My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
Bab 70. Harus membuka hati?



Jika dulu aku bisa menangis dengan berurai air mata karna kesalahpahaman pada hubungan om Kenzo dan kak Fely.


Kini air mataku seakan kering. Sejak tadi mataku berkaca - kaca dan terasa perih, namun tidak ada air mata yang menetes dari pelupuk mataku.


Aku menangis dalam diam, menangis dalam hatiku.


Ini lebih menyakitkan, tidak bisa mengurangi rasa sakit hatiku, justru semakin membuat dadaku terasa terhimpit dan sulit bernafas.


Janji manis dan kata cinta yang sering dia ucapkan, terus menggema di telingaku. Kenapa aku sangat bodoh.! Percaya begitu saja pada ucapannya. Kenapa aku harus menggantungkan harapanku pada laki - laki pembohong sepertinya.


Selama ini aku hanya dijadikan wanita penghibur olehnya.! Tapi aku terus mengharapkan cinta yang tulus darinya.


Aku terlalu percaya diri, berfikir kalau aku sangat berarti untuk nya. Tapi pada kenyataannya, aku di buang dan di campakkan setelah dia berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan.


Jika aku boleh memilih, aku ingin membencinya dan mengubur dalam - dalam perasaanku padanya.


Tidak akan aku biarkan ada secuil rasa cinta di hatiku untuknya.


Tak berselang lama setelah aku mengabari kak Fely, om Kenzo langsung menelfon ku. Aku masih diam, hanya menatap layar ponsel yang ada di tanganku. Aku sangat terluka dan kecewa. Apa aku sanggup untuk bicara padanya seolah aku baik - baik saja.? Apa aku bisa berpura - pura kalau aku belum mengetahui acara pertunangannya.


Aku ragu, aku tidak yakin bisa bicara tenang dengannya.


Sudah ke tiga kalinya om Kenzo menghubungiku.


Jika dia cemas padaku, lalu kenapa dia harus menghancurkan hatiku dengan cara seperti ini. Kenapa dia harus berbohong dan akan menggelar acara pertunangan dengan wanita lain tanpa sepengetahuanku. Kenapa tidak jujur dari awal.! Agar aku tidak sesakit ini.


Semakin lama menahan sakit, setitik kebencian mulai muncul dalam hatiku.


Aku mulai tidak terima dengan perlakuan om Kenzo padaku. Aku merasa seperti sampah dimatanya, di buang begitu saja setelah apa yang sudah aku berikan padanya.


Aku menjawab panggilan telfonnya, saat dia menelfon ku untuk ke 5 kalinya.


"Je,, kamu sakit.? Fely bilang kamu nggak jadi ikut karna sakit. Kamu nggak papa.?"


Suara om Kenzo yang panik terdengar dari seberang sana. Aku tersenyum sinis mendengarnya. Entah dia benar - benar mengkhawatirkan ku, atau hanya pura - pura saja.


"Jawab aku Je,,, kamu sakit apa.?"


"Ayolah,,, jangan buat aku khawatir,,,"


Aku hanya bisa mengepalkan tangan, rasanya ini ingin sekali aku menampar mulutnya yang selalu berkata manis padaku.


Dan meneriakinya sebagai pembohong.!


"Aku baik - baik saja om. Cuma nggak enak badan, dan butuh istirahat,,," Ucapku datar.


Aku berusaha tegar di tengah rasa sakit dan rapuhnya hati ini.


"Kamu yakin.?"


"Apa mau ke dokter.? Biar aku jemput sekarang,,,"


"Nggak perlu om. Aku cuma mau istirahat. Aku tutup dulu telfonnya, byee,,"


Setelah mematikan sambungan telfonnya, aku membanting ponselku. Ponsel itu hancur, tapi jauh lebih hancur hatiku saat ini.


Aku mencoba untuk menguatkan hatiku. Mencoba untuk tidak lagi menjadi wanita yang bodoh hanya karna laki - laki jahat sepertinya.


Aku pergi ke kamar mandi, mencuci mukaku yang merah padam karna mulai tersulut emosi.


Aku harus tetap terlihat kuat di depannya. Akan aku tunjukan jika aku baik - baik saja tanpanya.


Aku turun kebawah untuk menemui mama. Malam ini aku harus ikut ke acara pertunangan itu. Bagaimanapun caranya, aku akan membujuk mama agar mama mau mengajakku ke sana.


"Kok belum berangkat Je.?" Tanya mama saat aku menghampirinya di taman belakang.


Mama sedang sibuk menyirami satu persatu tanaman mahalnya.


"Batal mah. Celina ada keperluan mendadak di luar kota." Aku duduk di bangku taman. Menatap deretan bunga bermekaran yang terlihat sangat cantik. Perlahan pandangan mataku mulai menerawang jauh.


Dulu aku merasa hatiku selalu dipenuhi bunga saat mendapat perlakuan manis dari om Kenzo. Bunga yang seakan terus bermekaran di hatiku, namun kini bunga itu berubah layu.


"Pantes muka kamu bete begitu,," Kata mama sembari tersenyum meledek.


Sepertinya ini waktu yang tepat untuk bilang pada mama.


"Apa Jeje boleh ikut ke acara om Andreas mah.? Jeje bosan cuma di rumah aja,," Pintaku memohon. Aku tidak perlu lagi memasang wajah menyedihkan agar mama mau mengajakku, karna saat ini wajahku pasti sudah sangat menyedihkan.


Mama menaruh teko siram tanaman di tempatnya, lalu menghampiriku dan duduk disebelah ku. Tatapan mama tak pernah lepas dari wajahku. Apa mama bisa menebak lagi kalau saat ini aku sedang patah hati.?


Beberapa bulan yang lalu mama bisa tau kalau aku sedang jatuh cinta. Apa dia juga akan tau kalau aku sedang terluka karna cinta.


"Tentu saja boleh,,,"


Aku bernafas lega. Aku pikir mama akan mengajukan pertanyaan padaku perihal raut wajahku yang mengenaskan ini.


Hufft,,, kenapa harus seperti ini akhirnya.


"Sayang sekali nak Kenzo sudah mau menikah. Tadinya mama pengen jodohin kalian berdua." Ujar mama dengan sedikit sesal.


"Nak Kenzo kelihatan sangat baik dan penyayang. Pasti bisa mengimbangi sifat kamu,,," Lanjutnya lagi dengan seulas senyum.


Ucapan mama hanya semakin membuat luka di hatiku semakin menganga.


Andai saja om Kenzo tidak memiliki wanita lain, pasti hubungan kami akan dengan mudah mendapat restu dari mama. Dia bahkan sampai punya niatan untuk menjodohkan ku.


Tapi saat ini, aku enggan untuk berandai - andai.! Kisah cinta ini sudah berakhir, tidak akan mungkin bisa untuk dibawa berandai.


"Kamu yakin.?" Tanya mama penuh selidik. Aku jadi curiga, jangan - jangan mama tau kalau aku dan om Kenzo memiliki hubungan. Apa selama ini mama memata - mataku.?


Tiba - tiba saja aku mulai takut.


"Maksud mama apa,,?"


Senyum yang terbit dari bibirnya, membuatku semakin takut dan gemetar. Bagaimana kalau ternyata mama tau segalanya.


"Kamu pikir mama nggak tau saat makan malam waktu itu, kamu terus meliriknya." Katanya dengan menahan senyum. Aku jadi malu karna ternyata mama memperhatikan gerak - gerik ku saat itu.


"Mama yakin kamu punya ketertarikan dengannya. Kalau nak Kenzo nggak baik, lalu apa yang sudah membuatnya menarik perhatian kamu..?"


Perkataan mama hanya membuatku flashback, kenangan demi kenangan indahku bersama om Kenzo terus muncul silih berganti.


"Melirik belum tentu tertarik mah. Lagipula dia sudah mau menikah mah,,"


Perih sekali rasanya. Selama ini aku berkhayal untuk menikah dengan om Kenzo, tapi dia malah akan menikahi wanita lain.


Sejujurnya aku dan om Kenzo memiliki banyak keterikatan dalam kehidupan masalah lalu.


Papa om Kenzo yang ternyata sahabat papa, kemudian kak Fely yang ternyata adalah adik om Kenzo. Pertemuan ku dan om Kenzo seakan sudah digariskan dalam kehidupan kita masing - masing, dan dengan tujuan yang berbeda.


Om Kenzo di hadirkan dalam hidupku hanya untuk membuatku jatuh cinta penuh padanya, tapi kemudian aku dihempaskan begitu saja.


Aku kembali ke kamar setelah menyelesaikan obrolanku bersama mama.


Meski aku sangat ingin datang ke acara pertunangan itu, sejujurnya aku menyembunyikan kekhawatiran dalam hatiku.


Entah bagaimana aku akan sanggup berdiri untuk melihat om Kenzo bersama wanita lain.


Entah bagaimana caranya aku bisa menahan rasa sakit yang mungkin akan lebih menyakitkan dari sekedar membaca undangannya saja.


Tapi jika bukan aku sendiri yang menguatkan hatiku, lalu siapa lagi.?


...***...


Aku sedang memilih baju untuk datang ke acara pertunangan kekasihku.


Kekasih.? Aku tersenyum sinis dengan goresan luka di hatiku.


Ya, memang seperti itu kenyataannya. Hubungan kami masih berstatus sepasang kekasih.


Tapi tidak untuk 2 jam lagi. Saat itu dia bukan lagi kekasihku, melainkan tunangan wanita lain.


Hari ini aku akan memberikan hadiah spesial untuknya. Aku akan tampil sempurna di hari perpisahan kita yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.


Aku pikir kami akan benar - benar menikah setelah janji itu keluar dari mulutnya. Tapi nyatanya janji itu hanya dusta.!


Selesai memilih baju dan memakainya, aku mulai merias wajahku. Wajah yang terlihat begitu menyedihkan meski sudah di tutup dengan make up.


Rasanya tidak siap untuk melihat orang yang aku cintai memasangkan cincin di jari wanita lain.


Entah bagaimana hati ini akan menerimanya.


"Anak mama cantik sekali,,," Puji nya.


Entah sejak kapan mama berdiri di belakangku.


Aku menatap mama dari pantulan cermin, lalu tersenyum padanya.


"Tapi nasibku tidak secantik wajahku mah,,," Ucapku lirih. Mama tampak terkejut mendengarnya.


"Kenapa bilang seperti itu.?" Tanya lembut sembari mengusap bahuku.


"Sudah sebesar ini aku masih jomblo,,," Selorohku, kemudian tertawa. Aku menertawakan diriku yang begitu bodoh, menjerumuskan diri sendiri dalam luka yang mendalam.


"Anak mama sudah dewasa rupanya."


"Mama ijinin kamu pacaran, asal harus bisa jaga diri,,,"


"Mama serius.? aku boleh pacaran.?" Tanyaku antusias. Mama mengangguk.


"Tapi ingat pesan mama, kamu harus jaga diri."


Aku hanya mengangguk. Lagipula apa yang harus aku jaga.? Om Kenzo sudah mengambil apa yang seharusnya aku jaga.


Salahku juga yang membiarkan hal itu terjadi.


Apa aku harus mengobati luka dengan membuka hati untuk orang lain.? Aku tidak mau terus terluka, sedangkan om Kenzo akan bahagia dengan tunangannya. Bukankah itu tidak adil untukku.?


...*****...


Udah siap liat si wajah polos ini terluka.?


Indah pada waktunya Je🥰


Udah up sehari 2 bab, tapi votenya malah dikit🤣


Minggu lalu malah membeludak🥱🥱


Mana suaranya yang belum voteeee.?