
Aku memang kecewa dengan perlakuan kasar om Kenzo padaku. Terlebih dengan ucapannya yang membebaskanku untuk mengakhiri kontrak kami. Aku tidak tau kenapa om Kenzo jadi berubah seperti itu. Dia tidak pernah bersikap kasar sebelumnya, selalu lembut dan sabar saat bersamaku.
Tapi semenjak dia melihatku berkomunikasi dengan kak Gerald, om Kenzo selalu berbuat seenaknya dan yang terparah saat ini.
Dia begitu mudah membentakku, melontarkan kata - kata yang mampu menggoreskan luka di hatiku.
Sebenarnya apa alasan om Kenzo bersikap seperti itu.? Apa benar hanya karna soal surat perjanjian saja.? Tapi kenapa harus sampai semarah itu padaku.
Aku menatap wajah om Kenzo yang terlihat begitu kacau, dengan kedua tangan yang dipenuhi luka. Om Kenzo seolah tidak memperdulikan luka yang ada di kedua tangannya. Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal pikirannya saat ini. Mungkin itu juga yang membuat om Kenzo akhirnya berbuat kasar padaku. Dan luka di kedua tangannya pasti akibat tinjuan yang dilakukan om Kenzo pada pintu kamar mandi.
Dia hanya menatapku saat aku menanyakan lukanya. Menatapku dengan sendu dan semakin kacau.
Aku baru pertama kali melihat om Kenzo seperti tidak berdaya.
"Om,, tangan om luka,,," Sekali lagi aku bicara padanya. Aku masih saja mengkhawatirkan kondisi tangan om Kenzo, setelah apa yang baru saja dia perbuat padaku. Om Kenzo yang hampir mengambil paksa kesucianku, meski aku memang sempat ingin melakukannya di awal tanda tangan surat perjanjian kami.
"Nggak papa." Jawabnya datar. Om Kenzo meletakan bajuku di atas ranjang.
"Pake dulu baju kamu." Om Kenzo menarik pelan tangannya dari genggamanku, lalu beranjak keluar kamar. Aku hanya bisa menatap kepergiannya yang berjalan gontai.
Meskipun kesal, tapi tidak ada kebencian dalam diriku untuknya. Yang ada, kondisi om Kenzo saat ini justru membuatku sangat iba padanya. Ada sedikit rasa sesak di dada, melihat luka yang cukup parah di tangannya. Sebesar itu perasaanku terhadapnya, sampai aku ingin tetap berada disini untuk menemaninya.
Aku bisa merasakan kondisi om Kenzo sedang tidak baik. Mungkin ada masalah besar yang membuatnya jadi seperti ini.
Aku keluar kamar setelah memakai baju dan membereskan bajuku yang tadi di robek oleh om Kenzo. Perlakuan om Kenzo mengingatkanku pada ucapan kak Nicho yang ingin menghamili kak Fely agar wanita itu tidak pergi dari hidupnya.
Lalu om Kenzo, dia hampir melakukan itu hanya karna marah padaku yang sudah membantah ucapannya.
Aku tidak tau kenapa laki - laki harus berbuat seperti itu saat sedang marah.? Kenapa tidak mengungkapkan kemarahannya saja, tanpa harus melakukan kontak fisik yang justru akan semakin memperburuk keadaan.
Aku mengambil kotak p3k yang ada di dapur, kemudian menghampiri om Kenzo yang sedang duduk melamun di ruang tv. Ada kekesalan dan kebencian dalam sorot matanya, juga tatapan sendu yang menyedihkan.
Aku duduk di sebelahnya, Om Kenzo sempat melirikku sekilas.
Ku raih tangan om Kenzo, lalu meletakkannya di atas pangkuanku. Aku mulai membersihkan darah yang masih keluar dari lukannya, setelah itu mengoleskan salep luka dengan perlahan. Aku yakin ini sangat sakit dan perih, namun om Kenzo hanya diam saja. Mungkin apa yang sedang dia hadapi saat ini, lebih menyakitkan dari luka di tangannya.
Sampai aku selesai mengobati kedua tangannya, om Kenzo masih saja diam. Aku juga ragu untuk memulai pembicaraan. Sepertinya saat ini om Kenzo masih butuh waktu untuk menenangkan diri.
Aku beranjak untuk menaruh kotak p3k dan mengambilkan air minum untuknya. Berharap om Kenzo akan lebih tenang setelah minum.
"Minum dulu om,," Aku menyodorkan gelas berisi air putih padanya.
Tanpa penolakan, om Kenzo mengambil dan meneguknya.
Aku kembali duduk di samping om Kenzo. Aku ingin memastikan jika om Kenzo baik - baik saja.
"Kamu nggak takut sama aku,,?" Om Kenzo bertanya padaku, namun padangannya masih lurus kedepan. Aku diam sejenak sebelum akhirnya menjawab pertanyaan om Kenzo yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya.
"Nggak om. Aku cuma kecewa dengan sikap kasar om padaku. Mungkin aku memang salah, tapi nggak seharusnya om ngelakuin ini sama aku."
Aku menghela nafas berat. Mungkin memang lebih baik aku mengungkapkan kekesalanku padanya, seperti apapun nanti reaksi om Kenzo.
"Nggak seharusnya om ngelarang aku komunikasi dengan orang lain. Aku juga selalu ingat dengan surat perjanjian itu. Berkomunikasi belum tentu kami menjalin hubungan. Lagipula status kita nggak lebih dari sekedar sugar daddy dan sugar baby."
"Aku rasa om terlalu berlebihan jika melarangku berkomunikasi dengan laki - laki."
Om Kenzo mulai menatapku dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Jadi kamu berfikir seperti itu.? Kamu anggap aku berlebihan.? Apa kamu nggak tau kenapa aku sampai bersikap seperti ini.?!"
Apa aku sudah salah bicara padanya.?
"Aku tau om, semua yang om lakukan karna surat perjanjian itu. Aku sudah melanggarnya, aku minta maaf,," Aku memilih untuk beranjak, lebih baik aku pulang dan membiarkan om Kenzo memenangkan diri. Sepertinya ada masalah besar yang sedang om Kenzo hadapi saat ini.
"Aku pulang dulu om. Sebaiknya om istirahat,,"
"Jangan pergi, tetap disini sampai aku mengijinkan kamu pulang,," Om Kenzo menahan tanganku, kini dia menatapku dengan tatapan memohon.
Aku yang tidak tega, akhirnya menuruti permintaannya. Aku kembali duduk di sebelahnya. Keheningan mulai menyelimuti kami.
Perlahan om Kenzo memiringkan kepalanya ke arahku, bersender pada bahuku.
Tiba - tiba saja dadaku terasa sesak. Entah kenapa aku merasa kalau om Kenzo sangat rapuh. Dibalik sikapnya yang selama ini terlihat kuat dan cool, om Kenzo memiliki sisi lain yang sulit untuk di percaya.
"Terkadang laki - laki juga butuh bahu untuk bersandar. Belasan tahun bersikap seolah baik - baik saja, nyatanya tidak semudah yang dibayangkan."
Aku tertegun, mencerna dalam hati apa yang om Kenzo katakan. Seakan bisa ikut merasakan apa yang om Kenzo rasakan saat ini.
Karna sebelumnya aku pun mengalami hal yang sama. Bersikap seolah aku baik - baik saja, meski sebenarnya sangat sakit karna di abaikan oleh kedua orang tuaku.
"Tetap disini, jangan akhiri kontrak apapun yang terjadi. Kecuali kalau aku yang memintanya."
Ucapnya. Sejujurnya aku sedikit keberatan dengan permintaan om Kenzo, namun aku tidak bisa membantahnya. Karna rasa yang aku miliki untuknya, tidak mampu membuatku menjauh.
...***...
Aku sedang berada di dapur untuk menyiapkan makan malam. Sejak kejadian siang itu, baik aku dan om Kenzo tidak saling bicara. Kami masih diam dengan pikiran masing - masing. Tadi sore aku sempat menyuruhnya untuk istirahat, karna keadaan om Kenzo masih saja terlihat kacau. Tapi om Kenzo menolaknya. Dia justru melanjutkan pekerjaannya dalam keadaan seperti itu. Hal itu membuatku semakin iba melihatnya.
Setelah menata semua makan di meja makan, aku bergegas untuk memanggil om Kenzo yang sedang berada di ruang kerjanya.
Om Kenzo menyuruhku masuk setelah mendengar ketukan pintu. Aku membuka pintu perlahan, memasukan kepalaku lebih dulu.
"Makan dulu yuk om,," Ajakku dengan hati - hati. Om Kenzo tidak menjawabnya, namun dia menutup laptop dan beranjak dari duduknya. Berjalan ke arahku dengan mengembangkan senyum tipis.
"Makasih,," Ucapnya. Sebelah tangannya mengusap lembut kepalaku.
Melihat om Kenzo yang sudah terlihat jauh lebih baik, membuatku bisa bernafas lega. Aku tidak lagi merasa cemas seperti tadi.
"Ayo om,,," Aku menggandeng tangan om Kenzo.
"Om Kenzo bisa makan sendiri.? Atau mau,,,
"Aku jadi seperti bayi,," Ucapnya memotong pembicaraanku. Dia terkekeh geli, entah apa yang dia pikirkan saat ini. Tanpa aku sadari, aku terus tersenyum melihatnya. Aku lebih senang jika om Kenzo terkekeh seperti itu, daripada hanya diam saja. Sepertinya pikiran om Kenzo sudah jauh lebih tenang
Sambil menyantap makananku, sesekali aku melirik om Kenzo yang makan dengan lahap.
Bagaimana jika om Kenzo tau kalau aku tidak mampu pergi karna aku mencintainya. Apa dia akan memilih untuk menyambut rasaku dan mengakhiri hubungannya dengan kak Fely.? Atau dia akan tetap bertahan dan pada akhirnya cintanya tak akan pernah bisa aku gapai.
...***...
Yah kok nggak jadi pergi sih Je. Nanti para readers kecewa loh,,, bisa - bisa othor kena amuk masal online. wkwkwk🤣 Jan marah ya.
Vote dulu ya buat yang belum vote. Biar jari othor makin kenceng ngetiknya. 🥰
Maaf ya, jadwal upnya acak - acakan.
Karna ngga ada agedan hareudangnya jadi di up pagi. 😁