
Waktu berjalan terasa lambat, padahal baru 6 jam dia meninggalkan apartemen, tapi sudah puluhan kali dia mengintip arloji mewah di balik lengan jasnya. Seperti tidak sabar untuk segera pulang dari tempat kerjanya, dia bahkan terlihat tidak konsentrasi mengerjakan pekerjaannya. Sesekali sibuk dengan ponsel untuk mengrimkan pesan, kemudian dia akan terus menatap layar ponsel itu sampai mendapat balasan.
Dering ponsel di atas meja membuatnya langsung meraih ponsel itu dan mengangkat panggilan telfon yang masuk.
"Apa terjadi sesuatu dengan Alisha.?" Reynald langsung mengajukan pertanyaan sebelum terdengar suara dari si penelfon.
Panggilan telfon dari Angel membuat laki - laki itu langsung memiliki pikiran buruk.
"Jangan khawatir, Alisha baik - baik saja." Sahut Angel.
Reynald menghembuskan nafas lega.
"Maaf kalau mengagetkanmu. Alisha menyuruhku untuk menelfon om tampan. Dia ingin bicara denganmu dan istri kamu,,,"
"Apa kamu sibuk.?"
Reynald termenung, banyak perasaan dan kenangan di masa lalu yang tiba - tiba terlintas dalam benaknya.
Angel, wanita yang cukup lama mengisi relung hatinya, wanita yang mampu membuatnya tidak bisa berpaling sejak melihatnya bahkan sejak 4 tahun lalu di tinggalkan olehnya.
Kini takdir mempertemukan mereka dan membuat keduanya bisa berkomunikasi kembali, bukan takdir pertemuan karena mereka berjodoh, namun karna adanya buah cinta mereka.
Mau tidak mau, keduanya akan terus berhubungan dan terlibat dalam merawat dan membesarkan Alisha.
"Rey,,?!" Seru Angel.
"Ya sudah kalau sibuk, aku bisa memberikan pengertian pada Alisha,,,"
"Tidak, berikan saja ponselnya pada Alisha." Reynald langsung menjawabnya dengan suara tegas.
"Baiklah, tapi Alisha ingin bertatap muka denganmu,," Angel langsung mengubah panggilan suara ke panggilan vidio. Reynald terlihat ragu untuk menyetujuinya, sempat berfikir sejenak, kemudian langsung menerimanya setelah mendengar suara Alisha.
"Hallo om tampan,,," Seru Alisha. Begitu tersambung dengan panggilan vidio, Alisha terlihat sedang melambaikan tangan padanya, senyumnya mengembang sempurna khas anak kecil seusianya yang terlihat sangat tulus.
Tidak ada siapapun yang terlihat di layar ponselnya kecuali Alisha, namun melihat kedua tangan Alisha yang tidak memegang ponsel, sudah dipastikan jika Angel masih berada di sana untuk memegangi ponsel itu.
Reynald tersenyum melihat keceriaan Alisha dari layar ponselnya, dia bahkan sempat mengabadikan wajah Alisha.
Rupanya dengan mendengar suara dan melihat wajah Alisha, mampu membuat Reynald semangat kembali. Dia seperti baru saja mendapatkan energi besar yang seketika masuk dalam tubuhnya.
"Haii Alisha sayang,,," Reynald ikut melambaikan tangannya.
"Om pikir Alisha sudah lupa sama om,,," Meski Reynald memasang wajah ceria, namun hatinya tetap saja merasakan sakit karna tidak bisa menjadi seorang ayah pada umumnya. Mungkin seorang anak akan memanggil ayahnya dengan sebutan Ayah, Papah, atau Daddy, tapi tidak dengan dirinya yang harus di panggil om oleh darah dagingnya sendiri.
"No.!" Jawab Alisha tegas. Dia bahkan sampai menggerak - gerakan jari telunjuknya dengan ekspresi wajah yang menggemaskan.
"Alisha ingat om tampan dan tante cantik,,"
"Dimana tante cantik.? Alisha juga mau lihat tante cantik."
Alisha sangat cerewet, intonasinya dalam berbicara sangat cepat.
Kedua sudut bibir reynald terangkat, senyumnya sangat lebar meski tidak memperlihatkan deretan giginya. Mungkin jika selama ini dia tau kehadiran Alisha, hidupnya tidak akan semenyedihkan dulu.
"Baguslah, Alisha harus tetap ingat dengan om dan tante."
"Alisha mau lihat tante cantik.? Tante cantik ada di rumah. Om telfon dulu ya tante cantiknya, biar kita bisa ngobrol bertiga,,,"
Alisha langsung menganggukkan kepalanya, terlihat sangat antusias.
Reynald langsung menelfon Karin, dia sangat yakin kalau istrinya itu akan langsung mengangkatnya.
Benar saja, dalam beberapa detik wajah Karin sudah terlihat di layar ponselnya meskipun hanya memperlihatkan sebagian wajahnya.
Karin terlihat kaget saat melihat ada wajah Alisha juga di sana. Namun dia langsung tersenyum saat Alisha menyapanya.
"Hallo tante cantik,,," Sapanya ramah. Sama yang Alisha lakukan saat menyapa Reynald, dia juga melambaikan tangan pada Karin.
"Hallo juga Alisha,,," Karin terlihat kaku menjawabnya. Sejak melihat kedua tangan Alisha tidak memegang apapun, Karin jadi mencari keberadaan seseorang yang memegangi ponsel. Sangat jelas kalau ponsel yang di gunakan Alisha di pegang oleh seseorang karena gambarnya yang sesekali bergoyang.
Angel kah.? Atau Dion.?
Meski pertanyaan itu muncul dalam benaknya, namun Karin sudah memiliki jawabannya sendiri.
"Tante cantik sini main ke rumah Alisha, kita main lain boneka lagi,," Kini mata Alisha fokus pada Karin, dia terlihat lebih antusias berbicara dengan Karin.
Mendapat ajakan dari Alisha yang sangat berat untuk dia kabulkan, Karin hanya bisa mengulas senyum dengan kedua manik mata yang menatap Reynald. Tatapan mata yang seolah mengisyaratkan agar Reynald yang menjawabnya.
Pasti akan banyak waktu yang mereka habiskan bersama. Akan lebih banyak interaksi antara mereka dan Angel. Karin mungkin sanggup untuk datang, tapi tidak bisa menjamin dia sanggup menahan rasa cemburu.
Jika Angel adalah mantan istri Reynald yang mungkin berpisah karna adanya masalah di antara mereka, mungkin Karin akan lebih tenang jika berinteraksi dengan Angel dan sama - sama mengurus Alisha.
Tapi jika kasusnya seperti itu, tidak ada ikatan pernikahan dan memiliki anak, serta berpisah karena keadaan, siapa yang menjamin kalau tidak ada lagi perasaan cinta di antara keduanya.?
"Tante cantik belum boleh pergi jauh - jauh, ada dede bayi di dalam perutnya." Reynald berbicara dengan lembut dan antusias.
"Bagaimana kalau Alisha yang main ke rumah om.? Nanti om jemput,,"
Alisha langsung menganggukkan kepalanya.
"Mau om,,," Serunya.
"Mah, Alisha mau ke rumah om tampan. Boleh kan,,?" Meski wajahnya masih menghadap ke layar ponsel, namun kedua manik mata Alisha sedikit melirik ke atas, menatap Angel yang berada di depannya.
Raut wajah Karin seketika berubah, walaupun dia sudah menebak jika Angel yang sejak tadi memegangi ponsel itu, tapi tetap saja dia sedikit terkejut dan kembali merasakan cemburu.
"Boleh, tapi nanti kalau Alisha sudah sehat." Suara lembut Angel terdengar panas di telinga Karin. Tidak bisa si pungkiri, selain wajah cantiknya yang bisa menarik kaum adam, suara Angel juga mampu membuat seseorang semakin kagum padanya.
"Alisha udah sehat kok mah,," Rengeknya.
"Alisha masih harus istirahat,," Suara Reynald kembali membuat Alisha menatap layar ponsel.
"Om janji nanti akan jemput Alisha, tapi tidak sekarang,,"
Wajah Alisha seketika murung. Dia bahkan menundukkan pandangan matanya.
Suara Angel kembali terdengar, dia menyuruh Alisha untuk mengerti dengan kondisinya yang belum pulih sepenuhnya. Menyuruh Alisha untuk banyak istirahat agar nantinya bisa cepat bertemu dengan Reynald dan Karin.
Sementara itu Reynald kedapatan sedang menatap Karin sejak Angel berbicara dengan Alisha. Karin yang membuang pandangan ke arah lain, tidak menyadari kalau Reynald sedang menatapnya.
Wanita itu memilih untuk tidak menatap layar ponselnya. Meski dia bisa menerima kehadiran Alisha, tapi dia belum bisa menerima keadaan seperti ini. Keadaan dimana dia harus berhadapan dengan Alisha dan kedua orang tua Alisha.
Berada di tengah - tengah mereka hanya membuat hatinya terasa sakit.
Setelah diberi pengertian dan dibujuk oleh Angel, akhirnya Alisha mau mengerti dan tidak lagi meminta untuk datang ke rumah Reynald dalam waktu dekat.
Anak dan ayah itu kembali terlibat obrolan ringan khas anak kecil. Karin lebih banyak diam, sesekali menanggapi obrolan mereka dan terkadang ikut tertawa kecil.
"Sudah sayang, jangan lama - lama ganggu om sama tante. Om nya harus kerja, tante cantik juga harus istirahat." Suara lirih Angel masih terdengar jelas di telinga Karin maupun Reynald.
"Besok - besok bisa telfon lagi,,"
Alisha langsung menganggukkan kepalanya 2 kali.
"Bye, bye,, om tampan, tante cantik,," Alisha melambaikan kedua tangannya, senyumnya merekah menatap Karin dan Reynald.
"Bye Alisha sayang,,," Ucap Karin dan Reynald bersamaan. Menyadari hal itu, keduanya langsung saling menatap dan mengulas senyum tipis.
"Alisha harus banyak makan dan istirahat, biar Alisha bisa main ke rumah om,,"
"Oke om tampan,,,"
Senyum Karin langsung memudar saat layar ponselnya memperlihatkan sosok wanita cantik yang membuatnya cemburu pada Reynald.
Angel melempar senyum tipis padanya, kemudian beralih pada Reynald.
"Maaf sudah mengganggu waktu kerjamu, juga mengganggu istirahat Karin." Ucapnya tulus. Angel terlihat tidak enak hati pada Reynald dan Karin.
"Sejak pulang dari rumah sakit, Alisha terus menanyakan kalian. Aku bilang kalian sedang sibuk, tapi anak itu terus saja menanyakan kalian,,"
"Tidak masalah. Jangan menolak kalau Alisha ingin menelfonku.!" Tegasnya.
Reynald justru terlihat tidak suka karna Angel tidak mengijinkan Alisha menelfonnya.
Angel hanya menganggukkan kepalanya. Sementara itu wajah Karin sudah tidak lagi terlihat di layar ponsel. Hanya terlihat rambut panjang dan sebelah bahunya saja.
"Jangan dimatikan." Suara teguran Reynald membuat Angel mengerutkan keningnya, sementara itu Karin langsung menunjukan wajahnya.
"Aku mau bicara,,," Ujarnya sembari menatap Karin.
"Aku sudah selesai bicara dengan Alisha." Tegas Reynald pada Angel, wanita itu hanya melemparkan senyum tulus pada Karin dan Reynald sebelum akhirnya matikan sambungan telfonnya.
...****...