sayang pada istrinya itu.
Seketika itu mata Jeje berbinar, dia tersenyum lebar pada Kenzo.
Jeje merasa seberuntung itu karena Kenzo selalu berusaha untuk membuatnya senang dengan menuruti keinginannya.
"Yeayy,, makasih hubby sayang,," Jeje mendekat, mengalungkan tangan di leher Kenzo lalu mencium singkat bibir laki - laki itu.
Kenzo hanya mengulas senyum sembari menggelengkan kepalanya.
Semudah itu membuat istrinya tersenyum bahagia, hanya menuruti permintaannya yang cukup sederhana.
Dia memang tidak pernah salah memilih Jeje sebagai teman hidup untuk selamanya.
...***...
"Ayo hubby,," Rengek Jeje manja. Dia menarik lengan besar suaminya, bahkan mendekap erat lengan itu.
Jeje sudah tidak sabar untuk memakan makanan Jepang yang sangat dia inginkan saat ini.
"Kamu ini mau makan atau mau ngajak gulat.? Kenapa nggak sabaran,," Ledek Kenzo.
"Kalau itu sih hubby yang tidak sabaran,," Celetuk Jeje cepat.
"Gimana mau sabar, orangnya bikin candu,," Bisiknya lembut. Jeje mengulum senyum, namun tidak menanggapi ucapan Kenzo yang sedang memujinya.
Keduanya masuk kedalam restoran. Tempat itu tidak terlalu ramai. Jeje langsung mengajak Kenzo menempati meja yang berada di bagian pojok ruangan. Laki - laki itu menurut, sambil mengedarkan pandangan di sekitarnya.
"Kita pindah restoran saja,,!" Suara tegas Kenzo membuat Jeje langsung menatapnya heran.
Dia juga menatap kecewa pada Kenzo. Padahal dia sudah sangat senang karna Kenzo mau menuruti permintaannya.
"Kenapa by.?" Tanya Jeje dengan nada kecewa. dan sedikit merengek.
"Aku pengen makan disini. Lagipula kita udah sampai, kenapa harus pindah,," Protesnya bingung.
"Jangan membantah Je, ayo pindah.!" Kenzo menggandeng tangan Jeje, menariknya agar istrinya itu beranjak dari duduknya.
"Kita akan cari restoran Jepang yang lain,," Ujar Kenzo untuk membujuk Jeje.
Namun Jeje enggan beranjak, karena Kenzo tidak memberikan alasan kenapa bersikeras untuk mengajaknya keluar dari restoran itu.
"Aku nggak mau by, pokoknya mau makan disini."
"Kalau hubby mau pindah, pindah saja. Aku bisa balik ke hotel sendiri,," Jeje menarik tangannya dari genggaman Kenzo. Duduk santai dengan membuang pandangan ke arah lain.
Entah kenapa kali ini Kenzo membuatnya sangat kesal. Padahal dia sudah tidak sabar untuk makan di restoran ini.
Kenzo menghela nafas pelan. Dia duduk di sebelah Jeje, mengusap lembut punggung istrinya itu.
"Menurut padaku kali ini saja,," Ucap Kenzo lembut.
Jeje masih enggan untuk menatap Kenzo, wajahnya sudah cemberut dengan mata yang berkaca - kaca. Terasa perih hingga ingin menangis.
"Memangnya selama ini aku sering membantah.?" Tanya Jeje. Suaranya sedikit bergetar menahan tangis. Saat ini dia benar - benar ingin menangis.
"Bukan seperti itu sayang,," Sangkal Kenzo. Dia masih berusaha untuk membuat Jeje mengerti dan mau pindah ke restoran lain.
"Maksudku, turuti keinginanku saat ini. Aku janji akan cari restoran Jepang yang lain di sekitar sini."
"Kita pindah ya,,?" Ajak Kenzo lembut.
Helaan nafas berat keluar dari mulut Jeje, dia menoleh dan menatap suaminya.
"Kalau hubby nggak mau temenin aku makan disini, nggak masalah. Aku bisa makan dan pulang sendiri by." Ucap Jeje pelan.
Kenzo tidak menjawab, dia terlihat kebingungan dan cemas. Entah harus bagaimana untuk membujuk Jeje agar mau keluar dari restoran.
Tapi melihat raut wajah Jeje yang terlihat sangat sedih, Kenzo tidak tega untuk kembali memaksanya.
Dengan terpaksa Kenzo tetap membiarkan Jeje makan di restoran itu.
Keduanya memesan makanan, Jeje terlihat cuek pada Kenzo saat memesan makanan pada pelayan yang menghampiri mejanya.
Hingga pelayan itu pergi, Jeje masih enggan menatap Kenzo.
"Jangan marah." Pintar Kenzo. Dia menggenggam tangan Jeje yang berada di atas meja.
"Maaf,," Ucapnya tulus. Laki - laki itu merasa bersalah karna sudah membuat Jeje sedih.
"Pak Kenzo,,?!" Sapaan seseorang membuat Kenzo dan Jeje menoleh bersamaan.
Raut wajah Kenzo terlihat cemas, dia tersenyum kikuk pada laki - laki paruh baya yang baru saja menyapanya.
Sementara itu, wanita paruh baya yang bersamanya terus menatap Jeje.
"Malam Pak Ken,," Ucapnya ramah sembari mengulurkan tangan pada Kenzo.
"Romantis sekali pengantin baru,," Ujarnya lagi dengan senyum yang mengembang. Dia bergantian menatap Kenzo dan Jeje.
Jeje hanya membalasnya dengan senyum tipis.
"Malam Pak Edwin,," Kenzo membalas jabatan tangan Pak Edwin.
"Pengantin baru.?" Wanita di sebelah Pak Edwin terlihat kaget.
"Kalian sudah menikah.?" Tanya lagi. Manik matanya tak lepas dari Jeje.
Jeje mengangguk pelan sembari tersenyum kaku. Dia merasa risih karna terus di tatap oleh wanita itu.
"Kenapa Alex tidak memberi tau ku. Bagaimana bisa dia membiarkan kalian menikah. Kamu masih sangat muda,,"
Jeje terlihat mengerutkan keningnya, merasa heran karna wanita itu mengenal ayahnya. Sedangkan Jeje tidak pernah melihat wanita itu sebelumnya.
"Mirna, kamu kenal Alex.?" Tanya Pak Edwin.
"Bagaimana mungkin aku tidak kenal mas, Alex itu,,
"Maaf Pak Edwin, apa bisa meninggalkan kami.? Kami akan makan malam,," Pinta Kenzo sopan.
"Ah, iya iya, maaf Pak Ken,," Pak Edwin membungkuk ramah.
"Saya permisi, senang bertemu anda,,"
Dia menggandeng Mirna untuk beranjak, namun wanita paruh baya itu enggan pergi.
"Tunggu sebentar mas,," Mirna melepaskan tangannya dari genggaman Edwin. Dia menghampiri Jeje dan berdiri di sebelahnya.
"Jeni sayang, kenapa kamu harus menikah secepat ini.?" Ujarnya. Dia memegang tangan Jeje membuat Jeje reflek menarik tangannya karna risih.
"Nyonya Mirna.!" Tegur Kenzo tegas. Mereka menatap Kenzo bersamaan.
"Maaf tante, saya rasa ini bukan urusan tante,," Sahut Jeje sopan.
"Jeni, tentu saja ini urusan saya. Karna saya yang sudah mengandung dan melahirkan kamu."
Penuturan wanita paruh baya itu langsung membuat Jeje terdiam seketika. Entah kenapa pandangan matanya seakan gelap.
Pengakuan wanita itu seperti kilatan petir yang menakutkan. Bahkan lebih menakutkan dari mimpi terburuk yang pernah dia alami.
"Nyonya Mirna.! Tolong jaga bicara anda.!" Tegas Kenzo.
"Pak Edwin, saya mohon tinggal kami berdua.!" Tegasnya lagi.
Ini yang Kenzo takutkan sejak tadi. Itu sebabnya dia mengajak Jeje untuk pindah dari restoran itu karena melihat Mirna.
Ya,! Selama ini Kenzo sudah tau siapa ibu kandung Jeje.
Kenzo sudah tau kalau Jeje bukan anak kandung mama Rissa, bahkan sebelum Jeje mengetahuinya.
Setelah mengetahui siapa ibu kandung Jeje, Kenzo masih terus memantau apa saja yang di lakukan Mirna sampai detik ini. Hal itu dilakukan Kenzo semata mata untuk melindungi Jeje. Dia tidak mau melihat Mirna melakukan hal yang nantinya akan melukai perasaan Jeje.
"Maafkan kami Pak Kenzo,," Pak Edwin membungkuk hormat.
"Ayo Mirna,," Dia menarik tangan Mirna dan menyeretnya.
"Lepasin mas, aku harus bicara dengan anakku,," Mirna berusaha melepaskan diri, namun Edwin terus menyeretnya keluar.
"Sayang,," Kenzo menepuk pelan bahu Jeje. Istrinya itu masih diam dengan pandangan mata yang kosong.
"Kita pulang saja ya.?" Ajak Kenzo lembut.
Jeje menggeleng pelan.
"Sejak kapan hubby tau,,?" Jeje menatap Kenzo dengan tatapan dalam.
"Itu sebabnya hubby minta pindah resto.?"
"Kenapa nggak bilang dari awal.? Aku menyesal karna harus tau siapa dia,,"
Jeje tidak bisa menahan air matanya. Pikirannya justru kacau setelah tau wajah ibu kandungnya.
Kenzo langsung membawa Jeje dalam dekapannya, memberikan ketenangan pada istrinya itu.
Kenzo paham kekecewaan yang sedang di rasakan oleh istrinya. Siapa yang tidak kecewa memiliki seorang ibu yang melakukan segala cara untuk merebut kebahagiaan orang lain, bahkan sampai menghadirkan dia ke dunia ini demi tujuannya.
...***...
Makasih yang udah sempetin like di setiap babnya 😍.
Jujur tambah semangat kalau yang like banyak. Jadi buat readers, tolong sempatin like setelah atau sebelum baca ya🥰.
Like kalian tuh moodboster banget😘
Btw covernya ga bisa di ganti 😔.
pdhl cover awal menarik bnyak pembaca, 😂
Ini liat cover bunga² jadi gimana gitu ya.