
Di antara banyaknya hadiah dan buket bunga yang dapatkan dari acara kelulusan ku, buket pemberian dari om Kenzo lah sejak tadi terus aku dekap. Sedangkan sisanya di masukan ke dalam bagasi.
Ternyata jatuh cinta membuat ku menjadi sebodoh ini. Ya, aku akui kalau aku memang bodoh. Sudah tau kalau hubungan kami hanya sebatas tanda tangan di atas kertas, tapi aku masih saja berharap.
Berharap om Kenzo juga memiliki perasaan yang sama sepertiku, dan berharap om Kenzo akan memilihku untuk menjadi pendampingnya.
"Bunga dari siapa Je.? Kayaknya spesial banget, dari tadi di pelukin mulu,,,"
Teguran mama mengakhiri lamunanku. Aku menengok padanya sembari mengulas senyum tipis. Harus jawab apa.? Tidak mungkin aku jawab jujur dengan mengatakan bunga yang aku dekap ini dari orang yang aku cintai.
"Dari temen baik Jeje mah,," Jawabku. Lagipula mama tidak akan tau kalau aku berbohong.
Mama mengulas senyum yang sulit untuk di artikan, dia menatapku dengan penuh kelembutan. Dengan tangan yang mengusap kepalaku.
Untuk pertama kalinya, mama terlihat begitu perhatian dan peduli padaku.
"Kamu sudah remaja, mama tau pasti kamu sudah memiliki ketertarikan dengan lawan jenis." Ucapnya lembut.
"Mama tidak melarang kamu kalau kamu memang sedang menyukai seseorang, tapi jangan terikat hubungan. Kamu masih terlalu muda untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis. Mama harap kamu fokus dulu dengan kuliah kamu dulu,,"
Aku hanya bisa bengong mendengar nasehat mama. Apa mungkin mama tau kalau aku sedang jatuh cinta.? Karna sebelumnya mama tidak pernah membahas tentang ini padaku. Bahkan sedikitpun tidak pernah menanyakan tentang kehidupan pribadiku. Tapi sekarang, mama malah membasah tentang masalah percintaan.
"Jeje mengerti mah. Lagipula Jeje tidak tertarik dengan siapapun sampai saat ini." Mama terkekeh pelan mendengar jawabanku. Aku jadi takut dengan kekehan mama yang seakan meledekku.
"Mama juga pernah muda sayang, mana mungkin mama tidak tau,," Mama membuatku terkejut. Lalu harus bagaimana.? Tidak mungkin aku mengakuinya, bisa - bisa mama bertanya tentang laki - laki yang sudah membuatku jatuh cinta.
"Mah,, mama salah paham. Jeje memeluk bunga ini, bukan berarti Jeje sedang tertarik dengan lawan jenis. Jeje masih terlalu muda untuk mengenal cinta mah,," Aku berusaha tersenyum untuk menghilangkan kegugupan ku. Semoga saja mama berhenti membahas masalah ini.
"Jangan coba - coba pacaran Je, kakak udah sering ingetin kamu.!"
Kak Nicho yang sedang menyetir, ikut memberikan komentar atas percakapan ku dengan mama. Rupanya dia menyimak pembicaraan kami.
"Iihh,, apaan sih kak.! Maen samber aja.! Lagian siapa yang bilang kalo aku pacaran.?" Aku mendengus kesal.
"Kamu lagi suka kan sama cowo.? Siapa cowo itu.? Nggak gantle man banget, ngasih bunga pake di titipin ke satpam.!"
Aku semakin mendelik menatap kak Nicho dari kaca spion. Ucapan kak Nicho semakin ngelantur saja.
Lagian kenapa kaka Nicho tau tentang buket bunga ini. Aku pikir kak Nicho tidak melihatnya saat satpam memberikannya padaku.
"Oh,, jadi bunga yang dari satpam itu titipan seseorang.? Mama pikir itu dari satpamnya langsung,," Goda mama.
"Mama kok jadi ikut - ikutan sih. Kak Nicho tuh sok tau mah, bisanya ngarang aja.!" Ketus ku.
"Udah ngaku aja kamu.! Apa perlu kakak cari tau siapa orangnya, biar kakak hajar tu cowo yang nggak gantle man itu."
"Mah,,, kak Nicho rese,,,!" Rengekku pada mama.
"Kalian ini kenapa harus meributkan hal yang tidak penting,," Papa yang sejak tadi diam, kini mulai bersuara.
"Fokus dulu dengan pendidikan kalian. Jangan memikirkan cinta dan pasangan,,"
"Tapi dulu papa malah jodohin kak Nicho,," Celetuk ku. Aku hanya bisa menelan kasar salivaku, karna suatu mata tertuju padaku akibat mulutku yang asal bicara ini.
"Papa menjodohkan kakak kamu bukan untuk menyuruhnya menjalin hubungan saat itu juga. Tapi setelah kakak kamu menyelesaikan kuliahnya,,"
Jelas papa. Aku hanya mengangguk saja. Berbeda dengan kak Nicho yang terlihat tidak suka. Dia seperti sedang memendam kekesalan
"Itu sebabnya papa menyuruhnya untuk cepat menyelesaikan kuliah agar kakak kamu bisa meresmikan hubu,,,',,"
"Pah.!!" Kak Nicho langsung memotong ucapan papa sambil menatap tajam kearahnya. Dan saat itu juga papa langsung diam.
Ada apa ini.? Apa ada yang mereka berdua sembunyikan.? Bukankah masalah perjodohan itu sudah selesai, kenapa sekarang papa membahasnya lagi.?
Mungkinkah kak Nicho berubah pikiran.? Apa dia akhirnya menerima perjodohan itu karna kecewa dengan kak Fely.? Lalu untuk apa bulan lalu dia datang menemui kak Fely. Entahlah, aku tidak bisa menebaknya.
Tapi apapun alasan kak Nicho, semoga saja dia melakukan itu bukan karna kecewa pada kak Fely. Aku memang berharap kak Nicho bisa melupakan kak Fely dan bisa membuka hatinya untuk orang lain.
...**...
Aku segera menganti pakaian ku dengan baju santai. Kemudian membantu pelayanan untuk menyimpan semua hadiah dan buket bunga di dalam walk in closet.
Begitu selesai, aku langsung pergi ke kamar kak Nicho. Aku ingin menanyakan sesuatu padanya.
"Kakak,,," Aku mengetuk pintu lebih dulu. Karna semalam aku di marahi habis - habisan olehnya gara - gara aku menyelonong masuk ke kamarnya dan mendapati kak Nicho hampir telanjang.
"Ada apa.?" Ujar kak Nicho setelah membuka pintu. Aku langsung masuk kedalam, tanpa menjawab ucapan kak Nicho lebih dulu.
"Kakak menerima perjodohan itu.? Bukannya masalah itu udah lama tutup buku.? Kenapa setelah sekian lama papa ngebahas lagi.?"
Aku mengajukan banyak pertanyaan pada kak Nicho, hingga membuatnya terlihat bingung.
Kak Nicho lalu ikut duduk di sebelahku.
"Ya, pada akhirnya kakak memutuskan untuk menerima perjodohan itu,,," Ucapnya lesu. Aku yakin ini bukan keinginan kak Nicho, pasti ada penyebab lain di balik semua ini.
Tapi apapun itu, semoga keputusan kak Nicho bisa membuatnya melupakan rasa sakit hati yang diberikan oleh kak Fely.
"Apa kakak terpaksa.? Apa karna kak Fely sudah menjalin hubungan dengan laki - laki lain, kakak jadi melampiaskannya dengan menerima perjodohan itu.?"
Tanyaku penuh selidik.
"Jangan sebut nama dia lagi Je.! Kakak tidak mau tau apapun lagi tentang wanita itu.! Dan maslah perjodohan ini, tidak ada hubungannya dengan dia."
Aku merasa lega mendengar jawaban dari kak Nicho. Semoga saja kak Nicho bisa melupakan kak Fely, dan bisa kembali mendapatkan kebahagiaannya.
Aku langsung memeluk kak Nicho.
"Kakak harus bahagia,," Ucapku.
"Nggak usah mikirin kebahagiaan kakak, kamu pikirin aja kebahagiaan kamu sendiri. Kamu tidak akan kesepian lagi nantinya, mama dan papa akan banyak memberikan waktu luang buat kamu,,"
Aku langsung melepaskan pelukanku dan menatap kak Nicho.
"Sekarang pun aku nggak lagi ngerasa kesepian. Akhir - akhir ini mama dan papa memang sudah banyak berubah. Dia jadi lebih perhatian padaku,," ucapku dengan mata yang berbinar. Aku merasa saat ini mereka lebih menghargai keberadaanku.
Sejujurnya aku memang sedikit curiga dengan perubahan sikap mereka, namun aku hanya ingin berfikir positif. Mungkin mama dan papa sudah menyadari akan kesalahannya.
...**...
5 hari berlalu semenjak hari kelulusan ku,,,
Dering ponsel membuatku terbangun dari mimpi indahku. Aku bangun namun masih berada di atas ranjang. Dengan posisi duduk, aku meriah ponsel di atas nakas. Mataku langsung terbuka sempurna begitu melihat nama om Kenzo yang tertera di layar ponselku.
"Hai om,,," Seakan tidak memiliki kekecewaan padanya karna dia tak kunjung pulang, aku menyapanya dengan ceria dan senyum yang merekah.
Om Kenzo tersenyum tipis. Hal itu membuatku semakin rindu untuk bertemu dengannya.
"Kamu baru bangun,,?" Tanyanya. Aku mengangguk.
"Mandi dan siap - siap. Aku jemput kamu satu jam lagi,," Aku bengong, antar kaget dan senang bercampur jadi satu.
"Om Ken udah pulang.?" Tanyaku dengan mata yang berbinar.
Om Kenzo tidak menjawab, namun dia menjauhkan kamera ponselnya hingga memperlihatkan backgroundnya saat ini, yang ternyata sedang berada di ruang tamu.
"Kita makan siang di luar. Bawa baju ganti kalau menginap,,"
Aku semakin terkejut mendengarnya. Om Kenzo menawariku untuk menginap.? Mana mungkin aku menolaknya. Aku sudah rindu dengannya, ingin berlama - lama ada disisinya yang selalu membuatku nyaman.
"Om Ken serius.?" Tanyaku masih tidak percaya.
"Kapan,,,
"Aku bercanda,," seruku mengikuti ucapan om Kenzo. Diseberang sana, om Kenzo terkekeh gemas dengan gelengan kepala pelan.
"Aku udah hapal dialog om,," Ujarku lagi dengan menahan tawa.
"Sudah tau kenapa masih bertanya. Buruan mandi, waktu kamu tersisa 50 menit lagi."
"Siap bosss,,,!" Seruku penuh semangat, lagi - lagi om Kenzo terkekeh.
Aku mengakhiri panggilan dengan senyum yang terus merekah. Senang sekali rasanya. Akhirnya aku akan kembali menghabiskan waktu berdua bersama om Kenzo.
Bagaimana aku tidak berharap banyak padanya, kalau dia selalu bisa menyempatkan diri untuk menghabiskan waktu denganku.
...****...
Up lebih awal, siapa tau banyak yang vote abis ini.𤣠Biar nanti bonus upnya nggak kemalemanš
Jangan salahin Jeje kalo demen sama Kenzo. Gimana nggak demen kalo Kenzonya begitu. wkwkš¤£
Terus dukung novel othor yahš„°