
Menikah dengan Reynald adalah keputusan yang Karin ambil sendiri tanpa paksaan dari siapapun.
Sejak awal bertemu dengan Reynald, tentu saja Karin sudah paham dengan sifat Reynald yang memang cuek, dingin dan terlihat arogan. Tidak ada hal baik yang menonjol dari diri Reynald selain fisiknya yang sempurna. Ya, hanya fisiknya saja yang menjadi kelebihan dalam diri laki - laki itu.
Namun saat itu Karin beranggapan jika nantinya Reynald akan berubah setelah menikah. Karin berkhayal sikap Reynald padanya akan sedikit lembut karena sendang mengandung anaknya. Tapi nyatanya sampai detik ini tidak ada perubahan yang terlihat. Reynald masih saja acuh hingga Karin merasa asing padanya. Dia sudah menikah, tapi hubungannya seperti tanpa status.
Tidak ada yang bisa di sesali oleh Karin, dia yang sudah mengambil keputusan ini dan sudah sewajarnya jika dia menerima konsekuensi atas pilihannya sendiri.
Saat ini Karin hanya sedang berusaha untuk memperbaiki keadaan agar rumah tangganya bisa berjalan normal.
Tidak masalah jika saat ini dia harus berjuang sendiri dengan cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Karin akan tetap berusaha membuat Reynald mencintainya, namun bukan berarti dia akan terus berjuang. Dia juga manusia biasa yang memiliki batas kesabaran. Jika dia sudah lelah berjuang namun Reynald tak kunjung berubah, maka saat itu juga dia akan melepaskan Reynald dengan tangan terbuka.
Jika hidupnya jauh lebih bahagia tanpa Reynald, kenapa harus rela terluka hanya untuk bertahan.
Karin sedang merias tipis wajahnya. Jarang sekali dia memoleskan make up jika hanya sekedar untuk keluar. Bahkan saat masih kuliah, Karin hanya memakai pelembab dan memoleskan lipstik sesuai warna bibirnya hanya untuk mempertegas warna bibirnya. Dia akan menggunakan make up jika ada acara penting saja.
Namun kali ini Karin merasa harus menggunakan make up untuk pergi menjenguk Alisha.
Melihat Angel yang sangat cantik dengan riasan make up yang tegas, membuat Karin merasa dirinya dan Angel akan seperti bumi dan langit jika dia tidak mengoleskan make up di wajahnya.
"Lipstiknya terlalu merah,," Karin menengok kesamping, menatap laki - laki yang baru saja memberikan protes padanya.
Selama ini Reynald memang hanya melihatnya memakai lipstik berwana merah muda, sesuai dengan warna bibirnya. Baru kali ini dia melihat Karin memakai lipstik yang menurutnya terlalu mencolok. Meski dia akui jika Karin terlihat sangat cantik.
"Apa masalahnya.?" Tanya Karin acuh. Dia kembali mengarahkan wajahnya ke depan cermin.
"Hapus.! Warna lipstiknya terlalu mencolok. Kamu kelihatan seperti mau menggoda laki - laki, bukan mau ke rumah sakit.!" Kali ini Reynald menegur Karin dengan suara ketus.
Karin hanya melirik kesal, padahal Angel juga memakai lipstik yang jauh lebih mencolok. Bukannya menghapus lipstiknya, Karin justru kembali menambahkan lipstik di bibirnya dan membuat bibirnya semakin merah.
"Kau.!" Reynald melotot melihatnya, dia mendekat dan merebut lipstik dari tangan Karin.
"Cepat hapus.!" Reynald menyodorkan tisu pada Karin, wajahnya terlihat kesal karena Karin tidak mau menuruti perintahnya.
Dandanan Karin terlalu mencolok, dia pasti akan menjadi pusat perhatian laki - laki diluar sana.
"Nggak mau.!" Karin menolak keras. Dia beranjak dari duduknya dan berjalan keluar.
Reynald mendengus kesal, namun dia mengikuti langkah Karin.
Karin menghampiri kedua orang tuanya dan pamit pada mereka untuk pulang ke apartemen. Reynald juga ikut pamit pada mereka. Dia bahkan mendapat amanah untuk selalu menjaga Karin dengan baik dan tidak menyakitinya.
Kini keduanya sudah masuk kedalam mobil, kedua orang tua Karin mengantar mereka sampai di teras.
Sejak tadi Reynald terlihat menahan diri untuk tidak berkata macam - macam pada Karin di depan kedua orang tua Karin. Dia terpaksa tidak bicara apapun pada Karin sampai masuk kedalam mobil.
Karin sudah menyadari hal itu, dia bahkan sangat yakin kalau Reynald akan kembali mengajukan protes karena lipstiknya.
Reynald melajukan mobilnya. Dia langsung melirik Karin dengan tajam, padahal mobil mereka baru saja keluar dari halaman rumah.
"Kalau nggak mau hapus lipstiknya mendingan nggak usah ikut.! Aku anterin kamu ke apartemen.!" Ujar Reynald dengan suara tegas. Dia tidak mau di bantah lagi hingga memberikan pilihan pada Karin.
"Memangnya kenapa kalau ikut.?" Karin menatap Reynald dengan nanar. Dia mulai terbawa suasana.
"Apa aku akan jadi pengganggu kalian.? Apa kakak nggak leluasa kalau aku ikut.?!" Karin berbicara dengan tegas, dia bahkan sampai membuka matanya lebar - lebar. Ada perasaan cemburu yang menyelimutinya, membayangkan Reynald yang akan berduaan dengan Angel jika dia tidak ikut ke rumah sakit.
Karin yakin kalau Reynald masih mengharapkan Angel, laki - laki itu pasti akan senang jika bisa berduaan dengan wanita itu.
"Kamu itu bicara apa.? Menganggu siapa.?" Reynald bertanya seolah tidak tau maksud Karin.
"Aku cuma minta kamu menghapus lipstik, apa susahnya.?"
"Aku nggak mau.!" Jawab Karin tegas. Dia tidak peduli lagi Reynald akan marah padanya atau tidak.
"Bilang aja kakak nggak suka kalau aku ikut.!" Ketusnya.
"Berhenti disini.! Aku bisa tinggal di rumah bapak kalau kakak keberatan aku ikut.!"
Karin melepaskan seatbeltnya. Dia sudah bersiap untuk keluar dari mobil.
"Jangan konyol.! Kamu mau bikin keributan di rumah karena tiba - tiba pulang lagi."
"Jangan seperti anak kecil." Serunya.
Reynald tidak mengindahkan permintaan Karin, dia terus melajukan mobilnya bahkan menambah kecepatan.
Mendengar Reynald menyebutnya seperti anak kecil, mata Karin langsung berkaca - kaca. Hatinya terasa perih. Sebenarnya siapa yang seperti anak kecil.? Disini sudah jelas siapa yang egois dan seenaknya sendiri. Sudah jelas siapa yang hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa memperdulikan perasaan orang lain.
"Aku memang anak kecil.! Harusnya saat ini aku masih bersenang - senang dengan duniaku.! Menikmati masa - masa indah untuk menggapai masa depan yang cerah.!" Karin berbicara dengan suara yang bergetar. Hal itu menarik perhatian Reynald. Dia jadi merasa bersalah pada Karin, wanita itu bahkan hampir meneteskan air matanya.
"Kalau saja kakak nggak hamilin aku.! Aku pasti masih bahagia saat ini.!"
"Kakak puas.?!!!" Bentak Karin. Air matanya tidak bisa dibendung lagi. Hatinya terasa dicabik - cabik, dia merasa hidupnya sudah hancur saat ini.
"Apa kakak sudah puas membuat hidupku hancur seperti ini.??!!" Karin terus meracau, mengeluarkan isi hatinya yang selama ini dia pendam.
Reynald langsung menepikan mobilnya. Dia melepas seatbelt kemudian menarik Karin dalam dekapannya. Tanpa berkata apapun, Reynald memeluk Karin dengan erat. Dia juga terus mengusap punggung Karin. Sementara itu tangis Karin semakin pecah. Dia sudah lelah menahan sakit itu sendiri. Sudah lelah berpura - pura baik - baik saja.
"Lepasin.!!" Karin memberontak, kedua tangannya terus memukuli punggung Reynald.
Harusnya sejak awal dia menuruti ucapan Jeje untuk tidak mencintai Reynald sebelum laki - laki itu mencintainya lebih dulu. Saat ini Karin bahkan berfikir untuk membenci Reynald, agar nantinya dia bisa melepaskan Reynald secepatnya.
"Lepasin.!! Aku nggak mau ikut, aku mau ke rumah bapak.!!" Lebih baik memang tidak tinggal bersama Reynald, dari pada harus bersamanya dan terus terjebak dengan perasaannya sendiri.
Reynald melepaskan pelukannya, namun dia justru meraih tengkuk Karin dan mencium bibirnya. Reynald melu**t dan menyesapnya lembut.
Karin memaku dengan tatapan mata yang kosong namun masih berurai air mata. Saat ini dia justru benci dengan dirinya sendiri karena membiarkan Reynald terus menciumnya. Ciuman yang terasa hangat dan berbeda, membuat Karin enggan untuk menghentikannya.
Setelah cukup lama mencium Karin, Reynald melepaskan ciumannya karena merasa Karin sudah mulai tenang. Dia menyeka bibir Karin, juga mengusap air mata di pipinya.
"Maaf,,," Hanya itu yang keluar dari mulut Reynald. Namun terdengar tulus, begitu juga dengan tatapan matanya yang dalam. Reynald, memasangkan seatbelt pada Karin, wanita itu masih diam saja dengan pandangan mata yang menerawang.
"Kita pulang saja, kamu harus istirahat. Kita bisa menjenguk Alisha kapan - kapan,,," Ujarnya lirih.
Reynald kembali melajukan mobilnya. Suasana hening setelah kejadian tadi. Mereka sibuk dengan pikirannya masih - masing.
Reynald semakin sadar akan kesalahannya, dia baru menyadari jika selama ini Karin sudah menderita karenanya. Dia melihat kesedihan dimata Karin, kesedihan yang begitu mendalam.
Melihat Karin menangis, membuatnya ikut merasakan sakit.
"Jangan pulang. Aku ingin bertemu Alisha." Suara Karin terdengar jauh lebih tenang dari sebelumnya. Namun dia bicara tanpa melihat Reynald. Pandangan matanya fokus ke depan.
Sudut bibir Reynald terangkat, dia merasa senang karena Karin terlihat tulus ingin bertemu dengan putrinya.
Reynald mengusap pucuk kepala Karin beberapa kali. Dia berharap Alisha bisa menerima keberadaannya dan Karin sebagai orang tuanya juga.
...****...
Udah like & vote.? 😁