My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
Bab 107. Tidak peka



Suasana di ruangan Kenzo terlihat tegang setelah kepergian wanita yang tadi datang bersama Kenzo dengan gelak tawa.


Wanita itu hanya mengambil berkas miliknya yang dititipkan di ruangan Kenzo, kemudian pamit pulang.


Jeje hanya diam memperhatikan gerak - gerik suaminya dan wanita itu yang terlihat sangat akrab.


Wanita itu bahkan hampir memeluk Kenzo saat berpamitan tadi. Namun dia mengurungkan niatnya saat melihat tatapan tajam dari Jeje.


Ke empat orang yang ada di ruangan itu masih saling terdiam, sibuk dengan pikirannya masing - masing. Jeje terlihat mengeluarkan hawa dingin dari gestur tubuhnya, sedikit enggan melirik suaminya yang duduk disebelahnya. Kenzo sadar betul akan hal itu. Dia paham kalau istrinya itu baru saja cemburu padanya. Namun Kenzo bersikap santai, dia tidak merasa ada yang salah dengan dirinya. Karena kedekatannya wanita tadi hanya sebatas teman kuliah dan rekan bisnis.


Sementara itu, Karin terus menundukkan kepalanya. Dia memainkan jari - jari tangannya, terlihat sangat gugup dan takut berada di samping Reynlad. Laki - laki yang tega merenggut kesuciannya hanya karena dia tidak sengaja menabrak mobil mewah milik Reynald.


Reynald berkali - kali menghela nafas. Dia tidak menyangka benih miliknya tumbuh di rahim Karin. Dia sedikit menyesali perbuatannya karena tidak memakai pengaman saat berhubungan dengan Karin.


Rasa nikmat yang dia rasakan karena bisa meniduri wanita virgin, membuatnya enggan memakai pengaman yang menurutnya jadi mengurangi rasa nikmat itu.


"Kenapa kak Reynald diam saja.?!" Tegur Jeje ketus, juga dengan suara yang tinggi. Rasa kesal terhadap Reynald dan suaminya, sudah bercampur jadi satu. Membuat dirinya ingin mengeluarkan semua amarahnya. Tidak peduli dia melampiaskan di depan mereka bertiga.


"Lalu aku harus bagaimana.? Dia juga nggak mintaku buat tanggung jawab." Ucapnya santai.


"Kamu nggak liat sejak tadi dia cuma diam,," Sambungnya lagi sembari melirik Karin.


"Terus kalau Karin nggak minta pertanggung jawaban, kak Reynald nggak akan tanggung jawab.?!!" Geram Jeje. Dia semakin kesal dibuatnya. Wajar saja Karin menyebut Reynald laki - laki brengsek, ternyata dia bahkan jauh lebih brengsek.


"Karin hamil karena kesalahan kak Reynald. Kenapa jadi seolah - olah Karin yang mengemis pertanggung jawaban.!!" Jeje semakin emosi. Entah dia emosi karena mengetahui kelakuan brengsek Reynald, atau karena rasa cemburunya terhadap wanita tadi belum juga reda.


"Kak Reynald sudah memanfaatkan Karin.! Nggak seharusnya merusak masa depan Karin hanya karena dia menambrak mobil kakak.!"


"Harga kerusakan mobil itu nggak seberapa, dibanding dengan masa depan Karin yang jauh lebih berharga.!"


Emosi Jeje semakin meluap.


Karin yang mendengar itu, merasakan sesak di dadanya. Air matanya tidak bisa di bendung.


Dia merasa terharu dengan Jeje yang berada paling depan membelanya. Juga merasa hancur dengan masa depannya yang sudah tidak bisa di selamatkan lagi.


"Sudah sayang, nggak perlu teriak - teriak sepeti ini. Biar Reynald dan Karin yang menyelesaikan masalah mereka baik - baik,,"


Kenzo meraih tangan Jeje, berniat untuk menenangkannya. Tangan Kenzo segera di tepis oleh Jeje.


Saat ini dia tidak ingin melakukan kontak fisik dengan suaminya. Kedekatan suaminya dengan wanita, membuatnya kesal hingga menguras emosi.


Reynald menghela nafas kasar.


"Aku akan menyelesaikan masalah ini, tapi aku harus berbicara 4 mata dengan Karin,,"


Reynald berdiri dari duduknya.


"Ayo ikut aku.!" Ketusnya pada Karin.


"Jangan coba - coba mengancam Karin, apa lagi kalau sampai membujuk Karin agar kak Reynald tidak perlu tanggung jawab.!"


"Kalau sampai itu terjadi, kak Reynald akan kehilangan pekerjaan dan tidak akan mendapatkan pekerjaan di manapun.!" Ancam Jeje dengan sorot mata tajamnya.?


"Hey.! Mana bisa begitu.!" Protes Reynlad tak terima.


"Jangan membentak istriku.!" Geram Kenzo.


"Kamu lupa kalau aku ini suaminya, aku bisa mengabulkan permintaannya termasuk untuk memecatmu.!"


Wajah Reynald memucat seketika. Rupanya dia sangat takut kehilangan pekerjaannya yang menghasilkan banyak uang itu.


"Iya,, iya,,!"


"Aku akan menikahinya, tapi aku harus berbicara lebih dulu dengannya,," Ucapnya tak bisa berkutik lagi.


Reynald meraih tangan Karin dan menariknya. Sekilas Karin menatap Jeje lebih dulu. Setelah mendapatkan anggukan dari Jeje, Karin langsung mengikuti langkah Reynald. Keduanya keluar dari ruangan Kenzo.


Kini tinggal pasangan suami istri itu yang ada di dalam. Jeje masih terlihat dingin, dengan raut wajah yang tidak bersahabat. Dia masih saja membayangkan suaminya yang datang dengan wanita lain sembari tertawa renyah. Bahkan karna terlalu asik tertawa, suaminya itu sampai tidak menyadari ada dirinya disana.


Sedangkan jika Kenzo yang melihat dirinya sedang bersama laki - laki lain, dia akan marah dan mengancam laki - laki itu. Bahkan melarang Jeje untuk tidak terlalu dekat dengan laki - laki, termasuk teman kuliahnya. Entah kenapa saat ini Jeje merasa kalau Kenzo egois, hanya mementingkan perasaannya saja. Terlepas hubungan mereka hanya teman atau rekan kerja, tetap saja Jeje cemburu melihat kedekatan mereka.


"Kamu marah padaku,,?" Kenzo mulai membuka pembicaraan. Memecahkan keheningan di ruangan itu.


"Kenapa aku harus marah,,?" Jeje balik bertanya tanpa menatap Kenzo. Terdengar helaan nafas panjang dari suaminya itu.


"Dia hanya teman kuliah dulu. Kami ada urusan pekerjaan tadi, dan hanya makan siang bersama setelah itu. Ada Reynlad juga yang ikut,," Jelas Kenzo dengan gaya tenangnya.


Jeje hanya diam, tidak mau tau penjelasan Kenzo. Dia tidak peduli ada urusan apa di antara keduanya. Yang membuatnya kesal adalah, kedekatan mereka yang seolah tanpa jarak. Sedangkan Kenzo sudah memiliki istri yang harus dia jaga perasaannya.


Hal itu semakin membuat Jeje bertambah kesal. Kenzo seolah senang melihatnya cemburu.


"Kamu cemburu dengan wanita yang sudah menikah dan punya anak,,?" Ujarnya lagi, kali ini Kenzo terang - terangan tertawa kecil untuk meledek istrinya itu.


Jeje sempat diam sejenak, dia justru semakin tidak habis pikir dengan wanita itu. Bukankah seharusnya dia menjaga diri karna sudah memiliki suami. Tidak seenaknya bercanda sembari menepuk laki - laki lain dan tadi bahkan hampir memeluk Kenzo. Entah apa yang mereka berdua lakukan saat pertama kali bertemu, Jeje bisa membayangkan kalau wanita itu langsung memeluk Kenzo.


"Aku kesini mau menyelesaikan masalah Karin, bukan mau menambah masalah." Tutur Jeje tenang.


"Nggak peduli apa hubungan wanita itu dengan suamiku, dan aku nggak mau tau,," Tambahnya lagi.


Kenzo menghela nafas, dia tidak tau dirinya yang sudah kelewat batas, atau istrinya yang terlalu cemburu.


"Maaf kalau sudah membuatku kesal,," Tangan besarnya mengusap pucuk kepala Jeje dengan lembut. Jeje tidak bergeming, masih diam dalam posisinya.


"Lihat, teman kamu dan Reynald sudah mendahului kita. Bagaimana kalau kita juga membuatnya,,"


Ujarnya dengan seulas senyum. Kenzo mengusap lembut perut istrinya. Melihat Jeje yang diam saja, tangan Kenzo semakin keatas. Dia menggerayangi dada istrinya, hal itu membuat Jeje membulatkan matanya.


"Hubby.!" Ketusnya. Dia menepis tangan suaminya yang tidak punya akhlak itu, tidak tau tempat mereka sedang berada di kantor.


"Jangan macam - macam by, ini kantor,," Jeje sudah memberi peringatan lebih dulu. Tapi hal itu tak membuat Kenzo menyerah, dia justru mengangkat Jeje dan mendudukan Jeje di pangkuannya.


"Ini kantorku, aku bebas melakukan apapun disini,," Bisiknya. Buku kuduk Jeje meremang seketika, dia tidak bisa menahan diri kalau sudah dalam posisi seperti ini. Di tambah aroma maskulin yang menguar dari tubuh suaminya, membuat otak mesumnya aktif kemana - mana.


Jeje hanya bisa menelan saliva, saat tangan besar Kenzo meraba pahanya. Semakin bergerak keatas dan meremasnya, bahkan tangannya sudah menyingkap rok yang Jeje kenakan.


Kenzo terus menatap Jeje, tatapan yang sudah berkabut gairah. Kini dia semakin mendekatkan wajahnya.


"Aku haus by,," Jeje mendorong pelan wajah Kenzo. Suaminya itu hampir saja menciumnya. Jeje tidak mau Kenzo bisa menyentuhnya begitu saja setelah dia membuatnya cemburu.


Kenzo menghentikan aksinya, menurunkan Jeje dari pangkuannya.


"Mau minum apa.?" Tanyanya lembut.


"Ada jus jeruk.?"


"Aku juga belum makan siang, lapar sekali rasanya. Boleh sekalian minta makan kan,,?" Tanya Jeje santai sambil menyengir kuda.


Sekali - kali dia perlu mengerjai suaminya.


"Kenapa nggak bilang bilang dari tadi. Ini sudah lewat jam makan siang,,"


Kenzo melirik jam di tangannya, sudah menunjukan pukul 1 lebih 30 menit.


"Aku telfon bagian pantry untuk beliin makanan,,"


"Tunggu by,," Jeje menahan langkah Kenzo.


"Aku nggak mau di beliin orang lain, hubby saja ya beliin,," Pintanya. Jeje memasang wajah imutnya.


Kenzo terlihat menghela nafas.


"Baiklah,, tunggu disini." Dia tidak jadi ke meja kerjanya, melainkan berjalan kearah pintu.


Jeje tersenyum puas melihat Kenzo yang menghilang di balik pintu, tapi tetap saja wanita berhati lembut dan sabar itu merasa kasian pada suaminya, meskipun suaminya sudah membuatnya cemburu.


...****...


...Buat yang bingung / belum tau....


Othor itu punya 2 akun.


Akun pertama : Ratna Wullandarrie


Akun kedua : Clarissa icha


Untuk novel terbaru (Bukan Wanita Mandul) ada di akun Ratna Wullandarrie.


Jangan lupa mampir yah🙏


Ada yang nggak rela novel ini tamat.? 😁


Tapi harus di tamatin, pasti banyak yang udah pada bosen. Jadi othor bikin cerita baru yang lebih fresh dan menguras emosi😅