My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
Bab 58. Jalan berdua



Kami pergi ke resto yang tidak jauh dari pantai. Dengan duduk di luar resto, hembusan angin yang bertiup terasa begitu sejuk. Apa lagi dengan adanya laki - laki tampan yang duduk di depanku. Yang memasang wajah coolnya, dan enggan melirik ke arahku. Manis sekali dia.


Di antara kami berempat, hanya aku saja yang sejak tadi senyum - senyum tidak jelas. Sepertinya aku akan gila kalau harus terus berpura - pura seperti ini. Tidak tahan rasanya. Mulutku sudah gatal ingin berbicara dengan om Kenzo. Tapi apa daya, demi keutuhan hubungan kami yang baru hitungan jam aku harus bisa menahan diri. Aku tidak mau semuanya harus berakhir gara - gara aku tidak bisa mengontrol mulutku.


"Kamu kuliah atau masih sekolah.?" Tanya om Kenzo dengan raut wajah datarnya. Namun mampu memecah keheningan di antara kami berempat.


Aku benar - benar tidak tahan, rasanya aku ingin tertawa sekencang mungkin. Om Kenzo benar - bener tekun dalam bersandiwara.


Bisa - bisanya dia bertanya seperti itu sedangkan dia sendiri sudah tau. Tapi apa yang om Kenzo lakukan akan membuat kak Nicho ataupun kak Fely tidak curiga dengan hubungan kami.


Kita benar - benar seperti orang yang baru pertama kali bertemu. Padahal kami sudah sering bertemu, bahkan sudah sering menginap bersama.


"Baru mau kuliah om,, eehh,, kak maksudnya. Maaf,,"


Aku mengatupkan rapat - rapat mulutku, karna takut tidak bisa menahan tawa.


"Je.! Kamu ini nggak sopan banget. Manggil om seenaknya." Tegur kak Nicho.


"Maaf kak. Kakak kan tau sendiri aku itu masih anak - anak. Wajar kalau manggil orang yang sudah dewasa dengan sebutan om."


"Nggak papa kan om.?" Tanyaku pada om Kenzo.


Lebih baik aku terang - terangan di depan kak Nicho untuk meminta ijin pada om Kenzo untuk memanggilnya om. Dengan begitu aku tidak akan keceplosan lagi nantinya.


"Biarin aja Nich. Suka - suka adikmu saja,," Katanya.


Tuh,,, om Kenzo aja nggak keberatan kok." Aku memberikan pembelaan.


"Tapi tetep aja nggak sopan. Panggilan om terlalu tua,," Katanya. Kak Nicho masih saja tidak suka.


"Masalahnya aku ini masih terlalu muda kak, jadi wajar kalau panggil om. Lagian yang di panggil om juga nggak keberatan kok,," Ucapku tak mau kalah.


"Iya bawel.!" Ketus kak Nicho. sepertinya dia sudah malas berdebat denganku.


"Nyebelin.! Wleee,," Sahutku dengan menjulurkan lidah. Kak Nicho langsung melotot.


Perdebatan kami membuat kak Fely tidak bisa menahan tawa. Dan tawanya sukses membuat kak Nicho tertegun menatap kak Fely dengan tatapan mendamba.


Ahh,, dasar kakakku ini, dulu dia memang bucin abis dengan kak Fely.


"Ekheemm,,!!" Deheman om Kenzo membuat kak Nicho tersentak. Dia langsung pura - pura membuang pandangan ke arah lain.


"Ngeliatin apa kamu Nich.!" Tegurnya.


"Hah,, apa.?" Kak Nicho berlagak tidak tau.


"Ngeliatin orang yang dia cintai om,,," Mulutku langsung di bungkam oleh kak Nicho. Dia melototiku.


"Sekali lagi kamu ngomong, kakak bakalan balik ke resort." Bisiknya mengancam. Tentu saja aku tidak takut.


Aku langsung menyingkirkan tangan kak Nicho dari mulutku.


"Ya udah balik aja ke resort. Aku mau disini saja sama kak Fely dan om Kenzo. Lagian resort kami kan sebelahan, aku bisa balik sama mereka. " Sahutku enteng.


Kak Nicho hanya berdecak kesal.


"Maksudnya apa.? Siapa yang dicintai.?" Tanya om Kenzo, dia menatap aku dan kak Nicho bergantian. Sepertinya aku harus mengacungkan jempol untuk kehebatan om Kenzo dalam ber akting. Benar - benar natural, seperti tidak tau apapun tentang hubungan kak Nicho dan kak Fely. Padahal kami baru saja membahas mereka saat di resort tadi.


Aku juga harus mendukung akting om Kenzo, sekalian untuk membuat mereka berdua kembali lagi.


"Emang om nggak tau ya.? Apa kak Fely nggak pernah cerita.?" Ujarku. Baru bilang begitu saja, kak Nicho sudah melotot. Dia mencubit pelan pinggangku.


"Apaan sih kak.?! Kok aku di cubit.!" Protes ku kesal.


"Asal om tau yah, kak Fely sama kak Nicho pernah pacaran selama 3 tahun,,," Aku bicara dengan kecepatan seperti rollercoaster, agar kak Nicho tidak memotong ucapanku. Kak Nicho membungkam mulutku, sayangnya aku sudah terlanjur mengatakan semuanya.


"Kamu kelewatan Je.! Kenapa harus bilang sama Kenzo.!" Geramnya, dia berbisik di telingaku.


"Fely,,,!" Panggil om Kenzo dengan suara tegasnya. Kak Fely dengan wajah yang terlihat cemas, menatap om Kenzo dengan tatapan takut.


"Jadi Nicho mantan kamu.?" Tanyanya. Kak Fely hanya mengangguk tanpa bersuara.


Kini giliran om Kenzo menatap kak Nicho dengan tatapan tajamnya.


"Kamu punya urusan denganku Nich.!" Geramnya.


Aku jadi bingung, om Kenzo sedang akting atau serius.


"Urusan apa.? Kami udah nggak ada hubungan. Adik kamu sendiri yang memilih untuk pergi.!" Tegas kak Nicho penuh penekanan, dia melirik kak Fely dengan tatapan kebencian.


Sepertinya sakit hati kak Nicho belum juga hilang.


"Kita bahas nanti.!" Kata om Kenzo.


Tak berselang lama pesanan kami datang. Kami mulai menyantap makan malam dalam diam. Hanya ada isyarat mata antara aku dan om Kenzo yang saling melirik.


Kak Nicho terlihat cuek, dia fokus pada makanannya. Tidak menyadari kalau kak Fely sering melirik ke arahnya.


Seandainya kak Nicho tau, papa sudah menghina kak Fely hingga dia memutuskan untuk pergi, aku yakin kak Nicho akan menyesal karna sudah bersikap kasar pada kak Fely. Bisa di pastikan kak Nicho akan memohon pada kak Fely untuk meminta maaf.


Aku harus secepatnya memberi tahu kak Nicho tentang kebenaran ini. Aku hanya ingin kak Nicho kembali bersatu dengan cinta pertamanya. Rasanya tidak rela kalau kak Nicho menikah dengan orang lain, apa lagi dengan perempuan kecentilan itu.


Suasana setelah makan menjadi tegang. Om Kenzo tak henti - hentinya menatap kak Nicho dan kak Fely bergantian dengan tatapan mengintimidasi.


"Jadi dia yang kamu ceritain waktu itu.?" Tanya pada kak Fely.


"Iya kak. Hubungan kami sudah lama berakhir, aku mohon nggak usah di bahas lagi kak." Pinta kak Fely. Agaknya dia takut om Kenzo akan mengadukan pada kak Nicho perihal sikap papa kami yang sudah menghinanya.


Aku tau betul siapa kak Fely, dia lebih memilih pergi dengan rasa sakit dari pada harus membuat kak Nicho dan papa bertengkar.


Saat dulu kak Nicho memutuskan untuk keluar dari rumah karna menolak perjodohan, kak Fely terus mendesak kak Nicho agar kembali kerumah dan meminta kak Nicho untuk memutuskan hubungannya. Namun kak Nicho enggan menuruti permintaan kak Fely.


"Kakak tau. Tapi kakak nggak terima kamu diperlakukan buruk oleh,,,


"Ini masalah kami berdua, kakak nggak perlu masuk kedalam permasalahan kami. Lagipula semuanya sudah berakhir kak, nggak ada yang perlu di bahas lagi, jadi aku mohon,,,


"Sampai kapan kamu menyembunyikan itu dari Nicho.? Bukankah dia jadi membencimu karna,,,


"Biar aku yang bicara langsung sama dia kak."


Lagi - lagi kak Fely memotong ucapan om Kenzo. Sepertinya dia benar - benar tidak mau kak Nicho sampai mengetahuinya.


"Sebenernya ada apa ini.? Apa ada yang nggak aku ketahui selain kamu ninggalin aku karna mau nikah.?!" Nada bicara kak Nicho meninggi, hampir setengah membentak.


"Pelankan suaramu Nich.!" Tegur om Kenzo.


"Kak, tolong biarkan aku bicara sendiri dengannya."


Pinta kak Fely. Om Kenzo terlihat menghela nafas berat.


"Ya sudah, kakak kasih waktu buat bicara berdua."


Om Kenzo beranjak dari duduknya.


"Beri tau kakak kalau dia menyakitimu.!" Ujarnya menatap kesal pada kak Nicho.


"Kamu berurusan denganku kalau menyakitinya Nich.!"


Om Kenzo menepuk pundak kak Nicho sebelum akhirnya pergi.


Loh.? Terus aku gimana.? Kenapa om Kenzo main pergi aja dan tidak mengajakku.


"Hheee,," Aku tersenyum kikuk pada mereka berdua.


"Aku pergi dulu ya kak, mau balik ke resort,,"


"Hati - hati Je, udah malem." Sahut kak Nicho datar.


"Siap kak."


"Aku duluan kak Fely,,"


Kak Fely hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


Aku langsung berjalan cepat untuk menyusul om Kenzo. Ternyata dia masuk kedalam restoran untuk membayar makanan kami.


"Om tungguin dong.!" Panggil ku setengah berteriak. Dia berhenti saat hampir sampai di meja kasir, lalu menoleh ke arahku.


"Kok main pergi aja, bukannya ngajakin aku." Keluhku.


"Kamu bukan anak kecil yang harus di kasih instruksi dulu Je. Udah tau mereka berdua mau bicara empat mata, kamu malah bengong ngeliatin orang ganteng,,"


Aku melongo tidak percaya. Kenapa om Kenzo juga jadi kepedean seperti itu. Padahal dia selalu meledekku setiap kali aku memuji diri sendiri.


"Om Ken mulai kepedean nih."


"Aku bicara fakta. Kalo nggak ganteng, mana mungkin kamu demen." Ucapnya datar. Om Kenzo berlalu ke meja kasir.


Aku hanya diam di tempat sambil terus menatapnya dengan wajah yang merona.


Aku akui, memang yang aku nilai dari awal adalah fisik dan wajah tampan om Kenzo. Tapi seiring berjalannya waktu, dengan semua perhatian dan kebaikan yang om Kenzo tunjukan padaku hingga membuatku merasa nyaman, fisik dan ketampanan om Kenzo bukan lagi yang utama.


Aku tersenyum saat om Kenzo kembali menghampiriku.


"Kamu mau jalan - jalan.? Atau mau beli sesuatu.?"


Tawarnya. Sepertinya jalan - jalan bersama om Kenzo akan seru dan menyenangkan.


Aku tidak menyangka liburanku bersama kak Nicho akan berujung dengan kebahagiaanku yang akhirnya bisa berkencan bersama om Kenzo.


"Boleh om, jalan - jalan disekitar sini aja ya." Jawabku.


"Aku juga mau cari toko cendramata om, mau beli sesuatu,,"


"Ayo,," Om Kenzo meraih tanganku, menggandengku keluar resto. Untung saja meja makan kami ada diluar dan berada di samping resto, jadi kak Nicho tidak bisa melihatku dan om Kenzo bergandengan seperti ini.


Di Bali, suasana malam hari justru semakin ramai.


Banyak pasangan kekasih yang lalu lalang, termasuk aku dan om Kenzo.


Ya ampun,,, hati ini seakan disirami bunga yang bermekaran. Rasanya masih belum percaya kalau aku dan om Kenzo sudah menjadi sepasang kekasih. Aku berharap hubungan ini akan berakhir bahagia dalam ikatan pernikahan.


"Terima kasih sudah menyambut rasaku. Kini aku tidak takut lagi kehilanganmu. Karna aku percaya, cintamu padaku tidak akan membuatmu pergi meninggalkanku,,"


Aku semakin erat menggenggam tangan om Kenzo, lalu menatap genggaman tangan kami yang berayun seirama dengan langkah kaki kita berdua.


...*****...


Misi,,,, visual Nicho sama Fely mau lewat dulu.


Visual Nicholas


(Pacarnya author🤪)



Visual Felicia



Gimana.? Pacar othor ganteng kan ya.? 🤣


Jangan lupa vote, tinggalkan like dan komen🄰