My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
74. Season2



Karin masih tak sadarkan diri. Dia di pindahkan ke ruang perawatan, dan di tangannya sudah terpasang jarum insfus. Disana ada Reynald yang masih setia berada di samping Karin sampai detik ini. Dia tidak beranjak dari sisi Karin meski sedetikpun. Tangan Karin bahkan terus digenggam olehnya. Sesekali mengusap kepala dan perut Karin.


Kalau saja Karin bisa melihat raut wajah Reynald saat ini, mungkin segala keraguan dan pikiran buruk tentang Reynald akan hilang begitu saja.


Laki - laki yang selalu menunjukan wajah tegas dan dingin serta sorot mata yang tajam, kini berubah 180 derajat. Wajahnya terlihat sendu, dengan manik mata yang berkaca - kaca. Ada kekhawatiran dan ketakutan yang sedang dia rasakan saat ini. Kondisi Karin yang belum sadarkan diri membuatnya tidak bisa bernafas dengan tenang. Meski dokter sudah memastikan jika kondisi Karin dan kandungannya tidak bermasalah, tapi tetap saja Reynald belum bisa tenang sebelum Karin sadarkan diri.


Kedatangan Ibu Dahlia kedalam ruangan itu, membuat Reynald menoleh ke arahnya tanpa melepaskan tangan Karin.


"Neng,,," Suara Ibu Dahlia terdengar parau. Matanya semakin sembab karna terus menangisi suami dan anaknya yang sama - sama tak sadarkan diri. Suaminya yang sedang berjuang melewati masa kritisnya, sedangkan kondisi Karin yang lemah setelah melihat keadaan Bapaknya. Hati siapa yang tidak akan sehancur itu jika dihadapkan dengan 2 permasalahan sekaligus.


Reynald menghela nafas berat, melihat Ibu mertuanya yang kembali menangis sambil mengusap wajah Karin, semakin membuat hatinya pilu. Setidaknya Reynald bisa merasakan bagaimana perasaan Ibu mertuanya saat ini.


"Jangan khawatir Bu, Karin hanya pingsan. Kondisi dan kandungannya juga baik - baik saja. Dia akan sadar secepatnya,,," Hanya itu yang bisa Reynald katakan, setidaknya penjelasan itu mungkin bisa mengurangi kekhawatiran yang dirasakan oleh Ibu Dahlia.


"Bagaimana kondisi Bapak.?" Ibu Dahlia menggeleng pelan. Gelengan kepala yang memiliki penjelasan cukup panjang. Penjelasan mengenai kondisi Pak Dadang yang sampai saat ini masih kritis dan tidak ada perkembangan apapun pada kondisinya.


"Kalau Karin sudah sadar, bawa pulang saja nak Rey. Ibu takut kondisi Karin tetep seperti ini kalau liat Bapak masih kritis." Tuturnya dengan suara lemah. Ibu Dahlia masih terus mengusap wajah dan kepala Karin dengan tatapan sendu.


"Kita pindahkan Bapak ke Singapur saja kalau sampai nanti malam belum ada perkembangan,,,"


Usul Reynald. Sebenarnya Reynald sudah menawarkan untuk membawa Pak Dadang ke Singapur saat akan melakukan operasi, tapi keluarga Karin menolak dengan alasan Jarak yang jauh, juga memikirkan biaya meski Reynald sudah mengatakan akan menanggung semuanya.


Karna keluarga Karin menolak, Reynald hanya memindahkan Pak Dadang ke rumah sakit yang lebih besar.


"Ibu ikut apa kata nak Rey saja, asalkan Bapak bisa sembuh,,," Jawaban Ibu Dahlia terdengar pasrah, tapi memiliki harapan yang besar pada kesembuhan suaminya.


"Siapkan saja keperluan Bapak dan Ibu dari sekarang, bawa apa yang akan dibutuhkan disana. Sebaiknya Radit juga ikut biar Ibu nggak sendiri. Saya cuma bisa mengantar saja karna banyak kerjaan yang tidak bisa di tinggal." Jelas Reynald. Ibu Dahlia mengangguk paham. Lagipula tidak mungkin menyuruh Reynald untuk ikut menjaga Pak Dadang, sedangkan kondisi Karin juga tidak memungkinkan untuk di tinggal.


"Iya, nanti bilang sama Radit."


"Ibu pulang saja biar bisa istirahat dulu, Bapak sama Karin biar saya dan Bang Anton yang jaga."


"Ibu juga harus jaga kesehatan biar bisa Bapak kalau mau di pindah ke Singapur,,," Tutur Reynald.


Kondisi Ibu Dahlia memang sudah sangat kacau dan terlihat kelelahan, mungkin karna terlalu memikirkan kondisi suami dan anaknya.


"Makasih nak Reynald,,," Suara Ibu Dahlia bergetar. Sudut matanya sudah mulai mengeluarkan air mata.


"Ibu nggak tau kalau nggak ada nak Reynald, pasti Bapak,,," Ibu Dahlia tidak bisa meneruskan ucapannya. Dia sudah larut dalam tangisnya yang kian pecah. Jika tidak ada Reynald, Pak Dadang tidak akan bisa di oprasi dan mungkin saat ini nyawanya sudah tidak bisa tertolong lagi.


"Tidak perlu berterima kasih Bu, Pak Dadang sudah menjadi orang tua saya, jadi sudah sewajarnya menjadi tanggung jawab saya."


Ibu Dahlia mengangguk, lagi - lagi dia berterima kasih pada Reynald. Ibu Dahlia merasa bersyukur, meski Karin harus melewatkan masa mudanya, tapi setidaknya dia mendapatkan laki - laki yang bertanggung jawab dan memiliki kepedulian yang besar pada keluarganya. Mungkin jarang ada laki- laki seperti Reynald, menikah karna kecelakaan tapi sangat peduli pada keluarga istrinya.


Ibu Dahlia pamit pulang, dia memang merasa butuh istirahat untuk memulihkan tenaganya yang mulai melemah. Dia mempercayakan sepenuhnya pada Reynald untuk menjaga Karin dan Pak Dadang.


Reynald langsung menatap wajah Karin saat merasakan tangan Karin bergerak. Dilihatnya mata Karin yang perlahan mulai terbuka. Karin menatap wajah Reynald dengan lekat, namun dengan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali.


"Kamu sudah sadar, apa ada yang sakit.? Bagaimana dengan kepada dan perut kamu.?" Reynald langsung mencecarnya dengan banyak pertanyaan. Dia terlihat mengkhawatirkan kondisi Karin karna wanita itu masih diam dengan pandangan mata yang terlibat belum fokus.


"Bapak,, bagaimana kondisi Bapak,,,?" Suara Karin sangat pelan. terdengar masih sangat lemah.


Reynald menghembuskan nafas kasar. Kondisinya saja masih lemah., tapi sudah menanyakan kondisi Bapaknya.


Bukannya Reynald melarang seorang anak mengkhawatirkan orang tuanya, apa lagi melarangnya untuk peduli pada kondisinya yang saat ini sedang kritis. Tapi kondisi Karin juga tidak memungkinkan untuk terlalu memikirkan hal yang bisa membuatnya kembali drop seperti tadi.


Karin terdiam, dadanya naik turun dengan cepat bersamaan dengan rasa sesak yang menghimpit dadanya. Bagaimana dia bisa tenang dengan kondisi orang tuanya yang sedang kritis. Bagaimana dia bisa memikirkan dirinya sendiri saat orang tuanya sedang berjuang antara hidup dan mati.


Reynald menarik nafas dalam. Sulit rasanya menahan diri untuk tidak memarahi Karin yang tidak pernah mau mendengarkannya.


Di usapnya air mata Karin yang baru saja menetes dari pelupuk matanya. Reynald tau bagaimana perasaan Karin saat ini, tapi dia juga tidak mau kalau sampai terjadi sesuatu pada calon anak mereka. Kalau sampai terjadi sesuatu yang tidak di inginkan pada kandungannya, bukankah akan menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya.?


Sedangkan memikirkan kondisi Pak Dadang hingga membuatnya stres, tidak akan berpengaruh apapun pada kondisi Pak Dadang.


Karna saat ini hanya do'a dan usaha yang diperlukan untuk kesembuhannya.


"Jangan khawatir, Bapak akan baik - baik saja. Kita akan memindahkannya ke Singapur kalau kondisi Bapak masih belum membaik,,,"


"Jangan menyiksa diri dengan berlarut - larut dalam kesedihan seperti ini. Kamu pikir air mata kamu bisa membuat Bapak sadar.?"


"Bapak hanya butuh doa kamu."


"Berhenti menangis atau aku tidak akan peduli lagi pada kalian.!" Ancam Reynald. Dia beranjak dari duduknya, mengambil air mineral di atas meja dan menyodorkannya pada Karin.


"Minum dulu,,," Reynald membangunkan Karin dengan hati - hati. Karin menurut, meneguk air mineral itu dengan perlahan.


"Kamu belum makan siang. Aku hanya minta bang Anton membeli buah sama roti,,"


Reynald mengambil kembali air mineral di tangan Karin. Kemudian meletakkannya lagi di tempat semula. Lalu mengambilkan roti.


"Makan dulu,," Ujarnya sembari menyodorkan roti.


"Kalau kamu tidak mau, anggap saja untuk calon anak kita. Dia butuh makan,,!" Ucapnya datar.


Karin menerima roti itu tanpa memberikan protes.


Di tatapnya wajah Reynald dengan lekat.


"Makasih kak,,," Ucap Karin tulus.


"Hemm,,,"


Hanya deheman yang keluar dari mulut Reynald. Dia mengambil ponsel dan sibuk dengan ponselnya sambil duduk di samping bangsal.


Part ini sedikit, nanti di usahain sore atau malem up lagi🙏


...****...


Kemaren di novel "Nicholas" nggak sengaja ke up 2 kali dengan teksnya sama, sekarang udah di revisi.


Bisa di baca ulang ya Bab 10 nya ☺


Jangan lupa Vote juga yah,,,