
Tak berselang lama, kedua orang tua Reynald pamit untuk pulang lebih dulu. Mereka harus menghubungi pihak MUA dan disegner gaun terkenal di kota itu.
Meski hanya di hadiri keluarga, tetap saja mama Laras ingin melihat calon menantunya tampil cantik di hari pernikahannya.
Kedua orang tua Reynald bertanggungjawab sepenuhnya untuk mengurus keperluan acara sore nanti.
Pernikahan dadakan itu di harapkan bisa membaca kehidupan yang lebih baik lagi bagi putranya.
Sementara itu Kenzo mengajak Jeje untuk singgah di hotel terdekat, sembari menunggu acara nanti sore.
Masih ada banyak waktu jika harus menunggu di rumah Karin.
Jeje yang yang di ajak untuk pergi ke hotel, terlihat pasrah saja. Dia sudah bisa menebak apa yang diinginkan oleh suaminya.
Setelah pamit pada keluarga Karin, keduanya keluar rumah di antar oleh Karin juga Reynald.
Laki - laki itu memang tidak di ijinkan untuk pulang oleh kedua orang tuanya, Reynald diminta untuk tetap berada di rumah Karin sampai acara di mulai.
"Nanti juga kesini lagi Je, ngapain pulang dulu," Ujar Karin. Sejak tadi dia terus meminta Jeje untuk tetap berada di rumahnya.
Jeje terlihat menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, bingung harus menjawab apa. Pasalnya Kenzo pamit pada keluarga Karin kalau dia ada urusan dengan papanya. Laki - laki itu tidak jujur kalau akan pergi ke hotel lebih dulu.
Jeje mendekat pada Karin, terpaksa dia harus jujur agar Karin tidak menahannya lagi.
"Aku nggak pulang Rin, cuma mau cek in di hotel depan komplek. My hubby udah nggak tahan, mau main di ranjang,,," Bisik Jeje.
Karin langsung tersedak ludahnya sendiri, dia batuk berapa kali.
Melihat hal itu, Kenzo langsung menarik tangan istrinya dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Istrinya itu pasti sudah bicara macam - macam pada Karin.
"Bye Rin,,," Seru Jeje sembari melambaikan tangannya. Dengan wajah yang masih syok, Karin hanya mengangguk.
"Aku pergi dulu,," Pamit Kenzo pada Reynald.
"Ya,, makasih Ken."
Kenzo masuk kedalam mobil dan mulai melajukan mobilnya.
Sementara itu Reynald mencekal tangan Karin yang akan masuk kedalam rumah.
"Kenapa kak.?" Tanya Karin lembut.
"Jeje bisikin apa.?!" Reynald terlihat sangat penasaran.
"Emm,, itu,, katanya mau ke hotel depan komplek." Jawabnya jujur. Reynald langsung membulatkan matanya, saat itu juga dia langsung melepaskan tangan Karin.
"Aku pergi dulu sebentar,," Ucapnya.
"Mau kemana kak.? Kak Reynald nggak di bolehin pergi sama om dan tante,," Karin mencoba untuk mengingatkan.
"Mau pesan kamar di hotel.! Kita yang akan menikah, kenapa malah mereka yang cek in.!" Geram Reynald. Tanpa menunggu respon dari Karin, laki - laki itu langsung masuk kedalam mobilnya untuk pergi ke hotel yang sama dengan Kenzo.
Beruntung kedua orang tuanya pulang menggunakan taksi. Jadi Reynald tidak kesulitan untuk pergi ke hotel dan memesan kamar untuk dia pakai nanti malam bersama Karin.
"Kenapa kak Rey juga mau pesan kamar di hotel itu.?" Gumam Karin bertanya pada dirinya sendiri.
Dia sama sekali tidak berfikir sejauh dan seliar Reynald yang masih sempat memikirkan malam pengantin mereka, meski pernikahan ini di gelar mendadak dan Karin dalam keadaan hamil.
...*****...
Sementara itu, Jeje terlihat gelisah saat Kenzo tiba - tiba mengubah rencana. Laki - laki itu awalnya hanya ingin mengajak Jeje untuk cek in sampai sore nanti, sebelum acara pernikahan Karin di mulai.
Tapi rupanya Kenzo meminta untuk menginap semalam dan pulang keesokan harinya.
"Kenapa harus menginap di hotel segala by.? Kita kan bisa pulang ke apartemen setelah acaranya selesai nanti,," Tutur Jeje. Sejujurnya dia hanya ingin menghindari hal yang sudah pasti akan membuatnya kelelahan.
"Anggap saja ini sebagai pemanasan sebelum kita bulan madu nanti,," Sahut Kenzo enteng.
"Sekalian membuat Kenzo junior,," Tambahnya lagi.
Kenzo terlihat antusias dan semangat. Laki - laki itu sudah tidak sabar untuk memiliki anak.
"Ya ampun by,,!!" Pekik Jeje. Dia terlihat panik sembari menepuk keningnya.
"Selama ini kita nggak pakai pengaman lagi," Tuturnya cemas. Berbeda dengan Kenzo yang berbinar setelah mendengar penuturan istrinya.
"Itu artinya Kenzo junior sedang di proses di dalam sini,," Kenzo mengusap lembut perut Jeje.
"1 minggu lagi kita ke rumah sakit untuk memastikan,," Wajah tampan itu semakin bersinar karna bahagia. Dia mengharapkan kabar baik untuk 1 minggu mendatang.
"Tapi by,, aku ingin wisuda lebih dulu,,"
"Wisuda kamu masih jauh di depan mata, jalani saja apa yang sudah ada di depan mata." Tegas Kenzo.
"Kamu bisa kuliah lagi setelah melahirkan nanti. Bukankah Karin juga akan seperti itu. Kamu bisa mulai kuliah lagi sama Karin,,"
Jeje mengangguk patuh. Dia mulai paham kalau suaminya sangat ingin melihat Kenzo junior.
Saat Kenzo dan Jeje sedang memesan kamar, saat itu pula Reynald datang.
Dia berdecak kesal melihat bosnya yang sudah mendahuluinya memesan kamar.
"Kamu mau curi start Ken,?" Tegur Reynald.
"Curi start apa.?!"
"Aku yang akan menikah, kenapa kalian yang pesan kamar." Tuturnya.
"Atau kalian sedang memesankan kamar untukku.?" Tanyanya tidak tau malu.
Kenzo bahkan sampai menggelengkan kepalanya. Tidak habis pikir dengan asistennya yang masih sempat memikirkan malam pengantin dalam situasi seperti itu.
"Kamu nikahin Karin untuk tanggungjawab atau untuk merasakan malam pengantin.?" Tanya Kenzo tegas.
"Kalau bisa dua - duanya, kenapa harus pilih salah satu.? Aku mau tanggungjawab, dan mau tidur dengannya juga,," Sahutnya tanpa basa - basi.
"Gila emang lu.!" Geram Kenzo.
Reynald hanya terkekeh.
"Jadi gimana.? Mau pesenin kamar juga kan buat aku.?" Tanyanya lagi.
Kenzo memutar bola matanya malas.
"Ya.! Sudah sana balik lagi ke rumah Karin.!"
"Kunci kamarnya aku kasih nanti sore."
Kenzo seakan sudah malas melihat wajar Reynald yang menyebalkan itu.
"Siap Pak bos.! Thank you,,," Ujar Reynald sambil berlalu dari hadapan Kenzo dan Jeje.
"Sepertinya kak Reynald tidak waras,,"
Celetuk Jeje. Dia menatap geli kepergian Reynald.
"Dia memang tidak waras sejak kuliah dulu,," Sahut Kenzo cepat.
"Terlebih saat usaha kedua orang tuanya bangkrut dan Reynald harus kehilangan,,"
"Ini kuncinya Pak,,,"
Ucapan Kenzo terhenti saat resepsionis hotel memberikan kunci kamar miliknya. Kenzo menerima kunci itu.
"Pesan satu kamar lagi, yang sebelahan saja. Atas nama Reynald." Pinta Kenzo.
Setelah mendapatkan kunci kamar untuk Reynald, Kenzo dan Jeje langsung menuju kamar milik mereka.
"Jadi dulunya orang tuanya kak Reynald punya perusahaan.?" Tanya Jeje.
"Ya, perusahaan keluarga besar mereka."
"Jadi sikap aneh kak Reynald gara - gara dia kehilangan semua kemewahannya.?" Jeje masih saja penasaran.
"Maybe." Jawab Kenzo cuek.
"Sudah jangan pikirkan orang gila gitu. Sekarang kita fokus saja merengkuh kenikmatan,," Bisikan Kenzo. Saat itu juga buluk kuduk Jeje meremang.
Sepertinya Kenzo tidak akan memberikan jeda untuk beristirahat.
"Kenzo membuka pintu, lalu mendorong pelan tubuh Jeje untuk masuk kedalam. Kemudian menutup pintu kembali dan menguncinya.
"Perlu pemanasan.? Atau mau langsung saja.?" Ucapan Kenzo lagi - lagi membuat Jeje meremang.
Terlebih saat ini Kenzo mendekat dan jarak wajah mereka sudah sangat dekat.
Entah siapa yang memulai, keduanya sudah saling memagut bibir. Melu**t dan menyesapnya penuh gairah.
Jeje melingkarkan tangan di leher Kenzo, dia sedikit menekan tengkuk Kenzo untuk memperdalam ciuman.
Saat itu juga Kenzo menggendong Jeje sambil terus mencium bibirnya.
Kenzo berjalan menuju sofa, lalu duduk di sana dan membuat Jeje berada dalam pangkuannya.
Cumbuan mereka semakin panas. Satu persatu baju yang melekat di tubuh keduanya mulai terlepas.
Mereka melakukan pergulatan panas babak pertama di atas sofa panjang itu.
Nafas Jeje masih terengah - engah setelah mendapat pelepasan, namun Kenzo masih memacu dirinya untuk merasakan kenikmatan yang sama seperti Jeje. Laki - laki itu mempercepat gerakannya hingga mencapai puncak, dan Jeje merasakan pelepasan untuk kedua kalinya.
Kenzo ambruk di atas tubuh Jeje, dia memeluk erat istrinya.
"Ini baru permulaan sayang,,," Bisik Kenzo.
Jeje hanya mengangguk pasrah.
...****...
Mumpung ada waktu banyak, othor sempetin buat 2 bab.
Tapi besok belum pasti bisa up apa nggak 😁.
Mohon di maklumi 🙏
Untuk di novel "Bukan Wanita Mandul", othor emang udah bikin beberapa bab sebelum launching. Makanya dari awal bisa up rutin karna masih punya persediaan bab. Kalau sekarang sih udah habis persediaan bab nya, jadi nanti ngetiknya kejar - kejaran sama novel ini, 🤣
Tergantung mood, mana yang lagi enak buat di bikin dulu.