
Fely hanya bisa mendengus kesal melihat para mahasiswi mengerumuni Nicho yang baru saja keluar dari mobil.
Para wanita kecentilan itu sama sekali tidak memperdulikan Fely yang datang 1 mobil bersama Nicho. Mereka dengan tidak tau malu menyapa Nicho dengan gaya centilnya. Bahkan ada yang terang - terangan mengajak Nicho untuk jalan berdua. Beberapa dari mereka juga banyak yang menyodorkan nomor ponsel masing - masing, meminta untuk Nicho menyimpan nomor ponsel mereka.
Merasa gerah dengan pemandangan menjengkelkan itu, Fely memilih pergi dari parkiran.
Resiko memiliki pacar tampan, baru datang 2 kali ke kampus sudah famous dan jadi rebutan para wanita centil.
Kekesalan Fely saja belum mereda saat kemarin Nicho datang ke kampus bersama untuk mengurus kepindahan kuliah.
Banyak mahasiswa yang datang hanya sekedar mengajak Nicho berkenalan. Hal itu membuat Fely dibakar cemburu. Terlebih Nicho sengaja membuat Fely cemburu dengan menanggapi para mahasiswa itu.
Fely masuk ke kelas dengan wajah cemberut. Namun kedatangannya langsung menjadi pusat perhatian teman - temannya yang sedang berkumpul.
"Nah itu Fely udah dateng,," Salah satu dari mereka melambaikan tangan pada Fely agar dia mendekat.
"Buruan sini Fel,," Serunya.
Fely berjalan menghampiri mereka.
"Nathan ngadain party nanti nanti malem, lu ikut ya.?"
Fely menatap Siska sembari memikirkan jawabannya.
"Party perpisahan loh Fel, masa iya lu nggak ikut sih.? Terakhir kali nih liat cowo terganteng di kelas kita,," Desak Siska sembari terkekeh. Beberapa dari mereka juga ikut tertawa, berbeda dengan Nathan yang hanya menarik tipis sudut bibirnya.
"Jam berapa.? Kalau kemaleman aku nggak bisa,,"
Fely berfikir 2 kali jika harus keluar rumah larut malam. Meski ada asisten rumah tangga di apartemennya, dia tetap enggan meninggalkan mama Grace. Belum lagi takut jika nantinya mama Grace mencemaskannya karena dia tidak biasa keluar malam.
"Nah jam berapa tuh Than.?" Seru beberapa orang bersamaan.
"Jam 9, bebas kalian mau pulang jam berapa." Sahutnya dengan suara yang terdengar cool dan berat.
"Asal jangan baru sampai udah pulang,," Tambahnya. Dia mengembangkan senyum tipis sembari menatap Fely. Fely tersenyum kikuk, kemudian menganggukkan kepalanya tanda menyetujui ajakan mereka.
"Wah bakal rame nih nanti malem, bisa datang semua,,," Felix terlihat bersemangat. Cowo playboy yang hobby datang ke club itu paling antusias jika membahas tentang party.
"Nathan salah perhitungan nih, bisa bangkrut kalo ngundang Felix. Bisa ludes sama Felix vodkanya,," Cibir Andre.
"Sialan, kaya lu nggak doyan aja.!" Satu tinjuan mendarat di lengan Andre. Mereka hanya menertawakan keributan itu.
"Tenang, gue beliin banyak buat kalian. Lu bisa minum sepuasnya sampe kehabisan nafas.!" Seru Nathan dengan senyum meledek.
"Wah parah lu.!" Felix keluar dari kerumunan dan kembali ke mejanya. Beberapa dari mereka juga ikut bubar. Fely juga bergegas dari sana.
"Kamu yakin mau ikut.?" Tiba - tiba Nathan menahan tangan Fely. Wanita itu segera menarik pelan tangannya, dia tersenyum kaku pada Nathan dan hanya menganggukkan kepalanya.
"Kalau nggak nyaman nggak usah datang. Aku tau kamu nggak biasa party. Jangan dipaksakan,," Ucap Nathan pelan.
"Nggak masalah, aku bisa datang sebentar."
Sahut Fely sopan. Lagipula dia juga ingin menghargai teman satu kelasnya yang akan pindah kuliah ke luar negeri. Tidak masalah jika hanya menghadiri party meski hanya sebentar.
...****...
Nicho berjalan tegap ke arah kantin. Dia sudah datang ke kelas Fely tapi tidak mendapati kekasihnya ada di sana. Teman satu kelas Fely memberitahu Nicho jika sudah pergi ke kantin.
Nicho menyadari jika Fely sedang marah padanya. Terlebih saat ini nomor ponsel Fely tidak bisa di hubungi. Wanita itu pasti cemburu melihatnya di kerumuni wanita saat di parkiran tadi.
Nicho memang melihat Fely pergi dari sana, namun saat dia akan menyusul Fely, teman satu kelasnya datang dan mengajaknya untuk segera pergi dari area parkir.
Nicho tersenyum melihat Fely yang tengah serius menyeruput jus jeruk. Dia menghampiri Fely, merebut gelas dari tangan Fely dan meminum jus itu. Aksi Nicho yang tiba - tiba hanya bisa membuat Fely bengong menatapnya. 2 teman Fely juga ikut bengong melihat laki - laki tampan yang sedang panas diperbincangkan di kampus itu. Mereka memang sudah tau jika Nicho adalah kekasih Fely, tapi mereka masih tidak percaya jika Fely memiliki kekasih setampan Nicho.
"Kenapa ponselnya nggak aktif.?" Tanya Nicho dengan nada mengintrogasi. Dia duduk didepan ketiga wanita itu. Lebih tepatnya duduk didepan Fely yang berada di tengah - tengah.
Fely memutar bola matanya malas. Rupanya dia masih kesal pada Nicho. Terlebih Nicho tidak menyusulnya saat pergi dari parkiran. Laki - laki itu justru sibuk meladeni wanita - wanita kecentilan itu.
Apa yang di rasakan Fely saat ini, sudah pernah dia rasakan dulu saat satu kampus dengan Nicho.
Dulu pun Nicho selalu menjadi rebutan para wanita di kampus. Kini dia harus kembali merasakan hal yang sama, dan itu cukup menguras kecemburuannya.
"Aku matiin pas masuk kelas, biar konsen belajar. Tadi lupa aktifin lagi," Jawabnya malas. Sejujurnya Fely sengaja mematikan ponselnya agar Nicho tidak bisa menghubunginya.
"Bisa di mode silent, nggak harus di matiin." Celetuk Nicho.
"Ayo pulang.! Cuma satu mata kuliah aja kan hari ini.?" Nicho menatap Fely dengan mata tajamnya. Sorot mata yang selalu membuat Nicho terlihat lebih tampan dan mempesona.
Kedua teman Fely bahkan terus menatap Nicho tanpa berkedip. Mereka wanita normal, wajar saja bersikap seperti itu saat melihat laki - laki tampan didepannya.
Namun kedua temannya justru saling pandang dengan dahi yang mengkerut.
Melihat reaksi mencurigakan dari kedua teman Fely, Nicho jadi paham jika saat ini Fely sedang berbohong. Dia tau jika Fely hanya sedang menghindarinya.
"Jangan salahkan aku kalau aku pulang sama mereka,," Nicho menengok kebelakang, melirik wanita - wanita yang melambaikan tangan padanya.
Wanita yang sejak tadi mengikuti Nicho hanya karena ingin pulang bersamanya.
Fely melotot melihat aksi para wanita yang tidak tau malu itu. Yang rela mengejar laki - laki tanpa memikirkan harga dirinya, padahal sudah jelas kalau laki - laki yang mereka kejar sudah memiliki kekasih.
Nicho beranjak dari duduknya, dia meninggalkan Fely tanpa menengok ke belakang. Nicho sangat yakin jika Fely akan menyusulnya. Kekasihnya itu pasti tidak akan membiarkannya pulang bersama wanita lain.
"Parah kamu Fel, malah ngasih kesempatan sama wanita - wanita kegatelan itu." Tegur Erlin. Jika dia jadi Fely, dia tidak akan memberikan celah sedikitpun pada wanita lain untuk mendekati Nicho.
Bahkan dia bisa saja menegur wanita - wanita itu.
"Nanti di ambil orang baru tau rasa,," Lisa ikut mengompori Fely. Menurutnya sikap Fely terlalu cuek, sedangkan Nicho terlalu tampan jika harus mendapatkan perlakuan secuek itu dari kekasihnya. Terlebih banyak wanita yang berlomba - lomba menggoda Nicho. Sudah bisa dipastikan Fely akan kalah saing jika terus bersikap masa boda seperti itu.
"Buruan susul, jangan sampai kamu nyesel dia pulang sama cewe lain,," Lisa tampak lebih emosi di banding Fely.
Tanpa pikir panjang, akhirnya Fely mengikuti saran temannya. Dia bergegas dari duduknya.
"Aku duluan ya, bye,,," Fely berjalan cepat menyusul Nicho. Dia sedikit berteriak memanggilnya.
"Tunggu Nicho..!!" Teriaknya sedikit kesal.
Nicho mengembangkan senyum smirknya. Dia menghentikan langkah, lalu berbalik badan.
"Kenapa.? Nggak rela kalo aku pulang sama mereka.?" Tanyanya dengan rasa percaya diri yang tinggi. Fely hanya bisa mencebikkan bibirnya tanpa menjawab apapun.
"Kalo cemburu tuh bilang.! Nggak usah pura - pura cuek atau ngambek kayak gini.!" Nicho mencubit gemas pipi Fely. Wanita itu semakin cemberut dibuatnya.
"Nyebelin iih,,,!"
"Udah tau aku cemburu, malah sengaja ngeladenin mereka.! Terus aja bikin kesel.!" Fely meluapkan kekesalannya, dia berjalan cepat mendahului Nicho hingga sampai ke parkiran lebih dulu. Dia semakin kesal saat mendapati 3 orang wanita sedang berada di dekat mobil Nicho. Mereka pasti sedang menunggu kedatangan Nicho.
"Hai Nicho,,, mau pulang sekarang ya.? Boleh bareng nggak.?" Tanpa malu salah satu dari mereka langsung menodongkan pertanyaan pada Nicho yang baru saja datang.
"Maaf.! Nicho pulang sama pacarnya.!" Seru Fely dengan menegaskan kata terakhir. Dia ingin wanita yang ada di sana sadar diri.
"Aku duluan,,," Ujar Nicho datar pada ketiga wanita itu. Dia membukakan pintu mobil untuk Fely sembari tersenyum. Senyum yang terlihat meledek dengan keberanian Fely tadi.
Fely langsung masuk kedalam mobil, disusul oleh Nicho.
"Kamu galak juga,," Ujar Nicho dengan nada sedikit menyindir. Tapi sejujurnya dia senang melihat Fely yang berani. Juga merasa senang karena bisa membuat Fely dibakar cemburu.
"Kamu ngeselin.!" Gerutu Fely, dia membuang pandangannya keluar jendela, enggan untuk melihat Nicho yang sudah membuatnya kesal.
Nicho terkekeh kecil, tangannya mengulur mengusap lembut kepala Fely.
"Ke apartemenku dulu ya, aku kangen,," Ucap Nicho lembut. Tubuh Fely seketika meremang. Mendengar kata kangen dari mulut Nicho, membuat bulu kuduknya berdiri.
Kegiatan - kegiatan aneh selalu bermunculan dibenaknya setiap Nicho mengungkapkan kerinduan padanya. Entah apa yang akan dilakukan Nicho kali ini.
...****...
Fely - Nicho
Biar mabok nih liat visual pacarnya othor.
Sampe cape jelasinnya😅
Ini novel buat nyeritain 6 tokoh, bukan 2 tokoh aja.
Masa yang lain nggak boleh di ceritain, biar kebagian semua dong partnya, jadi adil.
Nanti kalo cuma nyeritain karin sama reynald doang cepet kelar dong ceritanya karena cepet bahagia. katanya kalo udah bahagia gak perlu di ceritain lagi.
Nanti othor cepetin kok biar Reynald cepet bucin ke Karin. Biar gak lama - lama gregetnya.