
Sesekali Karin melirik Reynald. Laki - laki itu sedang sibuk menghubungi seseorang. Juga menghubungi pihak rumah sakit yang ada di Singapur. Reynald terlihat serius mengurus kepindahan Bapak Karin ke Singapur. Entah sudah berapa orang yang dia hubungi saat itu. Bahkan menelfon seseorang untuk mengurus keberangkatan mereka.
Sepeduli itu Reynald pada keluarganya, Karin tidak menyangka Reynald akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan Bapaknya. Dibalik sikapnya yang selalu dingin dan cuek, ternyata ada rasa tanggung jawab dan kepedulian yang besar pada diri laki - laki itu.
Mata Karin berkaca - kaca, dadanya sesak karna selama ini selalu berfikir buruk tentang suaminya. Tapi pada kenyataanya, Reynald yang berdiri paling depan saat keluarganya mengalami musibah seperti ini.
"Kenapa.? Ada yang sakit.?" Tanya Reynald yang tiba - tiba menatap Karin. Karin langsung mengalihkan pandangan, dia menghapus air mata yang hampir saja menetes. Air mata penyesalan dan haru.
Karin menggeleng pelan dengan seulas senyum. Rasanya ingin menghambur kepelukan Reynald, menangis dan berterimakasih padanya karna sudah terlalu baik pada keluarganya. Tapi Karin tidak berani untuk melakukannya.
"Berikan padaku,," Reynald mengambil bungkus roti di tangan Karin. Setidaknya wanita itu mau mengisi perutnya dalam keadaan sedang berduka seperti ini.
"Minum dulu,," Reynald dengan telaten memberikan air mineral lagi pada Karin.
"Masih ada buah kalau mau,," Ujarnya menawarkan.
Karin hanya menggelengkan kepalanya.
"Aku mau ke toilet kak,,," Karin menyerahkan botol mineral pada Reynald, lalu perlahan menurunkan kakinya ke lantai.
"Mau jalan sendiri.? Yakin bisa.?!" Tanya Reynald datar. Dia menatap tajam ke arah Karin yang sedang mengambil botol infus yang menggantung.
"Aku masih kuat jalan kak, tenang saja,,," Sahut Karin. Dia melempar senyum pada Reynald untuk menunjukan jika dia baik - baik saja dan kuat untuk pergi ke kamar mandi.
Reynald hanya diam, memperhatikan Karin yang sudah turun dari bangsal dan berjalan pelan sembari memegang botol infus.
Reynald menghela nafas, meski Karin memang terlihat kuat untuk berjalan, tetap saja dia merasa cemas.
"Walaupun kamu ngerasa kuat, tapi kamu itu baru saja pingsan.! Bagaimana kalau tiba - tiba pingsan lagi.!" Karin hanya diam mendengar omelan Reynald. Dia juga tidak protes saat Reynald berdiri di sampingnya dan merangkul bahunya.
"Berikan padaku.!" Reynald mengambil paksa botol infus di tangan Karin. Dia menuntun Karin dengan perlahan.
"Kapan Bapak di pindahin.?" Karin memberanikan diri untuk bertanya, meski sebenarnya dia gerogi dan malu dalam dekapan Reynald seperti ini. Terlebih aura Reynald yang mampu membuat buku kuduknya meremang, dengan mata tajam dan garis wajah yang semakin terlihat jelas dalam jarak sedekat ini.
"Lebih cepat lebih baik.! Jangan mengandalkan rumah sakit yang tidak memiliki kelengkapan alat kesehatan yang memadai." Sahut Reynald tegas.
"Mungkin sore ini." Tambahnya lagi.
Karin menganggukkan kepala, dia mempercayakan keputusan itu sepenuhnya pada Reynald. Karin yakin Reynald anak melakukan yang terbaik untuk Bapaknya.
Karin melongo saat Reynald mengantarnya sampai ke dalam kamar mandi.
"Kakak diluar saja, aku mau pipis,,," Ucap Karin malu.
"Memangnya kenapa.? Kamu malu.?!" Ketusnya.
"Aku sudah melihat semuanya, Sudah sering menyentuhnya, sudah pernah men,,,
Karin langsung membungkam mulut Reynald. Dia tidak mau mendengar kata selanjutnya yang pastinya akan membuat wajahnya memerah karna malu.
"Tidak perlu di sebutkan kak.!" Protes Karin kesal.
"Ya sudah buruan.! Tunggu apa lagi."
"Apa perlu aku bukain.?" Seru Reynald. Dia menatap bagian bawah tubuh Karin yang sontak membuat Karin membulatkan matanya.
"Kakak tunggu di luar saja, aku nggak bisa pipis kalo ada orang,,," Pinta Karin. Tidak mungkin dia buang air kecil sedangkan Reynald terus berdiri di sampingnya.
"Aku harus memastikan kamu baik - baik saja.!"
Reynald bersikeras untuk menunggu Karin di dalam. Dia hanya tidak ingin Karin kenapa - kenapa kalau di biarkan sendiri di dalam kamar mandi.
"Kak,,, aku masih kuat, jangan khawatir."
"Tunggu di luar saja, aku akan teriak kalau ada apa - apa,,,"
"Kapan aku bisa pipis kalau kakak masih disini,," Jelas Karin dengan wajah memohon.
Dia menggantung botol infus di atas toilet.
"Jangan lama - lama."
"Pintunya biar aku yang tutup, tidak perlu di kunci.!"
"Panggil aku kalau sudah selesai.! Jangan keluar sendiri.!" Ujarnya kemudian keluar dari kamar mandi.
...****...
"Kamu mau liat Bapak dulu sebelum pulang.?" Tawar Reynald. Dia akan mengantarkan Karin pulang ke apartemen, kemudian mengurus kepindahan Pak Dadang jam 5 sore nanti.
Masih ada waktu 1 jam lebih untuk mengantar Karin pulang dan menyiapkan semuanya termasuk menjemput Ibu Dahlia dan Radit yang masih ada di rumah.
"Iya, aku mau bicara dulu sama Bapak,,," Sahut Karin lirih. Dia kembali melamun. Pikirannya kalut karna mengkhawatirkan kondisi Bapaknya. Takut terjadi sesuatu yang dia takutkan sejak dulu.
"Tapi ingat, jangan menangis lagi seperti tadi siang.!"
"Kamu itu jangan berfikir macam - macam, harus yakin kalau Bapak akan sembuh.!"
Tegas Reynald. Karin menganggukkan kepalanya.
Keduanya keluar dari ruangan dan pergi ke ruang ICU. Di luar masih ada Anton yang setia menunggu di depan ruang ICU.
"Kamu udah sehat dek.?" Tanya Anton begitu Karin datang.
"Sudah a. Aku mau liat Bapak dulu."
Anton mengangguk.
"Setelah ini aku antar Karin pulang. Bang Anton jangan kemana - mana dulu, aku langsung kesini setelah jemput Ibu sama Radit." Tutur Reynald.
"Makasih banyak Rey.!" Anton menepuk pelan bahu Reynald. Dulu dia hampir saja menghajar laki - laki itu karna sudah menghamili adiknya, tapi melihat saat ini Reynald begitu peduli pada keluarganya, Anton merasa lega karna belum menghajar Reynald.
"Jangan sungkan,,,!" Sahut Reynald yang juga menepuk bahu Anton, lalu bergegas mengantar Karin ke dalam.
Reynald menunggu Karin di dekat pintu seperti tadi siang, untuk membiarkan Karin berbicara dengan Bapaknya.
"Pak, Bapak harus kuat yah,,," Ucap Karin lirih. Dia sengaja berbicara di dekat telinga Bapaknya agar bisa didengar jelas olehnya namun tidak bisa di dengar oleh Reynald.
"Katanya Bapak mau lihat Karin bahagia, Karin indah bahagia pak." Mata Karin berkaca - kaca.
"Bapak harus sehat biar bisa liat anak Karin dan main sama anak Karin nanti."
"Karin pulang dulu yah Pak, kita ketemu lagi kalau Bapak sudah sehat,," Karin mengusap pelan wajah Bapaknya, kemudian berjalan menghampiri Reynald.
Kali ini Karin benar - benar menepati janjinya, dia tidak lagi menangis seperti tadi dan terlihat jauh lebih tenang.
Reynald tersenyum begitu Karin berhenti di depannya, dia mengusap lembut pucuk kepala Karin.
"Jangan khawatir, Bapak akan sehat secepatnya,,,"
Ujarnya meyakinkan Karin, sekaligus untuk membuat Karin lebih tenang.
Karin tidak bisa membendung air matanya, dia langsung menghambur ke pelukan Reynald. Memeluk suaminya dengan erat. Ada ketenangan yang luar biasa saat memeluknya.
"Makasih banyak kak,,," Ucap Karin di sela isak tangisnya. Tidak ada yang bisa dia ucapkan selain itu. Karin benar - benar tersentuh atas kebaikan Reynald terhadap keluarganya.
Reynald menarik nafas panjang, di usapnya punggung Karin penuh haru. Lagi - lagi hatinya merasa teriris melihat tangis Karin.
"Sudah jangan menangis.! Kita pulang sekarang,," Reynald melepaskan pelukan Karin, dia mengusap air mata di pipi Karin dengan penuh cinta.
Setelah pamit pada Anton, keduanya langsung meninggalkan rumah sakit.
...****...