My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
33. Season2



Pekerjaan kantor yang menumpuk sangat menyita waktu. Reynald bahkan belum sempat makan siang setelah menghadiri meeting. Laki - laki itu kembali disibukkan dengan berkas - berkas yang menumpuk di meja kerjanya. Meski sudah dibantu oleh sekretaris Kenzo, tetap saja dia kewalahan menghandlenya.


Pekerjaan Kenzo menumpuk setelah laki - laki itu pergi ke Singapur, dan hari ini dia justru tidak datang ke kantor.


"Kamu belum makan siang Rey. Mau aku pesenin.?"


Della menghentikan aktifitasnya sejenak untuk menawarkan makan siang pada Reynald. Sejak tadi dia memang belum melihat kalau Reynald makan siang.


Reynald menatap arlojinya, dia terlihat terkejut melihat jam yang sudah menunjukan hampir pukul 2 siang.


Tanpa menjawab pertanyaan Della lebih dulu, Reynald justru merogoh ponselnya di saku jas. Dia segera mengaktifkan ponselnya yang sejak tadi dia matikan saat akan menghadiri rapat.


Jari Reynald bergerak cepat di layar ponselnya, dia terlihat menghubungi seseorang.


"Kenapa nggak aktif.!" Geramnya dengan raut wajah yang terlihat kesal.


Ditatapnya layar ponsel yang sedang menghubungkan panggilan ke nomor Karin, namun tidak tersambung karena nomor ponsel Karin tidak aktif.


Tidak mau semakin kesal, Reynald memilih untuk menghubungi nomor telpon di apartemennya.


"Apa Karin sudah makan siang.?!" Kenzo langsung menodongkan pertanyaan setelah mendengar sapaan dari asisten rumah tangga yang mengangkat telfonnya.


"Pergi.?!!" Seru Reynald dengan nada kaget bercampur kesal. Della bahkan sampai tersentak mendengarnya. Dia terlihat heran menatap Reynald dengan dahi yang mengkerut. Laki - laki itu terlihat sangat kacau hari ini, tidak seperti biasanya yang selalu memasang wajah tenang dan cool.


"Bukankah aku sudah bilang.!! Jangan biarkan dia pergi sendiri.!!" Reynald menggebrak meja kerjanya. Rasa kesalnya sudah berada di ubun - ubun.


Pekerjaan kantor saja sudah membuatnya kalang kabut hari ini, ditambah dengan Karin yang mematikan ponselnya, juga pergi dari apartemen seorang diri. Kini dia semakin kesal dengan ulah asisten rumah tangganya karena mengijinkan Karin keluar dari apartemen.


Padahal dia sudah memperingatkan asisten itu untuk tidak membiarkan Karin pergi apapun alasannya.


"Arrgghh..!" Reynald menggeram frustasi setelah mendengar penjelasan dari asisten rumah tangganya.


Reynald tidak menyangka Karin akan berbohong pada asisten rumah tangganya dengan mengatakan kalau dia sudah meminta ijin padanya.


"Kabari aku kalau dia pulang.!" Reynald mematikan sambungan telfonnya. Dia meletakan kasar ponsel miliknya di atas meja.


Laki - laki itu hanya bisa meremas kasar rambutnya.


"Damn.!!"


Umpatnya sembari menggebrak tumpukan berkas di hadapannya. Reynald terlihat jengkel menatap semua berkas itu. Dari tatapannya seolah ingin melempar dan membantingnya ke lantai.


"Ada masalah Rey.?" Della bertanya dengan hati - hati.


Hembusan nafas kasar keluar dari mulut Reynald.


"Selesaikan pekerjaan ini secepatnya Del, aku ada urusan lain.!" Seru Reynald tegas. Dia kembali fokus pada pekerjaannya, bahkan tidak memperdulikan dirinya yang sampai saat ini belum makan siang.


"Kamu nggak bisa konsen kalau banyak pikiran dan belum makan Rey. Istirahat dan makan siang dulu sebentar." Della masih saja membujuk Reynald agar laki - laki itu makan siang lebih dulu. Penampilan Reynald benar - benar sudah kacau, bahkan bisa dilihat kalau laki - laki itu menahan lapar.


Reynald mengusap kasar wajahnya, kemudian beranjak dari mejanya.


"Aku keluar dulu sebentar,," Della hanya mengangguk pelan, melirik Reynald yang bergegas keluar dari ruangan kerjanya.


...****...


"Beneran neng nggak ada masalah.?"


Entah sudah ke berapa kalinya Ibu Dahlia mengajukan pertanyaan yang serupa pada Karin.


Meski sejak datang Karin sudah menjelaskan kalau tidak ada masalah dengan rumah tangga dan Reynald, namun tetap saja Ibu Dahlia masih menaruh curiga padanya.


Sebagai seorang Ibu tentu saja Ibu Dahlia bisa membaca raut wajah anaknya. Beliau tau kapan saat Karin sedang berbohong dan tidak.


"Beneran Bu, kita baik - baik aja,,"


"Kak Reynald lagi sibuk, aku bosen di apartemen sendirian,,"


Sambil memakan buah - buahan yang disediakan oleh Ibu Dahlia, Karin menjawabnya dengan sikap yang tenang dan santai. Dia enggan membuat orang tuanya merasa cemas dengan kondisi rumah tangganya yang sebenarnya tidak berjalan dengan baik.


Karin paham jika pernikahannya masih terlalu singkat, namun dia menyesali dengan hubungannya yang seakan belum bisa dimulai dengan baik.


Bahkan dia merasa kalau Reynald tidak akan pernah bisa memulai hubungan mereka dari awal, karena tujuannya hanya ingin bertanggung jawab tanpa berfikir untuk menjalani kehidupan rumah tangga seperti pada umumnya.


"Kalian itu baru menikah neng, pasti masih kuat sama ego masing - masing. Ibu harap kalian bisa dewasa. Kalian yang sudah memutuskan untuk menikah, jadi harus jalani pernikahan ini dengan baik dan tulus,,"


"Pernikahan itu sakral neng, untuk 1 kali seumur hidup. Ibu cuma bisa berdo'a untuk kebaikan rumah tangga kalian."


Karin mengangguk dengan seulas senyum untuk menunjukan kalau dia baik - baik saja.


Sejujurnya kehadiran masa lalu dan anak kandung Reynald semakin memperburuk pandangannya terhadap Reynald. Dia semakin tidak yakin kalau Reynald akan mempertahankan rumah tangga mereka dan lebih mementingkan masa lalunya.


...****...


Setelah makan malam, Karin lebih memilih untuk pergi ke kamarnya. Dia menghindari cecaran pertanyaan Pak Dadang yang juga mulai curiga dengannya.


Karin duduk di sisi ranjang, dia menatap ponselnya yang sejak tadi pagi sengaja dia matikan. Meski penasaran ingin mengecek ponselnya, namun Karin ragu untuk mengaktifkannya kembali. Dia takut akan kecewa jika ternyata Reynald sama sekali tidak mencoba untuk menghubunginya.


Harusnya Reynald sudah pulang sejak sore tadi, tapi sampai saat ini laki - laki itu tidak ada kabar jika sedang mencarinya.


Karin semakin yakin saja kalau Reynald sama sekali tidak peduli pada dirinya dan anak yang ada didalam kandungannya.


Hingga pukul 9 malam, Karin masih enggan untuk mengaktifkan ponselnya. Sejak tadi dia hanya berbaring di ranjang tanpa bisa memejamkan matanya. Terlalu banyak pertanyaan yang berkecambuk dalam benaknya perihal hubungannya dengan Reynald yang entah akan dibawa kemana.


Rasanya dia tidak akan sanggup menjalani rumah tangganya jika Reynald tidak bisa bersikap baik dan memulainya dari awal.


Suara pintu kamar yang terbuka membuat Karin langsung pura - pura memejamkan matanya. Dia tidak ingin kedua orang tuanya tau kalau sampai saat ini dia belum tertidur.


Namun sepertinya Karin sudah salah menduga. Saat ini dia justru mencium harum parfum maskulin milik Reynald. Bahkan semakin lama terasa menusuk indera penciumannya.


Karna penasaran, Karin mulai membuka matanya perlahan. Dia terkejut melihat wajah Reynald yang sangat dekat dengan wajahnya. Laki - laki itu seakan ingin menciumnya.


"Siapa yang ngijinin kamu pergi dari apartemen.?!" Ketus Reynald sembari menegakkan tubuhnya. Dia menatap Karin dengan tajam, wanita itu yang sudah membuatnya semakin kacau hari ini hingga tidak bisa konsentrasi menyelesaikan pekerjaannya. Wanita itu yang telah membuatnya cemas, takut terjadi sesuatu pada pada mereka.


Karin bangun, dia duduk disisi ranjang. Tatapan matanya begitu datar pada Reynald. Dia bingung harus berbicara apa pada laki - laki menyebalkan didepannya itu.


"Aku bukan peliharaan yang bisa kakak kurung." Karin menjawab asal, meski itu yang ada di dalam pikirannya saat ini. Karena menurutnya Reynald bermaksud untuk mengurungnya di apartemen tanpa mengijinkannya keluar dari sana. Sedangkan Reynald bisa sesuka hati menemui anak dan msalalunya.


"Untuk apa kakak kesini. Aku pikir kami tidak penting,," Karin menunduk, matanya menatap nanar perutnya yang masih terlihat rata.


Kedua tangan Reynald mengepal kuat. Dia sadar jika Karin sedang mencoba untuk menyindirnya, jelas sekali kalau Karin marah padanya hingga dia memutuskan untuk pergi diam - diam dari apartemennya.


"Punya masalah apa kamu.?!" Ketus Reynald dengan 1 tangan yang mengangkat dagu Karin agar menatap wajahnya.


"Kenapa tidak bisa menuruti perkataanku.?! Apa susahnya tetap tinggal disana.?! Aku bisa mengantarmu kalau ingin pulang.!"


"Bukan dengan cara pergi diam - diam seolah tidak menghargai suamimu.! Apa yang akan mereka pikirkan tentangku jika kamu seperti ini.!"


"Jangan menambah masalah dengan sikap kekanakan kamu.!"


Reynald terlihat sangat geram dengan Karin. Hingga dia meluapkan semua kekesalannya pada wanita yang sedang mengandung anaknya itu. Karin membuatnya kehabisan kesabaran dalam situasi yang sangat kacau baginya.


Karin menatap Reynald dengan mata yang berkaca - kaca. Nyatanya kedatangan Reynald justru membuatnya semakin sakit. Laki - laki itu masih saja bersikap kasar dan dingin padanya, sedikitpun tidak bisa bicara lembut.


"Jangan diteruskan kak, akhiri saja karena hanya membuat kita saling menyakiti,,"


Suara Karin bergetar, dengan air matanya yang terus menetes dari pelupuk matanya.


"Mungkin masalalu kakak jauh lebih penting dari kami,," Karin kembali menunduk, dia mengusap pelan perutnya dengan sakit di dada yang terasa mencekat.


"Jadi karna itu kamu pergi diam - diam.?!" Bentak Reynald pelan.


"Karna itu kamu juga ingin mengakhiri hubungan yang baru dimulai.?!" Reynald mencengkram bahu Karin, menggoncang pelan bahunya agar wanita itu mengangkat wajah.


"Jangan coba - coba untuk mengakhirinya.!" Ujar Reynald begitu Karin menatapnya. Dia melepaskan cengkraman tangannya dan berlalu dari hadapan Karin. Reynald keluar dari kamar dengan wajah yang memerah karena amarah. Dia tidak habis pikir dengan ucapan yang baru saja dilontarkan oleh Karin. Rasa takut mulai kembali menghantui Reynald, membayangkan dia akan berpisah dengan anak kandungannya lagi.


Karin menatap nanar pintu kamarnya yang baru saja ditutup oleh Reynald. Dia tidak ada niatan untuk mengejar Reynald. Karin yakin kalau Reynald akan pergi dari rumahnya. Laki - laki itu sama sekali tidak terlihat peduli padanya.


...****...


Reynald



Karin