
Jeje menghampiri Karin, remaja itu memeluk erat sahabatnya yang baru saja menikah. Rasa harus tentu saja menyelimutinya.
"Selamat Rin,, semoga kamu selalu bahagia." Ucap Jeje.
Karin mengangguk pelan dalam dekapan Jeje.
Ibu hamil itu masih meragukan kebahagiaannya dalam menjalani hidup bersama Reynald.
"Makasih banyak Je." Sahutnya lirih.
Keduanya melepaskan pelukan dan saling melempar senyum.
Memilih untuk menerima pertanggungjawaban dari Reynald memang sudah menjadi keputusannya. Tapi hal itu Karin lakukan semata - mata untuk menghindari omongan buruk orang lain yang akan diterima oleh kedua orang tuanya. Juga untuk calon anaknya agar memiliki kedua orang tua yang utuh.
Karin sadar, saat ini dia hanya bisa menjalani rumah tangganya dengan setengah hati. Itupun bukan karena ada rasa cinta terhadap Reynald, Melainkan karena keluarganya agar tetap baik - baik saja setelah mendapat cobaan yang dapat mencoreng nama baik keluarga.
"Kamu harus ingat Rin, selama kak Reynald masih kaku dan dingin sama kamu, kamu juga harus bersikap seperti itu padanya. Tapi jangan sampai kamu melupakan tugas kamu sebagai istri." Ucap Jeje lirih. Kini dia mendekat pada Karin untuk membisikan hal yang lebih jauh lagi.
"Layani saja kak Rey dengan baik di atas ranjang, juga urus semua keperluannya termasuk makan." Tuturnya dengan suara pelan namun tegas.
"Yang terpenting, sikap kamu harus cuek. Jangan gunakan perasaan dulu.sebelum kamu yakin kalau kak Reynald sudah cinta sama kamu,," Lanjutnya lagi. Jeje terlihat semangat memberikan ide untuk Karin agar bisa mendapatkan hati Reynald.
Karin sedikit terkejut mendengar usulan dari Jeje. Bagaimana mungkin dia bisa melayani Reynald di atas ranjang dengan baik. Membalas ciuman Reynald saja dia tidak berani.
Selama ini Karin hanya menjadi pemain pasif. Bahkan terkadang dia masih takut saat Reynald memintanya.
Sekarang sudah 2 minggu berlalu, mereka tidak pernah melakukannya dan baru bertemu lagi 2 hari ini. Pasti rasa takut dan canggung itu akan semakin besar. Lalu bagaimana caranya dia bisa melayani Reynald dengan baik.?
Sepertinya usulan Jeje tidak bisa Karin lakukan dalam waktu dekat.
"Tapi Je,, yang itu aku nggak bisa,," Sahut Karin lirih, dia juga terlihat malu.
"Kenapa nggak bisa.? Bukannya kalian sudah sering.? Buktinya sampai isi begini,," Jeje mengusap lembut perut Karin.
"Jangan bilang kalau kamu malu.?! Dalam situasi seperti ini, mendingan kamu singkirin dulu rasa malu kamu. Lagipula enak bukan.?" Tanya Jeje menggoda.
Karin langsung membulatkan matanya, tapi setelah itu menunduk malu dengan wajah yang merona.
Dia memang benci saat Reynald melakukannya, namun tubuhnya berkata lain. Terkadang Karin hampir terbawa suasana saat melakukan penyatuan dengan Reynald, tapi kemudian dia langsung mengalihkan pikirannya ke hal lain untuk tidak hanyut dalam permainan Reynald.
"Jangan ngajarin yang aneh - aneh Je,!" Tegur Kenzo lembut. Rupanya sejak tadi Kenzo mendengar sekilas obrolan Jeje dan Karin.
Jeje menoleh, kemudian menyengir kuda pada Kenzo.
"Bukan ngajarin yang aneh - aneh by, cuma lagi ngasih tau tips biar rumah tangga Karin dan kak Reynald jadi lengket," Ucapnya pelan.
"Lengket apanya.?"
Reynald yang baru selesai menerima telfon, langsung menghampiri ketiga orang itu. Dia hanya mendengar 4 kata terakhir yang di ucapkan oleh Jeje.
"Kak Reynald yang bentar lagi lengket.! Lengket sama Karin sampai nggak mau lepas, alias bucin akut,," Celetuk Jeje cepat.
"Jangan sok tau kamu.!" Ketus Reynald kesal.
"Siapa yang sok tau.? Kita liat saja nanti,," Sahut Jeje yakin.
"Terserah.!" Ujar Reynald malas.
Jeje berdecak kesal melihat sikap Reynald yang ternyata memang sangat - sangat menyebalkan.
Jika bukan karena memikirkan masa depan Karin dan calon anak Karin, mana mau Jeje memberi dukungan pada Karin agar bisa mendapatkan hati Reynald.
Sementara itu, Karin terlihat menghela nafas pelan. Mendengar jawaban Reynald yang sedang berdebat dengan Jeje, Karin semakin tidak yakin bisa membuat Reynald mencintainya. Dia merasa kalau kriteria wanita Reynald bukan seperti dirinya.
...***...
Menjelang malam, Jeje dan Kenzo meninggalkan kediaman Karin untuk kembali lagi ke hotel. Tak lupa, Kenzo memberikan kunci hotel yang dia pesankan untuk asisten pribadinya itu.
Keluarga besar Reynald juga sudah pulang. Kini hanya ada keluarga besar Karin dan Reynald yang saja menjadi anggota baru di keluarga sederhana itu.
Sejak tadi Reynald terus mendapatkan amanah dari kedua orang tua Karin dan kakak pertama Karin.
Mereka terus meminta Reynald untuk menjaga Karin dan tidak menyakitinya.
Mereka terlihat sangat mengkhawatirkan nasib Karin di tangan manusia kaku dan songong itu.
"Kalian tidak perlu khawatir. Saya tidak mungkin menyakiti istri dan calon anak saya.!" Sekali lagi Reynald menegaskannya.
Dia tidak habis pikir dengan keluarga Karin yang seolah melihatnya seperti sosok laki - laki yang kejam.
Entah sudah berapa puluh kali mereka mengatakan hal yang sama.
"Saya pegang ucapan kamu.!" Sahut kakak pertama Karin. Reynald hanya mengangguk.
"Saya permisi dulu, mau mandi,,"
"Itu si kaku mau mandi neng. Memangnya dia ada baju ganti.?" Tanya Pak Dadang.
Karin tersentak, rupanya sejak tadi dia melamun, menatap kepergian Reynald yang tidak memberikan respon apapun saat lewat di depannya.
Karin menggelengkan kepalanya.
"Nggak tau pak,," Jawabnya singkat.
"Di susul dulu neng, tanyain bawa baju apa enggak." Perintahnya.
"Kalau nggak bawa, pake kaos partai punya Bapak aja tuh yang nggak kepake karna kegedean."
"Kayaknya kalau di pake si kaku mah pas di badannya,,"
Karin hanya bisa melongo. Bagaimana bisa bapaknya menyuruh Reynald untuk memakai kaos partai, sedangkan baju - baju yang biasa di pakai Reynald adalah baju - baju yang menurut Karin sangat mahal.
"Atuh si Bapak yang bener aja. Mana mau dia pake kaos partai pak,," Seloroh Radit.
"Bapak nggak liat, barang - barang yang di pake dia tuh mahal - mahal semua."
"Daripada nggak pake baju,," Sahut Pak Dadang lagi.
"Kok jadi ngeributin baju sih,," Ujar Karin, dia beranjak dari duduknya.
"Sebentar, Karin tanyain dulu sama kak Rey,,,"
Karin langsung berjalan menuju kamarnya.
Dia mengutuk kamar berkali - kali, tapi Reynald tidak menjawabnya. Sepertinya laki - laki itu sudah berada di kamar mandi.
Tidak mau kalau Reynald keluar kamar tanpa memakai baju, akhirnya Karin memutuskan untuk masuk kedalam kamar.
Suara gemercik air dari dalam kamar mandi, membuat darah Karin berdesir. Karin jadi ingat saat mereka mandi bersama di apartemen Reynald. Tentu saja atas paksaan dari Reynald.
Karin sedikit ragu mengetuk pintu kamar mandi.
"Kak,," Panggilnya dengan suara lirih. Karin mengetuk pintu dengan pelan.
"Apa.?!" Suara maskulin Reynald terdengar menggema dari dalam.
"Masuk saja, nggak di kunci,," Tambahnya lagi.
Karin hanya bisa membulatkan matanya. Reynald benar - benar membuatnya malu.
Laki - laki itu seolah olah mengatakan kalau Karin ingin mandi bersama dengannya.
"Kakak bawa baju ganti.?"
Enggan menanggapi ucapan Reynald yang menyuruhnya masuk, Karin langsung mengatakan tujuannya mendatangi Reynald ke kamar.
"Kamu ngomong apa.? Aku nggak denger, masuk saja.!"
Karin berdecak kesal. Apa pikir dia sebodoh itu. Bagaimana mungkin dia tidak bisa mendengar tapi bisa menyahuti panggilannya.
"Kakak bawa baju ganti nggak.??!!" Seru Karin dengan berteriak. Saat itu juga Reynald membuka pintu kamar mandi, Karin dibuat syok dengan penampakan Reynald yang bertelanjang badan.
"Apa susahnya tinggal masuk,,!" Reynald menarik tangan Karin, membawa istrinya itu kedalam kamar mandi.
"Kak, jangan kayak gini,," Karin menarik tangan dari genggaman Reynald. Dia memalingkan wajah, tidak berani menatap Reynald.
"Kamu tanya apa tadi.?" Reynald terlihat santai saja berdiri di dapan Karin tanpa sehelai benang di badannya.
"I,,itu,, kakak ada baju ganti nggak.? Kalau nggak ada, mau di pinjemin baju Bapak."
"Mama bawain baju ganti, ada di ruang keluarga. Koper hitam kecil,," Ujar Reynald sembari mendorong pelan tubuh Karin hingga keluar kamar mandi.
"Cepat ambil dan bawa ke sini,,!" Perintahnya. Reynald menutup kamar mandi begitu saja.
Karin berdecak kesal, dia segera keluar kamar untuk mengambil koper milik Reynald.
Laki - laki itu memang menyebalkan, sejak pertemuan pertama selalu menyuruh dengan nada ketus dan sesuka hati.
...***...
Galau nih, mau di ubah ke cover awal nggak bisa - bisa.
Padahal lebih cocok cover bikinan othor, 😁 (muji diri sendiri sekali - kali).
Cover dari platform kurang menarik 😁.
Btw, makasih banyak votenya. 🥰