
Jeje hampir tidak bisa berkata - kata setelah mendengarkan curhatan pilu dari Karin. Dia terlihat syok mendengar kabar jika Reynald sebenarnya memiliki anak dari wanita lain. Ditambah sikap Reynald yang tak kunjung membaik sampai saat ini. Hal itu membuat Jeje sedikit geram dan ikut merasakan sakit yang dirasakan oleh Karin.
Jika dia ada di posisi Karin, mungkin dia juga akan kesulitan menjalani rumah tangganya.
Kehidupan yang dijalani Karin terlalu berat, namun harus tetap dijalani.
"Kak Reynald benar - benar keterlaluan.! Dia harus diberi pelajaran.!" Geram Jeje dengan raut wajah yang sudah pasti menahan amarah. Dia mengeluarkan ponsel dari saku celananya, jarinya bergerak cepat pada layar ponsel. Jeje terlihat sedang mengirimkan pesan dengan kalimat yang panjang.
Karin sedikit melirik ponsel Jeje, namun tidak bisa melihat apa yang si ketik oleh Jeje dan pada siapa Jeje mengirimkan pesan itu.
Ada sedikit kekhawatiran dalam diri Karin, dia khawatir jika Jeje berbuat sesuatu yang akan membuat Reynald marah dan pada akhirnya akan melampiaskan kemarahan itu padanya.
"Ka,,kamu ngirim pesan ke siapa Je.?" Karin terlihat gugup.
"Kamu nggak perlu tau, aku pastikan kak Reynald akan menyesal karena sudah memperlakukan kamu seperti ini.!" Jeje terlihat lebih emosi ketimbang Karin. Rasa kesalnya pada Reynald sudah sampai di ubun - ubun, jika saja ada laki - laki itu di depannya, mungkin Jeje akan memukulinya hingga babak belur karena sudah berani membuat sahabatnya menderita.
"Tapi Je aku,,,"
"Kamu takut.? Kamu takut kak Reynald marah sama kamu.?" Jeje menatap Karin tajam dengan tatapan mengintrogasi.
"Kamu itu terlalu diam dan penurut Karin, kak Reynald jadi berbuat seenaknya. Sejak awal aku sudah bilang bukan, kamu harus cuek dan biarkan kak Reynald yang jatuh cinta lebih dulu. Tapi lihat sekarang.? Malah kamu yang cinta sama kak Reynald." Jeje menghembuskan nafas berat. Dia tau jika saat ini Karin sudah mulai mencintai Reynald. Terlihat jelas dari mata Karin yang terlihat sangat kecewa atas perlakuan Reynald, namun dia tidak berdaya karena rasa cintanya terhadap Reynald yang sudah terlanjur bersarang dalam hatinya.
"Maafin aku Je,,," Mata Karin berkaca - kaca, perlahan air matanya mulai menetes. Sesak didadanya terasa kian menghimpit. Terlalu banyak kekecewaan dan sakit hati yang dia rasakan karena sikap Reynald.
"Maaf untuk apa Rin.? Maaf tidak akan merubah apapun. Ini resiko yang harus kamu terima atas kecerobohan kamu."
"Berhenti menangis dan jalani semua ini dengan semestinya."
"Kamu jangan lemah seperti ini, aku yakin kamu bisa merubah keadaan. Termasuk merubah sikap kak Reynald dan membuatnya mencintai kamu."
Jeje meraih tangan Karin, menggenggam kuat tangannya untuk memberikan kekuatan dan dukungan penuh. Dia ingin memberitahu Karin jika dia akan selalu berdiri disampingnya dalam keadaan apapun. Dia akan selalu ada untuk membantunya.
"Aku nggak yakin Je. Aku bahkan mulai ragu untuk mempertahankan rumah tangga kami,,," Karin menundukkan kepalanya. Dia tidak sanggup lagi untuk menghadapi ujian yang sedang menerpanya. Rasanya terlalu sakit bertahan dengan orang yang tidak pernah mencintainya. Terlalu sakit bertahan dengan orang yang tidak tulus peduli padanya.
Dia,dan Reynald bagaikan bumi dan langit. Reynald terlalu tinggi untuk di gapai.
"Tapi aku yakin kamu bisa melewatinya. Aku yakin kamu lebih kuat dari apa yang aku kira."
"Kamu harus bertahan, anak kalian sangat membutuhkan sosok ayah dan ibunya yang saling mencintai dan hidup bersama."
"Dengarkan aku,,," Jeje memegang kedua pundak Karin, mengarahkan badan Karin agar saling berhadapan. Karin langsung mengangkat wajah untuk menatap Jeje.
"Tetap bertahan dengan pernikahan kalian. Tapi kamu harus lebih dulu menyingkirkan perasaan kamu pada kak Reynald. Hilangkan rasa cinta kamu lebih dulu agar kamu bisa bersikap cuek padanya. Dan jangan terlalu lemah, jangan diam saja saat kak Reynald memperlakukan kamu seenaknya."
"Yang terpenting cari kelemahan kak Reynald agar kamu bisa membuatnya jatuh cinta."
Jeje menjelaskannya dengan raut wajah yang begitu serius. Dia benar - benar ingin rumah tangga Karin dan Reynald berjalan semestinya. Dia ingin Karin juga merasakan kebahagiaan dalam hidup berumah tangga.
"Kak Reynald sangat sulit di tebak Je. Aku kesulitan harus bersikap seperti apa untuk membuatnya berubah dan sedikit saja mengerti perasaanku. Terkadang dia dingin dan cuek, tapi terkadang dia terlihat peduli,," Keluh Karin dengan wajah sendu.
Rasanya sangat berat berada di posisinya. Apa yang dia lakukan akan selalu salah dimata Reynald. Laki - laki itu sangat sulit untuk dimengerti.
"Ok,, jalani saja sesuai dengan isi hati kamu. Jalani semuanya dengan tulus, tapi satu hal yang harus kamu lakukan saat ini, hilangkan perasaan kamu lebih dulu. Buat kak Reynald yang mengejar cinta kamu, bukan malah kamu yang mengejar cintanya,,"
Jeje tidak ingin Karin merasakan sakit hati jika nantinya usaha Karin tidak membuahkan hasil. Dia tidak mau rasa cinta Karin terhadap Reynald pada akhirnya akan menghancurkan hidup Karin nantinya.
Karin mengangguk pelan. Dia akan mencoba untuk mengikuti saran dari Jeje. Salah dia sejak awal karena tidak mau mendengarkan omongan Jeje, hingga akhirnya dia yang lebih dulu jatuh cinta pada Reynald.
"Aku akan mencobanya,," Ujar Karin lirih. Dia mengembangkan senyum tipis. Meski hatinya sedang tidak baik - baik saja, dia mencoba untuk tetap tersenyum. Terlebih saat ini dia tau jika Jeje sedang mengkhawatirkannya. Karin tidak mau membuat Jeje terus memikirkan masalahnya, sedangkan Jeje juga tengah hamil saat ini.
Karin merasakan betapa tersiksanya dalam keadaan hamil harus memikirkan hal yang membuatnya stres.
...****...
Fely terlihat ragu saat Nicho menggandengnya untuk masuk ke dalam apartemen. Dia sudah tau akan ada adegan panas yang terjadi didalam jika mereka masuk. Raut wajah Nicho bahkan sudah berubah, sedikit memerah dengan sorot mata yang berkabut gairah. Fely paham betul jika melihat ekspresi wajah Nicho seperti itu. Dia pasti akan mencumbunya habis - habisan tanpa ampun.
Selama ini dia dan Nicho memang belum pernah melakukan hubungan seksual. Nicho selalu bisa mengontrol dirinya setiap kali Fely mencegahnya.
Tapi selalu saja ada rasa takut yang menghampiri setiap kali Nicho mencumbunya. Dia takut pada akhirnya Nicho tidak bisa menahan dirinya.
"Buruan, lama banget jalannya.!" Keluh Nicho dengan tatapan kesal. Dia menarik tangan Fely lebih kencang, sedikit menyeret agar Fely berjalan lebih cepat.
"Kamu tuh yang nggak sabaran.!" Sahut Fely wajahnya sudah ditekuk sejak Nicho menyeretnya di basemen.
"Udah ah aku pulang aja.!" Fely mencoba mengalihkan perhatian, dia pura - pura marah agar Nicho membatalkan niat mesumnya itu.
"Enak aja.! Mana bisa begitu." Tanpa memperdulikan Fely yang terus berkicau, Nicho semakin mempercepat langkahnya. Laki - laki itu seolah tidak sabar ingin menerkam Fely.
"Kamu itu jangan berlagak menolak, nanti juga keenakan kayak biasa.!" Cibir Nicho dengan mengulas senyum smirk. Senyum yang terlihat meledek. Fely hanya bisa mencebikan bibirnya, dia merasa malu hingga pipinya merona.
Pada akhirnya memang cumbuan Nicho selalu membuatnya terbuat.
Nicho membuka pintu apartemen, dia langsung menarik Fely kedalam. Ditutupnya kembali pintu itu dan kunci.
Tanpa memberikan aba - aba, Nicho langsung mengangkat tubuh Fely. Gadis itu dibuat teriak karena kaget, bahkan mendaratkan pukulan di dada Nicho.
"Nicho iihh.!!!"
Nicho tersenyum tipis.
"Makanya jangan banyak protes.! Turuti dan nikmati saja.!" Ketusnya.
Laki - laki itu langsung membawa Fely ke kamarnya.
Fely terlihat pasrah saat Nicho membaringkannya di tempat tidur. Laki - laki itu merangkak di atas tubuh Fely, mengungkung gadis cantik itu dengan wajah yang dipenuhi gairah.
Badan Fely terlihat bergetar, dia semakin takut saja melihat tatapan Nicho yang seolah akan menerkamnya bulat - bulat.
Badannya seketika kaku saat Nicho mendaratkan ciuman dibirinya. Laki - laki itu menyesal dan melu**t bibirnya tanpa henti. Sangat rakus dan semakin menuntut dengan tangan yang sudah bergerak liar dibalik kaos yang dipakai Fely.
Keduanya semakin hanyut. Fely juga tidak bisa menahan diri dan menikmati cumbuan Nicho.
Desahan tertahan mulai keluar dari bibir Fely saat Nicho menyesap aset kembarnya.
Dering ponsel membuat aktifitas panas itu terhenti. Nicho mengumpat kesal. Dia menyingkir dari atas tubuh Fely dan mengambil ponsel dari saku celananya.
Fely hanya tersenyum kikuk, dia menarik selimut untuk menutupi tubuh bagian atasnya yang hampir terbuka seluruhnya.
...****...