
Aku hanya bisa mendengus kesal selepas kepergian om Kenzo. Dia benar - benar seenaknya sendiri, pemaksa dan suka mengancam.
Entah apa yang dia lakukan tadi malam padaku, bisa - bisanya dia melucuti bajuku dan hanya menyisakan pakaian dal*m saja.
Dulu aku memang tidak keberatan untuk hal itu, tapi saat ini entah kenapa terasa berbeda.
Setelah menutup pintu, aku bergegas pergi ke tempat kak Nicho. Semoga saja kak Fatih tidak mengadukan apa yang dia lihat pada kak Nicho.
Sepertinya tadi kak Fatih baru saja membeli sesuatu di supermarket depan apartemen. Aku melihat kantong belanjaan di tangannya tadi.
Saat aku masuk, harum masakan menusuk indera penciumanku. Pasti kak Fatih yang sedang memasak. Tidak langsung menghampirinya, sibuk mencari ponsel yang entah aku letakkan dimana tadi malam.
"Nyari ponsel Je.?" Aku menoleh kebelakang, saat itu juga kak Fatih menghampiriku dengan membawa ponsel milikku.
"Kamu taruh sembarang semalem, pas aku mau balikin, kamu udah masuk ke apartemen,," Ujarnya sembari menyodorkan ponsel itu padaku.
Aku mengambilnya dalam keadaan mematung karna keget. Jika kak Fatih melihatku masuk ke apartemen, itu artinya dia melihatku dan om Kenzo masuk bersamaan ke dalam apartemenku.
Bagaimana kalau dia mengadu pada kak Nicho, mengatakan kalau tadi malam aku dan om Kenzo tidur bersama di apartemen ku. Terlebih tadi pagi dia melihat kami saat akan keluar.
"Kak,," Aku menahan tangan kak Fatih saat dia akan beranjak. Aku segera melepaskan tangannya saat dia menatap tangan kami. Entah kenapa kak Fatih sangat takut jika aku memegang tangannya.
"Tolong jangan bilang sama kak Nicho yah,," Ucapku memohon.
Kak Fatih mengulas senyum tipis.
"Aku tidak seperti itu Je. Lagipula kamu pasti bisa menjaga diri,," Sahutnya.
"Aku lanjutin masak dulu,,," Dia pergi begitu saja.
Aku bernafas lega, setidaknya aku masih punya kesempatan untuk melanjutkan kuliah tanpa harus dinikahkan mendadak karna kejadian ini.
Aku memilih untuk kembali ke apartemenku, aku harus menghubungi papa kenapa sampai sekarang aku belum bisa memulai kuliah disini.
Saat aku membuka pintu, bersamaan dengan itu seorang wanita cantik baru saja berhenti didepan pintu apartemen kak Nicho.
Baru sempat membuka mulut untuk bertanya, suara kak Fatih membuat wanita cantik itu langsung menyelonong masuk.
"Adeline,,," Kak Fatih terlihat kaget melihat wanita itu.
"Al,,, kamu harus dengar penjelasan aku dulu,,"
Aku mengerutkan dahi, rupanya dia juga orang Indonesia. Kenapa apartemen kak Nicho jadi perkumpulan orang - orang sebangsa dan setanah air. Aku hanya bisa menggeleng pelan.
"Jaga sikap kamu Ey,,," Ujarnya lembut. Kak Fatih menyingkirkan tangan wanita itu dengan perlahan, tanpa ingin membuat dia tersinggung.
"Maaf Al,,, aku,,,
" Duduk dulu,,," Ucapnya memotong perkataan wanita itu.
Kak Fatih melepaskan jaketnya, sembari berjalan ke arah sofa, di ikuti oleh wanita itu.
"Kenapa harus keluar dengan baju seperti ini,," Ujarnya lembut. Sebelum duduk, kak Fatih memasangkan jaket miliknya di bahu wanita itu yang terekspose.
Baju dengan tali spageti membuat bahu mulusnya terpampang.
Sepertinya kak Fatih paling tidak suka melihat wanita yang memakai baju terbuka, dia pasti akan bertindak cepat.
Aku masih diam mematung, kenapa juga aku masih disini dan terus menatap ke arah mereka. Aku sudah seperti orang ke tiga saja.
Tanpa berpikir lagi, aku langsung beranjak dari sana.
"Je,,,!" Seru kak Fatih. Aku langsung menoleh.
"Nggak usah di tutup pintunya,," Ujarnya lagi, aku hanya mengangguk dan tidak jadi menutup pintu.
Sepertinya mereka punya hubungan, aku pikir kak Fatih tidak tertarik dengan masalah percintaan. Rupanya ada wanita cantik yang terlihat sangat mencintainya. Wajar saja, karna kak Fatih sangat baik dan lembut. Dia juga memperlakukan wanita dengan sedemikian hormat.
Mataku membulat sempurna saat melihat om Kenzo yang sudah ada di depan pintu apartemenku. Dia bersender pada pintu sembari menyilangkan tangan di dadanya. Om Kenzo terlihat lebih segar dengan rambut yang setengah basah dan pakaian yang berdeda. Rupanya dia baru saja mandi, dan langsung kembali lagi ke tempatku.
"Om,, kenapa kesini lagi.?" Tanyaku sedikit kesal.
"Lalu harus kemana lagi.? Wanitaku cuma ada di apartemen ini,," Sahutnya santai.
"Ayo buka pintunya, atau Nicho dan temannya akan melihat kita,," Selalu saja dia mengancamku seperti itu.
Aku membuka pintu dengan perasaan kesal karna ancamannya.
"Kita harus sering menghabiskan waktu berdua lagi seperti dulu,, agar kamu tidak canggung seperti ini,," Ujarnya setelah masuk.
"Om sendiri yang sudah membuat aku seperti ini. Kenapa juga harus membohongiku. Akan mengirimku ke Singapur, rupanya mau bertunangan dengan wanita lain."
"Bilang cinta dan janji mau menikahiku, tapi menutupi hal sebesar itu dariku. Wanita mana yang tidak kecewa."
"Bagaimana kalau om yang ada di posisi ku. Apa om terima kalau aku bertunangan dengan laki - laki lain sementara kita masih punya hubungan,,"
Aku bicara panjang lebar untuk mengeluarkan isi hatiku.
"Tentu saja tidak. Aku akan mengacaukan acara pertunangan itu sebelum acara pasang cincin dimulai,," Sahutnya tegas.
"Egois,,!" Ujarku, lalu menyelonong pergi ke dapur.
Mungkin dia bisa menggagalkan pertunanganku jika itu terjadi, tapi aku hanya bisa menangis saat melihatnya memasangkan cincin di jari wanita lain. Aku memang lemah.!
"Siapa yang egois.?"
Om Kenzo membalik badanku saat aku hendak membuka lemari es. Dia mendorongku hingga badanku menempel pada lemari es, kemudian mengurungku dengan kedua tangannya.
"Om jangan seperti ini,,," Aku berusaha mendorong dada om Kenzo agar menyingkir dari hadapanku.
"Lalu seperti apa.? Kamu mau di atas ranjang,,?"
Om Kenzo semakin mendekat untuk menggoda ku.
Aku langsung menggeleng cepat.
"Jangan berlagak menolak Je, kamu pasti merindukan ini kan,,?" Om Kenzo menarik tanganku, mengarahkan tanganku pada miliknya yang sudah mengeras. Lagi - lagi aku hanya bisa membulatkan mata, menatap om Kenzo dengan tajam. Segera ku tarik tanganku pada benda besar miliknya.
"Om.! Kenapa mesum terus sejak tadi malam.!" Protes ku.
Entah apa yang om Kenzo pikirkan, sudah 2 kali miliknya mengeras dan terang - terangan memberitahukannya padaku.
"Aku pria dewasa yang normal Je, bukan mesum.!" Tegasnya.
"Terlebih aku sudah pernah melakukannya denganmu, wajar saja kalau aku ingin melakukannya lagi."
Aku semakin melotot dibuatnya, bisa - bisanya om Kenzo berbicara seperti itu dalam situasi yang sudah berbeda.
"Jadi sebelum terjadi sesuatu yang tidak di inginkan, sebaiknya kita cepat menikah saja,,"
"Iihh,, ngeselin banget sih om.!" Ku pukul pelan dada bidangnya.
"Awas om, aku tuh mau minum,," Sekali lagi ku dorong tubuh om Kenzo agar menjauh.
"Burung beo keras kepala.!" Om Kenzo mengacak rambutku sebelum beranjak dari hadapanku dan duduk di depan meja makan.
"Kita pulang minggu depan, cuti kuliah kamu kelamaan Je,,"
Aku hampir saja menyemburkan minuman yang baru saja aku teguk. Segera ku hampiri om Kenzo dan duduk di hadapannya.
"Apa maksud om.? Siapa yang cuti kuliah,,?" Tanyaku.
"Kamu. Memangnya siapa lagi.?"
"Aku nggak cuti kuliah om, tapi pindah kuliah.!" Tegasku.
"Aku nggak ngijinin kamu pindah kesini. Aku kesulitan menemui kamu Je. Nggak mungkin aku harus balik - balik setiap bulan untuk datang ke sini,,"
"Kenapa aku harus minta ijin sama om.? Papa dan mama ku saja tidak keberatan. Lagipula papa sudah mengurus kepindahanku disini."
Om Kenzo menahan tawa. Dia seolah sedang menertawakan sesuatu yang lucu dariku.
"Karna aku calon suamimu."
"Kamu pikir om Alex jadi mengurus kepindahanmu disini.? Kalau papa kamu mengurusnya, pasti kamu sudah masuk kuliah saat ini."
"Jangan bilang om nyuruh papa agar aku tidak pindah kuliah disini.?!" Tanyaku dengan nada sedikit naik.
"Kamu memang pintar." Ujarnya.
"Ooomm,,,!! Kenapa harus seenaknya sendiri.!" Protesku. Aku hampir saja menangis karna kesal. Padahal aku sudah berniat untuk serius kuliah disini dan tidak memikirkan percintaan sebelum lulus kuliah. Tapi dengan mudahnya om Kenzo menyuruh papa untuk tidak memindahkan kuliahku.
"Bukan seenaknya sendiri, aku ngelakuin ini agar kamu nggak lari kemana - mana."
"Tapi om,,,
"Puas - puasin liburan disini, hari minggu nanti kita pulang,," Ujarnya memotong ucapanku.
Aku yang sudah malas memilih untuk diam.
Entah apa yang dia bilang pada papa, kenapa papa bisa menuruti permintaan om Kenzo.
...***...
...Like dan votenya jangan lupa ☺...