My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
10. Season2



Hidup itu memang penuh misteri dan kejutan. Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi hari ini, esok, lusa dan seterusnya. Tidak ada yang tau seperti apa takdir hidup kita kedepannya. Meski kita sudah memiliki rencana dan cita - cita, meski kita sudah berusaha untuk mencapai semua itu, tapi jika itu bukan garis hidup yang ditentukan oleh Tuhan, maka rencana dan cita - cita yang kita impikan bisa berubah 180 derajat dari rencana awal.


Siapa yang bisa menolak, karena kita sebagai manusia hanya bisa berencana, dan Tuhan yang menentukan.


Meski jalan yang Tuhan berikan tidak sesuai dan tidak baik menurut kita, tapi Tuhan yang paling tau apa yang terbaik untuk kita.


Seperti yang sedang di alami oleh Karin saat ini. Siapa yang menyangka kalau ketidak sengajaannya menabrak mobil Reynald, berujung dengan pernikahan yang tidak pernah dia pikirkan sebelumnya. Sedikit tidak pernah terlintas dalam pikiran dan benaknya, akan menikah secepat ini dan dalam kondisi tengah mengandung. Menikah tanpa saling mencintai. Hanya karena terpaksa keadaan.


Apa mungkin Karin bisa menyebut bahwa itu adalah takdir yang baik untuknya.? Tentu saja tidak.!


Karin menganggap takdirnya adalah musibah terburuk dalam hidupnya.


Karin terus menatap dirinya dari pantulan cermin. Sorot matanya dipenuhi kesedihan yang mendalam.


Dia bukan tidak mau menerima takdirnya dengan ikhlas, hanya saja dia terlalu takut untuk menjalaninya.


Tidak ada perasaan di antara dia dan Reynald, lalu bagaimana dia harus menjalani hari - harinya bersama Reynald.?


Terlebih selama ini Reynald selalu bersikap dingin padanya meski sudah berkali - kali menidurinya.


"Karin ayo,,, udah disuruh keluar,,"


Jeje memegang tangan Karin, mencoba untuk membantu Karin bangun dari duduknya.


Karin terlihat semakin cantik dengan riasan makeup natural. Dia berusaha menarik sudut bibirnya untuk tersenyum pada Jeje. Senyum yang terlihat kaku karena dipaksakan. Juga terlihat penuh kesedihan.


"Kamu pasti bisa buat kak Reynald jatuh cinta." Jeje memberikan semangat pada sahabatnya itu. Meski dia tidak terima dengan perbuatan Reynald yang sudah menghamili Karin, namun Jeje ingin sahabatnya itu bisa menjalani pernikahan dengan semestinya. Terlebih sudah ada calon buah hati mereka.


Karin mengangguk pelan. Antara yakin dan tidak yakin bisa membuat Reynald jatuh cinta padanya.


"Sebenarnya kak Reynald orang yang baik Rin, meski dia kaku dan dingin." Tutur Jeje lagi.


"Kata hubby, dulu kak Reynald nggak sedingin itu. Kayaknya kak Reynald stres karna dulu keluarganya pernah' bangkrut. Kamu bisa liat sendiri kan dari ekspresi wajahnya yang penuh beban, sudah seperti orang stres,," Ujarnya panjang lebar dengan suara yang lantang. Karin melotot melihatnya.


"Je,,!" Tegur Karin. Dia memberikan kode pada Jeje dengan menggerakkan manik matanya.


"Kenapa.? kamu nggak terima calon suami kamu di bilang stres.? Memang kenyataannya terlihat seperti itu Rin. Semoga saja kamu bisa menyembuhkan kak Reynald,," Sambung Jeje lagi.


"Ngomong apa kamu.?!!" Geram Reynald yang sejak tadi berdiri di belakang Jeje. Laki - laki itu menatap tajam pada istri bosnya.


Jeje berbalik badan dengan mengulas senyum kaku karena ketahuan mencibir Reynald.


"Hehe,, bercanda kak,," Ucap Jeje sembari mengacungkan dua jari sebagai permintaan damai.


Tukkk,,,!!


Renyald mengetuk kening Jeje dengan kepalan tangan.


"Sekali lagi ngomong macem - macem, aku ci,,


"Mau apa.?!!" Kenzo yang baru datang langsung meninju lengan Reynald karena kedapatan memarahi istrinya.


"Hubby,,," Rengek Jeje, dia langsung menghampiri Kenzo dan menempel bak prangko padanya.


"Kak Reynald mukul kepala aku tadi,," Adunya dengan memasang wajah sedih, namun dalam hatinya terkekeh geli. Reynald benar - benar menyebalkan, sesekali mengerjainya sebelum laki - laki kaku itu menikah.


"Rey.!!" Geram Kenzo dengan mata tajamnya bak elang.


Siall!!


Reynald mengumpat dalam hati dengan wajah yang sudah pucat.


"Kalian kenapa lama sekali.?" Ibu Dahlia masuk kedalam kamar.


"Cuti kamu di hapus.! Besok kamu harus tetap berangkat ke kantor.!" Ujar Kenzo tegas.


Dia menggandeng Jeje dan membawanya keluar kamar. Reynald hanya bisa melongo. Rencananya untuk menghabiskan waktu bersama Karin harus gagal.


"Ayo neng,,," Ibu Dahlia menggandeng tangan Karin.


Menuntunnya pelan untuk menuju pelaminan sederhana di ruang tamu.


Reynald menghela nafas kesal, lalu mengikuti mereka di belakang.


...**...


Terlebih orang tua Karin yang terlihat menitikkan air matanya. Gurat kesedihan terlihat jelas di wajah mereka, merasa gagal sebagai orang tua karena tidak bisa melindungi Karin. Hingga anak gadisnya itu harus hamil sebelum menikah.


Karin tertunduk lesu, memikirkan segala hal yang berkecambuk dalam pikirannya.


Kini dia sudah menjadi seorang istri, dan akan menyandang gelar seorang ibu untuk 8 bulan ke depan.


Gadis yang belum genap berusia 19 tahun itu tidak menyangka rencana hidupnya langsung melompat jauh. Padahal rencana untuk menikah dan memiliki anak, masih ada di tahap yang jauh di depan mata.


"Bapak titip Karin. Dia sudah menjadi tanggung jawab kamu sekarang. Tolong jangan buat Karin sedih, apa lagi menyakitinya." Ujar Pak Dadang lirih, penuh dengan permohonan yang tulus sebagai seorang ayah.


"Selama ini kami tidak pernah menyakitinya, maka berjanjilah untuk tidak menyakiti anak kami,," Sambungnya lagi. Air matanya semakin tumpah.


"Bapak tenang saja, saya akan menjaga Karin, dan tidak akan menyakitinya,," Sahut Reynald tanpa keraguan.


Karin mendekat pada Bapaknya, memeluk laki - laki paruh baya itu dengan perasaan haru.


"Bapak nggak usah khawatir, Karin pasti akan baik - baik saja dan bisa menjaga diri. Kak Reynald juga nggak akan nyakitin Karin, dia baik Pak,,,"


Tidak ada yang bisa Karin lakukan selain menyakinkan orang tuanya. Dia tidak ingin membuat kedua orang tuanya tidak tenang dan terus memikirkan nasibnya.


Karin juga bergantian memeluk ibu Dahlia, dia berusaha membuat ibunya ikhlas untuk melepaskannya hidup dengan Reynald.


"Semoga kamu selalu bahagia neng, langgeng rumah tangganya. Ibu pasti do'ain yang terbaik buat eneng,,,"


Karin mengedipkan mata berkali kali untuk menahan air matanya agar tidak tumpah. Hatinya terasa perih melihat tangis kesedihan di mata kedua orang tuanya.


Mama Laras mendekati Karin, dia mengusap punggung menantunya berkali - kali. Tentu saja mama Laras sangat merasa bersalah, sudah menabur kesedihan di keluarga Karin akibat ulah anaknya.


"Karin, mama tau ini berat untuk kamu." Ucapnya lembut. Karin menatap mama Laras dengan mata sendunya.


"Tapi mama mohon, maafkan anak mama dan jalani rumah tangga kalian dengan baik."


"Meski belum ada perasaan di antara kalian, mama yakin perasaan itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu."


"Terlebih sudah ada baby disini,," Mama Laras mengusap lembut perut Karin.


"Kalian harus jadi orang tua yang saling mencintai dan menyayangi, demi anak kalian dan keluarga kecil kalian nanti,,"


Karin hanya bisa diam memaku, entah kenapa ucapan mama Laras membuatnya semakin tidak yakin untuk bisa menjalani rumah tangganya dengan cinta.


"Mama titip Reynald sama kamu, dia itu sedikit manja keras kepala. Kalau Rey macam - macam, bilang saja sama mama. Biar nanti mama yang kasih pelajaran sama anak nakal itu,," Ujarnya sembari melirik tajam pada Reynald.


"Mah,,!" Tegur Reynald tak suka. Dia merasa harga dirinya anjlog depan Karin. Terlebih saat mama Laras membongkar sifat manjanya.


"Ingat Rey.! Jangan sampai kamu bikin menantu dan calon cucu mama sedih. Kamu akan tau akibatnya,,!" Ancam mama Dahlia ketus.


Reynald hanya menghela nafas kasar.


Sementara itu, Jeje yang berdiri sebelahan dengan Kenzo. Langsung memeluk manja suaminya itu dari samping.


"Kenapa.?" Tanya Kenzo lembut, sembari mengusap punggung Jeje.


"Aku bahagia by. Semoga mereka saling mencintai nantinya,," Ujar Jeje dengan mata berbinar.


"Kamu terbaik sayang,,," Kenzo mengecup pucuk kepala Jeje penuh cinta dan rasa bangga yang luar biasa atas ketulusan dan kelembutan hati sangat istri.


"Aku juga mau punya baby,," Jeje mengusap perut ratanya. Entah kenapa dia jadi berubah pikiran dan ingin segera hamil seperti Karin.


"Dengan senang hati aku akan membuatkannya,," Bisik Kenzo lembut.


Jeje menyembunyikan wajahnya yang merona di dada bidang Kenzo. Dia merasa malu pada suaminya itu, karena jawaban Kenzo seolah mengatakan kalau Jeje ingin melakukan penyatuan saat itu juga.


...****...


Mana nih yang masih setia.?


Minta 1000 vote boleh.? bisa yuk 1000 orang😁


Btw, covernya di ganti sama pihak NT.


Kalian lebih suka cover awal apa cover yang sekarang.?