
Aku terkejut mendengar mama yang ingin menikahkanku dan om Kenzo secepatnya. Bagaimana aku akan menikah, sedangkan aku baru saja kuliah. Aku memang ingin menikah muda, tapi tidak untuk saat ini di usiaku yang baru saja 18 tahun. Umur 18 tahun untuk menikah, tidak bisa di kategorikan sebagai nikah muda. Masih terlalu dini untuk menikah.
"Apa maksud mama.? Bukannya kita sudah sepakat untuk menikahkan mereka setelah Jeje lulus kuliah."
Papa menatap kami bertiga secara bergantian, tatapan mata yang tajam seperti mengeluarkan cahaya laser. Aku langsung menunduk karna takut.
"Papa mau Jeje hamil sebelum menikah.?!" Ucap mama penuh penekanan.
"Apa.??!!" Lagi - lagi papa terlihat syok.
"Ken.!! Coba kamu jelaskan.! Apa yang sudah kamu lakukan pada Jeje.?" Geram papa.
"Maaf om,, saya,,
Plaakkkk,,,,
Aku langsung mengangkat kepala begitu mendengar suara tamparan yang cukup keras.
Aku hanya bisa melongo melihat pipi om Kenzo yang memerah karna tamparan dari papa.
"Berani - beraninya kamu menodai anak saya. Saya mengijinkan kamu menjalin hubungan dengan anak saya, tapi tidak mengijinkan kamu untuk merusaknya.!"
"Pah,,," Aku menahan tangan papa yang hendak menampar om Kenzo lagi.
Om Kenzo tidak sepenuhnya bersalah, sejak awal aku yang sudah salah langkah. Aku sudah masuk kedalam lingkaran hitam, menjadikan diriku sebagai sugar baby. Aku yang sudah merusak diriku sendiri, bukan om Kenzo.
"Sudah pah,, jangan memperkeruh keadaan."
Ujar mama.
"Kita sudah merestui nak Kenzo, sebelum mereka melakukan hal diluar batas, sebaiknya kita percepat saja pernikahan mereka."
"Apa papa lupa, saat papa seusia Kenzo, papa sudah memiliki Nicho. Kenzo pria dewasa pah, kita tidak bisa membiarkannya terlalu lama menunggu Jeje,,"
"Tidak ada salahnya mereka menikah lebih dulu, asal Jeje menyelesaikan kuliahnya sebelum ingin memiliki anak. Jeje masih terlalu muda untuk mengandung dan melahirkan,,"
Aku hanya diam mematung. Pikiranku sudah buntu. Aku tidak tau harus berbuat apa. Haruskah aku menerima keputusan mama.? Atau aku harus menolaknya.? Aku berada dalam situasi yang membingungkan. Aku sendiri masih ragu dengan perasaanku saat ini.
Bagaimana aku bisa menikah dengan om Kenzo saat hati ini tidak bisa memastikan perasaanku padanya.
Papa menghela nafas berat.
"Keputusan ada di tangan Jeje, kalau dia bersedia menikah dalam waktu dekat, papa akan menyetujuinya."
"Tapi kalau Jeje menolak, papa harap kalian bisa menahan diri."
"Terutama kamu Ken.!" Papa menunjuk om Kenzo.
"Kendalikan diri kamu, jangan mengecewakan kami.!" Ujarnya penuh penekanan.
"Kita bicara setelah sarapan.!"
"Terima kasih om,, saya minta maaf untuk ini,," Om Kenzo membungkuk hormat.
Papa tidak memberikan respon, dia keluar begitu saja dari kamarku.
"Ayo keluar. Mama tidak mau melihat kalian berada dalam satu ruangan lagi seperti ini,,!"
Aku mengangguk lemah. Kami mengikuti langkah mama di belakang. Aku hanya bisa menundukan kepalaku, dengan perasaan yang semakin kacau.
"Semuanya akan baik - baik saja,," Ucap om Kenzo sembari menggenggam tanganku. Aku segera menarik perlahan tanganku dari genggamannya, tanpa sedikitpun menoleh pada om Kenzo.
Suasana sarapan kali ini terasa mencekam. Tidak ada satupun yang berbicara sejak kami duduk di meja makan sampai akhirnya papa datang dan mulai menyantap makanan kami masing - masing.
Keheningan terjadi setelah selesai sarapan.
Deheman papa memecah keheningan.
"Jadi bagaimana keputusan kamu Je.?" Tanya papa dengan suara tegasnya.
"Semua keputusan ada di tangan kamu, asal kamu bisa mempertanggung jawabkan keputusan yang sudah kamu buat,,"
Aku semakin takut saja mendengar ucapan papa. Aku merasa sedang di adili atas kesalahan besar yang aku perbuat.
Aku dilema. Rasanya sulit untuk mengambil keputusan ini.
Tapi cepat atau lambat, kami pasti akan menikah.
Aku sadar akan keadaanku saat ini, jika aku menolak om Kenzo, belum tentu aku bisa mendapatkan laki - laki yang bisa menerima kondisi ku. Tapi aku butuh waktu untuk kembali membuka hati pada om Kenzo.
"Jeje ingin fokus kuliah Pah. Jeje janji akan lebih menjaga diri,,," Jawabku sedikit ragu.
"Kamu yakin dengan keputusanmu.? Papa tidak akan memberikan toleransi kalau kamu melanggar keputusan kamu sendiri,,,"
Ucapan papa berhasil membuat jantungku berdetak kencang. Sejujurnya aku juga takut, takut tidak bisa memegang ucapanku sendiri.
"Kamu masih bisa fokus kuliah meski sudah menikah Je. Selama kalian bisa menunda kehamilan."
"Mama lebih lega kalau kalian menikah lebih dulu, bukannya mama tidak percaya pada kalian. Hanya saja kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi kedepannya,,"
Sepertinya mama sangat mendukung jika kami menikah lebih dulu. Mama pasti tidak ingin aku hamil sebelum menikah.
"Saya setuju tante. Saya akan membebaskan Jeje untuk fokus pada kuliahnya. Dan kami bisa menunda kehamilan sampai usia Jeje cukup matang untuk mengandung,,"
Aku tau om Kenzo memang serius sejak awal, hanya saja dia sudah membuatku kecewa dengan kebohongan yang dia lakukan. Sampai akhirnya mampu membuat perasaanku perlahan mulai pudar padanya.
Apa aku berlebihan jika terus bersikap dingin pada om Kenzo.?
Haruskah aku membiarkan kami menikah dalam waktu dekat untuk kembali memperbaiki hubungan kami, dan menghadirkan kembali cinta yang sudah terkubur dalam hatiku.
"Kamu jangan maen setuju - setuju saja.!" Tegas papa.
"Disini keputusan papa serahkan sepenuhnya pada Jeje,,"
Aku menarik nafas dalam.
"Baiklah, Jeje tidak keberatan kalau harus menikah lebih dulu. Asal Jeje masih bisa kuliah,,,"
Aku bisa melihat rona bahagia di wajah om Kenzo. Dia mengulas senyum padaku dengan tatapan yang teduh.
Begitu juga dengan mama yang terlihat lega mendengar keputusanku.
"Baiklah kalau itu keputusan kamu. Apapun yang terjadi pada kalian setelah menikah nanti, itu akan menjadi tanggung jawab kalian berdua."
"Papa dan mama tidak akan ikut campur permasalahan kalian nantinya,,"
Aku dan om Kenzo mengangguk bersamaan.
"Ken, minggu ini bawa papa kamu kemari. Kita bahas acara pernikahan kalian."
"Kita buat acara sederhana saja, untuk resepsinya kita gelar setelah Jeje lulus kuliah,,,"
"Baik om,,"
"Saya janji akan menjaga Jeje, dan bertanggung jawab penuh padanya. Saya benar - benar mencintai Jeje om."
"Terima kasih sudah memberikan restu untuk kami,,"
Ucapnya penuh kesungguhan. Aku hanya mengulas senyum tipis mendengarnya.
"Saya percayakan sepenuhnya pada kamu.!"
"Kamu orang yang bertanggung jawab dalam urusan pekerjaan, jadi saya tidak perlu ragu dengan tanggung jawab kamu terhadap Jeje,,"
"Papa berangkat ke kantor dulu,,,,"
Papa beranjak dari duduknya, di ikuti oleh mama yang akan mengantar papa ke depan.
"Hati - hati om,,,
"Hati - hati pah,,
Ucapku dan om Kenzo bersamaan.
Papa dan mama menatap kami bersamaan, keduanya hanya menggeleng pelan melihat kekompakan kami, kemudian beranjak dari ruang makan.
"Aku lega, akhirnya kamu bisa memaafkanku dan memulainya dari awal."
"Aku janji tidak akan mengecewakan kamu lagi,,"
Ujarnya sembari mengusap pelan kepalaku.
"Tapi aku belum bisa mencintai om lagi,,," Ucapku jujur. Ekspresi wajah om Kenzo seketika berubah.
"Tidak masalah, aku hanya perlu berjuang untuk membuat kamu jatuh cinta lagi padaku."
"Bukankah gampang membuat kamu jatuh cinta, dulu kamu dengan mudahnya menaruh hati padaku,, " Ledek om Kenzo. Aku berdecak kesal.
"Kali ini tidak akan semudah itu. ! Jadi om harus berjuang lebih keras untuk itu,," Tegasku.
"Kamu menantangku.?" Tanya om Kenzo.
Aku mengangguk cepat.
"Kita lihat saja hmm,,," Ujarnya sembari menarik hidungku.
"Aku juga harus ke kantor. Baik - baik disini, aku pulang dulu,," Om Kenzo beranjak dari duduknya, kemudian meninggalkan satu kecupan di pucuk kepalaku.
Aku hanya mengangguk pelan.
Semoga saja keputusan yang aku ambil sudah tepat.
...****...
Makasih yang masih stay, ngasih vote dan hadiah🙏
Othor nikahin aja ya mereka berdua, biar om ken berjuangnya lebih bebas. Soalnya mau berjuang pake cara mesum, takutnya kebablasan 🤣 kalo udah nikah kan nggak masalah.
Jangan lupa mampir ke novel othor di akun satunya yah.
Siapa yang udah mampir cung,,, ☝