My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
Info novel



Judul : My Secretary


Keduanya merasa bersyukur dengan kelancaran acara pernikahan yang sepenuhnya di urus oleh Papa Adiguna. Berulang kali mereka berterima kasih pada keluarga Celina yang begitu tulus menerimanya sebagai anggota keluarga tanpa membedakannya dengan Celina maupun Vano.


Saat ini Dion dan Keyla sedang dalam perjalanan menuju rumah. Mereka kembali ke apartemen dengan menyesuaikan jadwal pulang kerja.


Suasana terlihat sunyi saat keduanya memasuki apartemen. Tak seperti biasanya yang langsung di sambut oleh Leo.


"Apa Papa dan Leo tidur.?" Tanya Keyla, dia berjalan masuk ke dalam untuk mengecek ke kamar Leo maupun kamar Papa Adiguna.


Dion tampak santai, berjalan mengikuti Keyla untuk ikut melihat mereka berdua.


"Tidak ada Di,," Kata Keyla setelah membuka pintu kamar Leo. Dion lalu beralih ke kamar Papa Surya, namun tak juga menemukan keberadaan mereka di sana.


"Mereka tidak ada, sepertinya pergi." Kata Dion.


"Kenapa tidak memberi tau dulu." Gumamnya sembari mengambil ponsel dari dalam tas kerjanya untuk menghubungi Papa Surya.


Namun sebelum menghubunginya, Dion lebih dulu membaca pesan dari Papa Surya yang memberi tau jika dia dan Leo sedang pergi ke taman.


Dion mengulas senyum smirk sembari membalas pesan dari Papa Surya.


"Bagaimana Di.? Mereka ada dimana.?" Tanya Keyla cemas.


"Mereka ada di taman, bukankah mereka sangat pengertian," Tutur Dion sembari berjalan mendekat ke arah Keyla. Hal itu membuatmu Keyla melangkah mundur setelah melihat senyum mesum di bibir Dion.


"A,,aaku harus mandi." Ucap Keyla sembari berjalan cepat menuju kamar untuk menghindari terkaman Dion.


"Jangan coba-coba menghindari kalau akhirnya kamu yang paling menikmati,," Seru Dion, dia berjalan cepat menyusul Keyla dan enggan melepaskan Keyla begitu saja.


Walaupun tidak berfikir untuk melakukan penyatuan sore ini, namun Dion ingin memberikan sesuatu pada Keyla yang akan membuat wanita itu memohon padanya untuk melakukan penyatuan.


"Aku tidak menghindari, masih ada waktu nanti malam." Sangkal Keyla. Dia tetap tidak mau melakukannya saat ini juga.


"Tenang saja, nanti malam aku juga akan memintanya lagi." Jawab Dion dengan senyum menggoda. Dia menutup pintu kamar dan menguncinya, setelah itu menggendong paksa Keyla dan membawanya ke kamar mandi.



Judul : Terjebak Pernikahan Kontrak


Sebagian penghuni resort sudah bangun pukul 6 pagi, kecuali anak-anak yang memang sengaja belum di bangunkan.


Saat ini Yuna bahkan sedang di make up. Dekorasi di halaman belakang resort juga mulai di pasang.


Persiapan sudah 90 persen, tinggal menunggu Yuna selesai make up dan memakai gaun. Sedangkan Barra hanya perlu mengganti baju saja dengan setelan jas. Setelah itu membangunkan anak-anak untuk bersiap dan memakai seragam yang sudah disiapkan tanpa sepengetahuan mereka.


"Kakak ipar cantik sekali." Puji Sisil.


"Oppa bisa pingsan nanti kalau masuk kesini." Godanya.


"Kamu ini ada-ada saja." Kata Yuna sembari tersenyum. Sisil memang selalu berlebihan jika mengekspresikan dan mengungkapkan sesuatu.


"Lihat, Oppa datang." Seru Sisil sembari menoleh ke arah pintu masuk. Yuna hanya bisa menatap dari pantulan cermin karna rambutnya sedang di rapikan.


Barra sudah memakai setelah jas lengkap, wajahnya hanya perlu diberi polesan tipis dan rambutnya harus di tata agar rapi.


"Kalau begitu aku bangunkan anak-anak dulu agar siap-siap." Sisil beranjak dari duduknya. Dia menghentikan langkah di depan Barra.


"Kak Yuna sangat cantik, Oppa pasti tidak sabar menyeretnya ke kamar kalau melihat Kak Yuna seperti itu." Ucapnya setengah berbisik.


"Kalau kak Yuna tidak mau, Oppa bisa pakai obat itu, aku dan Nicho siap membelikannya untuk Oppa."


"Tidak akan masalah kan.? Kalian sudah halal nanti malam." Sisil terus menggoda Barra. Membuat Kakaknya itu melotot kesal.


"Kamu itu berisik sekali.! Sudah sana bangunkan anak-anak." Barra mendorong pelan bahu Sisil agar bergegas pergi dari ruangan itu.


Barra berjalan mendekati tempat make up karna sudah waktunya dia siap-siap.


Langkah kan terlihat lambat, tatapan matanya terus tertuju pada pantulan cermin besar yang menampakkan wajah cantik calon istrinya.


Walau tak lagi muda, Yuna tetap memancarkan aura kecantikannya yang sempurna.


"Maaf Pak, bisa duduk di sini." Asisten MUA itu menyuruh Barra untuk duduk disebelah Yuna. Dia sudah menunggu sejak tadi, tapi Barra malah menghentikan langkah dan bengong dibelakang Yuna.


"Terimakasih." Ucap Barra sembari duduk di kursi.


Keduanya saling diam. Sesekali Barra melirik Yuna dari pantulan cermin besar di depannya.


"Maaf, saya mau minum." Ucap Yuna pada MUA yang merapikan rambutnya. Badannya sedikit maju untuk mengambil botol air mineral di depannya.


Setelah itu kembali ke posisi semula dengan duduk tegap.


Yuna terlihat kesulitan membuka botol air mineral itu, membuat Barra langsung mengambilnya dari tangan Yuna dan membukakan botol itu.


Yuna memperhatikan Barra yang sedang membukakan botol itu tanpa mengatakan apapun, dia lalu menerima air mineral itu saat Barra menyodorkan padanya.


"Makasih." Ucap Yuna. Barra mengulas senyum dan menganggukan kepala.


Begitu selesai minum dan akan meletakkan botol di atas meja, Barra langsung mengambilnya dari tangan Yuna. Membuka botol itu dan meneguk habis sisa air mineral yang tadi di minum oleh Yuna.


Yuna tampak bengong melihatnya.


"Kenapa minum yang itu.? Di depan Mas Barra masih banyak yang baru." Ucap Yuna setelah melihat bekas minumannya di habiskan oleh Barra.


"Minuman kamu terlihat lebih enak." Jawab Barra.


Yuna hanya diam saja dengan gelengan kepala.