
Tadi malam Karin bahkan tidak bisa memejamkan matanya. Banyak pertanyaan yang muncul hingga akhirnya dia harus bergulat dengan segala pertanyaan yang berkecambuk dalam benaknya.
Karin bahkan tau kalau Reynaldi tidak kembali lagi ke kamarnya setelah memastikan dia sudah tertidur.
Ada rasa sakit yang menyusup dalam hatinya. Mengetahui Reynald yang sepertinya enggan tidur satu ranjang dengannya. Terlebih Reynald baru saja bertemu dengan mantan kekasih dan anak kandungnya. Karin merasa posisinya semakin tidak ada artinya lagi untuk Reynald.
Wanita hamil itu turun dari ranjang dengan hati - hati. Badannya terasa lemas karena memaksakan bangun lebih awal padahal dia tidur larut malam, bahkan menjelang pagi.
Karin berniat menyiapkan sarapan untuk Reynald. Dia tidak peduli Reynald mau memakannya atau tidak. Baginya selama dia masih berstatus sebagai istri Reynald, dia akan menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan oleh Reynald.
Tidak peduli meski Reynald melarangnya.
"Selamat pagi non Karin,,,"
Karin menghentikan langkah tepat di depan pintu kamar. Dia menatap wanita paruh baya yang baru saja menyapanya. Meski sempat terkejut, namun akhirnya Karin ingat kalau semalam Reynald bilang bahwa dia akan menyuruh asisten rumah tangga untuk datang ke apartemen mereka.
Karin tersenyum ramah padanya.
"Pagi juga mba,," Ujar Karin sembari mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Reynald.
"Nyari tuan ya non.?"
Karin mengangguk pelan.
"Tuan sudah berangkat 30 menit yang lalu. Beliau titip pesan katanya non Karin harus menghabiskan sarapan dan minum vitaminnya,,"
"Saya sudah masak non. Non Karin mau sarapan sekarang,,?"
Asisten rumah tangga itu menjelaskan dengan perlahan dan ramah.
"Terima kasih mba, nanti saja. Saya mau mandi dulu,,," Karin pamit sopan padanya, lalu kembali masuk kedalam kamar.
Mendapati Reynald yang berangkat lebih awal dan tanpa pamit lebih dulu padanya, membuat dadanya terasa semakin terhimpit saja. Karin semakin merasa tidak di anggap keberadaannya.
Berfikir kalau Reynald lebih mementingkan anak kandungnya bersama mantan kekasih, dibanding dengan dirinya dan anak yang ada didalam kandungannya.
Tidak mau larut dalam sakit yang kian menyiksa, Karin memutuskan untuk mandi. Dia bahkan berencana untuk pulang ke rumah orang tuanya setelah sarapan nanti.
Peduli apa dengan Reynald. Karin bahkan tidak akan meminta ijin padanya lebih dulu, karena merasa hal itu tidak akan berarti untuk Reynald.
...*****...
Reynald menatap tajam pada Angel yang menolak kartu kredit miliknya. Laki - laki itu bermaksud ingin membayar biaya pengobatan Alisha selama di rumah sakit nanti. Bagi Reynald, Alisha adalah tanggung jawabnya meski dia terlahir diluar pernikahan. Bahkan meski Angel menyembunyikan Alisha selama ini.
"Aku tau uang suamimu bahkan bisa membeli rumah sakit ini.!" Ucap Reynald sinis.
"Tapi kamu harus ingat.! Aku ayah biologisnya.!" Tegasnya dengan nada yang semakin meninggi.
"Kamu yang sudah membuatku tidak bisa mempertanggung jawabkan apa yang kita lakukan dulu.! Sekarang biarkan aku yang membayarnya.!"
"Ini bukan untukmu.! Tapi untuk anakku.!"
Reynald meraih tangan Angel dan memberikan paksa kartu kredit miliknya.
"Tapi Rey,,,
"Jangan buat aku semakin buruk dimatanya.!"
Geram Reynald sembari melirik Dion yang duduk tak jauh dari mereka.
Reynald enggan di anggap sebagai laki - laki yang tidak bertanggung jawab karena tidak menikah dengan Angel saat itu. Belum lagi jika dia lepas tangan dengan Alisha tanpa memberikan biaya untuk pengobatan putrinya.
Angel menunduk lemah.
"Tidak Rey, kamu tidak buruk. Kami bahkan tidak pernah berfikir seperti itu,," Sangkal Angel. Karna pada dasarnya bukan Reynald yang lari dari tanggung jawab, melainkan keluarga Angel sendiri yang tidak ingin dia menikah dengan Reynald. Karena saat ini Reynald sudah tidak memiliki apapun, dan orang tua Angel hanya ingin putrinya mendapatkan kehidupan yang layak.
"Kamu sudah berbuat banyak untuk kesembuhan Alisha. Aku berterima kasih untuk itu,," Tambah Angel lagi. Terdengar sangat tulus dari hatinya yang terdalam.
Angel tidak bisa membendung air matanya. Wanita itu selalu hanyut jika membahas hal yang berhubungan erat dengan perasaannya, apalagi menyangkut Alisha.
Menurut penuturan Angel, Alisha baru sadar 2 jam yang lalu dan sekarang putri kecil mereka itu sedang tertidur.
Sebentar lagi Alisha akan dipindahkan ke ruang rawat inap untuk memulihkan kondisinya yang sudah mulai stabil.
Reynald mengusap lembut pucuk kepala Alisha, tak lupa mendaratkan kecupan di kening putri kecilnya itu. Ada rasa hangat yang menjalar setiap kali menyentuhnya. Dia masih saja tidak percaya dengan kenyataan ini. Tidak percaya bahwa dia sudah memiliki anak yang usianya 3 tahun lebih, bahkan dengan wajah yang sangat mirip dengannya.
Entah apa yang harus dia katakan pada orang tuanya nanti. Laki - kaki itu merasa bingung untuk mengungkap keberadaan Alisha sebagai putri kandungnya bersama Angel. Wanita yang mereka tau sudah meninggalkan Reynald karena perusahaan mereka jatuh tak tersisa.
"Papa kerja dulu sayang,, cepat sembuh,,," Bisik Reynald lembut. Laki - laki yang selama ini bersikap cuek dan dingin itu, berubah 180 derajat di depan Alisha. Dia bahkan terlihat lemah dan rapuh, melihat kondisi Alisha yang terbaring lemah.
"Kami akan menjaga Alisha dengan baik, pergilah,," Ujar Dion sopan sembari menepuk pundak Reynald. Dia tau jika saat ini Reynald harus berangkat bekerja.
Reynald meliriknya sekilas, lalu tersenyum tipis.
Tanpa berkata apapun, dia keluar dari ruangan itu.
Dia bahkan tidak berpamitan pada Angel yang berdiri diluar ruangan. Berjalan lurus tanpa melirik Angel sedikitpun. Saat ini perasaannya sedang kacau, hidupnya terasa begitu rumit. Dia bahkan mulai menyesali perbuatannya yang pada akhirnya sudah membuat 2 wanita hamil dan melahirkan anaknya.
Sampainya di basement rumah sakit, Reynald meninju dinding di sebelahnya untuk meluapkan kekesalannya. Dia bingung harus bagaimana menjalani kehidupannya yang saat ini sudah memiliki istri dan calon anak, tapi juga memiliki anak dari wanita lain.
Pikirannya benar - benar kacau, ditambah dengan Kenzo yang baru saja menghubunginya, memintanya untuk menghandle pekerjaan karena tidak bisa datang ke kantor.
Reynald pasti akan menghabiskan banyak waktu di kantor untuk hari ini, bahkan mungkin akan pulang malam karena harus memimpin rapat kecil.
...****...
Karin baru saja selesai sarapan, dia juga sudah meminum obat dan vitaminnya.
Asisten rumah tangganya bahkan membuatkan susu hamil untuknya. Susu yang dipesan oleh Reynald pada asisten rumah tangganya saat akan datang ke apartemen mereka.
Meski Karin tersentuh dengan perhatian Reynald pada kehamilannya, tapi wanita itu tetap saja tidak yakin kalau Reynald menganggap penting keberadaannya. Yang ada dia semakin merasa tidak di anggap.
Karin sedang merapikan rambutnya. Dia sedang bersiap untuk pergi ke rumah orang tuanya. Setidaknya di sana dia merasa dihargai dan di cintai. Sangat jauh berbeda jika dia bersama dengan Reynald. Laki - laki yang sama sekali tidak bisa bersikap lembut padanya. Yang hanya bersikap baik jika membutuhkannya di atas ranjang.
"Pernikahan macam apa ini,," Gumam Karin sembari tersenyum kecut. Meratapi nasibnya yang begitu tragis. Dia pikir dengan menikah dengan Reynald akan memperbaiki keadaan, akan menyelesaikan permasalahan di antara mereka, dan akan menjadi jalan terbaik untuk anak mereka kelak. Tapi nyatanya berbanding terbalik. Semua ini justru terasa sangat buruk dan berat untuknya.
Dia beranjak dari duduknya, meraih tas kecil dan ponsel miliknya. Wanita itu baru saja memesan taksi online.
Dia bergegas keluar kamar, mencari asisten rumah tangga untuk pamit padanya.
"Saya mau pergi dulu mba."
"Nanti pulang jam 3 kan.? Bawa saja akses cardnya biar besok tinggal masuk ke sini,,,"
Ujar Karin sopan.
"Maaf non, tapi kata tuan non Karin nggak boleh keluar apartemen sendiri."
"Saya harus menemani,,,"
Karin diam, dia sedang memikirkan cara agar asisten rumah tangganya tidak perlu mengikutinya.
"Saya sudah ijin sama kak Reynald. Lagipula saya mau pergi ke rumah orang tua saya,,"
"Mba nggak usah khawatir, saya bisa menjaga diri,,"
Belum sempat di cegah, Karin sudah lebih dulu beranjak dan berjalan cepat untuk keluar dari apartemen.
Dia tidak peduli dengan reaksi Reynald nantinya. Karin bahkan berharap agar Reynald marah padanya. Dengan begitu dia akan punya alasan untuk tidak tinggal satu rumah dengan laki - laki menyebalkan itu. Yang hanya bisa membuat hidupnya semakin hancur saja.
...****...
Mampir disini juga yah 🙏