My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
Bab 51. I love you.?



VOTE dulu yuk,, udah hari senin nih🥰


.


Berkali - kali aku mencoba untuk menguasai diriku yang dibuat terus berdebar oleh om Kenzo. Aku bahkan kesulitan untuk memejamkan mata. Gelayar aneh yang menjalar di sekujur tubuhku, membuat pikiranku bercampuk aduk.


Bagaimana tidak.? Sejak tadi om Kenzo berbaring sambil terus mendekapku. Memelukku dari belakang dengan wajah yang di benamkan pada ceruk leherku. Hingga hembusan nafasnya yang begitu hangat mampu membuat tubuhku meremang.


Sejak tadi sudah terdengar dengkuran halus dari om Kenzo. Dia begitu nyaman tidur dalam posisi seperti ini. Berbeda denganku yang bahkan tidak bisa memejamkan mata. Aku mencoba untuk menyingkirkan tangan om Kenzo yang melingkar di perutku. Dengan hati - hati, aku mengangkat tangan om Kenzo. Namun yang ada tangannya semakin erat memelukku. Aku hanya bisa pasrah, tidak berani menyingkirkan tangan om Kenzo karna enggan mengganggu tidurnya.


Andai saja om Kenzo tau apa yang aku rasakan saat ini. Debaran jantung yang seakan enggan berhenti karna mendapat pelukan hangat dari orang yang aku cintai. Aku mendambakannya, menginginkannya untuk terus berada di sampingku. Menghabiskan waktu bersama, membagi canda dan tawa. Aku ingin ada kata cinta dan selamanya di antara kita. Cinta yang saling berbalas, dan selamanya untuk bersama.


Saat ini aku hanya bisa mengikuti kemana takdir membawaku, aku membiarkan hati ini terombang - ambing. Menunggu sampai tiba waktunya hati ini menemukan tempat yang tepat untuk berlabuh.


Meski aku berharap, dialah tempatnya.


Menjadi sugar baby adalah keinginanku yang di dasari oleh kesengajaan. Namun mencintainya bukanlah bagian dari kesengajaan. Aku tidak bisa memilih pada siapa aku akan memberikan cinta ini. Namun aku menyadari, aku lah yang sudah membiarkan cinta itu semakin tumbuh. Aku yang membiarkan diri ini terus terjerembab dalam rasa yang mungkin akan lenyap.


Aku menggeliat pelan, menyingkirkan sesuatu yang membuat perutku terasa berat. Aku berbalik badan, memeluk guling yang terasa besar dan hangat. Rasa kantukku semakin bertambah, aku membenamkan wajah dan semakin rapat memejamkan mata.


"I love you,," Aku segera membuka mata begitu mendengar bisikan yang terdengar pelan di telingaku. Aku terkejut mendapati om Kenzo yang ternyata ada dalam pelukanku. Hampir saja aku berteriak, namun melihatnya yang masih tertidur pulas, akhirnya aku membekap mulutku sendiri agar tidak berteriak.


Aku mengerjapkan mata berkali - kali, mengumpulkan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali. Bangun secara tiba - tiba, membuat konsentrasiku terasa lebih lambat.


Bisikan itu terdengar pelan, tapi aku mendengar jelas kata - kata itu. Jika saat ini om Kenzo masih tertidur pulas, lalu siapa yang membisikan kata cinta untukku.? Apa mungkin aku bermimpi.?


Semalam aku terus memikirkan perasaanku terhadap om Kenzo, berharap om Kenzo juga memiliki perasaan yang sama denganku. Mungkin karna itulah aku sampai terbawa mimpi.


Aku bergeser menjauh, lalu turun dari ranjang dengan hati - hati agar tidak membangunkan om Kenzo. Meski tadi malam aku kesulitan untuk tidur, namun nyatanya aku begitu nyenyak sampai bangun sesiang ini. Aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Om Kenzo masih pulas dalam posisi semula. Awalnya aku hanya ingin melihat wajahnya saja yang terlihat masih tampan meski sedang tertidur. Tapi pada akhirnya aku terus mendekat dan memandangi wajah om Kenzo dengan jarak yang begitu dekat.


Aku memberanikan diri untuk mengecup singkat pipi om Kenzo. Lagipula dia sedang tidur, dia tidak akan tau kalau aku mencium pipinya. Satu kecupan sudah mendarat di pipi kanan ya, tapi aku yang tidak tau diri ini seolah tidak puas hanya dengan mencium sebelah pipinya saja. Dengan senyum yang mengembang, aku beralih mengecup pipi sebelah kirinya.


"Kamu ngapain.?" Aku langsung melotot di buatnya, badanku reflek mundur. Namun om Kenzo menarin tanganku hingga aku jatuh di atas tubuhnya.


"Oomm,,, Le,,lepasin om,," Mendengarku yang berbicara gagap, om Kenzo pasti menertawanku dalam hati.


"Aku mau masak dulu om,," Aku berusaha bangun dari atas tubuhnya, lagi - lagi om Kenzo menahanku dan memelukku sangat erat.


"Jawab dulu, kamu ngapain tadi.?" Om Kenzo menatapku dengan intens. Wajah kami yang berhadapan, membuatku terasa sesak untuk bernafas. Terlebih jantung ini yang tidak bisa di ajak kerja sama, makin lama semakin kencang berdetak.


"Aku mau bangunin om, tapi nggak jadi karna om masih pules,," Semoga saja om Kenzo percaya.


"Bangunin.?" Ujarnya dengan senyum yang meledek.


"Bangun yang mana dulu.? Kalo bangunin orang tidur nggak perlu pake nyium pipi segela. Yang ada kamu itu malah bangunin,,,,," Ucapan om Kenzo menggantung, matanya menatap kebagian tengah tubuhnya.


"Om.!!" Aku memukul pelan dada om Kenzo. Rupanya otakku ini cepat konek kalau membahas hal mesum seperti itu.


Om Kenzo terkekeh geli, dia pasti melihat wajahku yang sudah memerah seperti kepiting rebus.


"Kenapa cuma cium pipi.? Kamu nggak tertarik cium yang ini.?" Om Kenzo menunjuk bibirnya. Aku segera mengalihkan pandangan. Wajahku pasti semakin memerah dibuatnya.


"Ommm,,,!!" Teriakku yang kaget karna tiba - tiba om Kenzo membalik tubuhku, membuatku berada di bawahnya. Om Kenzo langsung membungkam mulutku dengan ciuman lembutnya. Awalnya aku hanya diam saja, namun setelah tangan om Kenzo mulai menyusup di dalam bajuku, aku segera membalas ciumannya. Siang itu, om Kenzo mengulangi kegiatan yang sudah lama tidak dia lakukan padaku. Memberiku kepuasan tanpa meminta untuk dipuaskan.


Kami sudah selesai mandi, saat ini sedang duduk menonton tv. Sebenarnya hanya aku saja yang menonton tv, karna seperti biasa om Kenzo sibuk dengan laptopnya.


Om Kenzo sudah memesan makanan 20 menit yang lalu. Dia melarangku untuk memasak, selain karna sudah siang, dia juga bilang kalau aku sudah cukup lelah. Aku tersipu malu saat om Kenzo bicara seperti itu. Benar - benar aku ini tidak punya pendirian, semudah itu bersikap biasa saja dengan om Kenzo setelah terjadi drama menyedihkan kemarin sore.


"Berita yang menjadi tranding topik di dunia hiburan datang dari seorang model internasional yang berasal dari Indonesia. Wanita blasteran Indonesia - Amerika ini di rumorkan akan,,,"


"Sejak kapan kamu suka acara gosip nggak bermutu seperti itu. Lebih baik nonton kartun kesukaan kamu, dari pada dengerin berita yang nggak ada manfaatnya,," Ujarnya panjang lebar.


Aku memang tidak suka melihat berita gosip, bagiku apa yang diberitakan tidak penting dan tidak memberikan efek apapun bagi kehidupan kita. Terlebih dengan berita tentang publik figur yang berlomba - lomba mencari sensasi dengan membuat settingan. Apa untungnya berita semacam itu masuk di tv dan di tonton oleh masyarakat. Terkadang aku geli sendiri dengan pemilik stasiun tv yang justru mengundang publik figur yang nol prestasi tapi cuma jago sensasi. Untungnya dimana buat masyaratak yang disuguhkan tontonan seperti itu.?


Tadi aku tidak berniat untuk menonton acara gosip. Tapi entah kenapa, rasanya tidak ingin memindahkan channel. Sampai akhirnya aku menonton sekilas berita itu.


"Aku nggak sengaja nonton acara itu om. Yaudah sini balikin remote nya, biar aku ganti channel,," Aku menyodorkan tanganku, tapi om Kenzo tak kunjung memberikan remote itu padaku.


"Tunggu 5 menit lagi,,!" Jawabnya tegas, dia menyimpan remote itu di sisi kanannya. Sedangkan aku duduk di sisi kiri om Kenzo.


"Ya ampun om,, kenapa harus nunggu 5 menit dulu.? Aku mau ganti channel om, bukan mau nunggu sampe berita gosip itu iklan,,!" Ketusku kesal.


"Aku bilang tunggu 5 menit lagi.! Jangan membantah,," Ucapnya tak kalah tegas. Om Kenzo kembali fokus pada laptopnya tanpa memperdulikan aku yang kesal dibuatnya.


Aku hanya bisa mendengus kesal dengan bibir yang mengerucut. Om Kenzo selalu saja berbuat seenaknya sendiri.


Suara bel membuat kami saling pandang.


"Makanannya udah dateng ya om.?" Tanyaku. Om Kenzo mengangguk.


"Tunggu disini saja,," Ucapnya sebelum pergi untuk membukakan pintu.


Aku segera mengambil ramote dan menyelakan tv kembali, sejujurnya aku sangat penasaran dengan berita yang aku dengar tadi.


Aku hanya bisa menghela nafas karna berita itu sudah selesai.


Om Kenzo datang dengan membawa dua kantong plastik di,tangannya.


"Makan dulu Je,," Katanya sembari jalan ke arah dapur. Aku langsung berdiri dan mengekorinya di belakang. Sambil terus tersenyum, aku menatap punggungnya yang lebar. Rasanya aku ingin memeluk punggung itu dari belakang.


Ahh,,, mesum sekali aku ini.


...***...


Cara VOTE buat yang belum tau 👇👇




Langsung Vote yah🥰


Ayo tuangkan perasaan dan tebakan kalian di kolom komentar😁 gimana sejauh ini.? Udah ada titik terang dong pastinya🤣


Jangan lupa vote yah🥰.


Udah hari senin loh ini😁


Othor ucapin banyak terimakasih buat kalian yang udah kasih dukungan untuk novel ini. Baik yang kasih gift, vote, like dan komen.


Jujur jadi makin semangat ngetik karna antusias dari kalian😍


Othor juga seneng banget karna semua tanggapan pembaca sangat positif, hampir seluruhnya suka dengan novel yang othor buat ini.


Sekali lagi Terima kasih buat dukungannya 🥰