My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
23. Season2



Sejak pagi hingga sore, Karin hanya berdiam diri di apartemen tanpa melakukan apapun. Semua tugas yang seharusnya di kerjakan oleh seorang istri, sudah di kerjakan oleh asisten rumah tangga yang dikirimkan oleh Reynald. Asisten rumahtangga itu datang pukul 9 pagi dan baru pulang pukul 4 sore tadi.


Apartemen sudah rapi dan bersih, peralatan dapur sudah di cuci dan tertata di tempatnya, begitu juga dengan baju Reynald dan bajunya yang sudah dicuci hingga selesai di setrika. Semua di kerjakan oleh asisten rumah tangga. Karin bahkan tidak boleh membantunya sedikitpun. Wanita hamil itu terlihat jenuh.


"Lalu untuk apa aku disini.?" Gumam Karin kesal. Sejak pagi hanya mondar mandir untuk pindah tempat. Kadang di kamar, kadang di balkon, di ruang keluarga, atau di ruang tamu. Seperti saat ini, dia duduk melamun di ruang tamu.


Benar - benar membosankan untuk ukuran wanita yang saat masih sekolah bahkan sambil bekerja. Karin juga tidak pernah absen mengerjakan pekerjaan rumah untuk meringankan pekerjaan sang ibu.


"Untuk apa kamu bilang.?!!" Suara ketus itu terasa nyaring di telinga Karin. Bahkan sampai membuat Karin tersentak kaget hingga hampir berdiri dari duduknya.


"Ka,,kak Rey, kapan pulang,,?" Sembari memegangi dadanya yang berdetak kencang, Karin berdiri dengan mengulurkan satu tangannya pada Reynald. Bermaksud untuk mencium tangan suaminya yang baru saja pulang dari kantor.


Reynald menatapnya tajam, dia bahkan belum menyambut uluran tangan Karin.


Dia merasa kesal mendengar ucapan yang baru saja keluar dari mulut Karin. Entah bodoh atau apa, wanita itu sampai bertanya pada dirinya sendiri.


Padahal jelas - jelas kalau dia istrinya, yang sudah pasti akan ikut tinggal bersama suami untuk melayaninya. Kenapa pertanyaan itu harus ada di benaknya.


Karena tak kunjung menyodorkan tangannya, akhirnya Karin sendiri yang meraih tangan Reynald dan langsung mencium punggung tangannya.


Yang diperlakukan seperti itu hanya diam saja. Harusnya dia senang disambut dengan cium tangan dari istrinya. Tapi bukan Reynald namanya kalau tidak memasang wajah datar.


"Kakak mau mandi sekarang,? Biar aku siapkan airnya." Tanya Karin ramah. Ya, dia harus tetap ramah jika akan melayani keperluan dan kebutuhan suaminya.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri,," Jawab Reynald ketus. Dia duduk di sofa, meletakan tas kerjanya di meja. Juga meletakan jas yang sejak tadi dia pegang. kini dia sedang melepaskan sepatu.


Karin masih berdiri dengan wajah yang terlihat bingung. Tidak tau harus melakukan apa lagi.


Wanita itu tiba - tiba teringat pada ibunya yang selalu membuatkan teh untuk sang Bapak saat pulang kerja.


"Kak Rey mau minum apa.?" Tanya Karin pelan. Dia sedang menyiapkan hati jika nanti mendengar jawaban ketus dari Reynald.


"1 botol vodka." Sahut Reynald cepat, tanpa menatap Karin.


Karin mengerutkan keningnya. Dia tidak tau jenis minuman yang disebutkan oleh Reynald.


"Vodka.?" Ujar Karin mengulang ucapan Reynald.


"Yang seperti apa botolnya.? Apa ada di lemari es.?" Tanya Karin polos. Reynald terlihat mengulum senyum tipis, namun Karin tidak menyadarinya.


"Minuman yang biasa ada di club,,"


"Club.?" Lagi - lagi Karin mengulangi ucapan Reynald.


"Club malam maksudnya.?"


Reynald mengangguk cepat. Karin langsung membulatkan matanya saat itu juga.


"Kenapa.?" Tanya Reynald.


"Ayo ambilkan.! Ada di ruang bilyard." Reynald menunjuk satu ruangan yang terletak di pojok apartemen.


Karin menggelengkan kepala beberapa kali.


"Jangan yang itu, yang lain saja." Ujar Karin.


"Teh, kopi, atau jus mungkin,,," Sambungnya lagi.


Reynald mengangkat ujung bibirnya, sedikit tersenyum sinis.


Dia berdiri setelah melepaskan sepatunya.


"Minggir,,," Ujarnya sembari mendorong pelan kening Karin dengan telunjuknya. Wanita itu mundur perlahan, memberikan jalan untuk dilewati oleh Reynald.


"Jangan kak,, nggak bagus minum alkohol,," Seru Karin sembari mengejar langkah Reynald. Laki - laki itu berjalan cepat ke ruang bilyard, tidak menggubris teguran dari istrinya.


"Kak,,,!" Kali ini Karin menahan tangan Reynald. Di ruangan itu terdapat banyak minuman alkohol yang tertata rapi di rak.


"Jangan minum itu, yang lain saja,," Pinta Karin memohon.


"Aku sudah bosan minum teh, kopi, apa lagi jus."


Jawab Reynald datar.


"Kecuali kalau kamu memberikan pilihan lain,," lanjutnya dengan senyum smirk yang terlihat mesum.


"Apa contohnya.?" Tanya Karin dengan wajah yang polos. Dia tidak mau melihat Reynald sampai meminum air setan itu.


"Ini,,," Kedua tangan Reynald menarik paksa kemeja Karin hingga semua kancingnya terlepas.


"Aku mau minum ini,," Ujarnya lagi sembari memegang salah satu aset kembar itu yang hanya berbalut b*a.


"Ya ampun kak.!!" Karin menepis tangan Reynald, lalu menutup kedua asetnya dengan kemeja yang sudah tidak bisa di kancing lagi.


"Kenapa main tarik aja.!!" Geramnya kesal. Matanya bahkan berkaca - kaca. Dia ingat saat pertama kali Reynald merenggut paksa kesuciannya.


Laki - laki itu juga berbuat hal yang serupa dengan merobek dress yang dia pakai saat itu.


"Kamu itu nggak bisa kalau di ajak main lembut. Harus dengan cara kasar seperti ini." Reynald langsung mengangkat tubuh Karin, dia berjalan


menuju sofa besar yang ada di pojok ruangan.


"Jangan seperti ini kak.!" Pinta Karin memohon.


"Lalu seperti apa.?"


"Aku ini suamimu, bebas melakukannya. Kenapa aku jadi seperti orang yang sedang memperkosa.!" Ujarnya ketus. Dia tidak suka dengan penolakan yang dilakukan oleh Karin.


Reynald duduk di sofa, begitu juga dengan Karin yang kini duduk di pangkuan Reynald.


Helaan nafas pelan keluar dari mulut Reynald.


"Ok, aku janji tidak akan kasar seperti tadi." Ucapnya datar.


"Sekarang diam dan jangan menangis. Aku perlu ini,," Reynald berusaha menyingkirkan lembut tangan Karin yang menutupi kedua aset kembarnya.


Tapi tangan Karin seakan enggan untuk menyingkir.


Ditatapnya kedua mata Karin yang masih berkaca - kaca.


"Dilarang menolak permintaan suami." Ucap Reynald tegas.


"Lagipula tanggung, sudah terbuka,," Tambahnya lagi dengan wajah tanpa dosa.


Dengan berat hati Karin terpaksa membiarkan Reynald berbuat semaunya.


Baju bagian atas Karin sudah terbuka seluruhnya.


Laki - laki itu terlihat rakus melahap aset milik Karin secara bergantian. Sesekali meninggalkan tanda kepemilikan di sana.


Karin hanya bisa meremas kuat rambut Reynald, dia juga mengatupkan rapat - rapat mulutnya agar tidak bersuara.


Karena sedikit saja dia mengeluarkan suara, makan Reynald akan semakin panas melakukannya.


Nafas Reynald sudah memburu. Keringat sudah terlihat di kemejanya yang mulai basah. Dia menurunkan Karin, mendudukkan wanita itu disebelahnya.


Karin hanya bisa melotot saat Reynald berdiri dan melucuti pakaiannya sendiri hingga tak tersisa.


"Kak,, jangan terlalu sering,,," Ujar Karin untuk mencegah Reynald.


"Aku tau. Kamu yang pegang kendali, lakukan serileks mungkin." Sahut Reynald.


Dia kembali duduk di sofa.


"Naik,,," Pinta Reynald.


"Lepas dulu roknya.!" Ucapnya sedikit kesal, karna Karin hanya diam saja.


"Kamu bisa berhenti kalau nggak nyaman,," Bujuknya.


Karin mengangguk pelan. Dengan bantuan Reynald, kain di tubuhnya terlepas seluruhnya.


Reynald memegangi tubuh Karin saat wanita itu akan naik keatas pangkuannya.


Karin menggigit bibir bawahnya saat benda itu menyeruak masuk seluruhnya.


"Ayo mulai, pelan - pelan saja,,," Bisik Reynald dengan suara serak penuh gairah.


Karin mengangguk malu. Dia memilih memeluk erat Reynald untuk menyembunyikan wajahnya.


******* keduanya mulai bersautan setelah beberapa saat. Gerakan Karin begitu pelan namun teratur.


Kali ini Reynald benar - benar tidak menuntut lebih, dia membiarkan Karin bergerak pelan asal wanita itu nyaman dan tidak merasakan sakit di bagian perutnya.


"Cepat sedikit sayang,,," Pinta Reynald saat sudah hampir mencapai puncak.


Mendengar kata sayang yang keluar dari mulut Reynald, sempat membuat Karin berhenti. Namun setelah itu dia segera menyelesaikan tugasnya.


Nafas kedua masih memburu, merasakan sisa kenikmatan yang masih terasa menjalar.


Karin masih memeluk Reynald dengan erat.


"Sakit,,,?" Tanya Reynald.


Karin menggelengkan kepalanya. Reynald terlihat lega.


"Kita mandi,," Ucapnya sembari berdiri dan menyangga tubuh Karin yang tadi masih berada di pangkuannya.


"Aku turun saja kak,," Pinta Karin, namun Reynald tidak menghiraukannya. Dia berjalan keluar dari ruang birlyar sembari menggendong Karin.


Rasa malu menyelimuti wanita itu. Apa lagi keduanya telanjang bulat sembari berkeliaran di dalam apartemen.


Saat ini keduanya sudah selesai mandi. Karin bergegas keluar kamar untuk memasak makan malam.


Reynald yang sedang menyisir rambutnya, hanya melihat sekilas bayangan Karin yang keluar dari kamar.


Laki - laki itu segera menyusul Karin.


Wanita itu sedang mencari bahan makanan di dalam lemari es.


"Nggak usah masak.!"


"Kita pesan makanan saja." Seru Reynald.


"Tugas kamu hanya melayaniku seperti tadi, selebihnya biar asisten yang melakukannya."


"Kamu boleh melakukan apapun, tapi nanti setelah melahirkan,," Tambahnya lagi dengan suara tegas.


Karin menghela nafas pelan, lalu menutup kembali lemari es itu.


Sepertinya dia akan dilanda kebosanan selama hamil, karena tidak boleh melakukan apapun.


...****...