
Di dalam kamar yang luas itu, Jeje membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Dia baru saja berkumpul dengan kedua orang tuanya setelah makan malam tadi. Makan malam kali ini terasa hambar tanpa Kenzo.
Suaminya itu sudah berangkat ke Singapur 1 jam yang lalu. Kenzo terpaksa merubah jadwal keberangkatannya karena tadi sore tertidur setelah melakukan pergulatan panas bersama istrinya. Hingga membuatnya tertinggal pesawat.
Jeje terus berguling - guling di atas ranjang, ke kanan dan kiri. Dia terlihat gelisah karena di tinggal oleh Kenzo. Juga menunggu Kenzo tiba di Singapur agar dia bisa menghubungi suaminya itu.
Baru saja ditinggal 1 jam lebih, perasaan rindu sudah menyelimuti hatinya. Wanita itu rindu tidur dalam pelukan Kenzo, rindu mencium aroma maskulin dari tubuh Kenzo saat akan tidur.
Entah sudah berapa kali Jeje mengecek ponselnya, berharap ada kabar dari Kenzo.
Hampir 1 jam lebih Jeje menunggu, sampainya akhirnya dering ponsel membuat wanita cantik itu langsung meraih ponsel dan mengangkat panggilan vidio dari Kenzo.
"Hubby kapan pulang.?" Seru Jeje dengan nada setengah merengek.
Kenzo yang sedang lemas, sempat diam beberapa saat.
"Aku baru sampai Je, kenapa tanya kapan pulang,," Sahutnya lembut.
"Besok malam aku pulang,," Suara Kenzo terdengar lemah, pun dengan wajahnya yang sangat pucat.
Menyadari ada yang tidak beres pada suaminya, Jeje mencoba memperhatikan dengan seksama wajah Kenzo. Benar - benar pucat dan tidak memiliki gairah sedikitpun. Sangat berbeda dengan biasanya yang selalu menampilkan wajah gagahnya dan pesonanya yang luar biasa.
"Hubby sakit.? Kenapa wajahnya pucat sekali.?" Jeje terlihat panik. Selama mengenal Kenzo, baru hari ini dia melihat wajah Kenzo pucat seperti itu. Bahkan tadi pagi tidak sepucat ini.
"Sepertinya begitu. Perutku bermasalah. Sejak naik pesawat terus muntah - muntah, ditambah ada penumpang yang baunya busuk seperti Reynald,," Tutur Kenzo.
Dia mengingat kembali bagaimana tersiksanya saat berada di dalam pesawat. Perutnya terasa di aduk - aduk hingga membuatnya terpaksa bolak - balik ke kamar mandi. Kenzo bahkan sampai meminta pindah tempat duduk agar dekat kamar mandi.
"Ya ampun bi,,," Desah Jeje sedih. Melihat Kenzo tidak berdaya seperti itu, membuat hatinya sakit.
"Hey,, kenapa malah kamu yang nangis,,?" Tegur Kenzo.
Istrinya itu terlihat saat cengeng, hanya melihatnya pucat saja sampai menangis seperti itu.
"Aku takut hubby kenapa - napa,," Suara Jeje tercekat.
"Jangan khawatirkan aku. Aku baik - baik saja." Kenzo berusaha untuk tidak terlihat lemah di depan Jeje, agar wanita itu berhenti menangis. Karena melihat Jeje menangis hanya membuatnya terluka.
"Sekarang kamu istirahat saja. Aku dalam perjalanan ke rumah sakit,,,"
"Besok pagi aku telfon lagi,," Ujarnya lembut.
Jeje mengangguk pelan, dia menyeka air matanya kemudian tersenyum manis pada Kenzo.
"Bye bye,, love you more,,," Seru Jeje dengan senyum yang semakin lebar.
Hal itu membuat Kenzo ikut tersenyum, entah kenapa ucapan cinta dari Jeje membuatnya merasa jauh lebih baik dengan hati yang menghangat.
"Love you too baby,," Balas Kenzo.
Keduanya saling mengulum senyum seperti orang yang sedang jatuh cinta untuk pertama kalinya.
Jeje mematikan sambungan telfonnya. Wanita itu menarik guling dan memeluknya erat. Jeje memejamkan mata dengan senyum yang mengambang. Dia membayangkan Kenzo yang saat ini sedang dia peluk.
Rasanya tidak sabar untuk bertemu dengan suaminya.
Sampainya di rumah sakit, Kenzo langsung menuju kamar VIP dimana sang mama dirawat selama proses pemulihan pasca operasi.
Mama Grace di jaga oleh dua perawat yang dikirim langsung dari Indonesia oleh Kenzo. Mereka yang ditugaskan untuk menjaga dan menemani sang mama.
Kenzo membuka pintu perlahan. Sang mama terlihat sudah tertidur pulas.
"Malam Pak,,," Sapa kedua perawat yang ada di sana. Kenzo mengulas senyum tipis sembari menganggukkan kepala.
"Kalian bisa kembali ke apartemen untuk mengemasi barang. Besok sore kita pulang ke Indonesia,,," Perintah Kenzo.
Keduanya mengangguk, pamit pada Kenzo dan pergi ke apartemen yang selama ini disewakan oleh Kenzo untuk tempat tinggal mereka.
Setelah mereka pergi, Kenzo menghampiri mama Grace dan duduk di samping bangsalnya.
Di tatapannya wajah cantik sang mama yang sudah kembali terlihat segar. Tubuh kurusnya kini mulai berisi. Tidak lagi terlihat lemah seperti sebelumnya.
Terlalu banyak beban penderitaan yang di alami oleh sang mama selama belasan tahun akibat perpisahan dan perbuatan bejad seseorang yang tega menghamili sang mama.
Jika saja kejadian buruk itu tidak dialami oleh sang mama, mungkin mereka masih hidup bahagia dengan keluarga yang utuh.
Andai saja dia bisa menyatukan kembali kedua orang tuanya, pasti hidupnya akan semakin lengkap.
Sejujurnya Kenzo tau betul jika kedua orang tuanya masih saling mencintai. Namun ego sang papa terlalu besar. Kebencian di hatinya juga masih tersimpan rapi.
Meski disini mama Grace tidak bersalah, namun sang papa seolah tidak mau peduli dan terus menyalahkannya.
"Kapan kamu datang,,? Kenapa nggak bangunin mama," Mama Grace bangun dengan bersender di kepala bangsa.
"Baru tadi ma."
"Apa Ken ganggu tidur mama.?"
Mama Grace menggeleng pelan.
"Kamu sakit nak.? Wajah kamu pucat,,,"
Mama Grace menempelkan tangannya di kening Kenzo. Ingin memastikan suhu tubuh anak laki - lakinya yang sudah tumbuh menjadi pria dewasa yang tampan.
"Ken baik - baik saja mah. Hanya muntah - muntah saat di pesawat,,"
"Kamu mabuk perjalanan.?"
Kenzo menggeleng pelan karna tidak tau.
"Ken sudah sering naik pesawat, baru kali ini mual,," Tuturnya. Mama Grace mengulum senyum
"Lalu bagaimana dengan istri kamu,,?"
Kenzo nampak mengerutkan keningnya, sempat bingung dengan pertanyaan yang di ajukan oleh sang mama.
"Jeje baik - baik saja. Dia nggak ikut. Mungkin sudah tidur sekarang,," Sahut Kenzo.
"Bukan itu maksud mama."
"Apa Jeje juga muntah - muntah seperti kamu,,?"
Kenzo nampak berfikir sejenak, sebelum akhirnya menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"Hanya saja sikapnya sedikit aneh, tadi pagi bahkan ikut ke kantor karna nggak mau di tinggal,," Kenzo menjelaskan sembari mengulum senyum. Teringat dengan Jeje yang semakin manja namun membuat Kenzo justru semakin gemas dan cinta pada istrinya itu.
"Oh ya.?" Tanya ibu Grace antusias. Matanya bahkan berbinar. Kenzo kembali mengangguk sebagai jawaban.
"Tapi sejak dulu Jeje memang manja. Mama saja seperti punya anak bayi kalau anak itu sudah main ke rumah." Ujar mama Grace.
Dia memang sudah menganggap Jeje seperti anak kandungnya sendiri sejak pertama kali dipertemukan dengan Jeje oleh Fely.
Sejak saat itu, Jeje lebih sering datang ke rumah ketimbang Nicho yang notabennya adalah kekasih Fely.
"Mama sudah nggak sabar ingin bertemu menantu mama yang cantik itu." Ucapnya. Mama Grace meraih tangan Kenzo.
"Kamu memilih wanita yang tepat. Meski usia Jeje masih sangat muda, tapi mama tau betul seperti apa sifatnya. Jeje sangat baik dan terkadang dewasa, mungkin saat ini sudah lebih dewasa karna sudah menikah." Tuturnya dengan seulas senyum haru.
"Pertahankan rumah tangga kalian apapun yang terjadi nantinya. Perjalanan rumah tangga tidak melulu tentang kebahagiaan saja. Ada kalanya kita diberi ujian untuk semakin memperkuat hubungan di antara kalian. Juga untuk menguji seberapa besar cinta yang kalian miliki satu sama lain, dengan tetap mempertahankan rumah tangga," Suara mama Grace bergetar menahan tangis.
Mata Mama Grace mulai berkaca - kaca. Dia tidak ingin anaknya mengalami kegagalan dalam rumah tangga seperti dirinya. Kegagalan rumah tangga yang pada akhirnya hanya akan saling menyakiti perasaan satu sama lain dan berdampak negatif untuk sang anak yang akhirnya harus kehilangan kasih sayang dari salah satu orang tuanya.
"Jangan pikirkan rumah tanggaku dan Jeje mah, kami akan baik - baik saja. Jeje lebih dewasa dari yang mama pikirkan,,"
"Fokus saja dengan kehidupan mama setelah ini. Mama harus bahagia sekarang,," Kenzo membalas genggaman tangan mama Grace.
"Ken janji akan mengganti semua kebahagiaan mama yang sempat hilang."
"Ken tau kalau papa masih mencintai mama,, Ken harap mama dan papa,,,
"Ken,, mama bukan lagi anak muda,," Mama Grace memotong ucapan Kenzo.
"Saat ini kebahagiaan mama adalah melihat kamu dan Fely bahagia. Itu sudah lebih dari cukup."
"Kamu juga sudah menikah, mungkin sebentar lagi akan memberikan cucu untuk mama. Mama akan sangat bahagia untuk itu."
Keduanya saling melempar senyum kebahagiaan.
Kenzo bahkan mengangguk pelan, semakin semangat untuk menghadirkan Kenzo junior agar bisa membuat sang mama semakin bahagia.
...****...
Pada takut baca judulnya "Bukan wanita mandul".
Apa perlu othor rubah judul jadi "Suami perkasa"? 🤣
Soalnya ngajak en a.. en a.. mulu 🤣
Akhirnya ganti judul jadi " Jangan rubah takdirku"