
Nicho mendengus kesal setalah mematikan sambungan telfonnya. Entah apa yang akan dibicarakan oleh Kenzo hingga menyuruhnya untuk pulang ke rumah. Padahal Kenzo tau betul kalau hubungan dia dan papa Alex belum membaik.
Pulang ke rumah saja dengan membuat masalah baru. Namun pada akhirnya dia bergegas untuk pulang ke rumah setelah mendapat pesan dari Fely tadi malam yang baru saja dia baca. Kini dia tau apa yang ingin Kenzo bicarakan padanya.
Sepagi ini datang ke rumah, bisa dipastikan kalau papa Alex belum pergi ke kantor.
Nicho terlihat bingung berdiri didepan pintu masuk. Rumah itu terasa asing baginya meski belum lama dia memutuskan keluar dari rumah. Rasanya tidak ada kedamaian didalam sana. Apa lagi kebahagiaan yang selama ini dia inginkan. Semuanya lenyap setelah mengetahui jika papa Alex adalah penyebab putusnya hubungan dia dan Fely.
Belum sempat membuka pintu, seseorang dari dalam sudah lebih dulu membukanya. Kenzo memperhatikan Nicho dari atas sampai bawah.
"Ngapain berdiri disini.?!" Tegur Kenzo sinis.
"Ayo masuk.!" Perintahnya sembari berbalik badan. Nicho mencekal tangannya, menghentikan langkah Kenzo yang akan masuk ke dalam.
"Bicara diluar saja.!" Tegas Nicho.
Dia merasa malas jika harus bertemu dengan papa Alex. Malas jika harus berdebat lagi dengannya.
"Aku sengaja memanggilmu kesini agar papa Alex juga tau.!" Geram Kenzo. Keduanya selalu berbicara dengan nada yang tidak bersahabat. Tidak ada yang bisa berbicara lembut, mereka sudah seperti musuh yang tidak akan pernah akur.
"Tau apa.?!"
"Papa nggak perlu tau masalahku karna aku bukan lagi bagian dari mereka.!" Mata Nicho membulat sempurna, menunjukan kekesalannya.
"Setidaknya beliau harus tau kalau kamu tidur di apartemen Fely.! Papa Alex harus menikahkan kalian.!" Geram Kenzo sembari menepis kasar tangan Nicho. Laki - laki itu hanya tersenyum kecut mendengar penuturan Kenzo.
"Aku bisa menikahi Fely tanpa harus ada campur tangan darinya.!" Bentak Nicho.
Suara tepuk tangan membuat keduanya menoleh bersamaan. Dilihatnya papa Alex yang berjalan ke arah mereka dengan sorot mata yang tajam menetap Nicho.
"Nikahi saja.! Lakukan apa yang ingin kamu lakukan.!" Seru papa Alex.
Nicho tersenyum sinis, kemudian beralih menatap Kenzo.
"Kamu denger itu bukan.!" Ucapnya sinis.
"Aku bisa menikahi Fely saat ini juga, tanpa perlu menyuruhku untuk datang kemari.!" Nicho menepuk pelan pundak Kenzo, lalu bergegas keluar.
"Kamu tidak akan mendapatkan apapun Nicho.!" Teriak papa Alex. Sementara itu Kenzo bersikeras mengejar Nicho dan memaksanya untuk masuk kedalam rumah.
"Aku sudah muak Ken.! Jangan memaksaku untuk menemuinya.!"
"Aku bahkan sudah berencana untuk menikahi Fely.! Kamu nggak perlu cemas tentang itu. Lagipula kami tidak pernah melakukan hal diluar batas.!"
Kenzo menatap Nicho tajam, dengan tangan yang masih mencengkram pergelangan tangan Nicho.
"Kamu pikir aku akan melepaskan Fely dengan laki - laki yang tidak memiliki apapun.?!" Geramnya.
"Selama ini dia sudah hidup menderita. Aku tidak akan membiarkannya merasakan hidup susah untuk kedua kalinya.!"
Kenzo tau jika Nicho tidak memiliki apapun karena memutuskan untuk keluar dari rumahnya. Itu sebabnya dia memanggil Nicho ke rumah agar papa Alex bisa memaafkannya dan mau menerima Nicho kembali, juga mau merestui hubungan Nicho dan Fely.
Nicho tersenyum tipis mendengarnya.
"Bukankah kakak Fely orang kaya.? Kami bisa menumpang hidup denganmu.!" Ujar Nicho sembari mengulum senyum yang meledek.
"Itu tidak berlaku untukmu.!" Geram Kenzo kesal.
"Ayo masuk.! Selesaikan masalah kalian lebih dulu jika kamu ingin menikahi adikku.!" Ancamnya.
Keduanya kembali masuk kedalam, dengan Kenzo yang terus menyeret tangan Nicho.
Diruang keluarga sudah ada mama Rissa, papa Alex dan Jeje. Kedua wanita itu mendengar keributan, namun papa Alex mencegah mereka saat keduanya akan keluar.
"Nicho,,,"
"Kak Nicho,,"
Seru Mama Rissa dan Jeje bersamaan. Nicho hanya melempar senyum tulus pada kedua wanita yang berarti baginya itu.
"Nicho tidak peduli papa setuju atau tidak.! Nicho akan tetap menikah dengan Fely.!"
"Tidak peduli meski papa menghapus nama Nicho dari daftar ahli waris.!"
"Nicho bisa berdiri di kaki sendiri tanpa harus bergantung pada papa.!"
Ucapan Nicho membuat semua orang membulatkan matanya. Terlebih Kenzo, dia pikir Nicho akan berbicara baik - baik agar bisa meluluhkan hati papa Alex, tapi justru kembali menabuh genderang peperangan dengan berbicara kasar seperti itu.
Papa Alex bahkan terlihat mengepalkan kedua tangannya.
"Anak tidak tau diri.!" Geramnya penuh emosi.
Jeje memegang lembut tangan papa Alex, menatapnya dengan mata yang berkaca - kaca.
"Jangan seperti ini pah, Jeje mohon,," Ucapnya sembari menggelengkan kepalanya.
"Jeje ingin hubungan keluarga kita baik seperti dulu."
"Maafin kak Nicho pah, dan biarkan dia memilih jalan hidupnya sendiri,,"
"Papa sudah memberinya kebebasan sejak dia memilih keluar dari rumah ini." Sahutnya sembari menatap Nicho.
"Lakukan apa yang ingin kamu lakukan dan jangan libatkan papa.!"
"Pah,,," Kini giliran mama Rissa yang memberikan teguran untuk suaminya.
"Sudahlah jangan buat masalah ini semakin berlarut - larut. Maafkan Nicho dan biarkan dia menikahi Fely,,"
"Sejak dia memutuskan pergi, papa sudah anggap semuanya selesai mah.!"
Papa Alex masih bersikeras untuk tidak memaafkan Nicho. Terlebih Nicho sudah memutuskan sepihak perjodohannya dengan anak rekan bisnis mereka. Dan hal itu sudah membuat papa Alex malu.
Kenzo menghela nafas melihat Papa Alex yang begitu keras kepala. Enggan mendengarkan omongan mama Rissa maupun Jeje.
"Dengan sikap papa yang tidak bisa menerima Fely, sama saja papa juga tidak bisa menerima saya." Semua orang kini beralih menatap Kenzo yang berbicara dengan tenang.
"Saya dan Fely dilahirkan dari rahim yang sama. Hanya karena mereka tidak memiliki apapun, bukan berarti derajat mereka lebih rendah dari saya."
"Ken,, bukan begitu maksud papa." Papa Alex berusaha untuk menyangkal.
"Nicho sudah mengingkari janjinya dengan membatalkan pertunangan dengan anak rekan bisnis papa. Itu sebabnya mulai saat itu papa tidak mau tau lagi urusannya,,"
Nicho berdecak kesal mendengarnya. Dia memilih beranjak dari duduknya.
"Jangan khawatir, aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri." Ucapnya pada Kenzo. Dia juga meninju pelan lengan Kenzo sembari mengulas senyum.
"Nicho pergi dulu mah, Je,,," Nicho kembali mengulas senyum pada mama Rissa dan Jeje.
"Jangan pergi sayang,," Cegah mama Rissa. Dia bahkan sampai menghampiri Nicho dan memeluknya.
"I'm fine mah, jangan khawatir."
"Kita akan bertemu diluar,," Ucapnya lirih sembari mengusap lembut punggung mama Rissa.
"Aku ingin menikahi Fely secepatnya, dan mama harus datang,," Bisiknya lagi.
Mama Rissa melepaskan pelukannya, dia mengangguk cepat. Mama Rissa mendukung penuh keputusan Nicho meski harus menentang papa Alex.
"Jaga mamah Je,,,"
Jeje mengangguk dengan seulas senyum. Setidaknya dia yakin kalau Nicho bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.
Nicho meninggalkan kediaman orang tuanya dengan perasaannya kesal yang tak kunjung mereda pada papa Alex.
Papa Alex sangat keras kepala, tidak bisa dibujuk secara halus maupun di tentang secara terang - terangan.
...****...
"Papa kamu keras kepala." Geram Kenzo begitu papa Alex dan mama Rissa naik ke lantai atas.
"Papa memang seperti itu by."
"Hubby nggak perlu khawatir, kak Nicho akan jadi laki - laki yang bertanggung jawab untuk hidup kak Fely. Tanpa bantuan papa sekalipun,,"
Jeje paham kekhawatiran Kenzo. Tentu saja dia tidak ingin melihat Fely hidup susah setelah menikah dengan Nicho.
"Tapi Je, Fely sudah hidup susah selama ini. Apa yang bisa diberikan oleh Nicho jika papa Alex mencabut semua fasilitasnya,,"
"Kak Nicho punya bisnis sendiri by, jadi jangan khawatir."
"Sekarang pikirkan saja bagaimana kita memberitahu kehamilanku pada mama dan papa.?"
"Mereka sudah meminta kita untuk menunda kehamilan, tapi aku hamil secepat ini,,"
Jeje terlihat cemas.
"Mereka pikir masih bisa memakai pengaman kalau sudah terlanjur on,,"
"Mana sempat punya pikiran memakai pengaman, yang ada ingin cepat - cepat masuk ke tempatnya.!" Sahut Kenzo cepat. Jeje melongo, lalu mencubit pinggang Kenzo.
"Bisa - bisanya bicara seperti itu. Bagaimana kalau ada yang dengar.?" Keluh Jeje kesal. Kenzo hanya terkekeh kecil.
"Kita sarapan dulu, setelah itu pergi ke dokter."
"Setidaknya kita punya foto USG untuk di tunjukan pada mereka. Paling tidak foto USG calon cucu mereka tidak akan membuat mereka kecewa,,"
Jeje tersenyum lebar mendengarnya.
"Hubby memang pintar,," Serunya sembari mencium singkat bibir Kenzo.
"Jangan mancing kamu, ini masih pagi,,!" Kenzo melirik tajam istrinya. Padahal sejak bagun tidur dia sudah berusaha keras untuk menahan keinginannya, tapi ada saja tingkah Jeje yang membuatnya ingin segera menerkamnya setelah 2 hari tidak bergulat.
"Memangnya kenapa kalau masih pagi.? Bukankah kita sering melakukannya di pagi hari.?" Tanya Jeje dengan wajah polosnya.
"Sial,," Umpat Kenzo kesal begitu mendapati miliknya mulai menegang.
"Ayo sarapan,," Kenzo berdiri, lalu menggandeng tangan Jeje. Jika terus bicara berduaan seperti itu, dia tidak yakin bisa menahan diri.