My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
Bab 90. Saranghae



Aku memakan ice cream lebih dulu, sembari membalas chat grup dari Celina dan Natasha. Sudah lama aku tidak bertemu dengan mereka.


Aku juga penasaran, apa mereka masih bertahan dengan sugar daddy mereka. Biasanya kalau berkumpul, aku akan menyimak cerita mereka yang membuatku merinding. Tapi itu dulu sebelum aku mengenal kenikmatan semacam ini.


"Makan dulu Je. Nanti saja bales pesannya,,,"


Setelah menegur ku, om Kenzo ikut bergabung di meja makan. Dia duduk disebelah ku, mengambil burger miliknya yang masih berada di dalam katong plastik.


"Iya om,," Segera ku letakan ponsel di atas meja.


"Mau ice cream nggak om.?" Tawarku sembari menyodorkan satu cup ice cream berukuran besar.


Om Kenzo melirikku, dia diam dan nampak sedang memikirkan sesuatu. Setelah diam beberapa detik, dia baru menjawabnya.


"Boleh,," Jawabnya singkat, padat dan datar.


Aku mendorong cup ice cream ke arahnya.


"Suapin,,"


"Hah,,,?" Ujarku sembari bengong menatapnya.


"Suapin pake mulut kamu,,," Jelasnya.


"Maksud om.? Aku harus gigit sendok ice cream buat nyuapin om,,?"


Wajah om Kenzo langsung berubah, dia menahan tawanya. Dia pasti mau mengerjai ku. Mana bisa aku menyuapinya dengan cara seperti itu, merepotkan saja. Memang apa bedanya kalau menggunakan tangan.


"Bukan seperti itu,,"


"Sini,,," Om Kenzo menepuk pahanya. Dia juga meletakan kembali burger miliknya.


Aku hanya mematung, melihat om Kenzo yang menyuruhku untuk duduk di pangkuannya.


"Jangan membantah perintah suami, Je.!" Tegasnya. Om Kenzo menatapku tajam.


Aku ragu untuk duduk di pangkuannya, bagaimana kalau nanti aku tidak bisa mengontrol diri dan hanyut dalam pangkuan om Kenzo.


Perlahan aku mulai bangkit dan pindah kepangkuan om Kenzo. Aku hanya bisa menundukkan kepala karna malu. Rasanya seperti pertama kali aku duduk di pangkuannya waktu itu.


Om Kenzo mengurungku dengan kedua tangan yang melingkar di belakang dan di depan tubuhku. Namun om Kenzo juga memegang cup ice cream di tangannya.


"Buka mulutnya,," Om Kenzo menyodorkan satu sendok ice cream di depan mulutku.


"Kok malah aku yang disuapin. Katanya om Ken yang mau disuapin."


Tatapan tajam om Kenzo membuatku langsung membuka mulut.


"Jangan di telan dulu,," Katanya. Aku menurut, membiarkan ice cream masih berada di dalam mulutku.


Aku mendelik saat om Kenzo tiba - tiba mencium ku, lidahnya memaksa masuk dan membuat mulutku reflek terbuka. Saat itu juga om Kenzo melahap habis ice cream di dalam mulutku tanpa sisa. Dia menghisapnya, bahkan melu**t setiap sudut bibirku tanpa celah untuk membersihkan sisa - sisa ice cream di sana.


Meski sudah tidak ada lagi ice cream di dalam mulutku, namun om Kenzo masih terus menciumku tanpa henti.


Dan yang aku takutkan terjadi, aku mulai hanyut dalam permainan bibirnya yang masih hangat seperti dulu.


Aku mengalungkan tangan di leher om Kenzo, lalu mulai membalas setiap pagutan bibirnya.


Sisa manis dari ice cream, membuat ciuman panas kami terasa berbeda.


Rupanya ini yang om Kenzo inginkan, disuapi menggunakan mulutku.


Om Kenzo melepaskan pagutan bibirnya, dia menyeka bibirku yang basah akibat ciuman penuh ***** itu.


Saat ini pipiku pasti sudah merona. Malu sekali rasanya. Padahal ini ciuman kami yang entah sudah berapa kali.


"Mau makan dulu atau lanjut,,?" Suara om Kenzo terdengar berat, dengan sorot mata yang sudah dipenuhi gairah.


Sebelah tangannya menyusuri pipiku, turun kebawah dan berhenti di leherku.


"A,,aku lapar om,," Ucapku gugup.


"Yasudah, kita makan dulu."


"Tapi habiskan ice creamnya dulu pake cara seperti tadi."


Aku mengangguk patuh, karna sejujurnya aku juga ingin melakukannya lagi.


Aksi menghabiskan ice cream semakin memanas. Kami saling berebut ice cream dalam mulut.


Aku yang tadinya malu - malu, kini berubah jadi tidak tau malu.


Aku hanya bisa merutuki diriku sendiri karna gagal untuk mengerjai om Kenzo. Sepertinya malam ini akan menjadi malam kedua kami untuk melakukan penyatuan.


Setelah om Kenzo mengambil kesucian ku lebih dari 1 bulan yang lalu.


Kami terus berciuman hingga ice cream di dalam cup habis tak tersisa.


Om Kenzo menurunkan ku dari pangkuannya, dengan mendudukkan ku di kursi.


"Habiskan." Om Kenzo memberikan burger padaku.


"Sepertinya malam ini kita tidak akan tidur,," Ujarnya dengan seulas senyum mesum. Aku sudah tau maksudnya.


Selesai makan, om Kenzo menggendong ku. Aku membenamkan wajah di dada bidang om Kenzo, dengan kedua tangan bergelayut di lehernya. Bak bayi koala yang tidak mau lepas dari induknya.


Om Kenzo membawaku ke kamar mandi yang badan di dalam kamarnya. Dia menurunkan di depan wastafel untuk menggosok gigi lebih dulu.


Om Kenzo berdiri tepat di belakangku, tubuh kami bahkan saling menempel.


Kami menggosok gigi dengan saling menatap di pantulan cermin.


Aku melakukan senam wajah untuk meledek om Kenzo. Dia terkekeh melihatku, kemudian mengetuk kepalaku dengan jari telunjuknya.


"Jangan marah padaku lagi,," Ujarnya.


"Aku lebih senang kalau kamu seperti ini,,"


Om Kenzo mengusap kepalaku. Aku mengangguk dengan seulas senyum. Aku memang sudah tidak marah lagi padanya, hanya saja masih ada sedikit rasa kecewa.


"Sudah siap.?" Tanyanya, om Kenzo langsung mengangkat tubuhku setelah kami selesai menggosok gigi.


Aku tersipu malu padanya, lalu mengangguk pelan.


Mata om Kenzo nampak berbinar. Aku tau dia sudah menginginkannya sejak lama. Malam ini pasti sudah di tunggu - tunggu olehnya sejak dia ingin mempercepat pernikahan kami.


Om Kenzo membaringkan ku di ranjang. Dia mulai memposisikan diri di atasku, lalu melu**t bibirku dengan lembut, penuh penghayatan. Tangan om Kenzo bergerak liar, menyusup dalam bajuku dan menggerayangi perutku. Tangannya semakin ke atas hingga menyentuk aset kembar ku.


Badanku sudah menegang sejak om Kenzo berada di atas tubuhku. Kini aku sudah terbuai, bahkan membalas ciuman om Kenzo dan menuntut lebih.


Tanpa aku sadari, om Kenzo sudah menanggalkan baju milikku beserta kain yang menutupi kedua bukit kembar ku. Dia membenamkan wajahnya disana, menyesap dan memainkannya dengan rakus.


Milikku sudah terasa basah, bahkan seperti ada yang keluar dari sana. Seketika aku terdiam dan mulai memikirkan sesuatu.


"Stop om,," Pintaku. Om Kenzo mengangkat wajahnya, menatapku kecewa.


"Kenapa.?"


"Sepertinya aku,,,


"Aku apa.?" Tanyanya tidak sabaran.


Aku menyuruh om Kenzo untuk menyingkir dari di atas tubuhku. Aku turun dari ranjang dan berlari masuk ke kamar mandi.


"Je,,,! Are you oke.?!" Teriak om Kenzo.


"Sebentar om,,! Aku cek dulu,,,!" Seruku.


Aku menutup pintu dan mulai memastikannya.


"Sayang,,, kamu kenapa.?" Om Kenzo menggedor pintu kamar mandi.


Aku hanya bisa melongo melihat noda darah disana. Bagaimana ini.? Om Kenzo pasti akan kecewa. Tiba - tiba saja aku merasa kasian padanya. Padahal aku sempat bersikeras untuk menolaknya, tapi saat aku tidak bisa memberikannya malam ini, aku justru merasa bersalah.


"Om,,," Panggil ku setelah aku membuka pintu.


"Kamu kenapa Je,,?" Om Kenzo terlihat panik.


"A,,aku kedatangan tamu bulanan om,," Ucapku lirih.


Saat itu juga raut wajah om Kenzo berubah, aku bisa melihat kekecewaan dari sorot matanya. Dia terus diam menatapku.


"Maaf om,," Aku menunduk penuh sesal.


"Nggak masalah, kita bisa melakukannya nanti." Ujarnya. Aku tau om Kenzo berusaha menutupi rasa kecewanya.


"Kamu butuh celana d**am baru.? Biar aku ambilkan."


"Iya om, aku juga butuh pembalut,," Ucapku malu - malu.


"Ada di koper kamu.?"


Aku menggeleng.


"Tolong beliin ya om, aku nggak sempet bawa dari rumah karna lupa."


"Lagipula jadwal haidku harusnya 3 sampai 4 hari lagi,,"


Om Kenzo hanya bisa melongo mendengarnya.


"Maksud kamu, aku harus beli pembalut.?"


Aku mengangguk cepat.


Om Kenzo menghela nafas berat, tapi dia bersedia untuk membelikannya.


"Ya sudah, aku beli dulu,," Om Kenzo berlalu dari hadapanku.


"Makasih hubby,,,!. Saranghae,,,!" Teriakku.


Om Kenzo langsung berbalik badan dengan senyum yang merekah, aku segera menutup pintu kamar mandi karna malu.


...****...