
Kini sudah hampir pukul 9 malam, yang artinya sudah 4 jam sejak Jeje tiba di rumah orang tuanya.
Remaja cantik itu terlihat cemas, berkali - kali dia terus mengecek ponselnya. Berharap mendapatkan kabar baik dari suaminya yang sampai detik ini belum menghubunginya.
Jeje mencoba untuk berfikir positif, menepis segala prasangka buruk yang sempat terlintas tentang suaminya. Dia berusaha percaya bahwa bukan suaminya yang sudah mencelakai Clara.
Meski Kenzo sering mengancam seseorang, kelembutan sikapnya membuat Jeje tidak yakin kalau Kenzo bisa berbuat kejam, apa lagi terhadap wanita.
Dia kembali menaruh ponselnya di atas nakas, setelah tadi mengeceknya kembali. Tetap saja belum ada kabar dari Kenzo.
Helaan nafas berat keluar dari mulutnya. Remaja berusia 18 tahun itu terlihat terpukul atas kejadian yang harus menyeret laki - laki yang baru menjadi suaminya 8 hari lalu.
Usia pernikahan yang masih singkat, namun Jeje harus dihadapkan dengan masalah yang membuatnya begitu takut.
"Sayang kamu sudah tidur,,?!!" Terdengar suara teriakan mama Rissa disertai ketukan pintu.
Suara itu mampu membuyarkan lamunan Jeje.
"Belum mah,,,!!" Sahutnya.
Jeje beranjak dari ranjang, berjalan ke arah pintu untuk membuka pintu.
Nampak papa Alex dan mama Rissa yang berdiri di sana. Raut wajah keduanya terlihat cemas.
"Apa Kenzo menyakiti kamu,,?!" Suara tegas papa Alex membuat jantung Jeje berdetak kencang. Ini yang sejak awal Jeje cemaskan, pasti kedua orang tuanya mengira kalau mereka sedang ada masalah.
Jeje menggeleng cepat, untuk membuat kedua orang tuanya tidak terus berpikir buruk tentang rumah tangganya.
"Jeje pengen pulang ketemu mama sama papa, tapi dia sedang ada urusan pah, jadi nggak bisa dateng bareng. Katanya setelah selesai akan langsung kesini."
Jeje terlihat yakin memberikan alasan untuk membuat kedua orang tuanya percaya. Padahal dia sendiri tidak tau kapan urusan itu akan selesai. Bahkan dia tidak tau Kenzo akan datang ke rumah orang tuanya atau tidak.
"Syukurlah,,," Mama Rissa bernafas lega setelah tadi terlihat cemas dan tegang. Begitu juga dengan papa Alex yang juga terlihat lega.
"Mama dan papa hanya khawatir terjadi sesuatu dengan kali. Kalau sampai itu terjadi, mama yang akan merasa paling bersalah karna sudah menyuruh kalian menikah secepat ini. Di usia kamu yang masih terlalu muda."
Tentu saja mama Rissa khawatir akan hal itu. Terlebih usia keduanya yang terpaut cukup jauh, mungkin akan sulit bagi keduanya untuk mengimbangi sifat dan karakter masing - masing dengan usia yang jauh berbeda.
"Kami baik - baik saja mah, pah,," Jeje menghambur pelukan mama Rissa.
"Jeje kangen, 1 minggu tanpa kalian rasanya sangat sepi,," Nada kesedihan begitu jelas terdengar.
Meski dulu mereka sering mengabaikannya, tetap saja Jeje merindukan mereka saat tidak bersama.
"Mama juga kangen sama kamu sayang,,," Mama Rissa mengusap pelan punggung Jeje penuh kasih sayang. Dia tidak lagi merasakan sakit saat melihat Jeje, hatinya sudah mengikhlaskan perbuatan kejam sahabatnya yang tak lain adalah ibu kandung Jeje.
Bagaimana bisa mama Rissa menghapus rasa sakit hatinya selama ini, dia begitu terluka karna rumah tangganya berusaha di hancurkan oleh sahabatnya sendiri. Sahabat yang sudah bersamanya sejak duduk di bangku SMA.
Selama ini mama Rissa sudah cukup baik dengan menerima kehadiran Jeje dalam kehidupannya, meskipun dulu dia tidak bisa menerima Jeje sepenuhnya. Itu sebabnya mama Rissa tidak terlalu memperdulikan Jeje, karna dia masih merasakan sakit hati yang mendalam setiap kali melihat Jeje.
Tapi saat ini rasa sakit hatinya sudah berakhir, mama Rissa sudah bisa menerima Jeje sepenuh hatinya.
"Kok papa nggak dipeluk,,?" Rengekan Papa Alex membuat Jeje dan mama Rissa menatap ke arahnya sambil tertawa.
Papa Alex merentangkan keduanya dengan senyum yang mengembang, Jeje dan mama Rissa langsung menghambur padanya. Papa Alex memeluk erat kedua wanita yang kini sangat berharga dalam hidupnya. Meski awalnya dia juga menolak kehadiran Jeje, bahkan enggan mengakui Jeje sebagai anaknya.
Jeje hampir saja menitikkan air matanya. Dia begitu tersentuh, karna sudah bisa merasakan kasih sayang yang tulus dari kedua orang tuanya.
Dalam situasi yang sebenarnya sangat menegangkan baginya, pelukan kedua orang tuanya membuat Jeje sedikit lebih tenang.
...**...
Jeje sudah masuk kembali ke dalam kamar. Dia beralasan ingin tidur lebih dulu karna mengantuk.
Sejujurnya dia hanya tidak ingin membuat kedua orang tuanya melihat kecemasannya. Jeje tidak mampu menutupinya lebih lama lagi di depan mereka.
"Aku harap kamu baik - baik saja by,,," Ucapnya lirih dengan suara yang bergetar, juga air mata yang menetes dari pelupuk matanya.
Jeje merebahkan diri di ranjang, menarik selimut dan tidur menyamping. Meski perasaannya tidak tenang, Jeje berusaha untuk tidur dengan menutup rapat matanya. Dia berharap ada hal baik yang akan dia dapatkan setelah dia membuka mata.
Perlahan dia.mulai terlelap dan masuk ke alam mimpi.
Usapan lembut di kepalanya, membuat Jeje terjaga.
Dengan pandangan mata yang masih samar dan belum terbuka sepenuhnya, dia bisa melihat Kenzo yang berbaring di sampingnya.
Laki - laki yang sejak tadi dia cemaskan itu, terlihat tenang sembari melemparkan senyum padanya.
Sebelah tangan Kenzo bahkan masih mengusap lembut kepalanya.
Tanpa terasa, air mata Jeje kembali tumpah. Dia berharap mimpinya menjadi kenyataan. Berharap Kenzo benar - benar sudah kembali dan saat ini ada di hadapannya.
"Hubby,,," Panggilnya. Dia memeluk Kenzo sangat erat, membenamkan wajahnya di dada Kenzo sambil memejamkan matanya kembali. Jeje tidak ingin mimpinya berakhir begitu saja.
"Jangan menangis, aku baik - baik saja,,"
Usapan lembut di punggung Jeje, membuat wanita itu semakin terisak. Dia takut kebahagiaan dan ketenangan ini akan berakhir saat dia kembali membuka mata.
"Aku harap ini. bukan mimpi,," Ujar Jeje di sela isaknya.
"Siapa yang bilang ini mimpi,,?" Tanya Kenzo dengan suara datarnya. Jeje sempat berhenti menangis beberapa detik, lalu memberanikan diri membuka mata dan menatap Kenzo.
"Kamu nggak mimpi sayang,,," Kenzo mengusap lembut air mata di pipi istrinya. Dia melemparkan senyum dan tatapan teduh pada Jeje.
"Jadi aku nggak mimpi.? Kamu benar - benar disini by,,?" Tanya Jeje, matanya terlihat berbinar.
Kenzo mengangguk. Dia mendekatkan wajahnya, melu**t sekilas bibir Jeje.
"Maaf sudah membuatmu cemas karna menungguku." Usapan lembut kembali dia sapukan di kepala Jeje.
"Banyak pertanyaan yang harus aku jawab sebagai saksi. Meski aku sudah menunjukan bukti jika saat itu aku sedang berada di kantor, tak lantas membuat mereka melepaskan ku begitu saja. Karna aku orang terakhir yang di temui oleh Clara."
Jeje hanya diam, mendengarkan dengan seksama penjelasan Kenzo.
"Terlebih pelaku penusukan itu belum di ketahui identitasnya sampai saat ini. Dia memang tertangkap CCTV, tapi wajahnya sulit dilihat karna memakai topi yang hampir menutupi seluruh wajahnya."
Rupanya pelaku penusukan itu sejak sudah mengikuti Clara sampai ke basement, dia mulai melakukan penyerangan saat Clara baru masuk kedalam mobil. Pelaku itu membuat Clara kehabisan tenaga lebih dulu, sebelum akhirnya menusuk perut Clara.
Sepertinya pelaku tidak ada niatan untuk membunuh Clara, karna luka tusukan yang di alami oleh Clara tidak dalam. Hanya saja karna terlalu lama di biarkan, membuat darah itu keluar semakin banyak.
Penjelasan Kenzo membuat Jeje sangat lega. Dia kembali memeluk erat suaminya.
"Syukurlah. Aku pikir,,," Jeje tidak meneruskan ucapannya.
"Maafin aku by,," Ucapnya tulus. Dia merasa bersalah karna sudah menuduh suaminya.
"Nggak apa - apa sayang,,,"
Kenzo bisa memaklumi hal itu, karna memang dia pergi setelah Clara keluar dari apartemennya. Terlebih saat itu Jeje tau kalau dia sangat marah pada Clara. Wajar saja kalau Jeje mencurigainya.
...*****...
Masih pada lebaran ya.?
Yang like sama vote kok makin dikit banget 😁
Minggu ini kumpulin 1000 vote yuk 😁