
Karin sudah ketakutan sejak mendengar Reynald membentak Jeje. Dia takut sahabatnya itu akan terus disalahkan oleh Reynald yang menuduh Jeje membuatnya pingsan. Karin bahkan berfikir untuk mengakhiri sandiwaranya jika Reynald terus menyalahkan Jeje, namun dia terlanjur penasaran dengan reaksi Reynald.
Karin memang mendengar suara Reynald yang terdengar sangat panik saat menyebut namanya dan membentak Jeje, ada sedikit rasa lega dalam hatinya karna ternyatanya Reynald mencemaskan dirinya.
Entah apapun alasan Reynald yang terlihat begitu cemas, Karin mulai merasa jika Reynald memiliki perasaan padanya.
Begitu juga saat Reynald menggendongnya, dekapan Reynald terasa sangat erat. Detak jantungnya yang berpacu cepat bahkan terdengar jelas di telinga Karin.
Berkali - kali Reynald terus memanggil nama Karin, sesekali menggoncang pelan lengannya dan memintanya untuk membuka mata.
"Karin bangun,,!" Meski suara Reynald masih terdengar tegas, tapi ada kepanikan di dalamnya.
"Ken.! Cepat sedikit.!" Serunya sembari menengok kebelakang. Menatap Kenzo yang terlihat sedang tersenyum puas, hal itu sontak membuat Reynald merasa kesal.
"Apa yang kau tertawakan.?!" Ketusnya. Reynald kembali fokus pada jalan dan mempercepat langkahnya.
"Kau itu kenapa berlebihan seperti itu.?! Tidak akan terjadi apapun pada Karin.!" Seru Kenzo sewot. Jeje yang berjalan di sebelahnya terlihat ketakutan, takut jika Kenzo akan kelepasan bicara dan semua rencananya gagal.
"Berlebihan kau bilang.?!!"
"Dia pingsan.! Ada anakku di dalam perutnya. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada anakku.?!"
Sahut Reynald dengan berapi - api.
Mendengar penuturan Reynald, Karin merasa detak jantungnya berhenti untuk beberapa detik. Pikirannya kembali kacau saat Reynald hanya menghawatirkan anak yang ada di dalam kandungannya. Karin merasa jika dirinya sama sekitar tidak diperdulikan oleh Reynald.
"Jadi kak Rey hanya mengkhawatirkan calon kalian saja.?!" Jeje bertanya tanpa bisa menyembunyikan rasa kesalnya. Ucapan Reynald juga membuat Jeje berfikir bahwa laki - laki itu hanya peduli pada anak yang ada di dalam kandungan Karin.
"Tentu saja aku mengkhawatirkan mereka.!" Sahutnya cepat.
"Kenapa kalian lambat sekali.?! Cepat sedikit jalannya.!"
Jeje dan Kenzo sama - sama berdecak kesal. Kalau saja bukan karena Karin, Jeje tidak akan tinggal diam saat di bentak - bentak seperti itu oleh Reynald. Dia bahkan berkali - kali melayangkan tinjuan udara pada Reynald yang berjalan di depannya. Kesabarannya seolah sedang di uji oleh lawan bertengkarnya.
Begitu juga dengan Kenzo yang lebih memilih untuk tidak lagi menanggapi ucapan Reynald. Dia ingin sandiwara ini segera berakhir sesuai dengan rencana Jeje dan bisa secepatnya mendapatkan imbalan yang di janjikan oleh Jeje.
Begitu sampai di basement, Kenzo lansung membukakan pintu mobil belakang. Reynald memasukan Karin lebih dulu dan dia ikut masuk kedalam sambil terus mendekap Karin.
Kenzo tersenyum puas melihat laki - laki buaya itu terlihat sangat panik. Rasanya sangat menyenangkan bisa ikut mengerjai Reynald.
Jeje yang sudah masuk ke dalam berusaha untuk tidak tertawa. Dia pura - pura panik dan terus mengeluarkan air mata sambil terus memanggil nama Karin. Tak lupa dia juga mengawasi Karin yang sejauh ini sangat keren dalam ber akting.
Namun Jeje juga sedikit was - was.
"Ayo by cepatan jalan.!" Seru Jeje dengan isak tangis. Kenzo yang baru duduk di jok kemudi hanya bisa menggelengkan kepalanya menyaksikan akting istrinya yang memukau. Sangat menyakinkan layaknya ratu drama.
Istrinya itu benar - benar licik namun menggemaskan. Rasanya semakin tidak sabar untuk menagih imbalan yang pastinya akan lebih menantang dari biasanya.
"Tenang sayang, jangan berlebihan seperti manusia bodoh itu,,," Ujar Kenzo menyindir. Tak lupa memberikan lirikan sinis pada Reynald. Reynald yang merasa disindir langsung melotot tajam pada Kenzo, merasa tidak terima di sebut bodoh.
"Kau bilang apa tadi.?!" Seru Reynald ketus.
"Kau.! Kau itu bodoh.!" Kenzo menjawab sembari melajukan mobilnya.
"Kamu sendiri yang sudah menyebabkan istrimu seperti itu, tapi masih bisa menyalahkan istriku.!" Kenzo masih saja tidak terima saat Reynald membentak Jeje dan menyalahkannya.
"Istrimu sedang hamil, jangan membuatnya stres dan tertekan.! Kalau kamu belum bisa mencintanya sebagai istri, setidaknya kamu bisa bersikap baik padanya sebagai ibu dari calon anakmu.!"
"Hargai dia sebagai istrimu.! Atau kamu akan menyesal nantinya.!"
Jeje menatap Kenzo dengan tatapan haru. Meski dia hanya menyuruh Kenzo untuk pura - pura tidak tau sandiwara mereka, tapi Kenzo berinisiatif untuk ikut menyadarkan Reynald dengan perkataan yang tentunya bisa membuat Reynald langsung mematung.
Menyadari Jeje sedang manatapnya penuh kebanggan, Kenzo langsung mengedipkan sebelah matanya.
"Imbalanku,," Kata Kenzo tanpa bersuara. Hanya gerakan bibirnya saja yang tentunya bisa dibaca jelas oleh Jeje. Jeje langsung melotot dan mencubit lengan Kenzo karna takut akan di curigai oleh Reynald.
"Karin sudah kehilangan masa mudanya yang berharga. Dia juga kehilangan kebahagiaan yang selama ini terpancar di wajahnya,," Ujar Jeje sembari menengok kebelakang untuk menatap wjah Reynald. Dia ingin memastikan perasaan apa yang dimiliki oleh Reynald untuk Karin.
"Karin memutuskan untuk menikah dengan kakak, itu artinya dia percaya jika kak Rey akan menjadi suami dan ayah yang baik untuk anaknya."
"Aku yakin Karin tidak berharap banyak dari kak Rey, tapi dia hanya ingin di perlakukan dengan baik layaknya seorang istri dan ibu dari calon anak kak Rey."
"Rubah sedikit sikap kak Rey, sebelum Karin benar - benar pergi."
Reynald langsung memberikan tatapan serius setelah mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan oleh Jeje.
"Apa maksud kamu.?!" Tanyanya dengan rasa penasaran yang tinggi.
"Karin mungkin tidak mengatakan ini pada siapapun selain aku."
"Kak Rey tau.? Karin bertekat untuk pergi dari kehidupan kak Rey dan berniat untuk tinggal di luar negeri."
Karin langsung membuka mata, dia tidak menyangka Jeje akan bertindak sejauh itu dengan memberikan omong kosong pada Reynald.
Jeje hanya bisa melongo dengan mata yang membulat sempurna saat Reynald mengetahui jika Karin sudah membuka matanya. Jantungnya serasa akan keluar dari tempatnya karna takut ketahuan oleh Reynald.
"Kamu sudah sadar,," Ujar Reynald lirih. Karin terlihat bengong, dia merasa bingung dengan situasi saat ini. Entah sandiwaranya di ketahui oleh Reynald, atau Reynald sama sekali tidak menyadari hal ini.
"Ken cepat sedikit.!!" Seru Reynald setengah membentak. Dia masih saja mendekap tubuh Karin.
"Dia sudah sadar Rey.!"
"Apa maksudmu.?! Aku harus memastikan kondisinya.!!"
"Kak, aku baik - baik saja,," Ujar Karin lirih, dia sengaja membuat suaranya seperti orang yang sedang sakit. Dia juga mendorong pelan tubuh Reynald agar melepaskan dekapannya.
"Baik apanya.? Kamu itu baru saja pingsan.!" Tegasnya. Reynald kembali menarik Karin dalam dekapannya.
"Maaf,,," Lirih Reynald sembari memberikan usapan lembut di kepala Karin. Dia sadar baru saja berkata ketus pada Karin.
"Aku harus memastikan kondisi kamu dan anak kita,," Ucapnya lagi masih dengan suara lirih.
Jeje tersenyum melihat pemandangan menyejukkan itu, dia langsung membenarkan posisi duduknya, tidak lagi mengengok ke belakang agar Reynald dan Karin bisa lebih luasa.
Karin mengangguk pelan tanpa berbicara apapun. Dia sudah bisa menyadari bahwa Reynald memiliki perasaan padanya, namun pada dasarnya sikap Reynald tidak bisa dirubah begitu saja hanya dalam hitungan minggu.
Sepanjang perjalanan, Reynald tidak melepaskan Karin sedetikpun. Dia terus mendekapnya, mengusap punggung dan kepala Karin berulang kali sampai akhirnya Karin terlelap karna terlalu nyaman dengan dekapan dan sentungah tangan Reynald.
Sampainya di rumah sakit, Reynald langsung menggendong Karin tanpa membangunkannya lebih dulu.
"Kita langsung ke ruang pemeriksaan saja.! Temanku bekerja disini.!" Seru Kenzo sambil berjalan mendahului Reynald untuk menunjukan jalan. Reynald sama sekali tidak mencurigai hal itu, dia menurut dan mengikuti langkah Kenzo dan Jeje.
"Karin bangun,,," Reynald membangunkan Karin saat akan masuk ke dalam ruangan itu.
Karin membuka mata dan menatap Reynald dengan kikuk. Dia terlalu pulas sampai tidak menyadari sudah berada di rumah sakit.
"Maaf aku,,,
"Tidak apa,, kamu bisa tidur lagi setelah di periksa nanti." Reynald memotong ucapan Karin dengan suara yang lembut.
Karin mengangguk dengan seulas senyum tipis.
Begitu masuk kedalam ruangan, Jeje langsung memberikan kedipan mata pada dokter Shela, yang langsung di sambut gelengan kepala. Shela merasa heran dengan ide konyol yang sedang di jalankan oleh Jeje dan temannya.
"Tolong periksa dia Shel, dia istri temanku,," Ujar Kenzo.
"Cepat periksa istriku.!!" Ketus Reynald sembari membaringkan Karin di bangsal.
Keempat orang yang ada disana teihat saling pandang kecuali Reynald. Suasana terlihat membingungkan dan kikuk.
"Kalian bisa menunggu diluar, biar aku memeriksanya." Shela menyuruh mereka untuk keluar, sebenarnya bisa saja Reynald tetap ada di dalam. Tapi Shela ingin menanyakan rencana mereka akan seperti apa selanjutnya.
"Biar mereka saja yang keluar, aku suaminya.!" Tegas Reynald.
Jeje langsung mendekati Shela tanpa membuat Reynald curiga sedikitpun.
"Kak tolong buat dia bisa memperlakukan istrinya dengan baik, tidak lagi membuatnya tertekan,," Bisik Jeje lirih sembari pura - pura mendekati bangsal dan tersenyum pada Karin.
"Aku tunggu di luar Rin,," Ujar Jeje kemudian menghamompiri Kenzo dan menggandengnya keluar.
"Bagaimana kondisinya.?!" Reynald terlihat tidak sabaran. Dia langsung menodongkan pertanyaan begitu Shela selesai memeriksa Karin.
"Dia hanya tertekan dan terlalu banyak pikiran. Memang untuk saat ini tidak membahayakan kehamilannya, tapi kalau kondisinya terus seperti itu, aku tidak yakin,,,," Shela sengaja menggantungkan ucapannya agar membuat Reynald penasaran.
"Apa yang akan terjadi.?!" Wajah Reynald sudah panik.
"Aku tidak yakin dia bisa bertahan sampai melahirkan nanti." Ujar Shela lirih.
"Jadi pastikan dia selalu happy dan berfikir positif. Jangan terlalu stres."
"Aku akan menuliskan resepnya,,"
Reynald hanya bisa menatap Karin dengan sorot mata yang sendu.
Shela berlalu dari sana, keluar dari ruangan itu dan melotot tajam pada sepasang suami istri yang sedang duduk bermesraan.