
Awas adegan hareudang,,!!
Di skip dulu aja kalo baca pas siang. 😁
Aku langsung keluar resort sepeninggalan kak Nicho. Sudah tidak di ragukan lagi, dia pasti pergi menemui kak Fely. Semoga saja mereka bisa kembali bersama.
Melihat ada om Kenzo yang tengah duduk di depan resort yang dia tempati, aku segera menghampirinya. Dia terlihat sibuk dengan laptop di atas meja.
"Pagi om,,," Sapaku penuh cinta dengan hati yang berbunga - bunga.
"Siang Je. Kamu baru bangun.?" Om Kenzo tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun ke arahku. Fokus dengan laptop dan jarinya yang terus bergerak disana.
Tanpa disuruh, aku duduk di sebelah om Kenzo. Ku intip sedikit layar benda itu yang membuat om Kenzo tidak berpaling padaku. Rupanya dia sedang menulis email.
"Kenapa nggak di jawab,," Serunya lagi.
"Eh,, emang aku belum jawab ya.?" Kataku sambil menyengir kuda. Terlalu kepo dengan apa yang om Kenzo kerjakan, membuatku tidak fokus.
"Iya aku baru bangun om. Semalem kerasa cape banget, jadi tidurnya pules. pas bangun udah jam setengah sepuluh aja."
Sepertinya akibat jalan - jalan semalam, aku jadi, kelelahan. Padahal saat jalan sejauh itu, aku sama sekali tidak merasakan lelah. Bahkan tidak sadar kalau sudah melangkah sejauh itu.
"Cape.? Emangnya semalem ngapain aja,,?" Nada bicara om Kenzo seakan sedang meledekku. Dia bahkan mengulas senyum tipis di bibirnya. Wajahku seketika menghangat, teringat pada kegiatan panas kami tadi malam yang juga sudah membuatku sedikit lelah.
Pipiku mungkin sudah merona, aku sangat malu mengingat kejadian tadi malam. Om Kenzo bahkan beberapa kali menegurku karna aku terlalu agresif.
Sejujurnya tadi malam aku ingin sekali kami bisa melakukan penyatuan, namun ada sesuatu yang membuatku ragu untuk melakukannya.
Tapi haruskah aku ragu disaat om Kenzo sudah memberikan kepastian pada hubungan kami.? Di saat dia juga mengatakan ingin menjadikanku sebagai calon istrinya dari pada menjadi kekasihnya. Om Kenzo bahkan berjanji akan menikahi ku. Lalu apa lagi yang membuatku ragu untuk memberikan mahkotaku padanya sebelum kami menikah.? Aku bahkan tidak tau jawabannya.
"Om,,,!" Rengekku.
"Jangan bikin aku malu,," Ujarku tanpa berani menatap ke arahnya. Om Kenzo terkekeh kecil, aku bisa melihat kalau dia sedang menoleh ke arahku.
"Kenapa baru malu sekarang.? Tadi malem waktu goyang kenapa nggak malu,," Ledeknya dengan suara khas yang sedang menahan tawa. Om Kenzo benar - benar sedang mengerjaiku, dia sengaja membuatku malu hingga tidak bisa berkutik.
Aku jadi ingat saat aku terus bergerak bebas di atas pangkuan om Kenzo. Sensasi dari milik kami yang saling bersentuhan, kembali membuat darahku mendidih.
"Apa nggak ada pembahasan yang lain om,,!" Seruku, aku berusaha menahan rasa malu dan menutupi kegugupan ku.
"Kenapa.? Kamu mulai panas.?" Om Kenzo meraih daguku dan mengangkatnya. Wajah kami saling berhadapan dengan jarak yang dekat. Aku hanya bisa menelan kasar ludahku. Otak mesum ini menyuruhku untuk melu**t bibir om Kenzo yang terlihat menggoda.
"Jangan seperti ini om, kak Fely sama kak Nicho ada di dalam kan.?" Aku berusaha menyingkirkan tangan om Kenzo. Tapi dia enggan melepaskannya.
"Mereka sedang keluar. Nggak ada siapapun disini kecuali kita,," Nada bicara om Kenzo seakan sedang menahan sesuatu, di tambah dengan tatapan matanya yang tak pernah lepas dari bibirku.
Dalam hitungan detik, bibir kami sudah menyatu. Ciuman panas ini berlangsung cukup lama. Kedua tangan om Kenzo bahkan berani menyusup kedalam bajuku. Menangkup kedua benda kenyal kesukaannya.
Sepertinya aku bisa gila kalau om Kenzo terus melakukan hal panas ini padaku. Bisa - bisa aku tidak bisa menahan diri lagi.
Dia mengangkat tubuhku, mendudukkan ku di pangkuannya. Adegan kissing kami kembali berlanjut, suara kecapan bibir kami seakan menjadi irama yang indah untuk didengar. Om Kenzo melepaskan pagutan bibirnya, jarinya mengusap sudut bibirku sambil terus menatap wajahku dengan gairah yang membara.
"Kamu membuatku gila Je,,," Bisikinya. Bibir om Kenzo menjelajahi leherku, dia menyesapnya dengan kuat. Aku bisa menebak akan ada kissmark di leherku.
"Didalam saja,," Bisiknya lagi. Om Kenzo berdiri dengan aku yang berada di dalam gendongannya seperti bayi koala.
Seperti halnya dengan om Kenzo yang sudah dikuasai oleh gairah, aku pun juga merasakan hal yang sama.
Kegiatan panas tadi malam terulang kembali di dalam kamar om Kenzo. Lagi - lagi om Kenzo kembali meminta ijin padaku untuk melakukan penyatuan, namun aku masih belum yakin untuk melakukannya saat ini.
Aku tidak tau kenapa malah sekarang om Kenzo yang terus memintanya. Padahal dulu dia selalu menolak saat aku mengajaknya. Dan sekarang justru aku yang sering menolaknya.
Entah apa yang membuat om Kenzo berubah pikiran. Apa karna dia sudah memperjelas status kami.? Itu sebabnya om Kenzo berani untuk memintanya.
Aku hanya bisa menduga saja.
...****...
Liburanku dan kak Nicho terpaksa harus dipercepat karna kehadiran perusak suasana, yaitu kak Sherly si centil.!
Kak Nicho terus memaksa mengajakku pulang sore ini, karna dia merasa tidak enak dengan kak Fely.
Aku juga bisa merasakan hal itu. Kak Fely terlihat tidak nyaman melihat kak Sherly yang terus menempel pada kak Nicho. Saat makan siang tadi, dia juga enggan bergabung dengan kami. Dia memilih untuk mengajak om Kenzo makan di restoran lain.
"Kamu kok tega sih Nich.! Aku kan baru sampe siang tadi, masa harus balik sekarang,," Keluh kak Sherly dengan suara manjanya. Dia merengek sambil terus mendekap tangan kak Nicho.
Ekspresi wajah kak Nicho menunjukan kalau dia tidak nyaman dengan ulah kak Sherly yang sejak tadi menempel padanya.
Meski dia sudah menepis tangan kak Sherly, tetap saja perempuan kecentilan itu kembali meraih tangan kak Nicho.
"Lepas She,,!" Geram kak Nicho sambil menarik tangannya dari dekapan kak Sherly. Sepertinya dia sudah muak bersikap sabar di depan kak Sherly.
"Jangan membuatku marah.!"
"Aku sudah bilang, ada kerjaan mendadak yang papa tugaskan padaku. Kenapa kamu nggak mau ngerti.!" Kak Nicho bangun dari duduknya.
"Tunggu Nich.!" Kak Sherly berjalan menghampiri kak Nicho yang hendak masuk ke dalam kamar.
"Kenapa jadi kamu yang marah - marah. Kalau dari awal kamu nggak ngerjain aku, pasti udah dari kemaren aku disini sama kalian. Dan nggak masalah kalau harus pulang sore ini. Tapi kamu tau sendiri aku baru beberapa jam yang lalu,,"
Tuturnya dengan nada kesedihan. Sebenarnya aku sedikit kasihan melihat kak Sherly seperti itu. Tapi mau gimana lagi, aku tidak suka dengan sikapnya.
Kak Nicho membuang nafas kasar, dia berbalik badan untuk menatap kak Sherly.
"Kalau kamu nggak mau ikut pulang, kamu boleh menginap disini selama yang kamu mau,,," Ucapnya datar, kak Nicho kembali melangkah dan menghilang di balik pintu kamar yang dia tempati.
Kak Sherly berdecak kesal sembari menghentakkan kakinya ke lantai. Kedua tangannya bahkan mengepal kuat. Sepertinya dia sangat kesal dengan kak Nicho.
Aku segera beranjak dari dudukku, berencana untuk membereskan semua baju - bajuku di kamar. Namun kak Sherly menahanku.
"Tunggu Je,,!" Dia berjalan ke arahku.
"Kenapa kamu setuju untuk pulang.? Harusnya kamu itu melarang Nicho biar nggak jadi pulang. Kamu tau sendiri kan.? Aku ini baru sampe. Kalian malah seenaknya mau pulang.!" Ujarnya ketus.
"Pokoknya aku nggak mau tau, cepetan bujuk kak Nicho supaya mau bermalam disini lagi.! Kita bisa pulang besok pagi."
"Kak Sherly nyuruh aku.?" Tanyaku santai.
"Iyalah.! Emangnya siapa lagi.!" Geramnya kesal.
"Ogah amat,, wleee,,,," Aku menjulurkan lidah, lalu bergegas meninggalkannya.
"Dasar calon adik ipar nggak punya akhlak.! Awas aja kamu ya.!" Teriaknya.
Aku langsung menghentikan langkah, menatap kak Sherly dengan tatapan meledek.
"Adik ipar.? Jangan mimpi kak,,, Kak Nicho nggak suka cewe kasar, ganjen, dan pemaksa.!"
Seruku lalu masuk kedalam kamar.
Aku masih sempat mendengarnya yang terus mengumpat karna kesal.
Bisa - bisanya papa menjodohkan kak Nicho dengan perempuan macam itu.
"Nggak sudi punyak kakak ipar kayak nenek lampir.!" Gerutu kesal sembari berjalan ke arah lemari.
"Siapa yang kayak nenek lampir.?" Suara om Kenzo membuatku tersentak kaget.
"Ya ampun om.!! Bikin kaget saja.!" Pekikku sembari memegangi dadaku yang berdetak kencang.
Om Kenzo hanya tersenyum tipis, dia masih santai dengan posisinya yang tidur di atas ranjang dengan posisi menyamping, menggunakan satu tangannya untuk menyangga kepala.
"Sejak kapan om disini.?" Tanyaku sambil mendekat ke arahnya. Jendela kamarku memang tidak di kunci lagi sejak semalam. Tentu saja atas permintaan om Kenzo agar dia bebas masuk ke kamarku.
Om Kenzo melihat jam lebih dulu di pergelangan tangannya.
"10 menit yang lalu,," Jawabnya dengan suara khasnya yang berat dan datar.
"Huffttt,,," Aku menghela nafa sebelum akhirnya menjatuhkan diri di samping om Kenzo.
"Aku masih mau disini, tapi kak Nicho maksa ngajakin pulang,," Keluhku.
Tentu saja aku betah berada di sini, karna ada om Kenzo. Dia baru akan pulang besok pagi.
"Masih mau disini atau masih mau berduaan,," Bisik om Kenzo. Aku hanya bisa mengulum senyum menggoda.
"Dasar bayi,, mesum sekali otak kamu,,," Cibirnya sambil mencubit hidungku.
"Nggak cuma aku doang kali om. Tapi om juga. Malah lebih mesum dari aku. Buktinya om Ken kekamar aku mulu,,, pasti udah mikir yang mesum mesum kan.?" Aku menyengir kuda padanya.
"Burung beo,,,!" Serunya. Om Kenzo mencubit kedua pipiku.
"Sakit tau om,,!" Aku mengusap kedua pipiku.
"Baru juga dicubit Je. Gimana kalau dimasukin,,,"
Aku langsung melotot pada om Kenzo. Bisa bisanya dia bicara seperti itu. Aku jadi malu sekaligus panas dingin membayangkannya.
Apa nanti akan sangat sakit.? Terlebih milik om Kenzo,,,
Aku langsung bergidik ngeri membayangkan seperti apa sakitnya.
"Iihh,, apaan sih om.! Jangan bicara vulgar sama anak di bawah umur om,," Kataku sambil tertawa.
"Anak di bawah umur tapi udah pinter goyang di atas paha,,," Celetuknya. Aku langsung membungkam mulut om Kenzo.
"Aku nggak sengaja om,, refleks goyang sendiri,,," Om Kenzo terkekeh dalam bekapan tanganku.
"Kamu bisa aja ngelesnya.!" Ujarnya dia menyingkirkan tanganku dari mulutnya.
"Hehe,,," Aku tersenyum kikuk.
Segera ku peluk om Kenzo, menghirup dalam dalam aroma yang memabukkan ini.
Saat ini hanya ada kebahagiaan yang menyelimuti ku. Aku berharap kebahagiaan ini tak akan pernah berakhir.
Aku hanya ingin terus bersamanya, menjalani hidup dengannya hingga kami memiliki anak dan menua bersama.
Indah sekali khayalanku ini,,,,
...***...
Kok khayalan kita dan para readers sama sih Je.?
wkwk
Belum ada stok buat double up.
Kalau ada waktu senggang buat ngetik, di usahain tambah 1 bab lagi.
Sabar ya,,, bukan cuma kalian yang baca novel on going. othor juga ngetiknya on going.
Kadang teh pgn ngejerit sambil guling² dikasur sama om Kenzo kalo ada yang komen kaya gini :
"Up yang banyak thor"
"Yah kok cuma 1bab"
giliran udah dikasih 2bab: "Sehari up 3 bab dong thor"
yang parah lagi mah gini "di up sampai end dong thor"
Ya ampun, apa nggak bikin senewen wahai kalian para pembaca 🤣🤣. Disini othor ngetik kadang sampe kaku jarinya, biar bisa up sehari 2 bab. Tapi apalah daya, kadang kan kendala waktu, ada kerjaan lain, belum juga ngurus anak, belum lagi otaknya blank nggak bisa nuangin kata - kata.
Sekian dan Terima kasih. 😁
Jan di ambil hati ya, othor sih seneng² aja baca komennya. Asal bukan komen HATE dan ujaran penghinaan terhadap karya othor. wkwk