
Warning.!! Di skip aja adegan di kamar Jeje (hareudang soalnya) 🙏
Tadinya mau di up nanti malem, tapi udah banyak yang nunggu.
Jangan lupa VOTE yah, nanti othor tambah 1 bab lagi.
Kami mulai menyendokkan makanan kedalam piring. Aku sama sekali tidak konsentrasi dalam situasi yang terasa mencekam ini. Ada perasaan takut, gugup, juga senang karna bisa makan malam bersama om Kenzo. Tapi lebih banyak takutnya, bisa kacau kalau mereka curiga.
Aku menatap om Kenzo yang berdiri dari duduknya.
"Maaf,,," Ucapnya sembari mengulurkan tangan untuk mengambil hidangan yang berada di depan mama.
Tanganku reflek mengambil piring itu dan menyodorkannya pada om Kenzo.
"Ini om,,," Kataku. Aku lihat om Kenzo melotot padaku, aku tidak tau kenapa om Kenzo melotot seperti itu. Apa dia takut ketahuan karna aku sampai mengambilkan makanan untuknya.
"Je, kenapa manggilnya om.? Nak Kenzo itu cuma selisih 6 tahun di atas kakak kamu. Harusnya panggil kakak dong,," Tegur mama. Saat itu aku baru sadar kalau aku sudah kelepasan memanggil om. Pantas saja om Kenzo sampai melotot seperti itu. Entah takut ketahuan, atau malu karna di panggil om olehku di depan orang - orang.
"Ehh,,, maaf kak,," Ucapku. Om Kenzo tersenyum tipis sembari mengambil piring dari tanganku.
"Nggak apa - apa tante. Sepertinya Jenifer masih sangat kecil, wajar kalau manggil saya dengan sebutan om,,"
Ucapnya santai. Kini giliran aku yang melotot padanya. Kenapa om Kenzo harus menekankan kalimat 'masih sangat kecil'. Apa om Kenzo sedang menyindirku.?
"Jeje itu badan doang yang gede, kelakuannya emang kayak anak kecil, ,," Celetuk kak Nicho.
"Apaan sih kak, seenaknya bilang kayak anak kecil.!" Sahutku tidak terima.
"Cuma anak kecil yang nonton kartun,," Ujar kak Nicho meledek.
"Mah kak Nicho,,," Rengekku pelan pada mama. Aku sangat malu, terlebih om Kenzo terus menatap ke arahku.
"Nicho.! Jangan dogain adik kamu,,!" Tegur mama. Suasana di meja makan jadi ramai.
"Sudah - sudah, kalian berdua nggak ada bosen - bosennya bercanda." Papa menengahi.
"Maaf Ndre, nak Ken, anak - anak memang suka begitu." Papa terlihat tidak enak dengan om Andreas dan Om Kenzo, atas keributan di antara aku dan kak Nicho.
"Nggak masalah Lex, justru bikin suasana cair,," Sahut om Andreas dengan mengulum senyum.
Papa hanya terkekeh.
"Ayo lanjut makannya,,,"
Suasana hening selama makan malam berlangsung. Entah mereka menyadari atau tidak, kalau aku dan om Kenzo sering curi pandang.
Bahkan terkadang om Kenzo tersenyum tipis padaku, aku yang merasa takut ketahuan, memilih untuk membuang pandangan.
Bisa - bisanya om Kenzo melempar senyum ke arahku, aku saja sudah cemas meski hanya melirik ke arahnya.
"Jadi sudah fix proyek pertama kalian.?"
Tanya pada, dia menatap kak Nicho dan om Kenzo bergantian.
"Sudah om. Tinggal mencari tempat yang strategis. Masalah design dan sebagainya, bisa kami bicarakan lagi nanti." Om Kenzo menjawab dengan tegas, terlihat sekali sangat berwibawa.
Entah apa yang sedang mereka bahas, aku hanya menyimak saja sambil terus menatap ke arah om Kenzo. Memang mata ini paling bisa mencari pemandangan yang indah untuk di nikmati.
Ketampanan om Kenzo bertambah berkali - kali lipat saat dia sedang membicarakan tentang pekerjaan.
Atau mungkin hanya aku saja yang merasa seperti itu, karna aku jatuh cinta padanya.
Cinta memang membuat seseorang menjadi sempurna dimata kita.
"Semoga ini jadi awal kerjasama yang baik buat kalian. Nicho masih perlu bimbingan dan belajar, semoga nak Kenzo bisa membantunya nanti,,"
"Tentu om. Sepetinya tidak sulit menjalin kerja sama dengan Nicho, dia cepat tanggap dan mau belajar."
"Makasih bro. Sorry tadi banyak nanya,,"
"Santai saja,,"
Kak Nicho gampang sekali akrab dengan om Kenzo. Aku hanya takut dia akan kecewa kalau tau tentang fakta yang sebenarnya. Semoga saja hubungan mereka tidak rusak kalau fakta itu terbongkar.
"Jadi gimana keputusan kamu Lex.? Mau inves saham di Paris,,?"
Kini giliran papa dan om Andreas yang membicaran bisnis mereka.
Sedangkan kak Nicho dan om Kenzo kembali terlibat pembicaraan yang terlihat serius.
Aku sendiri yang hanya bengong dan bingung harus berbuat apa. Mama pun asik menyimak pembicaraan papa dan om Andreas. Sesekali mama juga ikut berkomentar.
Aku benar - benar bosan, malas sekali harus mendengarkan pembicaraan mereka yang hanya membahas bisnis.
Aku mendekat pada mama.
"Mah,,," Bisikku. Mama langsung menoleh.
"Jeje ke kamar aja ya, bingung harus ngomong apa, pada sibuk bahas bisnis,," Ujarku pelan.
Mama tampak bingung, tapi akhirnya memberikan ijin padaku untuk kembali kekamar.
"Yasudah, tapi pamit dulu sama om Andreas dan putranya." Ujarnya.
Aku mengangguk, dan langsung berdiri.
"Maaf, permisi om, kak,,," Mereka semua menatap kearahku.
"Jeje ke atas dulu,," Aku sedikit tersenyum, lalu membungkukan badan pada mereka.
"Ah ya silahkan nak,," Sahut om Andreas ramah. Berbeda dengan om Kenzo yang diam saja dengan raut wajah yang datar.
Aku berjalan menuju kamar dengan perasaan lega. Ternyata seperti ini rasanya menyembunyikan sesuatu yang takut akan terbongkar. Tidak tenang, cemas, dan membuat jantung terus berdetak kencang.
Baru saja menutup pintu kamar, seseorang mengetuknya dari luar. Aku menatap pintu dengan dahi yang mengkerut.
"Siapa.?!" Teriakku, namun tidak ada jawaban dan kembali mengetuk pintu.
Aku memutuskan untuk segera membukanya.
"Om.!!" Pekikku kaget dengan mata yang membulat sempurna. Om Kenzo langsung membekap mulutku, lalu mendorongku masuk kedalam. Dia menutup pintu dan mengunci dengan sebelah tangannya.
"Kamu cerewet sekali.!" Protesnya. Tanpa aba - aba, om Kenzo membungkam mulutku dengan bibirnya. Aku langsung memberontak dan mendorong dadanya. Bukan karna aku tidak suka di cium oleh om Kenzo, tapi aku takut seseorang datang kemarku dan memergoki kami berduaan di dalam kamar.
"Jangan bikin masalah om, gimana kalau ada yang dateng,,"
Berbeda dengan reaksiku yang sangat panik, om Kenzo justru terlihat santai.
"Mereka sedang di ruang kerja om Alex, untuk membahas proyek mereka. Nggak akan ada yang naik ke atas,,," Om Kenzo berbisik padaku di akhir kalimat nya. Hal itu membuat seluruh tubuhku merinding.
"Mau lanjut.?" Bisiknya lagi. Saat itu juga aku tidak bisa berfikir jernih. Tubuhku merespon ucapan om Kenzo dengan mengalungkan tangan di lehernya.
"I miss you,,," Bisik om Kenzo sebelum akhirnya dia kembali memagut bibirku dengan lembut.
Pengakuan om Kenzo membuatku melambung tinggi. Aku seperti berada di atas awan yang dipenuhi bunga bermekaran.
Untuk pertama kalinya om Kenzo mengatakan rindu padaku. Dan itu cukup membuatku bahagia. Akhirnya om Kenzo bisa merasakan rindu padaku. Aku pikir, hanya aku saja yang rindu padanya.
Dress bagian atasku sudah diturunkan hingga sebatas perut. Kain pembungkus asetku juga sudah tersingkap. Aku hanya bisa menahan desahan merasakan sensasi luar biasa pada kedua asetku yang dimainkan oleh mulut om Kenzo dan tangannya.
Om Kenzo menggiringku ke ranjang, merebahkan tubuhku dengan perlahan sambil terus menatapku begitu dalam.
Apa itu tatapan kerinduan.? Aku sedikit takut menduganya. Takut jika dugaanku salah.
"Aku takut om,,," Ucapku lirih saat om Kenzo akan kembali memulai aksinya.
"Mereka akan lama didalam sana. Don't worry."
Adegan panas tidak bisa di hindari. Baik aku dan om Kenzo, kami sama - sama menuntut untuk mendapatkan kenikmatan.
Aku dan om Kenzo terbilang berani dan nekat, tubuh kami bahkan sudah polos tanpa sehelai kain pun yang melekat.
"Om,,!" Aku menahan wajah om Kenzo yang akan mendekat pada area intiku.
"Om mau apa.?" Aku benar - benar sangat malu. Om Kenzo pasti melihatnya dengan jelas.
"Diam dan nikmati saja,,"
Aku menurut begitu saja meskipun sangat malu dan risih. Tapi sesaat kemudian, aku justru mengerang merasakan nikmat yang menjalar ke seluruh tubuhku.
"Om,,," Desahku dengan meremas kuat rambutnya.
Erangan panjang keluar dari mulutku, bersamaan dengan ledakan yang terasa begitu nikmat.
Nafasku masih terengah, om Kenzo duduk di sisi ranjang sembari mengusap lembut kepalaku. Aku tersenyum malu padanya, mengingat kembali bagaimana om Kenzo memberikanku kenikmatan dengan cara yang belum pernah dia lakukan sebelumnya.
"Gimana, enak kan.? Masih mau nolak.?" Goda om Kenzo.
"Om.! Rese banget.!" Pekikku dengan mencubit pelan pinggangnya.
Setelah nafasku mulai teratur, kini gilir aku yang memberikan kepuasan padanya. Aku juga mengikuti apa yang om Kenzo lakukan padaku, awalnya dia menolak karna tidak mau membuatku jijik. Tapi aku sendiri yang terus memaksanya.
Nafas om Kenzo masih memburu setelah mencapai klimaks. Aku hanya bisa diam sambil terus menatapnya.
Tampan sekali kalau sedang seperti itu.
"Belajar dari mana kamu.?" Tanya om Kenzo penuh selidik. Aku menyengir kuda sebelum menjawabnya.
"Dari Celina sama Natasha om,," Jawabku jujur.
Om Kenzo hanya menggeleng pelan.
"Gimana kalo nggak nahan diri. Pasti dari dulu kamu udah kebawa kayak mereka. Masih ABG udah kehilangan kesucian,," Ucapnya degan nada tak suka. Aku melirik sini pada om Kenzo.
"Tapi aku juga hampir kehilangan kesucian 1 bulan yang lalu,," Sindirku.
"Sudah berani menyindir,," Om Kenzo mengacak gemas rambutku.
"Aku minta maaf karna nggak bisa mengontrol emosi,," Ucapnya tulus.
"Pake bajunya terus istirahat. Aku harus kembali ke bawah lagi,,," Om Kenzo mengambil pakainya yang bertengger rapi di senderan sofa. Pantas saja tadi dia tidak melemparnya asal, mungkin supaya kemejanya tidak kusut. Mereka bisa curiga kalau om Kenzo kembali dengan keadaan acak - acakan.
Om Kenzo keluar dari kamar mandi dengan keadaan rapi seperti semula.
"Om terlalu lama ninggalin mereka. Mereka bisa curiga om,," Kau benar - benar cemas.
"Aku bilang akan ke kamar mandi karna sakit perut,," Jawabnya enteng. Ya meskipun masuk akal, tapi tetap saja aku sangat cemas. Semoga saja mereka tidak curiga.
"Cepat pake bajunya, kamu bisa kedinginan nanti."
"Aku pergi dulu,," Om Kenzo mengecup keningku, lalu meninggalkanku yang masih duduk disisi ranjang dengan berbalut selimut.
Andai saja,,,
Aku tidak berani melanjutkannya, karna selalu ada kata 'andai saja' ketika aku menginginkan yang terbaik untuk hubungan ini.
Kata 'Anda saja' membuatku sadar bahwa hubungan ini hanya akan menjadi angan - angan sebelum akhirnya benar - banar berakhir.
...****...
Kalau jumlah VOTE yang othor lingkari nambah jadi 450, othor bakan up 1 bab lagi.
Mohon dukung novel othor ya. 😊
Othor udah ngetik maraton nih, udah ditambahin juga jumlah kata di setiap bab, biar kalian puas bacanya. 😁
Jangan di tagih mulu buat up 2 bab sehari. Nggak sanggup othor. Novel di akun satunya aja sampai terbengkalai🤣 Nggak punya waktu lagi buat ngetik
Kalau ada bab lebih, pasti othor up sehari 2 bab kok. Tapi nggak bisa tiap hari.
Happy reading,,
Pokoknya dukung terus novel othor yah🥰
Votenya jangan lari kemana - mana, ditinggalin di novel ini aja.
wkwkwk,, bercanda ya,,,,
Vote bebas buat di kasih ke siapa aja yang menurut kalian paling layak di kasih vote.