
Karin menarik selimut hingga menutupi leher. Wajahnya merona saat menoleh ke samping. Laki - laki tampan di sampingnya kembali terlelap dengan bertelanjang dada. Otot - ototnya terbentuk sempurna, padahal selama tinggal bersama dengan Reynald, Karin tidak pernah melihatnya olah raga.
Lalu bagaimana bisa pahatan mengagumkan itu tercetak di tubuhnya.
Karin meraba leher dan dadanya yang di penuhi tanda kepemilikan. Kecupan Reynald terasa masih menempel di sana. Sudah lama sejak dulu tanda kepemilikan di dadanya di ketahui oleh Jeje, kini Reynald baru membuatnya lagi.
Permainan pagi ini terasa panas. Udara sejuk di pagi hari dan dinginnya ac bahkan tidak memberikan efek apapun. Tetap saja membuat keringat bercucuran.
Wajah Karin semakin merona. Kegiatan panas seakan tidak mau lepas dari ingatannya. Dia terus mengingat sejak awal Reynald memintanya hingga mengakhirinya. Dia seolah merekamnya di ingatan, kemudian sedang memutarnya saat ini.
Dari awal hingga akhir, Karin hanya melihat kelembutan dan keromantisan Reynald dalam merengkuh kenikmatan dengannya.
Meski Karin juga pernah merasakan hal itu sebelumnya, tapi kali ini perlakuan Reynald jauh lebih baik.
"Kamu sudah bangun.?" Suara Reynald yang serak saat itu, seperti kembali terdengar di telinganya.
Tangan besar Reynald yang mengusap pipinya juga masih terasa disana. Begitu juga dengan mata Reynald yang sudah di penuhi gairah, masih terbayang jelas di ingatan.
Usapan tangannya turun ke leher dan semakin ke bawah untuk menjelajahi semua bagian tubuhnya. Saat itu Karin memang tidak memberikan respon apapun, membiarkan begitu saja saat Reynald memberikan rangsangan di kedua daerah sensitifnya.
"Aku mau sekarang,,," Saat itu bisikan Reynald di telinganya mampu membuat seluruh tubuhnya meremang. Suara berat dan serak karna menahan gairah, terdengar begitu menggoda. Setelah itu mulai terjadi kegiatan yang semakin panas.
"Ya ampun.! Apa yang aku pikirkan.!" Karin menggelengkan kepalanya dengan cepat, dia berusaha menghilangkan pikiran itu dari kepalanya.
"Sepertinya aku sudah gila,,," Gumamnya sembari menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
Kali ini Karin benar - benar menggilai Reynald, menggilai permainan Reynald lebih tepatnya.
Entah kenapa permainannya pagi ini terasa berkesan di hati dan pikirannya. Mungkin karna sejak kemarin sikap lembut Reynald yang sudah mulai menunjukan kemajuan, hingga akhirnya membuatnya merindukan Reynald. Dan bisa saja rasa rindu itu yang akhirnya memberikan kesan berbeda setiap Reynald menyentuhnya.
Karin beranjak dari ranjang dan segera mandi untuk membersihkan diri. Sudah pukul 8 pagi dan Reynald justru memejamkan mata lagi. Entah jam berapa suaminya itu sampai ke apartemen. Karin belum sempat bertanya lagi, dan Reynald pun tidak memberitahunya.
Setelah mandi dan sedikit memoleskan make up si wajahnya, Karin mendekati ranjang untuk membangunkan Reynald. Dia akan menyuruh untuk Reynald sarapan lebih dulu agar tidak melewatkan sarapannya. Karna kalau di biarkan, sepertinya Reynald akan terus tidur sampai siang nanti.
"Bangun kak,,," Karin menggoncang pelan lengan besar Reynald. Wajahnya selalu terlihat dingin, begitu menggemaskan saat terlelap. Hindung mancung dan bibir tebalnya yang seksi, selalu membuat Karin gemas untuk menyentuhnya.
"Bilang saja kalau mau lagi." Suara serak Reynald membuat Karin tersentak. Terlebih Reynald menggenggam tangannya yang tadi dia gunakan untuk meraba hidung dan bibir Reynald.
"A,,aku,,," Suara Karin terbata. Antara gugup karna takut dan malu karna kepergok Meraba bagian wajah Reynald.
"Aku apa.?!" Seru Reynald. Matanya yang sudah terbuka sempurna, semakin membuat Karin merasa gugup.
"Aku bisa mengulanginya lagi kalau kamu mau,," Reynald menarik tangan Karin hingga membuat tubuh Karin jatuh di atas tubuhnya.
"Aku tidak bilang begitu,,," Karin berusaha melepaskan diri dari dekapan Reynald.
"Lepasin kak,,," Pintanya. Dia sama sekali tidak berani menatap wajah Reynald yang tepat berada di bawahnya.
"Sebaiknya kakak mandi dulu, kita sarapan."
"Kakak bisa tidur lagi setelah itu,,," Karin kembali melepaskan diri, kali ini Reynald membiarkannya.
"Jam berapa sekarang.?" Reynald bangun dari ranjang. Dia hanya memakai celana pendek yang sontak membuat Karin memalingkan wajahnya. Bagian yang menonjol itu selalu membuatnya meremang.
"Jam 8. Aku ke dapur dulu. Baju kakak udah aku siapin,,," Karin beranjak dari sana.
"Angel dan Dion sedang di Jakarta hari ini. Aku harus bertemu dengan Alisha jam 10 nanti." Penuturan Reynald langsung membuat langkah Karin terhenti. Dia berbalik badan dan menatap Reynald yang juga sedang menatap ke arahnya dengan tatapan yang terlihat tidak nyaman. Mungkin Reynald takut menyinggung perasaan Karin karna harus membahas hal ini.
Masa lalu yang seharusnya hanya di jadikan sebuah kenangan ataupun pelajaran, kini harus ikut berjalan dengan masa yang akan datang dan seterusnya.
Hubungan seorang ayah dan anak tidak akan pernah terputus, begitu juga dengan Angel dan Alisha. Yang artinya kedua orang tua biologis Alisha akan tetap berkomunikasi sampai kapanpun.
Apa akan sanggup untuk memahami mereka.?
Dan bukan hanya masalah sanggup atau tidak, rasa takut dan cemburu juga akan selalu menjadi bayang - bayang yang menyesakkan dada.
"Kamu mau ikut.?" Suara Reynald membuyarkan lamunannya. Karin tersenyum tipis, dia tidak bersuara tapi menganggukkan kepalanya. Lidahnya masih kelu untuk menjawab setelah membayangkan hal yang membuat hati dan pikirannya kalut.
"Jangan dipaksakan kalau tidak nyaman,," Ujar Reynald. Karin menarik sudut bibirnya. Reynald seakan paham dengan apa yang sedang dia rasakan saat ini.
"Lalu sampai kapan aku harus menghindar.?" Karin memberanikan diri untuk bicara.
"Aku mungkin bisa memilih untuk tidak ikut, tapi pertemuan kalian bukan hanya akan terjadi hari ini saja. Akan terus terjadi dan tidak akan pernah berhenti,,," Karin menarik nafas dalam. Dia hampir tidak bisa menahan air matanya.
"Tidak perlu mencemaskan ku, aku akan terbiasa seiring berjalannya waktu." Karin tersenyum. Senyum yang terlihat mengiris hati. Ada banyak perasaan pilu di dalamnya.
"Biar aku pilihkan lagi baju untuk kakak,,," Karin segera beranjak dari hadapan Reynald tanpa memberikan kesempatan bagi Reynald untuk bicara lagi. Laki - laki itu hanya bisa diam menatap punggung Karin yang semakin jauh dari pandangannya dan masuk ke walk in closet.
Tidak ada yang mau berada di posisi sulit seperti ini. Begitupun dengan Reynald. Bukan hanya Karin saja yang membutuhkan waktu untuk terbiasa dengan situasi saat ini. Karna Reynald juga baru mengetahui tentang kehadiran Alisha.
Karin keluar setelah mengganti baju dan mempertegas riasan di wajahnya. Dia lebih dulu ke meja makan, karna Reynald belum juga keluar dari ruang ganti.
Dia menyiapkan makanan di piring Reynald dan piringnya sendiri.
Saat Reynald datang, keduanya hanya saling pandang. Tidak ada senyum di bibir keduanya. Wajahnya datar namun sorot matanya dipenuhi banyak arti.
"Kakak mau buat apa.? Biar aku saja,," Karin berdiri saat melihat Reynald ke dapur.
"Duduk saja.!" Pinta Reynald tegas.
"Mau rasa apa.?" Reynald bertanya tanpa menoleh pada Karin, namun tangannya membuka rak bagian atas yang berisi susu hamil milik Karin dengan beberapa varian rasa.
Karin menoleh ke meja makan, dia baru sadar kalau belum ada susu yang tersedia di sana. Mungkin ART nya lupa membuat susu untuknya.
"Vanilla saja,,," Jawabnya dengan seulas senyum, lalu duduk kembali dan memperhatikan Reynald yang sedang membuatkan susu untuknya namun gerakan tangannya terlihat keren dari belakang.
Ada perasaan haru yang juga menyelimuti hatinya. Entah kenapa semua yang dilakukan oleh Reynald terlihat romantis di matanya.
Karin langsung berbalik badan begitu melihat Reynald selsai membuat susu. Karin pura - pura menyantap makanannya agar Reynald tidak curiga padanya karna baru saja memperhatikannya.
"Sepertinya terlalu panas, nanti saja minumnya,,"
Ujar Reynald. Dia meletakan gelas itu di depan Karin, lalu ikut duduk di sebelah Karin.
"Makasih kak,,,"
Reynald hanya mengangguk, kemudian mulai memakan sarapannya.
...*****...
Udah masukin "Nicholas" ke daftar favorit belum.?
Langsung mampir ya 😁.