My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
32. Season2



Kenzo baru saja selesai mandi. Baju santai yang dipadukan dengan celana jeans warna biru membuat penampilannya terlihat jauh lebih muda.


Sementara itu Jeje sudah rapi sejak tadi karena dia mandi lebih dulu. Meski dia sudah meminta untuk mandi bersama, namun Kenzo menolaknya.


Laki - laki itu merasa perlu berkonsultasi lebih dulu dengan dokter kandungan mengenai hubungan suami istri disaat sang istri sedang hamil muda.


Walaupun ini pengalaman pertamanya, Kenzo sedikit banyak tau tentang apa saja yang dilarang dan harus dihindari oleh ibu hamil.


Kenzo sudah mencari tau di internet sejak mama Grace menebak kalau Jeje sedang hamil.


Dia begitu antusias mencari segala informasi yang berhubungan dengan kehamilan, meski belum semuanya dia pelajari.


Sebagai calon ayah, Kenzo sangat siaga dan patut di acungi jempol dalam hal menyambut kehamilan sang istri.


Jeje beranjak dari duduknya, dia berjalan pelan menghampiri Kenzo yang sedang menyisir rambut.


Setelah berdiri di belakang Kenzo, Jeje mendekap erat tubuh tegap Kenzo dari belakang dan menempelkan wajahnya di punggung lebar suaminya.


Harum maskulin yang menguar dari tubuh Kenzo begitu terasa memanjakan indera penciumannya. Rasanya begitu menangkan dan nyaman.


"Kita akan jadi orang tua by,?" Tanya Jeje setengah bergumam. Wanita cantik itu mengembangkan senyum, membayangkan hari - hari indahnya bersama keluarga kecilnya yang bahagia.


Kenzo meletakan sisir di meja rias, dia memutar tubuhnya hingga saling berhadapan dengan Jeje.


Ditatapnya lekat wajah cantik istrinya yang masih sangat muda itu. Rasanya tidak pantas remaja seimut dan semenggemaskan itu akan memiliki anak. Dia saja masih pantas disebut anak - anak.


"Kamu bahagia.?" Kenzo bertanya dengan satu tangan yang ditempelkan pada pipi Jeje. Baginya tidak ada yang lebih penting dari kebahagiaan istrinya. Kenzo tidak ingin kehamilan itu menjadi beban untuk Jeje, apalagi sampai menjadi penghalang kebahagiaannya karena merasa belum siap atau belum pantas menjadi orang tua.


Jeje mengangguk cepat.


"Tentu saja aku bahagia,," Jawabnya tanpa ragu. Selama ada Kenzo disisinya, selama ada Kenzo yang menemani hari - harinya, semuanya akan terasa penuh kebahagiaan.


"Aku bahagia karena hubby adalah suamiku dan ayah dari anakku,," Tambahnya sembari membenamkan wajah di dada Kenzo. Laki - laki itu tersenyum hangat mendengar ucapan Jeje yang mengarah pada pujian sekaligus terdengar seperti menggodanya.


"Sudah mulai puitis kamu." Seru Kenzo gemas. Dia bahkan sampai mengacak - acak rambut Jeje.


Wanita dalam dekapannya hanya terkekeh senang.


"Ayo berangkat. Aku ingin cepat - cepat melihat calon anak kita,," Kenzo melepaskan pelukannya perlahan, lalu mengusap perut Jeje penuh cinta dan sayang. Bahkan bisa terbaca dari sorot matanya yang begitu berbinar saat menatap Jeje dan perut rata istrinya itu.


"Bukankah masih sangat kecil by ukurannya.?" Jeje bertanya sembari mengingat hasil USG Karin beberapa waktu yang lalu.


"Ya, masih sebesar biji kacang hijau untuk kehamilan kamu."


"Tapi setidaknya kita bisa melihat calon anak kita,,"


Terang Kenzo lembut. Dia sampai mengeluh singkat bibir Kenzo karena merasa gemas dengan ekspresi wajah Jeje.


"Ah,,, nggak sabar rasanya." Seru Jeje dengan mata yang berbinar. Membayangkan bisa melihat calon anaknya terasa sangat bahagia.


Keduanya sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Kenzo bahkan sampai menghubungi dokter khusus untuk memeriksa istrinya.


"Hubby akan ke kantor setelah mengantarku ke dokter.?" Jeje memiringkan tubuhnya untuk menatap Kenzo yang sedang fokus menyetir.


"Reynald sudah menghandle pekerjaanku. Hari ini kita akan menghabiskan waktu berdua untuk menyambut kehamilan kamu."


"Satu lagi, kita juga harus bertemu dengan mama."


"Apa kamu lupa kalau mama sudah pulang,,?" Kenzo melirik Jeje sekilas, wanita itu terlihat terkejut mendengarnya.


"Ya ampun, aku nggak inget by. Maaf,,"


"Kalau gitu langsung ketemu mama Grace sepulang dari rumah sakit,," Jeje terlihat sangat antusias. Dia akan bertemu dengan mama Grace untuk pertama kalinya dengan status yang berbeda, yaitu sebagai menantu.


"Kamu terlalu excited karna tau sedang hamil, sampai lupa itu,," Timpal Kenzo sembari mengulas senyum tipis.


"Menurut hubby, apa mama dan papa akan marah kalau tau aku sedang hamil.?" Raut wajah Jeje berubah cemas. Terkadang dia yakin kalau kedua orang tuanya akan senang mendengar kabar kehamilannya, tapi terkadang dia juga yakin kalau mereka akan memarahinya dan Kenzo. Bahkan Jeje begitu yakin kalau Kenzo yang akan menjadi sasaran kemarahan kedua orang tuanya. Karena bagaimanapun kedua orang tuanya sudah memberikan peringatan pada suaminya itu.


"Aku nggak yakin, tapi siapapun pasti akan bahagia kalau akan memiliki cucu."


"Jangan khawatir, aku bisa menghadapi mereka,," Kenzo menggenggam tangan Jeje untuk memberinya ketenangan. Wanita hamil tidak boleh terlalu banyak memikirkan hal yang membuatnya cemas, apalagi kalau sampai merasa terbebani dan membuatnya stres.


...****...


Layar besar dihadapan mereka begitu mencuri perhatian kedua calon orang tua itu. Mata keduanya berbinar melihat gambar calon anak mereka meskipun masih berbentuk embrio. Keduanya begitu kagum melihatnya, seakan tidak percaya jika ada kehidupan didalam rahim Jeje.


"Masuk minggu ke 4. Ukurannya sekitar 2 millimeter atau setara dengan biji kacang hijau."


"Ada yang ingin di tanyakan.?"


"Tuan.?"


"Nyonya.?" Serunya lagi karena Kenzo dan Jeje hanya diam saja sambil terus menatap layar yang besar yang berada di dinding.


"Ah iya kenapa dok.?" Jeje terlihat bingung.


"Apa ada yang ingin kalian tanyakan.?" Ujarnya ramah.


Kenzo langsung mengalihkan pandangannya pada dokter yang berdiri didepannya itu.


"Apa sudah boleh melakukan hubungan suami istri.?" Suara lantang Kenzo membuat kedua mata Jeje membulat sempurna. Wanita itu bahkan sampai mencubit tangan Kenzo yang berada di bangsal tempatnya berbaring.


Jeje merasa malu dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Kenzo karena bersifat intim dan pribadi.


"Boleh, asal jangan terlalu sering karena masih trimester pertama. Dan harus pelan - pelan,,"


"Pelan - pelan.? Sepelan apa.?"


Lagi - lagi pertanyaan Kenzo membuat Jeje kehabisan kata - kata. Saat ini dia hanya ingin lari dan menghilang dari hadapan dokter itu karena sangat malu.


Bahkan raut wajah sang dokter juga terlihat kebingungan mendengar pertanyaan Kenzo.


"Asal tidak membuat perut istri anda sakit dan terguncang terlalu keras,," Sahut dokter dengan raut wajah yang terlihat kikuk.


"Jadi tidak masalah kalau terguncang selagi pelan.?" Kenzo seakan belum puas dengan jawaban sang dokter, dia masih saja terus menanyakan hal yang konyol.


Dokter itu terlihat kehabisan kata - kata sampai harus menjawabnya dengan anggukan.


"Apa enak seperti itu,,?"


Seketika wajah sang dokter terlihat kesal.


"Saya belum menikah, jadi tidak tau. Anda bisa mempraktekannya sendiri nanti." Sahutnya sedikit menekankan kalimat terakhir.


"Pantas saja.!" Celetuk Kenzo ketus.


Jeje tersenyum kikuk pada dokter itu. Sudah dipastikan kalau dokter itu menaruh kekesalan pada Kenzo yang secara tidak langsung telah meledeknya.


"Apa nggak ada pertanyaan lain by.?!" Bisik Jeje kesal. Kenzo hanya melirik Jeje sekilas.


Jeje memutuskan untuk menyudahi sesi tanya jawab itu. Dia enggan merasakan malu lebih lama lagi akibat ulah Kenzo.


Wanita itu sampai memasang wajah cemberut saat keluar dari ruangan. Dia bahkan berjalan lebih cepat di depan Kenzo.


"Jangan cepat - cepat jalannya,," Seru Kenzo. Dia menyusul Jeje dan mencekal pergelangan tangan Jeje.


"Apa kamu lupa harus pelan - pelan,," Tambahnya lagi dan mengatur langkah Jeje agar lebih pelan.


"Yang pelan - pelan itu kalau berhubungan by, bukan jalan,!" Sahutnya cepat.


"Sama saja, intinya harus pelan - pelan.!" Serunya tak mau dibantah. Jeje hanya diam, membiarkan Kenzo menggandeng dan memimpin jalannya.


"Kenapa terus cemberut.? Aku bertanya seperti itu karna nggak mau calon anak kita dalam bahaya."


"Aku nggak tau ukuran pelan yang di maksud dia seperti apa." Tutur Kenzo setengah membujuk Jeje yang tak henti - hentinya memasang wajah muram.


"Terakhir kali aku gerak pelan, tubuh kamu masih tetap terguncang keras,"


Wajah Jeje seketika memerah menahan malu. Kenzo memang tidak bisa bermain pelan. Laki - laki itu terlalu bernafsu dan bersemangat dalam melakukan pergulatan di atas ranjang.


"Itu bukan gerak pelan by, tapi dihentakin.!" Sahut Jeje dengan kepala yang tertunduk karena malu.


"Sudahlah.!" Kenzo seakan enggan membahasnya lagi. Gara - gara membahas gerakan, dia justru jadi ingin mempraktekannya saat itu juga. Terlebih dengan jawaban Jeje yang menyebut dirinya 'menghentakkan', Kenzo jadi membayangkan hal itu.


...****...


Cerita karin nanti ada gilirannya, nggak mungkin dilewatin langsung ke cerita Karin, nanti jadi nggak beraturan waktu dan alurnya.


Novel ini bukan untuk Karin dan Reynald saja, jadi semua tokoh yang udah othor sebutin di info season2 bakal diceritain semuanya secara adil.


yang mau di skip cerita salah satu dari mereka silakan, othor nggak nglarang.


asal jangan komen yang bikin othor jadi males lanjut ngetiknya karena terlalu mengatur.🙏


Nanti bakal di kasih visual Karin dan Reynald di bab selanjutnya.