
Fely hanya bisa menggelengkan kepalanya. Perutnya terasa mual melihat Jeje yang sudah menghabiskan 3 porsi makanan dalam waktu kurang dari 30 menit.
Iparnya itu sudah seperti orang yang kerasukan.
Melihat Jeje makan sebanyak itu saja sudah membuatnya kenyang. Entah bagaimana dengan perut Jeje saat ini.
"Selapar itu kamu Je.?" Tanya Fely terheran - heran.
Yang ditanya hanya mengangguk dengan seluas senyum. Mulutnya asik menyedot jus alpukat yang sedang dia pegang.
Kurang dari 1 menit, segelas jus alpukat itu habis tak tersisa.
Jeje meletakan gelas itu, namun matanya sambil melirik jus mangga milik Fely yang baru diminum sedikit.
"Sayang kalau nggak dihabisin kak,,," Ucap Jeje sembari mengulurkan tangan mengambil jus mangga itu.
Fely hanya bisa membulatkan matanya. Dia curiga ada yang tidak beres dengan saudara iparnya itu.
"Habiskan saja,," Ujar Fely. Tapi Jeje sudah lebih dulu menghabiskan setengah jus itu.
"Aku ke toilet sebentar Je,,," Fely beranjak dari duduknya.
"Jangan lama - lama kak,,,"
Fely hanya mengangguk. Dia meninggalkan Jeje yang masih asik menghabiskan jus miliknya.
Fely berencana untuk menghubungi Kenzo. Ingin memberitahukan apa yang baru saja dia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Tidak biasanya Jeje makan serakus itu.
"Halo kak,,," Seru Fely begitu sambungan telfonnya terhubung dengan Kenzo.
"Ya. Kamu sudah ajak Jeje jalan - jalan.?"
"Kami masih di mall sekarang."
"Sepertinya ada yang aneh dengan Jeje,," Ucap Fely sedikit ragu. Takut akan menyinggung perasaan Kenzo.
"Aneh.? Aneh kenapa.?"
"Emm,, itu. Dia baru saja makan siang 3 porsi sekaligus." Tutur Fely.
"Jus milikku bahkan dihabiskan Jeje,,"
"Oh ya,,?"
"Biarkan saja, selagi Jeje mau makan. Asal makanannya sehat."
Fely mengerutkan keningnya, dia pikir Kenzo akan heran. Tapi reaksi Kenzo terdengar biasa saja.
"Satu lagi, jangan biarkan Jeje minum soda dan makanan atau minuman yang terlalu asam,," Pesannya.
"I,,iya kak,,"
"Ya sudah. Tolong jaga Jeje untukku."
"Nanti malam aku dan mama pulang,,"
Setelah Kenzo mematikan telfonnya, Fely segera kembali menghampiri Jeje. Dilihatnya wanita cantik itu sedang memakan salad buah.
Lagi - lagi Fely dibuat tercengang. Jeje seakan tidak ada kenyangnya. Padahal sudah banyak makanan yang masuk kedalam perutnya.
"Kak Fely mau,,?" Tawar Jeje begitu melihat Fely datang. Fely hanya menggelengkan kepalanya, lalu kembali duduk.
"Sudah beberapa hari ini aku sedikit lebih banyak makan,," Gumam Jeje santai.
Fely melotot mendengarnya.
'Sedikit lebih banyak.?' Batin Fely terheran.
3 porsi makan, 2 gelas jus, 1 cup salad ukuran sedang. Makanan itu terlalu banyak menurut Fely.
"Apa aku jadi gendut kak.?" Tanyanya.
Jeje memang merasa badannya sedikit lebih berat dari biasanya. Mungkin itu yang menyebabkannya malas untuk melakukan aktifitas. Begitu pikirnya.
"Mungkin belum. Sejauh ini masih langsing - langsing saja,," Sahut Fely cepat. Dia sangat yakin kalau sebentar lagi badan Jeje akan membengkak jika tidak menjaga dan mengatur pola makannya.
"Berarti aku akan gendut.?" Tanyanya antusias.
Fely menganggukkan kepalanya pelan.
"Hubby pasti senang. Dia akan semakin semangat meniduri,,,,
" Jeje.!" Tegur Fely sembari membekap mulut Jeje.
"Ya ampun, mulut kamu itu." Geram Fely kesal.
"Banyak orang disini,,," Tambahnya lagi, lalu melepaskan tangannya. Jeje hanya menyengir kuda, memamerkan deretan giginya yang rapi.
Wanita itu sudah tidak sabar untuk bertemu dengan suaminya. Belum genap 1 hari di tinggal, rasanya sudah terlalu lama tidak melihat wajah tampannya itu.
...****...
Selesai makan siang dan berbelanja, keduanya meninggalkan pusat perbelanjaan pukul 3 sore.
"Hati - hati di jalan Je,," Ucap Fely sembari melambaikan tangan. Jeje mengangguk dengan seulas senyum, lalu melajukan mobilnya.
Sembari berjalan memasuki gedung apartemen, Fely sesekali melihat ponselnya.
Sudah 2 hari ini Nicho tidak pernah menghubunginya. Biasanya laki - laki itu tidak pernah absen untuk sekedar mengirimkan pesan atau menelfonnya.
Tadi malam untuk pertama kalinya Fely mengirimkan pesan pada Nicho. Namun rupanya ponsel Nicho sedang tidak aktif.
Fely membuka pintu apartemen dengan menghela nafas pelan. Laki - laki itu memang menyebalkan.
Kalau pesannya tidak dibalas, dia akan menelfon puluhan kali sampai panggilannya itu di jawab, lalu akan marah - marah. Tapi lihat, 2 hari ini dia menghilang tanpa kabar.
Langkah Fely terhenti, dia mencium aroma parfum yang sangat dia kenal siapa pemiliknya.
Untuk memastikannya lagi, wanita itu menghirup udara dalam - dalam. Aroma maskulin itu semakin tercium.
Fely memegang jantungnya yang tiba - tiba berdetak kencang karena teringat dengan Nicho.
Manik matanya langsung tertuju pada kamarnya yang tertutup rapat. Dengan langkah cepat, Fely langsung bergegas masuk kedalam kamar.
"Dari mana saja,,?" Suara yang sangat dirindukan itu langsung menggema saat dia membuka pintu kamar.
Fely mendapati Nicho yang sedang berbaring di ranjang dengan kedua tangan yang dijadikan bantal.
"Ka,,kapan kamu datang,,?" Tanya Fely terbata. Antara senang dan gerogi karena terus di tatap oleh Nicho. Tatapannya yang dalam dan tajam, terasa menembus hingga hatinya.
"Biasakan menjawab pertanyaan lebih dulu sebelum bertanya." Ujar Nicho tegas. Laki - laki itu bangun, duduk di ujung ranjang dengan kaki yang menapak di lantai.
"Aku pergi ke mall sama Jeje,,"
"Kenapa nggak bilang kalau mau pulang,,?"
Nicho selalu saja muncul tiba - tiba di hadapannya. Laki - laki itu akan datang dan pulang seenaknya.
"Lebih dekat, aku nggak denger,," Ujar Nicho santai.
Fely menghela nafas pelan. Dia tau apa yang diinginkan oleh Nicho.
"Mau jalan kesini atau mau aku gendong.?" Tawar Nicho dengan tatapan datarnya.
"Dasar pemaksa.!" Geram Fely sembari melangkahkan kakinya mendekati Nicho. Sejujurnya dia ingin menghambur kepelukan Nicho, tapi Fely berusaha sekuat mungkin untuk menahan sikapnya. Dia takut sikap agresifnya akan memancing Nicho dan membuat laki - laki itu jadi kelewat batas.
"Kamu itu memang harus dipaksa dulu,," Sahut Nicho cepat.
Dia langsung menarik tangan Fely, menudukkan wanita itu di pangkuannya. Kedua tangannya melingkar erat di pinggang Fely. Lalu menempelkan dagunya di pundak wanita yang amat dia cintai itu.
"Aku rindu,,," Ucapnya. Fely diam memaku dengan debaran jantung yang berdetak kencang.
Badan Fely semakin terasa kaku saat Nicho membenamkan wajahnya di ceruk leher Fely. Bulu kuduknya bahkan meremang. Rasa hangat mulai menjalar di seluruh tubuhnya.
Tangan Nicho mulai bergerak, menjelajahi tubuh belakang Fely. Satu tangan lagi meraih dagu Fely. Dia menatap dalam bibir merah muda itu, sebelum akhirnya memagut lembut dengan gerakan perlahan. Nicho meluapkan kerinduannya pada wanita yang baru dia temui 1 bulan lalu. Meski baru 1 bulan tidak bertemu, tapi terasa begitu lama baginya.
"Kenapa masih kaku saja,," Ucap Nicho setelah melepaskan ciumannya. Fely menunduk malu dengan wajah yang merona.
Dia masih belum bisa membalas ciuman Nicho, meski sudah berkali - kali Nicho menciumnya.
"Aku belum terbiasa,," Jawab Fely malu - malu.
"Sudah puluhan kali aku menciummu, kamu masih belum bisa membalasnya."
"Apa perlu kita habiskan waktu seharian untuk mengajari kamu berciuman.?"
Fely langsung memukul pelan dada Nicho.
"Kenapa harus mengajari hal seperti itu.? Apa tidak ada yang lebih penting.?" Protes Fely dengan mencebikan bibir.
"Tentu saja ada."
"Biar sekalian aku ajari kamu sekarang,,"
Nicho mengangkat tubuh Fely, lalu melemparnya pelan ke atas ranjang.
"Nicho.!! Jangan gila,,!" Pekik Fely dengan mata yang melotot. Nicho hanya memamerkan smirknya yang menawan, dengan santainya memposisikan diri di atas tubuh Fely. Dia mengungkung tubuh Fely dengan jarak muka yang sangat dekat.
"Kita coba dulu sebelum menikah,,," Ujarnya berbisik sembari mengedipkan matanya. Fely hanya bisa menelan kasar salivanya. Rasanya ingin dia tendang tubuh Nicho, namun tidak tega.
"Jangan coba - coba Nich.!!" Pekik Fely.
Kedua tangannya menutupi aset berharganya.
Nicho terkekeh geli melihat wajah Fely yang memucat. Laki - laki itu langsung menyingkir dari atas tubuh Fely, berbaring di sebelahnya dan memeluk erat wanitanya itu.
"Temani aku tidur, aku baru sampai dan hanya tidur sebentar saat di pesawat,," Gumam Nicho dengan mata yang terpejam. Tangannya semakin erat memeluk tubuh Fely. Fely hanya mengangguk tanpa bersuara. Dia juga ikut memejamkan matanya. Berada di samping Nicho terasa begitu menenangkan dan nyaman.
...****...
Season2 ini khusus buat nyeritain 3 pasangan couple, biar nggak fokus sama 1 pasangan aja.
(Jeje - Kenzo, Karin - Reynald, Fely - Nicho.)
Untuk kisah Celina dan duda anak satu, nanti bakal di bikin novel sendiri kalau ini udah tamat. Dan bakal di selipin kisah Natasha di dalamnya.